وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِwa-li-llaahi mulku s-samaawaati wa-l-ardhimilik Allahlah kerajaan langit dan bumi
- يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُyaghfiru li-man yasyaa'u wa-yu'adzdzibu man yasyaa'uDia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki
- وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًاwa-kaana llaahu ghafuuran rahiimandan Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (14 kata)
- وَلِلَّهِwa-li-llaahidan milik Allah
- مُلْكُmulkukerajaan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- يَغْفِرُyaghfirumengampuni
- لِمَنْli-manbagi siapa yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- وَيُعَذِّبُwa-yu'adzdzibudan Dia mengazab
- مَنْmanorang yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
- اللَّهُllaahuAllah
- غَفُورًاghafuuranpengampun
- رَحِيمًاrahiimanpengasih
Inti bacaan
Susunan (وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا, wa-kaana llaahu ghafuuran rahiiman), "dan Allah pengampun lagi pengasih", muncul sembilan kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:96, 4:100, 4:152, 25:70, 33:5, 33:50, 33:59, 33:73, dan 48:14.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat pembuka ayat ini, (وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi mulku s-samaawaati wa-l-ardhi), berarti "dan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi". Awalan (لِ, li-) yang berarti "milik" mendahului nama Allah, lalu disusul kata (مُلْكُ, mulku) yang berarti "kerajaan" dari akar م-ل-ك. Susunan lengkap dengan wa-li-llaahi di depan mulku muncul enam kali di lima surah, yaitu 3:189, 5:17, 5:18, 24:42, 45:27, dan 48:14. Ada rumus lain yang juga dibuka dengan milik Allah, yaitu (وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, wa-li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) yang berarti "dan milik Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi". Rumus itu muncul enam kali di tiga surah, yaitu 3:109, 3:129, 4:126, 4:131, 4:132, dan 53:31. Di 3:129 rumus kedua berada tepat sebelum kalimat ampunan dan azab yang sama dengan 48:14, sehingga dua ayat itu berbeda pada kata pembukanya: mulku di 48:14 dan maa fii di 3:129. Terjemahan memakai "kerajaan" untuk mulku dan "apa yang" untuk maa fii, supaya perbedaan kata itu tetap terlihat.
Kalimat ampunan dan azab, (يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ, yaghfiru li-man yasyaa'u wa-yu'adzdzibu man yasyaa'u), berarti "Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki". Susunan ini muncul empat kali, yaitu di 2:284, 3:129, 5:18, dan 48:14. Di 2:284 kata kerja pertama memakai awalan fa, (فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ, fa-yaghfiru li-man yasyaa'u wa-yu'adzdzibu man yasyaa'u). Kata kerja (يَغْفِرُ, yaghfiru) berakar غ-ف-ر dan disusul awalan li- sebelum penerimanya di lima ayat, yaitu 2:284, 3:129, 5:18, 5:40, dan 48:14, sedangkan (يُعَذِّبُ, yu'adzdzibu) langsung disusul penerimanya tanpa awalan. Pola yang sama ada di 5:40, tetapi urutannya terbalik: (يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ, yu'adzdzibu man yasyaa'u wa-yaghfiru li-man yasyaa'u). Di 29:21, (يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَرْحَمُ مَنْ يَشَاءُ, yu'adzdzibu man yasyaa'u wa-yarhamu man yasyaa'u), azab juga disebut dulu, dengan kata kerja (يَرْحَمُ, yarhamu) "merahmati" sebagai pasangannya. Dari enam ayat yang memuat yu'adzdzibu man yasyaa'u, empat menyebut ampunan lebih dulu, yaitu 2:284, 3:129, 5:18, dan 48:14, dan dua menyebut azab lebih dulu, yaitu 5:40 dan 29:21.
Dua kata kerja itu berbentuk orang ketiga tunggal laki-laki. Terjemahan memakai "Dia" untuk keduanya karena nama yang disebut sebelum kedua kata kerja itu hanya Allah, pada kalimat pembuka. Kata (يَشَاءُ, yasyaa'u) yang berarti "Dia kehendaki" berakar ش-ي-ء, dan ayat ini menyebut kehendak itu dua kali dengan bentuk yang persis sama, tanpa menyebut dasar yang dipakai untuk memilih.
Kalimat penutup, (وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا, wa-kaana llaahu ghafuuran rahiiman), berarti "dan Allah pengampun lagi pengasih". Susunan ini muncul sembilan kali di empat surah, yaitu 4:96, 4:100, 4:152, 25:70, 33:5, 33:50, 33:59, 33:73, dan 48:14. Dua sifat itu berbentuk tak tentu, tanpa kata sandang, sehingga terjemahan memakai huruf kecil dan tanpa gelar "Sang". Bentuk bertakrif, (الْغَفُورُ الرَّحِيمُ, al-ghafuuru r-rahiimu), muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu 10:107, 12:98, 15:49, 28:16, 39:53, 42:5, dan 46:8, dan di 39:53 serta 46:8 terjemahan memakai gelar "Sang" untuk bentuk itu. Kata kerja (كَانَ, kaana) berbentuk lampau, tetapi terjemahan tidak menambahkan "dahulu", sama dengan 4:96, 4:100, 4:152, 25:70, 33:5, 33:50, 33:59, dan 33:73. Terjemahan juga tidak memakai "Maha", karena kata Arab untuk itu tidak ada di ayat ini.
Ayat ini memuat tiga jenis kalimat berurutan. Kalimat pertama tidak memakai kata kerja dan menyebut pemilik, kalimat kedua memakai dua kata kerja bentuk kini, dan kalimat ketiga memakai kata kerja lampau kaana yang disusul dua sifat. Pada 3:129 kalimat penutupnya tidak memakai kata kerja, (وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ, wa-llaahu ghafuurun rahiimun), sedangkan di 48:14 penutup itu memakai kaana.
Tafsiran
Ayat ini tidak menyapa kelompok pendengar dan tidak menyebut orang-orang yang ditinggalkan. Sebelumnya 48:13 menyebut api yang disediakan bagi orang-orang kafir, sesudahnya 48:15 kembali ke pembicaraan tentang orang-orang yang ditinggalkan, dan di antaranya ayat ini berbicara tentang Allah saja. Akhiran "kalian" tidak ada di sini.
Isinya tersusun dari pemilik, wewenang, dan sifat. Kerajaan langit dan bumi disebut lebih dulu, lalu ampunan dan azab disebut dengan bentuk kalimat yang sama, lalu dua sifat menutup ayat. Dengan susunan itu ampunan dan azab ditaruh sebagai kewenangan yang berada di bawah kepemilikan, dan sifat pengampun serta pengasih ditaruh sesudah keduanya. Pembaca meninggalkan ayat ini dengan sifat itu sebagai kata terakhir.
Ayat ini juga menimbulkan ketegangan dengan ayat-ayat di sekitarnya. Di 48:13 sebuah syarat menghasilkan api, di 48:16 syarat lain menghasilkan pahala atau azab, yaitu jika kalian mematuhi dan jika kalian berpaling, sedangkan di 48:14 penerima ampunan dan azab ditentukan oleh kehendak. Ayat-ayat itu memakai dua cara bicara yang berbeda, yang satu berbentuk jika-maka dan yang lain berbentuk siapa yang dikehendaki. Teksnya tidak menjelaskan bagaimana kedua cara itu berhubungan, dan penjelasan itu tidak dikarang di sini. Yang terlihat baru letaknya: ayat tentang kehendak ditaruh di antara dua ayat bersyarat.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut lebih dulu bahwa milik Allahlah kerajaan langit dan bumi, baru kemudian ampunan dan azab. Urutan itu dapat dibaca sebagai alasan bagi dua wewenang tersebut, sebab keduanya disebut sesudah pemilik dan tidak sebelumnya. Ketika seseorang mengampuni atau menahan ampunan atas kesalahan orang lain, hak yang dipakainya dapat ditanyakan. Dalam ayat ini hak atas ampunan dan azab terletak pada Allah yang memiliki segala yang ada. Pembaca dapat bertanya apa yang sebenarnya dimilikinya ketika menolak memaafkan sebuah kesalahan kecil, dan milik siapa kesalahan itu pada mulanya.
- Ampunan dan azab disebut dengan bentuk kalimat yang sama, masing-masing dengan kehendak yang sama. Tidak ada kata yang membuat salah satunya terdengar lebih keras atau lebih lunak. Seseorang yang membaca ayat ini dapat memperhatikan sisi mana dari kalimat itu yang langsung dikenakannya pada dirinya sendiri, dan sisi mana yang ditaruhnya pada orang lain. Pembagian itu tidak ada dalam ayat, yang membiarkan dua sisi berdiri sejajar. Di sisi mana dalam kalimat itu dirinya pertama kali membayangkan berdiri?
- Ayat ini berakhir dengan Allah yang pengampun lagi pengasih, sesudah dua wewenang yang disebut sebelumnya. Kalimat terakhir yang dibaca membicarakan dua sifat itu dan tidak lagi membicarakan azab. Dari sebuah bacaan, seseorang membawa pergi sebagian saja, dan ayat ini menaruh dua sifat itu di tempat yang paling dekat dengan penutup. Orang yang membaca ayat ini dapat memperhatikan apa yang dibawanya pergi, bagian yang paling mengancam atau bagian terakhir. Dari ayat ini, bagian mana yang biasanya terbawa?
- Ayat ini menyebut kehendak Allah dua kali tanpa menyebut dasarnya, sedangkan ayat-ayat di sekitarnya menyebut syarat tentang beriman dan tentang mematuhi. Pembaca yang ingin tahu di sisi mana dirinya berada dapat mencari tanda yang bisa dihitung. Ayat ini tidak memberikannya, dan tidak membatalkan syarat di ayat tetangganya. Dua cara bicara itu hadir bersama dalam satu surah. Bila seseorang mencoba memastikan kedudukannya hanya dari salah satu cara bicara itu, bagian mana dari surah ini yang sengaja dilewatinya?
- Di antara ayat-ayat yang menyebut orang-orang yang ditinggalkan, ayat ini berbicara tentang Allah saja. Tidak ada kata kalian dan tidak ada nama kelompok. Sesudah rangkaian ayat yang menunjuk tingkah orang lain, tiba satu ayat yang tidak menunjuk siapa pun. Pembaca yang terbiasa membaca sambil mencari pihak yang pantas disalahkan akan mendapati tidak ada pihak seperti itu di sini. Apa yang tersisa untuk dibaca ketika tidak ada orang lain yang dapat ditunjuk?
- Wilayah yang disebut ayat ini adalah langit dan bumi milik Allah, bukan sebuah negeri atau sebuah kaum. Ampunan dan azab dibicarakan dalam wilayah sebesar itu. Pertengkaran, dendam, atau kesalahan yang terasa besar dalam sebuah rumah tangga atau sebuah kantor memiliki ukuran lain bila diletakkan di sebelah langit dan bumi. Ayat ini tidak mengecilkan kesalahan siapa pun, dan hanya menaruhnya dalam ukuran yang lebih luas daripada ukuran yang biasa dipakai pembaca. Kesalahan mana yang terasa paling besar bagi dirinya sekarang, dan seberapa besar jadinya bila diletakkan di bawah langit dan bumi?