لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا

Tidak ada keberatan atas orang buta, tidak atas orang pincang, dan tidak atas orang sakit; dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia memasukkannya ke taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan siapa yang berpaling, Dia mengazabnya dengan azab yang pedih.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌlaysa 'alaa l-a'maa harajun wa-laa 'alaa l-a'raji harajun wa-laa 'alaa l-mariidhi harajuntidak ada keberatan atas orang buta, tidak atas orang pincang, dan tidak atas orang sakit
  2. وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُwa-man yuthi'i llaaha wa-rasuulahu yudkhilhu jannaatin tajrii min tahtihaa l-anhaarudan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia memasukkannya ke taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai
  3. وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًاwa-man yatawalla yu'adzdzibhu 'adzaaban aliimandan siapa yang berpaling, Dia mengazabnya dengan azab yang pedih

Terjemahan per kata (27 kata)

  1. لَيْسَlaysabukanlah
  2. عَلَى'alaaatas
  3. الْأَعْمَىٰl-a'maaorang buta
  4. حَرَجٌharajunkeberatan
  5. وَلَاwa-laadan tidak pula
  6. عَلَى'alaaatas
  7. الْأَعْرَجِl-a'rajiorang pincang
  8. حَرَجٌharajunkeberatan
  9. وَلَاwa-laadan tidak pula
  10. عَلَى'alaaatas
  11. الْمَرِيضِl-mariidhiorang sakit
  12. حَرَجٌharajunkeberatan
  13. وَمَنْwa-mandan orang yang
  14. يُطِعِyuthi'imenaati
  15. اللَّهَllaahaAllah
  16. وَرَسُولَهُwa-rasuulahudan Rasul-Nya
  17. يُدْخِلْهُyudkhilhumemasukkannya
  18. جَنَّاتٍjannaatintaman-taman
  19. تَجْرِيtajriimengalir
  20. مِنْmindari
  21. تَحْتِهَاtahtihaabawahnya
  22. الْأَنْهَارُl-anhaarusungai-sungai
  23. وَمَنْwa-mandan orang yang
  24. يَتَوَلَّyatawallaberpaling
  25. يُعَذِّبْهُyu'adzdzibhumengazabnya
  26. عَذَابًا'adzaabanazab
  27. أَلِيمًاaliimanyang pedih

Inti bacaan

Bentuk (الْأَعْرَجِ, l-a'raji) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 24:61 dan 48:17.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ, laysa 'alaa l-a'maa harajun) yang berarti "tidak ada keberatan atas orang buta". Bentuk ini tersusun dari laysa yang berarti "tidak ada", 'alaa yang berarti "atas", l-a'maa yang berarti "orang buta", dan harajun yang berarti "keberatan". Rumus yang sama diulang untuk dua orang lain, yaitu (وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ, wa-laa 'alaa l-a'raji harajun) yang berarti "dan tidak pula atas orang pincang" dan (وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ, wa-laa 'alaa l-mariidhi harajun) yang berarti "dan tidak pula atas orang sakit". Kata harajun muncul tiga kali di ayat ini, satu kali untuk tiap orang. Terjemahan menyebut "keberatan" sekali di awal lalu memakai "tidak atas" untuk dua orang berikutnya, supaya kalimatnya tidak terdengar mengulang-ulang. Rumus pembuka (لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ, laysa 'alaa l-a'maa harajun) hanya ada di dua ayat, yaitu 24:61 dan 48:17, dan di kedua ayat itu ketiga orangnya disebut dalam urutan yang sama.

Kata (الْأَعْمَىٰ, l-a'maa) muncul di delapan ayat, yaitu 6:50, 11:24, 13:16, 24:61, 35:19, 40:58, 48:17, dan 80:2. Di 6:50, 11:24, 13:16, 35:19, dan 40:58 orang buta disandingkan dengan orang yang melihat sebagai pembanding, misalnya (الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ, l-a'maa wa-l-bashiiru) yang berarti "orang buta dan orang yang melihat" di 6:50. Di 24:61, 48:17, dan 80:2 orang buta tidak disandingkan dengan orang yang melihat dan disebut sebagai seseorang yang nyata, misalnya (أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ, an jaa'ahu l-a'maa) yang berarti "karena orang buta datang kepadanya" di 80:2. Bentuk (الْأَعْرَجِ, l-a'raji) yang berarti "orang pincang" dan (الْمَرِيضِ, l-mariidhi) yang berarti "orang sakit" masing-masing hanya ada di 24:61 dan 48:17. Pembebasan serupa di 9:91 memakai kata jamak (الْمَرْضَىٰ, l-mardhaa) yang berarti "orang-orang sakit" bersama (الضُّعَفَاءِ, dh-dhu'afaa'i) yang berarti "orang-orang lemah", dan kata harajun di sana hanya disebut sekali di ujung daftar, tidak diulang sesudah tiap kelompok seperti di 24:61 dan 48:17.

Kata harajun berakar ح-ر-ج. Akar ini dipakai di 6:125, (ضَيِّقًا حَرَجًا, dhayyiqan harajan) yang berarti "sempit lagi sesak", untuk dada yang dijadikan demikian, dan di 7:2, (فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ, fii shadrika harajun) yang berarti "kesempitan dalam dadamu". Di kedua ayat itu kata ini melekat pada dada, sedangkan di 48:17 kata itu melekat pada orang yang disebut satu per satu. Terjemahan memakai "keberatan" karena sempit dan sesak di dada, makna yang dikaitkan dengan akar ini di 6:125 dan 7:2, paling dekat dengan perasaan keberatan, dan kata yang sama diterjemahkan "keberatan" juga di 33:37.

Kalimat kedua dibuka dengan (وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ, wa-man yuthi'i llaaha wa-rasuulahu) yang berarti "dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya". Kata man berarti "siapa", dan kata kerja yuthi'i berakar ط-و-ع. Rangkaian utuh ini muncul empat kali, yaitu di 4:13, 24:52, 33:71, dan 48:17. Sesudahnya (يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ, yudkhilhu jannaatin tajrii min tahtihaa l-anhaaru) yang berarti "Dia memasukkannya ke taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai" juga muncul empat kali, yaitu di 4:13, 48:17, 64:9, dan 65:11. Di tiga di antaranya kalimat itu disambung (خَالِدِينَ فِيهَا, khaalidiina fiihaa) yang berarti "kekal di dalamnya", yaitu di 4:13, 64:9, dan 65:11. Di 48:17 sambungan itu tidak ada dan kalimat langsung beralih ke orang yang berpaling, sehingga terjemahan 48:17 tidak menyebut kata kekal.

Kalimat ketiga dibuka dengan (وَمَنْ يَتَوَلَّ, wa-man yatawalla) yang berarti "dan siapa yang berpaling". Kata kerja yatawalla berakar و-ل-ي dan berpola sama dengan tawallaytum di 48:16, yang diterjemahkan "berpaling" dan menunjuk gerak memutar badan dari sesuatu. Susunan wa-man yatawalla tanpa kata benda sesudahnya muncul tiga kali, yaitu di 48:17, 57:24, dan 60:6. Di 57:24 dan 60:6 kalimat itu disambung (فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ, fa-inna llaaha huwa l-ghaniyyu l-hamiidu) yang berarti "sesungguhnya Allah, Dialah Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji", sedangkan di 48:17 sambungannya adalah (يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا, yu'adzdzibhu 'adzaaban aliiman) yang berarti "Dia mengazabnya dengan azab yang pedih". Bentuk yu'adzdzibhu hanya ada di 48:17. Dua kata 'adzaaban aliiman yang berarti "azab yang pedih" muncul di empat belas ayat, yaitu 4:18, 4:138, 4:161, 4:173, 9:39, 9:74, 17:10, 25:37, 33:8, 48:16, 48:17, 48:25, 73:13, dan 76:31, dan tiga di antaranya ada di surah ini: 48:16, 48:17, dan 48:25. Di 48:16 kata kerjanya berbentuk "mengazab kalian", sedangkan di 48:17 berbentuk "mengazabnya" karena pelakunya disebut dengan kata "siapa".

Tafsiran

Ayat ini berisi tiga pernyataan yang berurutan: tiga orang dibebaskan dari keberatan, orang yang taat dijanjikan taman, dan orang yang berpaling diancam azab. Dua pernyataan terakhir berbentuk "siapa yang ..., Dia ...", susunan yang sama dengan janji dan ancaman di 48:16, tetapi sapaannya berubah. Ayat 48:16 ditujukan kepada kelompok yang ditinggalkan dan memakai kata "kalian", sedangkan 48:17 memakai kata "siapa", sehingga syaratnya berlaku bagi pembaca mana pun. Dengan begitu ketentuan yang di 48:16 diucapkan kepada satu kelompok menjadi ketentuan umum di 48:17.

Pembebasan di awal ayat tidak menyebut keberatan atas urusan apa. Letaknya sesudah ajakan di 48:16 kepada kaum yang mempunyai kekuatan besar, yang akan diperangi atau menyerah, sehingga dapat dibaca bahwa keberatan itu menyangkut ajakan tersebut. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, sebab rumus tiga orang yang sama di 24:61 dipakai untuk urusan makan di rumah-rumah, dan tiga orang itu karena itu tidak terikat pada satu urusan saja. Ayat 9:91 juga membebaskan orang-orang lemah dan sakit, tetapi menambahkan syarat (إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ, idzaa nashahuu lillaahi wa-rasuulihi) yang berarti "jika mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya". Di 48:17 syarat serupa tidak berada di dalam kalimat pembebasannya. Kalimat tentang ketaatan datang sesudahnya sebagai kalimat tersendiri yang dimulai dengan "siapa", dan jangkauan kata itu mencakup tiga orang yang baru saja dibebaskan. Ayat ini tidak menyatakan hubungan itu dengan kata-kata, dan 9:91 berbicara tentang keadaan lain, sehingga keduanya tidak disamakan.

Letak ayat ini di antara dua pembicaraan terlihat pada alur 48:15 sampai 48:18. Ayat 48:15 dan 48:16 membicarakan orang-orang yang ditinggalkan, dan 48:18 berpindah kepada orang-orang mukmin yang berjanji setia. Ayat 48:17 menutup pembicaraan tentang ajakan dengan ketentuan yang berlaku bagi semua orang, lalu 48:18 menunjukkan orang-orang yang diridai. Dengan ayat ini, janji dan ancaman di 48:16 terbaca sebagai ukuran umum yang berlaku juga bagi orang-orang di ayat sesudahnya, dan tidak lagi berhenti sebagai sapaan kepada kelompok yang disebut.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 48:17 menyebut tiga keadaan tubuh dengan kata yang paling biasa: buta, pincang, dan sakit. Tidak ada ukuran seberapa buta, seberapa pincang, atau berapa lama sakit, dan tidak ada daftar syarat yang harus dibuktikan lebih dulu. Daftar di ayat ini pendek dan namanya sederhana, dan itu berguna bagi pembaca yang sedang menimbang apakah keadaannya cukup berat untuk tidak ikut dalam sebuah urusan. Orang yang merasa perlu menjelaskan panjang lebar mengapa dirinya tidak bisa ikut dapat bertanya, kepada siapa sebenarnya penjelasan itu ditujukan, kepada orang lain atau kepada dirinya sendiri?
  • Kalimat sesudah pembebasan itu dimulai dengan "siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya", dan kata "siapa" tidak menyisihkan seorang pun. Pembebasan dari keberatan dan janji bagi orang yang taat berdiri bersebelahan dalam satu ayat, dan tidak ada kalimat yang memisahkan keduanya. Bagi pembaca yang termasuk salah satu dari tiga keadaan itu, ayat ini tidak menyebut dirinya berada di luar janji tersebut. Ketaatan seperti apa yang masih dapat dibawa pembaca dalam keadaannya sekarang, tanpa menunggu tubuhnya berubah?
  • Kata harajun yang diterjemahkan keberatan melekat pada dada yang sempit di 6:125 dan 7:2, dan di 48:17 kata itu ditiadakan dari tiga orang dengan menyebutnya tiga kali berturut-turut, seolah tiap orang mendapat pernyataannya sendiri. Kewajiban yang terasa menyesakkan memunculkan satu pertanyaan bagi pembacanya: apakah sesaknya datang dari kewajiban itu atau dari anggapan bahwa dirinya harus mampu sebanyak orang lain? Dua sumber sesak itu mungkin tampak sama dari dalam. Apa yang berubah pada rasa sesak bila sebuah ayat menyebut namanya dan meniadakannya bagi orang yang menanggungnya?
  • Rumus tiga orang di 48:17 dipakai pula di 24:61 untuk urusan makan di rumah-rumah, padahal urusan di 48:17 tidak disebut dalam kalimat pembebasannya, sehingga satu rumus melayani dua urusan yang berlainan. Satu pembacaan yang dapat dicoba: keadaan tubuh yang sama ditimbang ulang pada tiap urusan, dan ayat menyebut hasil timbangannya urusan demi urusan, tanpa menjadikan satu keadaan tubuh sebagai alasan bagi semua urusan. Pembaca dapat memeriksa urusan apa dalam hidupnya yang sudah dianggapnya tertutup karena sebuah keterbatasan, padahal belum pernah ditimbang satu per satu.
  • Pembebasan di 9:91 disertai syarat sikap: ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Di 48:17 kalimat pembebasannya berdiri tanpa syarat itu, dan ketaatan dibahas di kalimat berikutnya. Keadaan yang dibicarakan kedua ayat berbeda, sehingga perbandingannya memberi bahan renungan dan tidak menjadi aturan. Sesudah tubuh dibebaskan dari keberatan, apa yang masih dapat dibawa ke dalam urusan itu, dan siapa yang mengetahui apa yang dibawa itu selain pembawanya sendiri dan Allah?
  • Kata kerja berpaling di 48:17 tidak diikuti keterangan dari apa orang itu berpaling. Ayat 48:16 menyebut "seperti yang kalian perbuat sebelumnya", tetapi 48:17 memakai kata "siapa" tanpa keterangan serupa. Di 57:24 dan 60:6 kata kerja yang sama juga berdiri tanpa tujuan, dan kalimat sesudahnya menyatakan bahwa Allah Berkecukupan lagi Terpuji, padahal di sini kalimat sesudahnya menyebut azab, dan ketiga ayat itu berbicara tentang hal yang berlainan. Pembaca dapat mengisi sendiri tempat yang kosong itu dengan pengalamannya. Dari apa saja pembaca pernah memutar badan tanpa pernah menamai apa yang ditinggalkannya?
  • Tiga ayat lain yang memakai kalimat taman dan sungai yang sama menambahkan kata kekal di dalamnya, tetapi 48:17 berhenti pada gambaran taman tempat Dia memasukkan orang yang taat, lalu langsung berpindah ke orang yang berpaling. Gambaran sebuah tempat yang dialiri sungai di bawahnya memuat sesuatu yang dapat dibayangkan tanpa angka tahun. Apakah gambaran seperti itu sudah cukup bagi pembaca untuk mengerti apa yang dijanjikan?