وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

dan harta rampasan yang banyak yang mereka ambil. Allah digdaya lagi penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَاwa-maghaanima katsiiratan ya'khudzuunahaadan harta rampasan yang banyak yang mereka ambil
  2. وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًاwa-kaana llaahu 'aziizan hakiimandan Allah digdaya lagi penuh hikmah

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَمَغَانِمَwa-maghaanimadan harta rampasan
  2. كَثِيرَةًkatsiiratanyang banyak
  3. يَأْخُذُونَهَاya'khudzuunahaamereka mengambilnya
  4. وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
  5. اللَّهُllaahuAllah
  6. عَزِيزًا'aziizanMahaperkasa
  7. حَكِيمًاhakiimanbijaksana

Inti bacaan

Susunan (مَغَانِمَ كَثِيرَةً, maghaanima katsiiratan) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 48:19 dan 48:20.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً, wa-maghaanima katsiiratan) yang berarti "dan harta rampasan yang banyak". Kata maghaanima berakar غ-ن-م dan berbentuk jamak, sedangkan katsiiratan berarti "yang banyak". Bentuk jamak maghaanim dipakai di empat ayat, yaitu 4:94, 48:15, 48:19, dan 48:20. Rangkaian maghaanima katsiiratan ada di dua ayat saja, yaitu 48:19 dan 48:20, sedangkan 4:94 memuat (مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ, maghaanimu katsiiratun) dengan akhiran berbeda dan 48:15 memuat maghaanima tanpa sifat banyak. Terjemahan memakai "harta rampasan" untuk satu kata maghaanima, seperti di 4:94, tanpa kata "perang" karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Huruf wa- di awal menyambung ayat ini dengan 48:18, sehingga terjemahannya dimulai dengan huruf kecil.

Kata (يَأْخُذُونَهَا, ya'khudzuunahaa) yang berarti "yang mereka ambil" tersusun dari ya'khudzuuna yang berarti "mereka mengambil" dan -haa yang berarti "-nya" untuk rampasan itu. Kata kerja akhadza berakar أ-خ-ذ. Kata kerja yang sama dengan -haa yang sama dipakai tiga kali dalam surah ini, dan tiap bentuknya hanya muncul sekali di Al-Qur'an: (لِتَأْخُذُوهَا, li-ta'khudzuuhaa) yang berarti "untuk mengambilnya" di 48:15, ya'khudzuunahaa di 48:19, dan (تَأْخُذُونَهَا, ta'khudzuunahaa) yang berarti "yang kalian ambil" di 48:20. Pelakunya berganti dari "kalian" di 48:15 ke "mereka" di 48:19, lalu "kalian" lagi di 48:20. Terjemahan tidak menambahkan "dapat" atau "akan", karena kata kerjanya tidak memuat awalan seperti sa- pada (سَيَقُولُ, sa-yaquulu) di 48:15 yang diterjemahkan "akan berkata".

Kalimat penutup (وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا, wa-kaana llaahu 'aziizan hakiiman) yang berarti "Allah digdaya lagi penuh hikmah" tersusun dari wa-kaana, llaahu yang berarti "Allah", 'aziizan yang berarti "digdaya", dan hakiiman yang berarti "penuh hikmah". Rangkaian lengkap ini muncul empat kali, yaitu di 4:158, 4:165, 48:7, dan 48:19. Di 4:56 kedua sifat itu berdiri dengan kata kerja tanpa wa-, yaitu (كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا, kaana 'aziizan hakiiman). Di kelima ayat itu kata kerja kaana tidak diterjemahkan "adalah" atau "dahulu", dan kedua sifat diterjemahkan sama. Kata 'aziizan berakar ع-ز-ز dan tidak memakai kata sandang al-, sehingga terjemahan memakai "digdaya" tanpa gelar "Sang". Kata hakiiman berakar ح-ك-م. Di surah ini hakiiman berpasangan dengan sifat lain di 48:4, (وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا, wa-kaana llaahu 'aliiman hakiiman) yang berarti "Allah berilmu lagi penuh hikmah", dan berpasangan dengan 'aziizan di 48:7 dan 48:19.

Terjemahan mengakhiri kalimat tentang rampasan dengan titik dan memulai kalimat baru tanpa kata "dan" untuk wa- pada wa-kaana, karena kalimat penutup itu berdiri sebagai pernyataan tersendiri tentang Allah.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan kalimat 48:18, sebab dibuka dengan wa- dan memuat kata maghaanima yang oleh data morfologi diberi tanda akhiran yang sama dengan (فَتْحًا, fathan) di 48:18. Dapat dibaca bahwa rampasan yang banyak termasuk dalam balasan yang disebut di 48:18 bersama kemenangan yang dekat. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, karena kata kerja yang menjadi pangkalnya, (أَثَابَهُمْ, atsaabahum), berada satu ayat sebelumnya dan 48:19 tidak mengulanginya.

Sapaan dalam rangkaian 48:18 sampai 48:20 berganti di tengah jalan. Ayat 48:18 dan 48:19 berbicara tentang orang-orang mukmin dengan kata "mereka", sedangkan 48:20 menyapa dengan kata "kalian". Rampasan yang di 48:19 dilaporkan sebagai sesuatu yang mereka ambil dijanjikan langsung kepada para pendengar di ayat berikutnya, sehingga benda yang sama berpindah dari laporan ke janji.

Rampasan pertama kali disebut di surah ini pada 48:15, dalam keterangan tentang saat orang-orang yang ditinggalkan meminta ikut, yaitu (إِذَا انْطَلَقْتُمْ إِلَىٰ مَغَانِمَ, idzaa nthalaqtum ilaa maghaanima) yang berarti "apabila kalian berangkat menuju rampasan". Benda yang sama disebut dari dua tempat: dari kalimat tentang kelompok yang ditinggalkan di 48:15, dan dari kalimat tentang orang-orang yang berjanji setia di 48:19.

Penutup ayat memuat dua sifat Allah. Rumus yang sama dipakai di 4:158 sesudah pernyataan tentang pengangkatan Isa dan di 4:165 sesudah pernyataan tentang rasul-rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, sehingga kaitannya dengan rampasan di 48:19 bukan bagian tetap dari rumus itu. Di 48:7 penutup yang sama menyusul pernyataan tentang bala tentara langit dan bumi. Dua ayat di surah ini, yaitu 48:7 dan 48:19, memakai penutup itu sesudah menyebut sesuatu yang berskala besar, yakni bala tentara dan rampasan yang banyak. Dapat dibaca bahwa penutup itu mengalihkan perhatian dari bendanya kepada Allah. Ayat ini sendiri tidak menjelaskan hubungan tersebut.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja mengambil dengan benda yang sama muncul di tiga ayat dengan tiga sudut: di 48:15 sebagai keterangan waktu dalam kalimat tentang kelompok yang ditinggalkan, di 48:19 sebagai laporan tentang orang-orang yang berjanji setia, dan di 48:20 sebagai janji yang disapakan langsung. Ketika membaca, pembaca menaruh dirinya di salah satu posisi: sebagai orang yang disapa atau sebagai orang yang dilaporkan. Kalimat yang sama dapat dibaca dari kedua posisi itu, dan 48:19 berada di posisi yang melaporkan. Dari posisi mana pembaca membaca bagian ini, dan mengapa memilih posisi itu?
  • Ayat 48:19 menyebut benda yang dapat diambil dengan tangan dan menyebutnya banyak. Di 4:94 rampasan yang banyak disebut berada di sisi Allah, dalam ayat yang menegur orang yang mencari harta kehidupan dunia, yaitu keadaan yang lain dari 48:19. Pada kedua ayat harta disebut sebagai harta, tanpa dihaluskan namanya. Hasil kerja pembaca sendiri dapat disebut dengan nama yang apa adanya atau dengan nama yang lebih halus daripada kenyataannya. Bagaimana nama itu terdengar bila Allah yang menyebutnya?
  • Kalimat penutup 48:19 memuat dua sifat Allah dan tidak memuat satu pun sifat orang yang mengambil rampasan: tidak ada kata tentang kecakapan, kerja keras, atau kelayakan mereka. Sifat yang disebut di akhir ayat adalah digdaya dan penuh hikmah, dan keduanya milik Allah. Cerita keberhasilan yang ditutup dengan daftar kelebihan sendiri berbeda dari penutup ayat ini. Bagaimana kalimat penutup cerita pembaca bila disusun dari sifat Allah, dan tidak dari sifat dirinya?
  • Dalam urutan 48:18 ke 48:19, keridaan, pengetahuan atas isi hati, dan ketenangan disebut lebih dulu, dan rampasan yang banyak datang kemudian dalam kalimat yang sama. Dapat dibaca bahwa harta tidak berada di awal daftar apa yang Allah berikan kepada orang-orang itu. Pembaca yang menghitung nikmat mulai dari yang bisa dinilai dengan angka dapat mencoba mengubah urutannya. Apa saja yang pernah diterimanya yang tidak mempunyai harga, dan di mana letaknya dalam daftar itu?
  • Di 48:18 Allah memberi balasan, dan di 48:19 orang-orangnya mengambil rampasan, sehingga satu rangkaian kalimat memuat dua kata kerja dari dua sisi, memberi dan mengambil. Ayat 48:19 tidak mengatakan siapa yang menyerahkan rampasan itu ke tangan mereka dan hanya menyebut bahwa mereka mengambilnya. Sesuatu yang diterima pembaca kadang disebut diberikan dan kadang disebut diambil. Kata mana yang lebih sering dipakainya untuk dirinya sendiri, memberi atau mengambil, dan apa yang tampak dari pilihan itu?
  • Ayat ini berhenti pada kata penuh hikmah tanpa menyebut hikmah yang dimaksud, dan tidak menjelaskan mengapa rampasan yang banyak disebut pada saat ini. Pembaca yang ingin segera mengetahui alasan sebuah pemberian menemukan bahwa ayat menaruh kata hikmah di tempat alasan, lalu membiarkannya tanpa isi tambahan. Kapan terakhir pembaca menerima sesuatu tanpa diberi alasan, dan apakah dirinya sanggup menerimanya tanpa mengisi tempat alasan itu dengan dugaannya sendiri?