سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

Sunah Allah yang telah berlalu sebelumnya; dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُsunnata llaahi llatii qad khalat min qablusunah Allah yang telah berlalu sebelumnya
  2. وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًاwa-lan tajida li-sunnati llaahi tabdiilandan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. سُنَّةَsunnatasunah
  2. اللَّهِllaahiAllah
  3. الَّتِيllatiiyang
  4. قَدْqadsungguh
  5. خَلَتْkhalattelah berlalu
  6. مِنْmindari
  7. قَبْلُqablusebelumnya
  8. وَلَنْwa-landan tidak akan
  9. تَجِدَtajidaengkau mendapati
  10. لِسُنَّةِli-sunnatipada sunah
  11. اللَّهِllaahiAllah
  12. تَبْدِيلًاtabdiilanperubahan

Inti bacaan

Kalimat wa-lan tajida li-sunnati llaahi tabdiilan muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 33:62 dan 48:23.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (سُنَّةَ اللَّهِ, sunnata llaahi) yang berarti "sunah Allah", tanpa kata kerja di depannya. Kata sunah berakar س-ن-ن. Dalam bentuk tunggal kata ini ada di sembilan ayat, yaitu 8:38, 15:13, 17:77, 18:55, 33:38, 33:62, 35:43, 40:85, dan 48:23. Bentuk jamaknya ada di dua ayat, yaitu (سُنَنٌ, sunanun) di 3:137 dan (سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ, sunana lladziina min qablikum) yang berarti "jalan-jalan orang yang sebelum kalian" di 4:26. Pemilik sunah disebut dengan tiga cara. Di 8:38, 15:13, 18:55, dan 35:43 pemiliknya "orang-orang terdahulu", di 17:77 "rasul-rasul yang Kami utus", dan di 33:38, 33:62, 35:43, 40:85, serta 48:23 pemiliknya Allah. Ayat 35:43 memuat dua cara itu sekaligus.

Anak kalimat berikutnya adalah (الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ, llatii qad khalat min qablu) yang berarti "yang telah berlalu sebelumnya". Kata (خَلَتْ, khalat) yang berarti "telah berlalu" berakar خ-ل-و. Susunan (قَدْ خَلَتْ, qad khalat) ada di tiga belas ayat, yaitu 2:134, 2:141, 3:137, 3:144, 5:75, 7:38, 13:6, 13:30, 15:13, 40:85, 41:25, 46:18, dan 48:23. Pelakunya berganti-ganti: umat di 2:134 dan 2:141, rasul-rasul di 3:144 dan 5:75, umat-umat di 7:38, 13:30, 41:25, dan 46:18, contoh-contoh siksaan di 13:6, dan sunah di 3:137, 15:13, 40:85, serta 48:23. Terjemahan memakai "telah berlalu" untuk kata ini di 2:134, 2:141, 3:137, 3:144, 5:75, 7:38, 13:6, 13:30, 15:13, 41:25, dan di sini. Susunan (الَّتِي قَدْ خَلَتْ, llatii qad khalat) hanya ada di 40:85 dan 48:23. Di 40:85 susunan itu disusul (فِي عِبَادِهِ, fii 'ibaadihi) yang berarti "pada hamba-hamba-Nya", dan di 48:23 disusul (مِنْ قَبْلُ, min qablu) yang berarti "sebelumnya". Frasa min qablu ada tiga kali di surah ini, yaitu di 48:15, 48:16, dan 48:23, dan terjemahan memakai "sebelumnya" di ketiganya.

Kalimat kedua berbunyi (وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا, wa-lan tajida li-sunnati llaahi tabdiilan) yang berarti "dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunah Allah". Kata kerja (تَجِدَ, tajida) yang berarti "engkau mendapati" berakar و-ج-د, akar yang sama dengan yajiduuna di 48:22. Pelaku yang tidak mendapati berganti: di 48:22 mereka, di sini engkau, satu orang yang diajak bicara. Kalimat dengan bunyi lengkap ini ada dua kali, di 33:62 dan 48:23. Kata lain untuk perubahan, (تَحْوِيلًا, tahwiilan), dipakai di 17:56, 17:77, dan 35:43. Di 35:43 kedua kata itu berdampingan, sedangkan di ayat ini dipakai tabdiilan saja.

Kata (تَبْدِيلًا, tabdiilan) yang berarti "perubahan" berakar ب-د-ل dan ada lima kali, yaitu di 33:23, 33:62, 35:43, 48:23, dan 76:28. Tiga di antaranya, 33:62, 35:43, dan 48:23, berkenaan dengan sunah. Di 33:23, (وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا, wa-maa baddaluu tabdiilan) berarti "dan mereka tidak mengubahnya sedikit pun", tentang lelaki-lelaki yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah. Di 76:28, (بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ تَبْدِيلًا, baddalnaa amtsaalahum tabdiilan) berarti "Kami mengganti mereka dengan yang serupa mereka", tentang manusia yang diganti bila Allah menghendaki. Bentuk lain, (تَبْدِيلَ, tabdiila), ada di 10:64, (لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ, laa tabdiila li-kalimaati llaahi) yang berarti "tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah", dan di 30:30, (لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ, laa tabdiila li-khalqi llaahi) yang berarti "tidak ada perubahan pada ciptaan Allah".

Akar yang sama muncul lebih awal di surah ini, yaitu di 48:15, (يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ, yubaddiluu kalaama llaahi) yang berarti "mengubah perkataan Allah". Dalam surah ini akar ب-د-ل ada di dua ayat saja, yaitu 48:15 dan 48:23.

Tafsiran

Ayat ini berdiri di antara pengandaian dan peristiwa. Ayat 48:22 memuat kata sekiranya tentang lawan yang berbalik, 48:24 memuat penahanan dua pihak, dan 48:23 tidak memuat satu pun dari keduanya: tidak ada pengandaian, tidak ada pelaku yang berbuat, dan tidak ada kutipan ucapan. Kata pertamanya, sunah Allah, dapat dibaca menunjuk ke apa yang baru dikabarkan di ayat sebelumnya, sebab tidak ada kata kerja yang membuatnya berdiri sendiri. Ayat ini juga tidak menuturkan satu contoh pun dari sunah yang telah berlalu itu, sehingga keteraturannya diterima dari pernyataan ayat lebih dulu, dan contohnya dicari di tempat lain.

Di 3:137 sunah-sunah yang telah berlalu disusul ajakan (فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا, fa-siiruu fii l-ardhi fa-nzhuruu) yang berarti "maka berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah", dengan kesudahan para pendusta sebagai bahan yang diperhatikan. Di 33:62 kalimat penutup ayat ini diucapkan setelah sunah yang berlaku pada orang-orang yang telah berlalu sebelumnya. Ayat 48:23 sendiri memberi pernyataan, dan dua ayat itu memberi arah untuk memeriksanya.

Surah ini memakai kata sebelumnya untuk tiga hal berbeda: perkataan Allah di 48:15, perbuatan berpaling di 48:16, dan sunah di 48:23. Ketiganya menunjuk masa yang sudah lewat sebagai dasar bagi pembicaraan masa kini. Ayat 48:15 juga memuat orang-orang yang hendak mengubah perkataan Allah, dan 48:23 dapat dibaca sebagai penutup bagi keinginan semacam itu, karena perubahan yang dicari pada sunah Allah dinyatakan tidak akan ditemukan. Kedua ayat tidak dihubungkan secara tegas oleh teksnya, dan pembacaan ini bergantung pada kesamaan akar katanya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 48:23 menyebut sunah yang telah berlalu tanpa menuturkan satu contoh pun, sehingga pembacanya berdiri di depan keteraturan yang belum dilihatnya sendiri. Di 3:137 sunah-sunah yang telah berlalu disusul ajakan untuk berjalan di bumi dan memperhatikan kesudahan para pendusta, dan di 4:26 Allah menyatakan hendak menjelaskan serta menunjukkan jalan-jalan orang sebelum kalian. Kedua ayat itu memperlakukan masa lalu sebagai bahan yang diperiksa dan dipelajari. Seseorang dapat bertanya bagaimana sejarah keluarganya, kantornya, atau kotanya dibacanya: sebagai deretan kejadian yang sudah tamat, atau sebagai contoh yang mungkin masih berlaku? Pertanyaan apa yang diajukannya kepada hal yang telah berlalu itu?
  • Ayat 18:55 menyebut bahwa tidak ada yang menahan manusia dari beriman dan memohon ampun setelah petunjuk datang, kecuali datangnya ketetapan orang-orang terdahulu atau azab secara langsung. Ayat 35:43 bertanya apakah mereka hanya menunggu ketetapan orang-orang terdahulu, lalu menyambungnya dengan kalimat bahwa perubahan tidak akan ditemukan pada ketetapan Allah. Dua ayat itu menaruh penantian pada keteraturan yang sudah tertulis, sedangkan 48:23 menyatakan keteraturan itu tidak berubah selama penantian berlangsung. Seseorang yang menunda sebuah keputusan sampai buktinya lebih jelas dapat menimbang bukti macam apa yang ditunggunya, dan apakah bukti itu memang belum ada atau sudah ada tetapi belum dipandangnya.
  • Kata perubahan di 48:23 dipakai juga untuk dua hal lain. Di 33:23 lelaki-lelaki yang menepati janji kepada Allah disifati dengan kalimat bahwa mereka tidak mengubahnya sedikit pun, dan di 76:28 Allah menyatakan bahwa Dia mengganti manusia dengan yang serupa bila Dia menghendaki. Tiga ayat ini memakai satu kata untuk tiga pihak: sunah yang tidak berubah, manusia yang tidak mengubah janjinya, dan manusia yang dapat diganti. Seorang pembaca dapat meletakkan dirinya di antara ketiganya dan bertanya di mana letaknya hari ini. Apakah janjinya masih sama dengan yang pernah diucapkannya, atau sudah bergeser ke arah yang lebih nyaman tanpa pernah diumumkannya kepada siapa pun?
  • Ayat 48:22 menyatakan apa yang tidak ditemukan oleh mereka, dan 48:23 menyatakan apa yang tidak akan ditemukan oleh engkau. Kata kerja mendapati yang sama dipakai di dua ayat berurutan, tetapi isinya berbeda: pelindung dan penolong bagi yang berbalik, perubahan bagi yang mencarinya pada sunah Allah. Kalimat pertama berbicara tentang pihak ketiga, dan kalimat kedua berbicara kepada orang yang diajak bicara. Pembaca yang biasa menempatkan dirinya di pihak yang aman akan mendapati bahwa kata engkau menaruhnya langsung di depan kalimat itu. Ketika membaca apa yang tidak akan ditemukan, apakah kalimat itu dibacanya sebagai nasib orang lain, atau sebagai kalimat yang menyebut dirinya sendiri?
  • Di 48:15 orang-orang yang tertinggal meminta ikut ketika kalian berangkat menuju rampasan, dan ayat itu menyebut mereka hendak mengubah perkataan Allah. Akar kata yang sama muncul di 48:23 dalam kalimat bahwa perubahan tidak akan ditemukan pada sunah Allah. Dua ayat dari surah yang sama mempertemukan keinginan mengubah dan pernyataan tidak berubah, tanpa ayat yang menghubungkannya secara tegas. Seseorang yang menghadapi aturan yang terasa memberatkan dapat memperhatikan kapan keinginan meminta pengecualian itu muncul dalam dirinya: ketika aturan merugikan, atau ketika ada keuntungan di seberang yang sulit dilepaskan. Aturan yang sama, kapan terasa wajar dan kapan terasa sempit?
  • Sunah Allah tidak akan berubah menurut 48:23, sedangkan 13:11 menyatakan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Ayat 8:53 mengatakan hal yang sama tentang nikmat yang telah dianugerahkan kepada suatu kaum. Dua ayat itu menaruh perubahan di tempat yang berbeda dari 48:23, yaitu pada diri manusia. Sunah yang tetap dan diri yang dapat berubah berdampingan dalam teks yang sama. Pembaca yang sedang menunggu keadaannya bergeser dapat menimbang bagian mana dari keadaan itu yang terletak pada sunah, yang tidak akan bergeser, dan bagian mana yang terletak pada dirinya sendiri. Berapa banyak yang selama ini ditunggunya dari tempat yang tidak akan berubah?