إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَىٰ وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Ketika orang-orang yang kufur menanamkan kesombongan dalam hati mereka, kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dan menetapkan bagi mereka kalimat takwa; mereka lebih berhak atasnya dan patut memilikinya. Allah berilmu akan segala sesuatu.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِidz ja'ala lladziina kafaruu fii quluubihimu l-hamiyyata hamiyyata l-jaahiliyyatiketika orang-orang yang kufur menanamkan kesombongan dalam hati mereka, kesombongan jahiliah
- فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَfa-anzala llaahu sakiinatahu 'alaa rasuulihi wa-'alaa l-mu'miniinalalu, Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin
- وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَىٰ وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَاwa-alzamahum kalimata t-taqwaa wa-kaanuu ahaqqa bihaa wa-ahlahaadan menetapkan bagi mereka kalimat takwa; mereka lebih berhak atasnya dan patut memilikinya
- وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًاwa-kaana llaahu bi-kulli syay'in 'aliimanAllah berilmu akan segala sesuatu
Terjemahan per kata (28 kata)
- إِذْidzketika
- جَعَلَja'alamenjadikan
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- فِيfiidalam
- قُلُوبِهِمُquluubihimuhati mereka
- الْحَمِيَّةَl-hamiyyatakesombongan
- حَمِيَّةَhamiyyatakesombongan
- الْجَاهِلِيَّةِl-jaahiliyyatijahiliah
- فَأَنْزَلَfa-anzalamaka Dia menurunkan
- اللَّهُllaahuAllah
- سَكِينَتَهُsakiinatahuketenangan-Nya
- عَلَىٰ'alaaatas
- رَسُولِهِrasuulihiRasul-Nya
- وَعَلَىwa-'alaadan atas
- الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinaorang-orang beriman
- وَأَلْزَمَهُمْwa-alzamahumdan Dia mewajibkan mereka
- كَلِمَةَkalimatakalimat
- التَّقْوَىٰt-taqwaaketakwaan
- وَكَانُواwa-kaanuudan mereka selalu
- أَحَقَّahaqqalebih berhak
- بِهَاbihaaterhadapnya
- وَأَهْلَهَاwa-ahlahaadan penduduknya
- وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
- اللَّهُllaahuAllah
- بِكُلِّbi-kullipada segala
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- عَلِيمًا'aliimanberilmu
Inti bacaan
Bunyi sakiinatahu 'alaa rasuulihi wa-'alaa l-mu'miniina muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 9:26 dan 48:26.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ, idz ja'ala lladziina kafaruu fii quluubihimu l-hamiyyata) yang berarti "ketika orang-orang yang kufur menanamkan kesombongan dalam hati mereka". Kata (إِذْ, idz) yang berarti "ketika" mengikat ayat ini pada waktu yang dituturkan sebelumnya. Kata kerja (جَعَلَ, ja'ala) berakar ج-ع-ل, dan pelakunya di bagian kalimat ini adalah (الَّذِينَ كَفَرُوا, alladziina kafaruu), sedangkan hati yang dimaksud milik mereka sendiri, (قُلُوبِهِمُ, quluubihimu). Nama Allah belum ada di bagian kalimat ini dan baru muncul pada kata kerja berikutnya. Terjemahan memakai "menanamkan" karena benda yang dipasang itu berada di dalam hati.
Kata (الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ, l-hamiyyata hamiyyata l-jaahiliyyati) yang berarti "kesombongan, kesombongan jahiliah" menyebut kata yang sama dua kali. Pada sebutan pertama kata itu berdiri sendiri dengan kata sandang al-, dan pada sebutan kedua diberi jenisnya. Kata hamiyyah berakar ح-م-ي dan hanya ada di 48:26. Akar itu juga ada di ayat lain, dan di tiga di antaranya menyangkut panas: (يُحْمَىٰ, yuhmaa) yang berarti "dipanaskan" di 9:35, (نَارًا حَامِيَةً, naaran haamiyatan) yang berarti "api yang sangat panas" di 88:4, dan (نَارٌ حَامِيَةٌ, naarun haamiyatun) yang berarti "api yang sangat panas" di 101:11. Karena hamiyyah tidak punya pemakaian lain, korpus tidak memberi pembanding bagi arti "kesombongan". Pilihan itu bersandar pada kalimat ayat ini, yaitu kata yang ditaruh di hati orang-orang yang kufur lalu dihadapkan pada ketenangan di bagian kalimat berikutnya. Tiga ayat tadi menunjukkan bahwa sebagian pemakaian akarnya berhubungan dengan panas.
Kata (الْجَاهِلِيَّةِ, l-jaahiliyyati) yang berarti "jahiliah" berakar ج-ه-ل dan ada di empat ayat, yaitu 3:154, 5:50, 33:33, dan 48:26. Di keempatnya kata itu menjadi anggota kedua dari dua kata: (ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ, zhanna l-jaahiliyyati) yang berarti "prasangka jahiliah" di 3:154, (حُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ, hukma l-jaahiliyyati) yang berarti "putusan jahiliah" di 5:50, dan (حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ, hamiyyata l-jaahiliyyati) di ayat ini. Di 33:33, (وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ, wa-laa tabarrajna tabarruja l-jaahiliyyati l-uulaa) berarti "janganlah berhias secara mencolok seperti kebiasaan jahiliah dahulu", dengan tambahan (الْأُولَىٰ, l-uulaa) yang berarti "dahulu". Ayat-ayat itu tidak menerangkan kapan jahiliah itu berlangsung dan siapa yang dimaksud dengannya.
Bunyi (فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ, fa-anzala llaahu sakiinatahu 'alaa rasuulihi wa-'alaa l-mu'miniina) berarti "lalu, Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin". Kata (سَكِينَتَهُ, sakiinatahu) berakar س-ك-ن. Kata sakiinah ada di enam ayat, yaitu 2:248, 9:26, 9:40, 48:4, 48:18, dan 48:26, dan kata kerja (أَنْزَلَ, anzala) yang berarti "menurunkan" menyertainya di lima di antaranya, yaitu 9:26, 9:40, 48:4, 48:18, dan 48:26. Penerimanya berbeda-beda: (عَلَيْهِ, 'alayhi) "kepadanya" di 9:40, (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) "kepada mereka" di 48:18, dan (فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ, fii quluubi l-mu'miniina) yang berarti "ke dalam hati orang-orang mukmin" di 48:4. Bunyi (سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ, sakiinatahu 'alaa rasuulihi wa-'alaa l-mu'miniina) ada dua kali, di 9:26 dan 48:26, dan kata depan (عَلَىٰ, 'alaa) diulang untuk tiap penerima. Terjemahan memakai "ketenangan-Nya" di kedua ayat itu, sehingga akhiran -hu terwakili.
Kata kerja (وَأَلْزَمَهُمْ, wa-alzamahum) yang berarti "dan menetapkan bagi mereka" berakar ل-ز-م, dan bentuk ini ada di tiga ayat, yaitu 11:28, 17:13, dan 48:26. Di ketiganya kata kerja itu membawa dua sasaran, orang yang ditunjuk akhiran dan benda yang disebut sesudahnya. Di 17:13, (أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ, alzamnaahu thaa'irahu fii 'unuqihi) berarti "Kami kalungkan nasibnya di lehernya". Di 11:28, (أَنُلْزِمُكُمُوهَا, a-nulzimukumuuhaa) berarti "apakah kami akan memaksa kalian untuk menerimanya", dan paksaan di sana datang dari kalimat (وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ, wa-antum lahaa kaarihuuna) yang berarti "padahal kalian tidak menyukainya". Di 48:26 kalimat semacam itu tidak ada, sehingga terjemahan memakai "menetapkan bagi mereka" tanpa menambahkan paksaan. Sasaran pertamanya mereka, penerima ketenangan tadi, dan sasaran keduanya kalimat takwa.
Kata (كَلِمَةَ, kalimata) yang berarti "kalimat" berakar ك-ل-م, dan bentuk ini ada di tiga ayat, yaitu 9:40, 9:74, dan 48:26. Di 9:74, (قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ, qaaluu kalimata l-kufri) berarti "mereka mengucapkan perkataan kekufuran", sehingga kalimat di sana adalah sesuatu yang diucapkan. Di 9:40, (وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ, wa-ja'ala kalimata lladziina kafaruu s-suflaa) berarti "dan Dia menjadikan seruan orang-orang yang kufur rendah". Kata (التَّقْوَىٰ, t-taqwaa) yang berarti "takwa" berakar و-ق-ي dan ada di sembilan ayat, yaitu 2:197, 5:2, 7:26, 9:108, 22:37, 48:26, 58:9, 74:56, dan 96:12. Di 7:26 kata ini disandingkan dengan pakaian, (وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ, wa-libaasu t-taqwaa) yang berarti "dan pakaian takwa", dan di 2:197 dengan bekal, (خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ, khayra z-zaadi t-taqwaa) yang berarti "sebaik-baik bekal adalah takwa". Di 48:26 takwa digambarkan sebagai kalimat, berbeda dari pakaian dan bekal.
Anak kalimat (وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا, wa-kaanuu ahaqqa bihaa wa-ahlahaa) berarti "mereka lebih berhak atasnya dan patut memilikinya". Kata (أَحَقَّ, ahaqqa) yang berarti "lebih berhak" berakar ح-ق-ق. Dengan kata depan bi-, bentuk ini ada di 2:228, 2:247, 6:81, dan 48:26. Di 2:247, (وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ, wa-nahnu ahaqqu bi-l-mulki minhu) berarti "sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya", yaitu ucapan sekelompok orang tentang diri mereka. Di 6:81, (فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ, fa-ayyu l-fariiqayni ahaqqu bi-l-amni) berarti "maka golongan manakah dari keduanya yang lebih berhak mendapat keamanan", yaitu sebuah pertanyaan. Di 48:26 kata itu berada dalam pernyataan tentang mereka. Kata (أَهْلَهَا, ahlahaa) yang berarti "patut memilikinya" memakai akhiran -haa yang menunjuk benda, seperti (إِلَىٰ أَهْلِهَا, ilaa ahlihaa) yang berarti "kepada pemiliknya" di 4:58, tentang amanah. Dengan kata takwa, (أَهْلُ التَّقْوَىٰ, ahlu t-taqwaa) di 74:56 berarti "yang berhak ditakwai", sebutan bagi Allah. Terjemahan "patut memilikinya" mengikuti 4:58, sebab akhiran -haa di 48:26 menunjuk kalimat takwa.
Ayat ditutup dengan (وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا, wa-kaana llaahu bi-kulli syay'in 'aliiman) yang berarti "Allah berilmu akan segala sesuatu". Kalimat penutup berpola kata kerja (كَانَ, kaana) lalu nama Allah ada delapan kali di surah ini, tujuh dengan awalan (وَ, wa-) dan satu, di 48:11, dengan (بَلْ, bal), yaitu di 48:4, 48:7, 48:11, 48:14, 48:19, 48:21, 48:24, dan 48:26, dengan sifat yang berbeda-beda: berilmu lagi penuh hikmah di 48:4, digdaya lagi penuh hikmah di 48:7 dan 48:19, waskita di 48:11, pengampun lagi pengasih di 48:14, berkuasa di 48:21, melihat di 48:24, dan berilmu di 48:26. Kata (عَلِيمًا, 'aliiman) yang berarti "berilmu" berakar ع-ل-م, dan terjemahan memakai "berilmu" untuknya di 48:4 dan di sini.
Tafsiran
Ayat ini menaruh dua keadaan pada satu waktu. Kata ketika mengikat seluruh ayat pada keadaan yang dituturkan di 48:24 dan 48:25, dan di dalam keadaan itu ayat menunjuk dua keadaan: kesombongan di dalam hati orang-orang yang kufur, dan ketenangan pada Rasul serta orang-orang mukmin. Kedua keadaan itu datang dari arah yang berbeda. Kesombongan dipasang oleh pemilik hatinya sendiri dengan kata kerja ja'ala, sedangkan ketenangan diturunkan Allah dengan kata kerja anzala. Ayat hanya memberi tahu apa yang ditaruh di hati satu pihak dan apa yang diturunkan kepada pihak lain, dan tidak menguraikan apa yang dilakukan kesombongan itu maupun ketenangan itu.
Urutan dari 48:22 sampai 48:26 bergerak dari luar ke dalam: punggung yang berbalik di 48:22, tangan yang ditahan di 48:24, orang yang terinjak di 48:25, lalu hati di 48:26. Pembaca dapat melihat dalam urutan itu bahwa peristiwa pada tubuh disusul keadaan hati, meski teksnya tidak menyatakan hubungan sebab antara keduanya.
Hati dan jahiliah bertemu juga di 3:154. Di sana (ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ, zhanna l-jaahiliyyati) berada dalam ayat yang memuat (مَا فِي قُلُوبِكُمْ, maa fii quluubikum) yang berarti "apa yang ada dalam hati kalian", dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah mengetahui segala isi dada. Ayat 48:26 tidak mengulang kalimat itu, tetapi penutupnya berbicara tentang pengetahuan yang mencakup segala sesuatu, tepat sesudah dua hati disebut. Pihak yang kufur disebut di sini untuk kali terakhir dalam rangkaian ini, setelah 48:22 dan 48:25, dan 48:27 beralih ke pokok yang lain.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 48:26 menyebut pelaku yang memasang kesombongan di dalam hati dengan jelas: orang-orang yang kufur sendiri, di dalam hati mereka sendiri. Nama Allah belum muncul pada bagian kalimat itu, sehingga kesombongan tersebut tertulis sebagai sesuatu yang ditaruh oleh pemilik hatinya. Seseorang yang pernah merasa dadanya memanas sesudah sebuah pertengkaran dapat bertanya sejak kapan rasa itu mulai terasa seperti datang dari luar, dan kapan ia mulai ditaruh sendiri. Dari semua yang dikatakan orang lain pada malam itu, bagian mana yang diulang-ulang sendiri di kepala hingga terasa panas?
- Kata ketika di awal ayat 48:26 mengikat dua kejadian pada keadaan yang dituturkan sebelumnya: kesombongan dipasang di hati satu pihak, lalu Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada pihak lain. Ayat tidak menyebut suasana yang reda, dan ayat tidak mengatakan bahwa keadaan di luar menjadi lebih mudah bagi yang diberi ketenangan. Seseorang yang berada di sebuah ruangan ketika orang-orang di sekelilingnya sedang naik pitam dapat memperhatikan apa yang terjadi di dadanya pada saat itu. Apakah ketenangan hanya dirasakan sesudah suasana mereda, atau ada hal yang dapat diterima sementara suasana belum mereda?
- Kalimat takwa di 48:26 disebut sebagai sesuatu yang mereka lebih berhak atasnya dan patut memilikinya. Kata untuk patut memilikinya dipakai di 4:58 dalam perintah menyampaikan amanah kepada pemiliknya, dan di 74:56 untuk Allah sebagai yang berhak ditakwai. Dua pemakaian itu menaruh kata tersebut pada kepemilikan yang sah, entah sesuatu yang harus dikembalikan kepada yang berhak atau sesuatu yang memang berhak dipegang. Seseorang dapat memeriksa apa yang ada di tangannya dengan pertanyaan itu: mana yang miliknya, mana yang titipan, dan mana yang sebenarnya lebih pantas dipegang orang lain. Adakah sesuatu di tangannya yang berada di sana karena kebetulan, padahal yang berhak atasnya orang lain?
- Ayat 48:26 menyebut kesombongan di hati dua kali. Sebutan pertama memakai kata sandang dan belum diberi jenis, lalu sebutan kedua menamainya sebagai milik jahiliah. Urutan itu dapat dibaca sebagai langkah dari rasa yang belum bernama ke rasa yang dikenali jenisnya. Di 3:154 jahiliah dikaitkan dengan prasangka, di 5:50 dengan putusan, dan di 33:33 dengan kebiasaan berhias, sehingga jenisnya berganti-ganti menurut tempatnya. Pembaca dapat bertanya jenis apa yang sedang bekerja ketika dadanya memanas: prasangka yang belum diperiksa, putusan yang tergesa, atau kebiasaan lama yang belum pernah dipertanyakan?
- Penutup ayat 48:26 menyebut pengetahuan Allah atas segala sesuatu, tepat sesudah dua isi hati disebut. Isi hati tidak tampak dari luar, dan ayat menaruhnya di dalam cakupan segala sesuatu. Di 3:154 ayat yang memuat jahiliah dan hati ditutup dengan pengetahuan tentang isi dada, sehingga susunan yang sama terlihat di dua tempat. Seseorang yang menyimpan sesuatu yang tidak pernah diucapkan kepada siapa pun, entah kecewa, takut, atau marah, dapat menimbang bagaimana rasanya mengetahui bahwa bagian itu tercakup dalam kalimat penutup. Apakah kenyataan itu mengubah apa yang dilakukan dengan simpanan tersebut?
- Kata kerja yang dipakai untuk kalimat takwa di 48:26 juga dipakai di 17:13, ketika nasib seseorang dikalungkan di lehernya, dan di 11:28, ketika seseorang bertanya apakah rahmat boleh dipaksakan kepada orang yang tidak menyukainya. Di 48:26 tidak ada kata yang menyatakan paksaan atau penolakan, dan kalimat takwa dilekatkan kepada mereka yang disebut lebih berhak atasnya. Sesuatu yang melekat pada seseorang tanpa diminta dapat berupa beban dan dapat pula berupa perlengkapan. Pembaca dapat meninjau apa saja yang melekat padanya sejak awal, misalnya nama, pekerjaan, asal, atau kebiasaan, lalu menimbang mana yang terasa seperti kalung nasib dan mana yang terasa seperti kalimat yang pantas dipegang.