بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mendengar lagi berilmu.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواyaa ayyuhaa lladziina aamanuuwahai orang-orang yang beriman
- لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِlaa tuqaddimuu bayna yadayi llaahi wa-rasuulihijanganlah mendahului Allah dan Rasul-Nya
- وَاتَّقُوا اللَّهَwa-ttaquu llaahadan bertakwalah kepada Allah
- إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌinna llaaha samii'un 'aliimunsesungguhnya Allah mendengar lagi berilmu
Terjemahan per kata (16 kata)
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- لَاlaajanganlah
- تُقَدِّمُواtuqaddimuukalian mendahulukan
- بَيْنَbaynadi antara
- يَدَيِyadayihadapan
- اللَّهِllaahiAllah
- وَرَسُولِهِwa-rasuulihidan Rasul-Nya
- وَاتَّقُواwa-ttaquudan jagalah diri dari
- اللَّهَllaahaAllah
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- سَمِيعٌsamii'unmendengar
- عَلِيمٌ'aliimunberilmu
Inti bacaan
Gabungan (تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ, tuqaddimuu bayna yadayi) ada dua kali di Al-Qur'an (49:1, 58:13).
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, yaa ayyuhaa lladziina aamanuu) yang berarti "wahai orang-orang yang beriman". Sapaan yang sama muncul lagi di 49:2, 49:6, 49:11, dan 49:12, sehingga surah ini memuatnya lima kali. Sebagai kata pertama sebuah surah, sapaan itu hanya ada di tiga tempat, yaitu 5:1, 49:1, dan 60:1. Kata kerja aamanuu berbentuk lampau, dan terjemahan memakai "beriman" tanpa tambahan, sehingga ayat ini menyapa orang yang sudah disebut beriman.
Kata kerja (لَا تُقَدِّمُوا, laa tuqaddimuu) yang berarti "janganlah mendahului" berakar ق-د-م. Di seluruh Al-Qur'an bentuk tuqaddimuu muncul empat kali, yaitu di 2:110, 49:1, 58:13, dan 73:20. Di tiga tempat lainnya kata kerja itu membawa benda yang didahulukan. Di 2:110 dan 73:20 bunyinya (وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ, wa-maa tuqaddimuu li-anfusikum min khayrin) yang berarti "dan kebaikan apa pun yang kalian dahulukan untuk diri kalian", dan di 58:13 bunyinya (أَنْ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَاتٍ, an tuqaddimuu bayna yaday najwaakum shadaqaatin) yang berarti "mengeluarkan sedekah sebelum pembicaraan rahasia kalian". Di 49:1 tidak ada benda semacam itu. Sesudah kata kerja langsung datang letaknya, yaitu di depan Allah dan Rasul-Nya. Karena itu terjemahan memakai "mendahului" dengan Allah dan Rasul-Nya sebagai sasaran, dan tidak menambahkan objek seperti "keputusan" atau "urusan".
Letak itu ditulis (بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ, bayna yadayi llaahi wa-rasuulihi) yang berarti "di hadapan Allah dan Rasul-Nya". Kata bayna berarti "di antara" dan yadayi adalah bentuk pasangan dari yad, "tangan", sehingga gambarannya letak di antara dua tangan seseorang, yaitu di depannya. Bila yang mengikuti bayna yaday adalah kata benda lengkap, dan bukan akhiran seperti -hi, susunan ini muncul enam kali di luar 49:1, yaitu di 7:57, 25:48, 27:63, 34:46, 58:12, dan 58:13. Tiga yang pertama berbunyi (بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ, bayna yaday rahmatihi) yang berarti "sebelum rahmat-Nya", dan 34:46 berbunyi (بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ, bayna yaday 'adzaabin syadiidin) yang berarti "menjelang azab yang keras". Pada keenam tempat itu kata benda sesudahnya adalah sesuatu yang akan datang atau berlangsung, yaitu rahmat, azab, dan pembicaraan rahasia. Di 49:1 kata benda sesudahnya adalah Allah dan Rasul-Nya. Kata kerja qaddama bersama bayna hanya ada di 49:1, 58:12, dan 58:13.
Perintah berikutnya (وَاتَّقُوا اللَّهَ, wa-ttaquu llaaha) yang berarti "dan bertakwalah kepada Allah" berakar و-ق-ي. Bunyi ini muncul tiga kali di surah yang sama, yaitu di 49:1, 49:10, dan 49:12. Di 49:10 bunyi itu menyusul (فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ, fa-ashlihuu bayna akhawaykum) yang berarti "maka damaikanlah kedua saudara kalian", dan di 49:12 bunyi itu menyusul larangan (وَلَا تَجَسَّسُوا, wa-laa tajassasuu) yang berarti "dan janganlah mencari-cari kesalahan". Dalam tiga ayat itu perintah bertakwa selalu datang sesudah sebuah perintah atau larangan lain, dan tidak pernah membuka ayat.
Penutupnya (سَمِيعٌ عَلِيمٌ, samii'un 'aliimun) yang berarti "mendengar lagi berilmu" berisi dua sebutan dari akar س-م-ع dan ع-ل-م. Keduanya tanpa kata sandang al-, sehingga terjemahan memakai huruf kecil dan tidak memakai "Maha". Rumus (إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ, inna llaaha samii'un 'aliimun) muncul empat kali, yaitu di 2:181, 2:227, 8:17, dan 49:1. Di 2:181 rumus itu menyusul (فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ, fa-man baddalahu ba'damaa sami'ahu) yang berarti "maka siapa yang mengubahnya setelah mendengarnya", dan di 2:227 menyusul (وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ, wa-in 'azamuu th-thalaaqa) yang berarti "dan jika mereka berketetapan hati untuk menceraikan". Pasangan samii'un 'aliimun sendiri muncul enam belas kali di tujuh surah, yaitu 2:181, 2:224, 2:227, 2:244, 2:256, 3:34, 3:121, 7:200, 8:17, 8:42, 8:53, 9:98, 9:103, 24:21, 24:60, dan 49:1. Terjemahan mempertahankan "mendengar" dan "berilmu" tanpa objek, karena ayat ini tidak menyebut apa yang didengar dan apa yang diketahui.
Tafsiran
Ayat ini membuka rangkaian 49:1 sampai 49:5 dengan satu larangan yang tidak menyebut apa yang tidak boleh didahulukan, tetapi menyebut pihak yang tidak boleh didahului. Larangan itu disusul perintah bertakwa, lalu ditutup dengan pernyataan tentang Allah. Ayat 49:2 kemudian mengisi larangan ini dengan perbuatan yang dapat didengar, yaitu meninggikan suara di atas suara Nabi. Dapat dibaca bahwa 49:1 memberi dasar dan 49:2 memberi bentuknya, tetapi 49:2 sendiri tidak menyatakan dirinya sebagai contoh dari 49:1.
Kata kerja dan penunjuk letak yang sama dipakai di 58:12 dengan arah yang berbeda. Di sana sedekah diperintahkan untuk diletakkan di depan pembicaraan rahasia dengan Rasul, sehingga ayat itu mengatur letak sedekah terhadap pembicaraan tersebut. Di 49:1 pihak yang berada di depan ialah Allah dan Rasul-Nya, dan larangannya mendahului mereka. Letak yang diatur kedua ayat berbeda, sehingga keduanya tidak saling bertentangan. Kata kerja qaddama sendiri tidak selalu dilarang: di 2:110 dan 58:12 kata kerja itu berada dalam kalimat yang menyebut kebaikan dan sedekah yang didahulukan, sedangkan di 49:1 larangannya jatuh pada mendahului Allah dan Rasul-Nya.
Sapaan di ayat ini dipakai lima kali di surah yang sama, dan tiap kalinya membuka satu pokok baru. Dua yang pertama, 49:1 dan 49:2, mengatur sikap terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Nabi. Ayat 49:6 mengatur sikap terhadap berita yang dibawa orang fasik, sedangkan 49:11 dan 49:12 mengatur hubungan antara sesama, dari mengolok-olok sampai menggunjing. Dibaca berurutan, sapaan itu bergerak dari urusan terhadap Allah dan Rasul-Nya di 49:1 dan 49:2 ke urusan antarmanusia di 49:11 dan 49:12.
Penutup ayat ini menyebut Allah mendengar dan berilmu, lalu 49:2 membicarakan suara yang dapat didengar dan 49:3 membicarakan hati yang diuji. Dapat dibaca bahwa dua sebutan di 49:1 sudah menyiapkan dua pokok yang dibahas sesudahnya, yaitu yang terdengar dan yang ada di dalam hati. Ayat-ayat itu tidak menyatakan kaitan tersebut, sehingga bacaan ini tetap sebagai kemungkinan.
Renungan dan Hikmah
- Larangan di 49:1 tidak menyebut apa yang dilarang untuk didahulukan, tetapi menyebut pihak yang tidak boleh didahului, yaitu Allah dan Rasul-Nya. Karena tidak ada daftar, pembaca tidak dapat menunjuk satu bagian hidupnya sebagai pengecualian, misalnya pekerjaan, penilaian atas seseorang, atau keputusan yang menurutnya sudah jelas. Ayat ini membiarkan pembaca sendiri yang memeriksa, dan pemeriksaan semacam itu tidak punya batas yang bisa ditutup. Di bagian hidup mana pembaca merasa kesimpulannya sudah boleh diambil sebelum mendengar apa pun lagi?
- Larangan ini ditujukan kepada orang-orang yang sudah disebut beriman, tidak kepada orang yang masih menimbang-nimbang. Pembaca yang sudah lama berada di dalam lingkaran itu ikut tersapa, termasuk ketika langkahnya terasa selaras dengan keimanannya. Ayat tidak menyebut orang yang beriman sebagai pihak yang kebal dari larangan ini, dan sapaan di awalnya menaruh mereka tepat di depan larangan. Adakah langkah yang pernah diambil pembaca atas nama imannya, padahal belum didengarnya dari sumber mana pun?
- Ayat ini memakai gambaran letak, yaitu berdiri di depan Allah dan Rasul-Nya. Pembaca dapat meminjam gambaran itu untuk mengenali kebiasaannya sendiri dalam percakapan sehari-hari: menyela sebelum kalimat selesai, memutuskan sebelum seluruh keterangan terdengar, atau menjawab sebelum pertanyaan habis. Ayat ini tidak berbicara tentang percakapan antarmanusia, jadi pinjaman itu hanya melatih kepekaan terhadap urutan dan tidak menyamakan kedua hal. Di percakapan mana pembaca paling sering berada di depan orang yang sedang berbicara?
- Perintah bertakwa diletakkan tepat sesudah larangan, tanpa menyebut perbuatan tertentu. Larangan dapat diperiksa dengan sederhana, yaitu sudah melanggar atau belum, sedangkan perintah itu tidak menyediakan cara memeriksa yang sama. Pembaca yang sudah menahan diri dari mendahului masih menerima satu perintah lagi yang tidak bisa dicentang seperti daftar. Bagaimana pembaca mengetahui dirinya sudah bertakwa, bila tidak ada perbuatan tunggal yang dapat dihitung?
- Penutup ayat menyebut dua hal sekaligus, mendengar dan berilmu, tanpa menyebut apa yang didengar atau diketahui. Dapat dibaca bahwa yang pertama menangkap yang diucapkan dan yang kedua menjangkau yang belum diucapkan. Pembaca yang menyimpan kesimpulan di kepalanya sebelum waktunya mungkin mengira belum ada yang dirugikan karena belum ada yang terdengar. Seandainya setiap pertimbangan yang belum diucapkan hari ini harus dibunyikan keras-keras, mana yang akan ditahannya?
- Kata kerja larangannya berbentuk jamak, "kalian", sehingga larangan itu jatuh pada sekelompok orang sekaligus. Satu orang yang mendahului mudah dikenali, sedangkan kelompok yang sepakat bergerak bersama bisa saja tidak ada satu pun anggotanya yang merasa berada di depan. Siapa yang memimpin langkah tidak tertulis. Pembaca yang menjadi bagian dari sebuah kesepakatan dapat bertanya apakah kesepakatan itu sudah menyisakan tempat bagi Allah dan Rasul-Nya, atau hanya mempertimbangkan sesama anggota kelompok.