يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian di atas suara Nabi, dan janganlah kalian mengeraskan perkataan kepadanya sebagaimana kerasnya sebagian kalian kepada sebagian yang lain, agar amal-amal kalian tidak terhapus sedang kalian tidak menyadari.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّyaa ayyuhaa lladziina aamanuu laa tarfa'uu ashwaatakum fawqa shawti n-nabiyyiwahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian di atas suara Nabi
  2. وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍwa-laa tajharuu lahu bi-l-qawli ka-jahri ba'dhikum li-ba'dhindan janganlah kalian mengeraskan perkataan kepadanya sebagaimana kerasnya sebagian kalian kepada sebagian yang lain
  3. أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَan tahbatha a'maalukum wa-antum laa tasy'uruunaagar amal-amal kalian tidak terhapus sedang kalian tidak menyadari

Terjemahan per kata (23 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. لَاlaajanganlah
  6. تَرْفَعُواtarfa'uukalian mengeraskan
  7. أَصْوَاتَكُمْashwaatakumsuara kalian
  8. فَوْقَfawqadi atas
  9. صَوْتِshawtisuara
  10. النَّبِيِّn-nabiyyiNabi
  11. وَلَاwa-laadan janganlah
  12. تَجْهَرُواtajharuukalian mengeraskan
  13. لَهُlahubaginya
  14. بِالْقَوْلِbi-l-qawlidengan perkataan
  15. كَجَهْرِka-jahriseperti kerasnya
  16. بَعْضِكُمْba'dhikumsebagian kalian
  17. لِبَعْضٍli-ba'dhinbagi sebagian
  18. أَنْanagar tidak
  19. تَحْبَطَtahbathaterhapus
  20. أَعْمَالُكُمْa'maalukumamal kalian
  21. وَأَنْتُمْwa-antumpadahal kalian
  22. لَاlaatidak
  23. تَشْعُرُونَtasy'uruunakalian menyadari

Inti bacaan

Bunyi wa-antum laa tasy'uruuna muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:55 dan 49:2.

Penjelasan pilihan kata

Larangan pertama (لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ, laa tarfa'uu ashwaatakum) yang berarti "janganlah kalian meninggikan suara kalian" memakai kata kerja dari akar ر-ف-ع, dan bentuk tarfa'uu hanya ada di 49:2. Kata ashwaat adalah bentuk jamak dari shawt, "suara". Akar ص-و-ت muncul di lima ayat, yaitu 17:64, 20:108, 31:19, 49:2, dan 49:3, dan bentuk jamaknya ada di empat dari kelima ayat itu, yaitu 20:108, 31:19, 49:2, dan 49:3. Di 31:19, (وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ, wa-ghdhudh min shawtika) yang berarti "dan rendahkanlah suaramu" bersanding dengan (إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ, inna ankara l-ashwaati) yang berarti "sesungguhnya seburuk-buruk suara". Gambaran "di atas" yang menyertai raf' ada antara lain di 6:165, (وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ, wa-rafa'a ba'dhakum fawqa ba'dhin darajaatin) yang berarti "dan Dia meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat". Dari pemakaian itu terjemahan memilih "meninggikan" untuk raf'.

Letak yang diukur ayat ini ditulis (فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ, fawqa shawti n-nabiyyi) yang berarti "di atas suara Nabi". Suara kalian berbentuk jamak, sedangkan suara Nabi berbentuk tunggal. Dalam bahasa Indonesia "suara kalian" sudah memuat banyak orang, sehingga jamak itu tidak perlu ditulis ulang. Tiga ayat berurutan memakai tiga sebutan berbeda: (وَرَسُولِهِ, wa-rasuulihi) di 49:1, (النَّبِيِّ, n-nabiyyi) di 49:2, dan (رَسُولِ اللَّهِ, rasuuli llaahi) di 49:3. Terjemahan memakai "Rasul-Nya", "Nabi", dan "Rasul Allah" mengikuti ketiga kata itu dan tidak menyeragamkannya, sebab ayat-ayat ini tidak menyatakan bahwa ketiganya menunjuk satu orang yang sama.

Larangan kedua (وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ, wa-laa tajharuu lahu bi-l-qawli) yang berarti "dan janganlah kalian mengeraskan perkataan kepadanya" memakai akar ج-ه-ر, yang berbeda dari raf'. Karena itu terjemahan memakai dua kata, "meninggikan" untuk raf' dan "mengeraskan" untuk jahr. Susunan jahr bersama bi-l-qawli ada juga di 20:7, (وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ, wa-in tajhar bi-l-qawli) yang berarti "jika engkau mengeraskan ucapan". Di 49:2 ada tambahan lahu, "kepadanya", yang menyebut kepada siapa perkataan keras itu diarahkan. Di 20:7 perkataan keras itu tidak diarahkan kepada siapa pun yang disebut.

Pembandingnya ditulis (كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ, ka-jahri ba'dhikum li-ba'dhin) yang berarti "sebagaimana kerasnya sebagian kalian kepada sebagian yang lain". Pasangan ba'dh dan li-ba'dh dipakai di delapan ayat, yaitu 2:36, 7:24, 17:88, 20:123, 25:20, 34:42, 43:67, dan 49:2. Di 2:36, 7:24, dan 20:123 bunyinya (بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ, ba'dhukum li-ba'dhin 'aduwwun) yang berarti "sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain". Di 49:2 pasangan itu dipakai sebagai ukuran cara berbicara. Ayat ini tidak menilai kerasnya suara antara sesama, dan hanya memakainya sebagai pembanding.

Akibatnya ditulis (أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ, an tahbatha a'maalukum) yang berarti "agar amal-amal kalian tidak terhapus". Kata Arab sesudah an tidak memuat penafian sendiri, dan kata "tidak" dalam terjemahan berasal dari dua larangan di depannya. Akar ح-ب-ط ada di enam belas ayat. Di dua belas ayat, yaitu 2:217, 3:22, 5:5, 5:53, 6:88, 7:147, 9:17, 9:69, 11:16, 18:105, 39:65, dan 49:2, amal itu sendiri menjadi subjek kata kerja tanpa pelaku yang disebut. Di empat ayat lain, yaitu 33:19, 47:9, 47:28, dan 47:32, pelakunya disebut, dan di 33:19 bunyinya (فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ, fa-ahbatha llaahu a'maalahum) yang berarti "maka Allah menggugurkan amal-amal mereka". Di 49:2 terjemahan memakai "terhapus", yang menggambarkan amal yang ada lalu hilang tanpa pelaku yang disebut. Di delapan dari dua belas ayat itu hilangnya amal disebut bersama kekufuran, kemusyrikan, atau pendustaan, yaitu 2:217, 3:22, 5:5, 6:88, 7:147, 9:17, 18:105, dan 39:65. Ayat 49:2 menyebut akibat yang sama bagi orang yang disapa sebagai beriman, dengan penyebab yang berupa cara berbicara.

Bagian terakhir (وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ, wa-antum laa tasy'uruuna) yang berarti "sedang kalian tidak menyadari" berakar ش-ع-ر. Bunyi ini muncul dua kali, yaitu di 39:55 dan 49:2, dan bentuk laa tasy'uruuna ada di tiga ayat, yaitu 2:154, 39:55, dan 49:2. Di 39:55 bunyinya (مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ, min qabli an ya'tiyakumu l-'adzaabu baghtatan wa-antum laa tasy'uruuna) yang berarti "sebelum azab datang kepada kalian secara tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadari". Kedua ayat itu sama-sama memakai kata an dengan kata kerja untuk sesuatu yang menimpa orang yang disapa, lalu menambahkan bahwa mereka tidak menyadarinya. Huruf wa pada awalnya menandai keadaan yang menyertai, sehingga terjemahan memakai "sedang". Terjemahan memakai "menyadari" untuk tasy'uruuna di ketiga ayat itu.

Tafsiran

Ayat ini mengubah larangan umum di 49:1 menjadi dua larangan yang dapat didengar, yaitu meninggikan suara di atas suara Nabi dan mengeraskan perkataan kepadanya. Larangan kedua memakai pembanding, yaitu kerasnya sebagian orang kepada sebagian yang lain, sehingga ayat ini membedakan dua cara berbicara: cara yang berlaku di antara sesama dan cara yang tidak boleh ditujukan kepada Nabi. Ayat tidak menyebut cara yang pertama sebagai kesalahan. Ayat hanya menarik garis bahwa cara itu tidak dibawa kepada Nabi.

Beban ayat ini terletak di bagian akhirnya. Dua larangan tentang suara dan satu akibat yang menyangkut amal berada dalam satu kalimat, sehingga ayat ini menghubungkan sesuatu yang tampak kecil, yaitu kerasnya suara, dengan sesuatu yang besar, yaitu amal. Ayat tidak menjelaskan bagaimana suara dapat menghapus amal, dan tidak menyebut amal macam apa yang terhapus. Kedua hal itu dibiarkan terbuka. Bagian sedang kalian tidak menyadari menambahkan satu gambaran tentang pelaku: niat buruk tidak tertulis, dan pelaku ditempatkan sebagai orang yang tidak menyadari.

Dalam bentuk yang mirip, 47:33 menyapa orang beriman dengan larangan (لَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ, laa tubthiluu a'maalakum) yang berarti "janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian". Di 47:33 larangan membatalkan amal menyusul perintah menaati Allah dan Rasul, sedangkan di 49:2 akibat terhapusnya amal menyusul dua larangan soal suara. Kedua ayat sama-sama menyentuh amal orang yang sudah beriman, tetapi tidak ada yang menjelaskan hubungan di antara keduanya.

Kata jahr di ayat ini bersanding dengan pernyataan tentang pendengaran atau pengetahuan Allah di tempat lain, yaitu di 4:148, 20:7, 21:110, dan 67:13, sedangkan ayat sebelumnya, 49:1, ditutup dengan Allah mendengar lagi berilmu. Dapat dibaca bahwa 49:1 dan 49:2 memegang dua sisi dari satu gambaran, yaitu pihak yang mendengar dan perbuatan yang terdengar. Ayat 49:2 sendiri tidak menyebut Allah, sehingga kaitan itu tetap sebagai bacaan. Ayat 49:3 kemudian melanjutkan dengan gambaran orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasul Allah, sebagai lawan dari perbuatan yang dilarang di sini.

Renungan dan Hikmah

  • Garis yang ditarik ayat ini memisahkan dua cara berbicara. Cara pertama, kerasnya sebagian kalian kepada sebagian yang lain, dipakai sebagai pembanding tanpa dinilai salah, dan cara kedua tidak boleh ditujukan kepada Nabi. Pembaca dapat memperhatikan bahwa nada yang wajar di tengah teman sebaya mungkin tidak pantas dibawa ke hadapan pihak lain, dan bahwa membedakannya menuntut pembaca tahu di hadapan siapa pembicaraan itu berlangsung. Di hadapan siapa nada bicara pembaca nyaris tidak pernah berubah?
  • Ayat ini menaruh akibat terberat di bagian paling akhir, lalu menempelkan satu keterangan: sedang kalian tidak menyadari. Keterangan itu menyatakan bahwa pelaku tidak menyadari saat amalnya terhapus. Ayat ini juga tidak menyebut siapa yang menghapus; nama Allah tidak tertulis di dalamnya dan baru tertulis lagi di 49:3. Pembaca dapat membaca keterangan itu sebagai alasan memeriksa diri sebelum kejadian, sebab ayat tidak menyebut tanda yang muncul sesudahnya. Adakah amal yang dianggap aman hanya karena tidak ada tanda apa pun yang menyatakan sebaliknya?
  • Ayat ini menaruh kerasnya suara dan terhapusnya amal dalam satu kalimat, tanpa menjelaskan jembatan di antara keduanya. Menimbang kesalahan menurut akibat yang tampak adalah satu cara, dan ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan yang tampak kecil dan akibat yang tampak besar dapat berdiri berdampingan. Pembaca dapat menanyakan kebiasaan apa dalam hidupnya yang sudah lama dianggap tidak berarti dan belum pernah ditimbang sama sekali.
  • Larangan pertama tidak menyebut angka atau tingkat kerasnya suara. Ukurannya suara lain, yaitu "di atas suara Nabi", sehingga penilaian jatuh pada hubungan dua suara dan tidak pada kerasnya satu suara. Ayat hanya menyebut suara Nabi sebagai ukuran, sedangkan 49:1 menyebut Allah dan Rasul-Nya sebagai pihak yang tidak boleh didahului. Gambaran berikut sekadar pinjaman. Dalam sebuah pertemuan, pembaca dapat memperhatikan suara siapa yang dijadikannya patokan, tanpa sadar, ketika memutuskan seberapa keras berbicara dan kapan mulai menimpali.
  • Larangan kedua tidak berhenti pada kerasnya perkataan. Kata kepadanya mengikat kerasnya perkataan itu pada seseorang yang dituju, sehingga yang dipersoalkan adalah nada yang jatuh pada pihak tertentu. Keras yang diarahkan kepada seseorang membawa bobot yang berbeda dari keras yang sekadar terdengar di ruangan. Pada siapa nada keras pembaca paling sering jatuh, dan seperti apa nada itu terdengar bagi orang yang menerimanya sendiri?
  • Ayat ini menyebut amal-amal kalian dalam bentuk jamak dan tidak menunjuk satu amal pun. Karena itu pembaca tidak menerima daftar yang dapat dicocokkan dengan perbuatannya sendiri, dan pemisahan antara cara berbicara dan amal lainnya tidak tersedia dalam kalimat ini. Larangan di 49:1, mendahului Allah dan Rasul-Nya, juga tidak membawa daftar, sehingga keduanya sama-sama berbicara tanpa rincian. Orang yang biasa menaruh tutur kata di satu laci dan amal di laci lain melihat bahwa ayat ini tidak memakai dua laci itu. Bagaimana pembaca menimbang tutur katanya sendiri bila amalnya turut berada di dalam kalimat yang sama?