إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasul Allah, mereka itu orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang agung.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِinna lladziina yaghudhdhuuna ashwaatahum 'inda rasuuli llaahisesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasul Allah
  2. أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰulaa'ika lladziina mtahana llaahu quluubahum li-t-taqwaamereka itu orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa
  3. لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌlahum maghfiratun wa-ajrun 'azhiimunbagi mereka ampunan dan pahala yang agung

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. يَغُضُّونَyaghudhdhuunamereka merendahkan
  4. أَصْوَاتَهُمْashwaatahumsuara mereka
  5. عِنْدَ'indadi sisi
  6. رَسُولِrasuulirasul
  7. اللَّهِllaahiAllah
  8. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  9. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  10. امْتَحَنَmtahanamenguji
  11. اللَّهُllaahuAllah
  12. قُلُوبَهُمْquluubahumhati mereka
  13. لِلتَّقْوَىٰli-t-taqwaakepada ketakwaan
  14. لَهُمْlahumbagi mereka
  15. مَغْفِرَةٌmaghfiratunampunan
  16. وَأَجْرٌwa-ajrundan pahala
  17. عَظِيمٌ'azhiimunyang agung

Inti bacaan

Akar م-ح-ن muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 49:3 dan 60:10, dan hanya di 49:3 yang diuji adalah hati.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ, inna lladziina yaghudhdhuuna ashwaatahum) yang berarti "sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya". Kata kerja yaghudhdhuuna berakar غ-ض-ض dan muncul di empat ayat, yaitu 24:30, 24:31, 31:19, dan 49:3. Di 24:30 dan 24:31 kata kerja itu bersanding dengan pandangan, (أَبْصَارِهِمْ, abshaarihim) yang berarti "pandangan mereka", sedangkan di 31:19 dan 49:3 kata kerja itu bersanding dengan suara. Di 24:30, 24:31, dan 31:19 kata kerja itu disambung dengan min, "dari", sedangkan di 49:3 suara menjadi objeknya secara langsung. Kata kerja ini berlawanan arah dengan raf' di 49:2, yaitu (لَا تَرْفَعُوا, laa tarfa'uu) yang berarti "janganlah kalian meninggikan", sehingga dua ayat yang berurutan memakai pasangan gerak naik dan gerak turun untuk suara.

Tempatnya ditulis (عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ, 'inda rasuuli llaahi) yang berarti "di sisi Rasul Allah". Susunan ini hanya ada di dua ayat, yaitu 49:3 dan 63:7. Kata 'inda menunjuk kedekatan tempat, berbeda dari fawqa di 49:2 yang membandingkan satu suara dengan suara lain. Sebutan rasuuli llaahi sendiri ada di lima ayat, yaitu 9:81, 9:120, 33:21, 49:3, dan 63:7, dan terjemahan memakai "Rasul Allah" di semuanya.

Bagian kedua (أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ, ulaa'ika lladziina mtahana llaahu quluubahum li-t-taqwaa) yang berarti "mereka itu orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa" berisi satu kata kerja yang jarang. Akar م-ح-ن hanya ada di dua ayat, yaitu 49:3 dan 60:10. Di 60:10 bunyinya (فَامْتَحِنُوهُنَّ, fa-mtahinuuhunna) yang berarti "maka ujilah mereka", pelakunya manusia, yang diuji perempuan-perempuan mukmin yang datang, dan kalimat sesudahnya menyatakan bahwa Allah lebih mengetahui keimanan mereka. Di 49:3 pelakunya Allah dan yang diuji hati. Bentuk lampau imtahana diterjemahkan "telah menguji", dan terjemahan memakai kalimat pasif, "telah diuji hatinya oleh Allah", supaya orang-orang itu tetap menjadi pokok kalimat dan Allah tetap tampak sebagai pelaku lewat kata "oleh".

Kata (قُلُوبَهُمْ, quluubahum) yang berarti "hati mereka" bersambung dengan (لِلتَّقْوَىٰ, li-t-taqwaa) yang berarti "untuk bertakwa". Bunyi li-t-taqwaa ada di empat ayat, yaitu 2:237, 5:8, 20:132, dan 49:3. Di 2:237 dan 5:8 bunyi itu mengikuti kata aqrabu, "lebih dekat", dan di 20:132 mengikuti kata al-'aaqibatu, "kesudahan". Di 49:3 bunyi itu mengikuti kata kerja imtahana, sehingga lam di sini menyebut tujuan pengujian, dan terjemahan memakai "untuk". Takwa dan hati bersanding juga di 22:32, (مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ, min taqwaa l-quluubi) yang berarti "dari ketakwaan hati", dan susunan taqwaa l-quluubi hanya ada di sana.

Ganjarannya ditulis (لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ, lahum maghfiratun wa-ajrun 'azhiimun) yang berarti "bagi mereka ampunan dan pahala yang agung". Kalimat ini tidak memuat kata kerja, dan terjemahan juga tidak menambahkan kata kerja atau tanda waktu. Rangkaian lahum maghfiratun wa-ajrun muncul lima kali, yaitu di 5:9, 11:11, 35:7, 49:3, dan 67:12. Sifat pahalanya 'azhiim, "agung", di 5:9 dan 49:3, sedangkan di 11:11, 35:7, dan 67:12 sifatnya kabiir, "besar". Pada kelima ayat itu ampunan disebut lebih dulu daripada pahala. Kedua kata benda di ayat ini tanpa kata sandang al-, dan maghfirah berasal dari akar غ-ف-ر, akar yang sama dengan ghafuur di 49:5.

Tafsiran

Ayat ini menjawab larangan di 49:2 dengan gambaran orang yang melakukan kebalikannya. Susunannya bertahap: lebih dulu perbuatan yang dapat didengar, yaitu merendahkan suara di sisi Rasul Allah, lalu keadaan yang tidak dapat dilihat, yaitu hati yang telah diuji oleh Allah, lalu ganjaran. Kata penunjuk ulaa'ika menyamakan dua pihak, yaitu orang yang merendahkan suara dan orang yang hatinya telah diuji. Ayat tidak menyatakan salah satunya sebagai sebab bagi yang lain. Ayat hanya menyatakan bahwa keduanya menunjuk orang yang sama, sehingga perbuatan yang terdengar dan keadaan hati yang tidak terlihat berimpit pada orang-orang ini.

Ayat ini menyebut pengujian tetapi tidak menyebut hasilnya dengan kata semacam lulus atau berhasil. Sesudahnya ayat menyebut ampunan dan pahala. Ayat juga tidak menyebut bentuk pengujiannya. Karena itu isi ujian, misalnya kesulitan tertentu, tidak dapat ditambahkan dari ayat ini.

Ketakwaan di sini ditaruh di hati, seperti di 22:32 yang menggunakan ungkapan (تَقْوَى الْقُلُوبِ, taqwaa l-quluubi). Di 22:32 gambaran lahirnya adalah mengagungkan syiar-syiar Allah, dan di 49:3 gambaran lahirnya adalah merendahkan suara. Kedua ayat menghubungkan perbuatan yang dapat dilihat dengan ketakwaan yang ada di hati, tetapi perbuatannya berbeda dan kedua ayat tidak saling menjelaskan.

Dalam rangkaian 49:1 sampai 49:5, ayat ini memberi gambaran orang yang merendahkan suara, sedangkan 49:4 membuka dengan susunan yang sama untuk gambaran orang yang memanggil dari balik kamar-kamar. Ayat 49:3 dan 49:4 sama-sama dibuka dengan sesungguhnya orang-orang yang, lalu masing-masing menyebut satu perbuatan dan satu penilaian. Dua ayat itu dapat dibaca sebagai dua kelompok yang ditempatkan berdampingan: kelompok yang merendahkan suara di sisi Rasul Allah, dan kelompok yang memanggil dari balik kamar-kamar. Ayat 49:2 ditutup dengan akibat yang menimpa tanpa disadari, sedangkan 49:3 ditutup dengan ampunan dan pahala.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini memisahkan dua hal yang berada pada orang yang sama, yaitu nada suara yang dapat didengar sesama dan hati yang diuji oleh Allah. Nada suara dapat dinilai orang lain, sedangkan hati tidak. Pembaca yang menimbang dirinya lewat penilaian orang di sekitarnya menimbang bagian pertama saja, dan ayat ini menyebut bagian kedua tanpa memberi cara untuk mengukurnya dari luar. Apa yang pembaca ketahui tentang hatinya sendiri yang tidak pernah dapat dilihat siapa pun?
  • Pengujian dalam ayat ini tidak disusul vonis, hanya ganjaran. Pembaca yang menaruh dirinya di dalam gambaran itu tidak menemukan kalimat yang menyatakan pengujian sudah lewat dan hasilnya sudah diumumkan. Pertanyaan yang tersisa menyangkut bagian hati yang masih dianggap tidak pernah dilihat siapa pun, dan apakah bagian itu sudah diperiksa. Pertanyaan itu baru dapat dijawab pembaca sendiri, karena ayat tidak memberi ukurannya.
  • Ayat ini menempatkan Allah sebagai penguji dan hati sebagai sasaran. Isi ujiannya berupa kesulitan apa pun tidak tertulis, sehingga pembaca tidak dapat memakai ayat ini untuk menamai kesulitannya sendiri sebagai ujian dari Allah. Pembaca dapat memperhatikan letak pengujian itu, yaitu pada hati, dan tidak pada keadaan di sekeliling orang yang disebut. Ketika pembaca menimbang apa yang sedang berat dalam hidupnya, bagian mana yang ditempatkannya di keadaan dan bagian mana di hati?
  • Dalam lima ayat yang memuat rangkaian ini, ampunan disebut lebih dulu daripada pahala, dan urutan itu tidak khusus bagi 49:3. Orang yang digambarkan merendahkan suara pun disebut menerima ampunan lebih dulu, lalu pahala; ayat ini tidak menyebut sebab urutan itu. Pembaca dapat memperhatikan apa yang lebih dulu diharapkannya dari Allah ketika memikirkan akhir perbuatannya sendiri, dan apakah urutan harapannya sama dengan urutan yang tertulis dalam ayat ini atau terbalik.
  • Ayat ini berbentuk gambaran tentang orang-orang, dan tidak berbentuk perintah atau larangan. Pembaca yang membaca 49:1 dan 49:2 sebagai larangan menerima di 49:3 sebuah wajah yang bisa dibayangkan: orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasul Allah. Gambaran seperti itu bekerja dengan cara berbeda dari larangan, karena pembaca dapat bertanya apakah dirinya dikenali di dalam gambaran itu. Dalam bagian hidupnya yang mana pembaca sudah menjadi orang yang merendahkan suaranya?
  • Ayat sebelumnya ditutup dengan akibat yang menimpa tanpa disadari, sedangkan ayat ini ditutup dengan ampunan dan pahala yang agung, dan tidak ada kalimat yang menyebut akibat buruk di dalamnya. Dua ayat pertama rangkaian ini berupa larangan, sedangkan ayat ini seluruhnya berisi gambaran dan janji. Seberapa besar bagian dari yang pembaca ketahui tentang rangkaian ini berasal dari larangannya, dan seberapa besar dari gambaran orang yang merendahkan suaranya?