وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Seandainya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka. Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْwa-law annahum shabaruu hattaa takhruja ilayhim la-kaana khayran lahumseandainya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka
  2. وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-llaahu ghafuurun rahiimunAllah pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  2. أَنَّهُمْannahumbahwa mereka
  3. صَبَرُواshabaruubersabar
  4. حَتَّىٰhattaasampai
  5. تَخْرُجَtakhrujaengkau keluar
  6. إِلَيْهِمْilayhimkepada mereka
  7. لَكَانَla-kaanatentulah
  8. خَيْرًاkhayrankebaikan
  9. لَهُمْlahumbagi mereka
  10. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  11. غَفُورٌghafuurunpengampun
  12. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Bunyi la-kaana khayran lahum muncul lima kali di Al-Qur'an (3:110, 4:46, 4:66, 47:21, 49:5), dan hanya di 49:5 pengandaiannya berupa bersabar menunggu seseorang keluar.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا, wa-law annahum shabaruu) yang berarti "seandainya mereka bersabar". Susunan wa-law annahum muncul tujuh kali, yaitu di 2:103, 4:46, 4:64, 4:66, 5:66, 9:59, dan 49:5. Di 4:46 pengandaian itu menyusul ucapan yang sebenarnya diucapkan, yaitu "kami mendengar, tetapi kami membangkang", lalu menyebut ucapan sebaliknya. Di 4:66 pengandaian itu menyusul kalimat bahwa mereka tidak melakukannya kecuali sedikit. Pada dua ayat itu pengandaian menggambarkan kebalikan dari yang terjadi. Kata kerja shabaruu berakar ص-ب-ر, bentuk lampau jamak, dan terjemahan memakai "bersabar".

Kesabaran itu berujung pada (حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ, hattaa takhruja ilayhim) yang berarti "sampai engkau keluar menemui mereka". Bentuk takhruja, akar خ-ر-ج, dengan hattaa hanya ada di 49:5. Kata "engkau" di sini berbentuk tunggal seperti -ka di 49:4, tetapi ayat tidak menyatakan keduanya menunjuk orang yang sama. Terjemahan memakai "keluar menemui mereka" untuk takhruja ilayhim, dan kata "menemui" berasal dari arah ilayhim, "kepada mereka", bukan dari kata kerja yang berdiri sendiri. Kata hattaa yang menutup sebuah penantian kesabaran muncul di empat ayat, yaitu 6:34, 7:87, 10:109, dan 49:5. Di 47:31 hattaa juga ada dalam ayat yang memuat ص-ب-ر, tetapi menyertai kata kerja menguji dan tidak menyertai kesabaran. Di 10:109 bunyinya (وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ, wa-shbir hattaa yahkuma llaahu) yang berarti "dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan", dan di 6:34 bunyinya (حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا, hattaa ataahum nashrunaa) yang berarti "hingga datang pertolongan Kami". Di 6:34, 7:87, dan 10:109 penantian berakhir oleh tindakan Allah, sedangkan di 49:5 penantian berakhir oleh keluarnya orang yang dipanggil.

Akibat pengandaian itu ditulis (لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ, la-kaana khayran lahum) yang berarti "tentu akan lebih baik bagi mereka". Bunyi la-kaana khayran lahum muncul lima kali, yaitu di 3:110, 4:46, 4:66, 47:21, dan 49:5. Di 4:46 kalimat itu berlanjut dengan (وَأَقْوَمَ, wa-aqwama) yang berarti "dan lebih tepat", dan di 4:66 dengan (وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا, wa-asyadda tatsbiitan) yang berarti "dan lebih meneguhkan". Di 3:110, 47:21, dan 49:5 kalimat berhenti pada khayran lahum, tanpa rincian tentang apa kebaikannya. Kata lahum menunjuk pihak yang diandaikan bersabar, sehingga kebaikan itu jatuh pada mereka. Kata khayr berakar خ-ي-ر dan muncul bersama ص-ب-ر di tujuh ayat, yaitu 2:61, 4:25, 7:87, 10:109, 16:126, 28:80, dan 49:5. Di tiga di antaranya bersabar sendiri dinyatakan lebih baik, yaitu di 4:25 (وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ, wa-an tashbiruu khayrun lakum) yang berarti "dan bersabar lebih baik bagi kalian", di 16:126 (وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ, wa-la'in shabartum la-huwa khayrun li-sh-shaabiriina) yang berarti "tetapi jika kalian bersabar, sungguh itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar", dan di 49:5.

Penutupnya (وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ, wa-llaahu ghafuurun rahiimun) yang berarti "Allah pengampun lagi pengasih" muncul tiga belas kali, yaitu di 2:218, 3:31, 3:129, 4:25, 5:74, 8:70, 9:27, 9:91, 24:22, 49:5, 57:28, 60:7, dan 66:1. Kedua sebutan indefinit, tanpa kata sandang al-, sehingga terjemahan memakai huruf kecil dan tanpa "Maha". Ghafuur berakar غ-ف-ر, akar yang sama dengan maghfiratun di 49:3, dan rahiim berakar ر-ح-م. Di 4:25 kalimat bersabar lebih baik itu juga ditutup dengan wa-llaahu ghafuurun rahiimun, dalam urutan yang sama dengan 49:5. Dalam surah ini akar غ-ف-ر ada di 49:3, 49:5, dan 49:14.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian 49:1 sampai 49:5 dengan jalan keluar bagi para pemanggil di 49:4. Sesudah penilaian bahwa kebanyakan mereka tidak berakal, ayat ini menyebut apa yang akan lebih baik bagi mereka, yaitu menunggu sampai orang yang dipanggil keluar. Ayat ini tidak menyebut apa kebaikannya, berapa lama penantian itu, dan apa yang terjadi bila yang dipanggil tidak keluar. Ketiga hal itu dibiarkan terbuka, dan isi ayat berhenti pada pernyataan bahwa menunggu lebih baik bagi mereka sendiri.

Bentuk ayat ini berbeda dari dua ayat pembuka. Ayat 49:1 dan 49:2 memakai larangan, sedangkan 49:5 memakai pengandaian: seandainya mereka bersabar, tentu lebih baik. Dapat dibaca bahwa jalan keluar itu disampaikan sebagai gambaran dari apa yang belum terjadi dan tidak ada perintah baru di dalamnya, tetapi ayat ini sendiri tidak menyatakan alasan pilihan bentuk itu.

Penutup ayat menaruh ampunan dan kasih Allah tepat sesudah penilaian di 49:4 dan jalan keluar di 49:5. Pasangan ghafuurun rahiimun tidak menyebut sasarannya. Dapat dibaca bahwa kalimat itu terbuka bagi para pemanggil yang telanjur memanggil, tetapi ayat tidak menyatakan hal itu. Di 4:25 pernyataan bahwa bersabar lebih baik juga ditutup dengan pasangan yang sama. Pokok kedua ayat itu berbeda, sehingga kesamaannya terletak pada urutan penutupnya.

Dalam surah ini akar غ-ف-ر muncul di 49:3, 49:5, dan 49:14. Ayat 49:3 menyebut akar itu sebagai ampunan yang menjadi bagian orang yang merendahkan suara, dan 49:5 menyebutnya sebagai sifat Allah sesudah gambaran para pemanggil. Kedua ayat menaruh pengampunan di ujung dua gambaran yang berlawanan. Sesudah 49:5, sapaan kepada orang-orang yang beriman muncul lagi di 49:6 dengan pokok yang baru, yaitu berita yang dibawa orang fasik.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah penilaian sekeras "tidak berakal", ayat ini menawarkan sesuatu yang dapat dikerjakan: menunggu sampai orang yang dipanggil keluar. Menunggu tidak disebut membutuhkan kecakapan tambahan, dan ayat tidak menambahkan syarat lain. Pembaca dapat melihat bahwa jalan keluar yang ditunjukkan ayat ini berukuran sangat kecil. Di antara hal yang dianggap sulit dalam hidup pembaca, mana yang sebenarnya hanya meminta menunggu?
  • Kebaikan di ayat ini jatuh kepada pihak yang diminta menunggu, tidak kepada pihak yang dipanggil. Bunyinya "lebih baik bagi mereka", dan mereka itu adalah para pemanggil. Ayat ini membicarakan pemanggil dan tidak membicarakan semua orang yang menunggu, sehingga pembaca hanya meminjam gambarannya. Dengan pinjaman itu pembaca dapat menimbang kapan menahan diri dan menyebutnya pengorbanan untuk orang lain, padahal ayat ini menaruh keuntungan menunggu pada pihak yang menunggu sendiri. Pada kali terakhir menunggu, siapa yang dianggap pembaca dirugikan, dan siapa yang diuntungkan?
  • Ayat ini menyebut bahwa menunggu itu lebih baik, tetapi tidak menyebut isi kebaikannya. Pembaca tidak menerima hitungan yang dapat dicocokkan di muka, sehingga yang tersedia hanya pernyataan bahwa menunggu lebih baik bagi pelakunya, tanpa bentuk, ukuran, atau waktu kebaikan itu tiba. Sesudah khayran lahum, ayat langsung menyebut Allah pengampun lagi pengasih, tanpa menjelaskan hubungan antara kebaikan itu dan sifat tersebut. Menimbang sesuatu tanpa mengetahui isinya meminta kesediaan menerima apa yang belum tampak. Apakah pembaca sanggup menunggu tanpa mengetahui seperti apa kebaikan yang menanti?
  • Sesudah dua larangan di awal rangkaian, ayat ini memakai pengandaian dan tidak memakai perintah baru. Tidak ada kata yang berbunyi "bersabarlah". Pengandaian dapat dibaca membuka dua keadaan sekaligus, yaitu yang sudah terjadi dan yang dapat terjadi, dan keduanya diletakkan berdampingan di depan pembaca tanpa perintah yang memilihkan salah satu. Seandainya sebuah kejadian di masa lalu dapat diulang dari awal, pada titik mana pembaca akan memilih menunggu?
  • Penutup ayat menyatakan Allah pengampun lagi pengasih, dan datang tepat sesudah penilaian di 49:4 dan jalan keluar di 49:5. Ayat tidak menyatakan bahwa ampunan itu tertuju kepada para pemanggil, tetapi urutan ayat menaruh pasangan ghafuurun rahiimun di tempat itu. Pembaca yang pernah memanggil dengan cara yang tidak tepat dapat membaca urutan ini sebagai kemungkinan bahwa penilaian yang keras dan pengampunan dapat berdiri berdampingan dalam rangkaian yang sama. Apakah pembaca memberi tempat bagi pengampunan di sebelah penilaiannya terhadap orang lain?
  • Penantian di ayat ini berakhir ketika orang yang dipanggil keluar, dan keputusan itu ada pada dia, tidak pada pemanggil. Di 6:34, 7:87, dan 10:109 penantian berakhir oleh tindakan Allah, sedangkan di 49:5 oleh langkah seseorang. Pembaca yang sedang menunggu seseorang tidak memegang akhir penantiannya. Dalam urusan apa pembaca sedang menunggu seseorang keluar, dan sudahkah dibedakannya menunggu dari mengetuk lebih keras?