يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka verifikasilah, agar kalian tidak menimpakan sesuatu kepada suatu kaum karena ketidaktahuan, sehingga kalian menyesali apa yang kalian perbuat.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواyaa ayyuhaa lladziina aamanuuwahai orang-orang yang beriman
  2. إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُواin jaa'akum faasiqun bi-naba'in fa-tabayyanuujika seorang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka verifikasilah
  3. أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَan tushiibuu qawman bi-jahaalatin fa-tushbihuu 'alaa maa fa'altum naadimiinaagar kalian tidak menimpakan sesuatu kepada suatu kaum karena ketidaktahuan, sehingga kalian menyesali apa yang kalian perbuat

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. إِنْinjika
  6. جَاءَكُمْjaa'akumdatang kepada kalian
  7. فَاسِقٌfaasiqunorang fasik
  8. بِنَبَإٍbi-naba'indengan berita
  9. فَتَبَيَّنُواfa-tabayyanuumaka telitilah kalian
  10. أَنْanagar tidak
  11. تُصِيبُواtushiibuukalian menimpakan
  12. قَوْمًاqawmankaum
  13. بِجَهَالَةٍbi-jahaalatinkarena kebodohan
  14. فَتُصْبِحُواfa-tushbihuumaka jadilah kalian
  15. عَلَىٰ'alaaatas
  16. مَاmaaapa yang
  17. فَعَلْتُمْfa'altumkalian lakukan
  18. نَادِمِينَnaadimiinaorang-orang yang menyesal

Inti bacaan

Bentuk perintah fa-tabayyanuu muncul di dua ayat Al-Qur'an, yaitu 4:94 dan 49:6, dan hanya 49:6 yang menautkannya dengan pembawa berita yang disebut faasiq.

Penjelasan pilihan kata

Perintah di ayat ini adalah (فَتَبَيَّنُوا, fa-tabayyanuu) yang berarti "maka verifikasilah". Kata kerjanya tabayyana berakar ب-ي-ن, dan bentuk perintah jamak ini muncul di dua ayat, yaitu 4:94 dan 49:6. Di 4:94 perintah yang sama diucapkan dua kali dalam satu ayat, dan terjemahan memakai "verifikasilah" di semua tempat itu. Ayat 49:6 tidak menyebut apa yang harus diverifikasi, sehingga terjemahan tidak menambahkan "berita itu" atau "kebenarannya", sebab tidak ada kata Arab yang melahirkannya.

Pembawa berita disebut (فَاسِقٌ, faasiqun) yang berarti "seorang fasik". Kata ini berakar ف-س-ق dan muncul di 37 ayat, tetapi hanya dua kali dalam bentuk tunggal, yaitu (فَاسِقًا, faasiqan) di 32:18 dan faasiqun di 49:6. Di 32:18 kata itu diletakkan berhadapan dengan orang beriman dalam kalimat (أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا, a-fa-man kaana mu'minan ka-man kaana faasiqan) yang berarti "apakah orang yang beriman sama dengan orang yang fasik", lalu dijawab "mereka tidaklah sama". Akar yang sama muncul tiga kali di surah 49, yaitu faasiq di 49:6, lalu kata benda fusuuq di 49:7 dan 49:11. Keterangan tentang perbuatan orang fasik ini dan tentang siapa dia tidak ada di ayat, sehingga terjemahan mengulang sebutannya tanpa keterangan tambahan.

Berita yang dibawanya ditulis (بِنَبَإٍ, bi-naba'in) yang berarti "dengan suatu berita", dari akar ن-ب-أ. Bentuk persis bi-naba'in muncul dua kali, yaitu di 27:22 dan 49:6. Di 27:22 kata itu disusul sifat, (بِنَبَإٍ يَقِينٍ, bi-naba'in yaqiinin) yang berarti "dengan suatu berita yang pasti", dan pembicaranya sendiri yang menyebut beritanya pasti. Penerima berita itu menjawab di 27:27 dengan (سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ, sa-nanzhuru a-shadaqta am kunta mina l-kaadzibiina) yang berarti "akan kami lihat apakah engkau benar ataukah termasuk orang-orang yang berdusta". Berita yang disebut pasti oleh pembawanya pun dijawab dengan pemeriksaan, sedangkan di 49:6 kata naba' berdiri tanpa sifat, sehingga benar atau salahnya berita itu dibiarkan terbuka.

Alasan perintah itu ditulis dalam (أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ, an tushiibuu qawman bi-jahaalatin) yang berarti "agar kalian tidak menimpakan sesuatu kepada suatu kaum karena ketidaktahuan". Kata kerja tushiibuu berakar ص-و-ب, dan apa yang menimpa kaum itu tidak ditulis, jadi kata "sesuatu" di terjemahan menampung bagian yang tidak ditulis. Kata qawman tidak memakai kata sandang, sehingga kaumnya tidak ditentukan. Kata (بِجَهَالَةٍ, bi-jahaalatin) berakar ج-ه-ل dan bentuk persis ini muncul empat kali, yaitu di 4:17, 6:54, 16:119, dan 49:6. Tiga ayat lainnya memasangkannya dengan orang yang mengerjakan keburukan lalu bertobat, misalnya (لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ, li-lladziina ya'maluuna s-suu'a bi-jahaalatin) yang berarti "bagi mereka yang melakukan keburukan karena kebodohan". Di 49:6 konteksnya sebuah kabar yang belum diperiksa, dan ayat menuliskan verifikasi sebagai obatnya, yaitu cara menambah pengetahuan tentang kabar itu. Karena itu terjemahan di sini memakai "ketidaktahuan", sedangkan di tiga ayat lain terjemahan memakai "kebodohan" di 4:17 dan 16:119 serta "kejahilan" di 6:54.

Penyesalan di ujung ayat ditulis (فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ, fa-tushbihuu 'alaa maa fa'altum naadimiina) yang berarti "sehingga kalian menyesali apa yang kalian perbuat". Kata kerja fa-tushbihuu berakar ص-ب-ح dan berarti "menjadi", seperti pada (فَعَقَرُوهَا فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ, fa-'aqaruuhaa fa-ashbahuu naadimiina) yang berarti "lalu mereka menyembelihnya, maka mereka menjadi orang-orang yang menyesal". Kata (نَادِمِينَ, naadimiina) yang berarti "orang-orang yang menyesal" berakar ن-د-م dan muncul di lima ayat dalam bentuk pelaku, yaitu 5:31, 5:52, 23:40, 26:157, dan 49:6. Kelimanya didahului kata kerja dari akar ص-ب-ح. Susunan yang paling dekat dengan 49:6 ada di 5:52, (فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ, fa-yushbihuu 'alaa maa asarruu fii anfusihim naadimiina) yang berarti "sehingga mereka menyesali apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka". Di kedua ayat penyesalan menempel pada sesuatu yang dikerjakan atau disimpan pelakunya sendiri. Terjemahan 49:6 menyatukan "menjadi" dan "orang-orang yang menyesal" dalam satu kata kerja, yaitu "menyesali".

Tafsiran

Ayat ini adalah seruan ketiga kepada orang-orang beriman di surah 49, sesudah 49:1 dan 49:2, dan sebelum 49:11 dan 49:12. Dua seruan pertama mengatur sikap terhadap Allah dan Rasul-Nya, yaitu tidak mendahului dan tidak meninggikan suara. Seruan ini mengatur sesuatu yang datang kepada orang beriman sendiri, yaitu sebuah berita dari orang yang disebut fasik.

Susunan ayatnya berurutan seperti rantai. Berita datang, lalu perintah memverifikasi, lalu tujuan perintah itu, lalu akibat bila perintah dilewati. Sebuah kaum yang tidak hadir menjadi pihak ketiga dalam rantai itu, dan ayat menyebutnya sebelum menyebut orang yang menyesal. Orang-orang beriman yang disapa tampil dua kali, sebagai penerima berita di awal dan sebagai orang yang menyesal di akhir. Apa yang dikerjakan dengan berita itu, bagaimana hasil verifikasinya, dan apa yang dilakukan bila berita itu terbukti benar, semuanya dibiarkan terbuka oleh ayat.

Ayat 4:94 memberi perbandingan. Di sana perintah memverifikasi juga ditujukan kepada orang-orang beriman, dan langsung disusul larangan mengatakan kepada orang yang menyampaikan salam bahwa orang itu bukan mukmin. Di kedua ayat perintah itu berdiri sebelum ucapan atau tindakan terhadap orang lain. Keadaan awalnya berbeda, karena 4:94 membicarakan perjalanan di jalan Allah dan 49:6 membicarakan kedatangan seorang pembawa berita, dan teks tidak menjadikannya satu persoalan.

Ayat 49:6 tidak menyebut Rasul, sedangkan 49:7 membuka dengan perintah lain, "ketahuilah", dan membawa pembicaraan kembali kepada Rasul Allah yang menjadi pokok di 49:1 sampai 49:5. Dengan begitu 49:6 mengatur hubungan sesama orang beriman dengan kabar yang beredar di antara mereka, di tengah ayat-ayat yang mengatur hubungan mereka dengan Rasul.

Renungan dan Hikmah

  • Antara berita yang datang dan tindakan atas berita itu, ayat menyisipkan satu kata kerja. Orang yang menerima berita belum bertindak ketika perintah memverifikasi diucapkan, jadi perintah itu bekerja pada saat dorongan untuk bertindak masih baru dan belum sempat menjadi keputusan. Pembaca yang pernah meneruskan sebuah kabar kepada banyak orang sebelum sempat memikirkan dari mana asalnya dapat menimbang berapa lama jarak antara menerima dan meneruskan itu pada dirinya, dan apa yang biasanya mengisi jarak tersebut. Surah yang sama sudah membuka di 49:1 dengan larangan mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan jeda sebelum bertindak atas kabar terbaca sejajar dengan larangan itu.
  • Ayat menyebut dua pihak yang tidak punya suara di dalamnya, yaitu pembawa berita yang disebut fasik dan "suatu kaum" yang bisa terkena akibatnya. Kaum itu ditulis tanpa kata sandang, tanpa nama, dan tanpa sifat. Pembaca dapat membayangkan dirinya di kedudukan itu, sebagai orang yang dibicarakan di sebuah ruangan tempat dirinya tidak hadir dan tidak sempat menjawab. Di 24:15 ucapan yang dilontarkan tanpa pengetahuan dan dianggap remeh ditulis sebagai perkara yang agung di sisi Allah. Berapa banyak keputusan tentang dirinya yang sudah dibuat orang atas kabar yang tidak pernah diperiksa?
  • Penyesalan di ayat ini jatuh pada "apa yang kalian perbuat", dan kalimatnya berakhir pada orang yang bertindak. Perbuatan sesudah kabar sampai ditulis sebagai milik penerima. Orang yang menyalahkan sumber kabar ketika kabar itu ternyata keliru akan mendapati ayat ini tidak menyediakan tempat untuk pengalihan tersebut. Perbuatan yang sudah terjadi tetap tertulis atas nama orang yang melakukannya, sekeras apa pun kabar yang mendorongnya. Perintah memverifikasi yang sama di 4:94 ditutup dengan kalimat bahwa Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan.
  • Pembawa berita disebut fasik, dan perintah yang menyusul berupa memverifikasi. Ayat tidak memerintahkan menolak, mengabaikan, atau menghukum pembawanya, dan hasil verifikasinya pun tidak ditulis. Pembaca yang menyimpan nama seseorang yang dinilainya buruk dapat bertanya apakah kabar dari orang itu pernah ditolaknya tanpa diperiksa. Menolak tanpa memeriksa melewati langkah yang sama dengan menerima tanpa memeriksa, hanya arahnya berlawanan.
  • Ayat menyebut pembawa berita yang fasik dan tidak berbicara tentang pembawa yang dipercaya. Batas itu meninggalkan pertanyaan yang tidak dijawab ayat, yaitu apakah kabar dari orang yang dipercaya memerlukan langkah yang sama. Pembaca dapat memeriksa kebiasaannya sendiri pada kabar yang cocok dengan dugaannya dan datang dari orang yang disukainya. Apakah langkah memeriksa itu masih ada di sana, atau sudah lama tidak dipanggil karena kabarnya terasa sudah cukup meyakinkan?
  • Di 27:22 sebuah berita disebut pasti oleh pembawanya sendiri, dan di 27:27 penerimanya menjawab dengan menyebut dua kemungkinan secara terbuka, yaitu benar atau berdusta. Pemeriksaan di sana tidak menunggu pembawa berita terbukti bohong, dan tidak diumumkan sebagai tuduhan. Pembaca dapat menimbang bahwa memeriksa sebuah kabar dan meragukan orangnya adalah dua pekerjaan yang berbeda, dan bahwa orang yang kabarnya sedang diperiksa bisa saja benar, sehingga pemeriksaan tidak perlu disertai nada menuduh.