فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Allah berilmu lagi penuh hikmah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةًfadhlan mina llaahi wa-ni'matansebagai karunia dan nikmat dari Allah
- وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌwa-llaahu 'aliimun hakiimunAllah berilmu lagi penuh hikmah
Terjemahan per kata (7 kata)
- فَضْلًاfadhlankarunia
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- وَنِعْمَةًwa-ni'matandan nikmat
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- عَلِيمٌ'aliimunberilmu
- حَكِيمٌhakiimunbijaksana
Inti bacaan
Pengakuan bahwa transformasi hati 'cinta pada keimanan. benci pada kekufuran' adalah 'karunia dari Allah', perubahan preferensi batin yang mendalam diakui sebagai anugerah, bukan pencapaian usaha semata.
Penjelasan pilihan kata
"Sebagai karunia dan nikmat dari Allah" (فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً, fadhlan mina llaahi wa-ni'matan) menyambung langsung dari ayat sebelumnya tanpa kata penunjuk "itu" yang kadang ditambahkan sebagai jembatan antar-ayat, karena teks Arabnya memang menyambung tanpa jeda demonstratif semacam itu. "Berilmu lagi penuh hikmah" (عَلِيمٌ حَكِيمٌ, 'aliimun hakiimun) mengikuti pola bentuk kata sifat tak-tentu yang sama (tanpa "Maha") seperti di 49:1 dan 49:5.
Tafsiran
Ayat pendek ini berfungsi sebagai penegas, bukan gagasan baru. Ia mengunci kesimpulan ayat sebelumnya: kecintaan pada iman itu murni karunia, bukan pencapaian yang bisa diklaim siapa pun sebagai jasa pribadi. Penutupnya, "berilmu lagi penuh hikmah", menjelaskan mengapa karunia itu diberikan secara berbeda-beda kepada tiap orang tanpa terasa sewenang-wenang: ada pengetahuan dan hikmah di baliknya yang tidak selalu tampak dari sudut pandang manusia.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini pendek dan tidak menambah gagasan apa pun. Seluruh tugasnya menisbatkan: 'sebagai karunia dan nikmat dari Allah'. Sebuah ayat penuh dipakai semata-mata agar kalimat sebelumnya tidak salah dibaca. Ada hal yang begitu mudah diklaim manusia sampai perlu dibantah dengan ayat tersendiri.
- Yang disebut dua, bukan satu: karunia dan nikmat. Kata pertama menunjuk pemberian yang melebihi hak, kata kedua menunjuk kenikmatan yang dirasakan. Jadi bukan hanya pemberiannya yang dari Allah, tetapi juga rasa senang menerimanya.
- Penutupnya menjawab keberatan yang belum diucapkan: kalau iman itu pemberian, kenapa tidak semua orang menerimanya sama? Jawabannya bukan penjelasan, melainkan dua nama, yaitu Allah berilmu lagi penuh hikmah. Yang dijamin bukan bahwa kita akan paham alasannya, melainkan bahwa alasannya ada.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: sebutan 'Maha Bijaksana' diterjemahkan 'penuh hikmah' (indefinit corpus, tanpa 'Maha'); pasangan sebutan lain (aliim/khabiir dst.) belum dibedah, dipertahankan sementara. Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU terjemahan: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. hukm = pemakaian diteruskan terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:57≡12:40≡12:67 tiga terjemahan).