وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Jika ada dua golongan orang-orang mukmin saling berperang, damaikanlah keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap yang lain, perangilah yang berbuat aniaya sehingga ia kembali kepada perintah Allah. Jika ia telah kembali, damaikanlah keduanya dengan adil, dan bersikaplah adil! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَاwa-in thaa'ifataani mina l-mu'miniina qtataluu fa-ashlihuu baynahumaajika ada dua golongan orang-orang mukmin saling berperang, damaikanlah keduanya
- فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِfa-in baghat ihdaahumaa 'alaa l-ukhraa fa-qaatiluu llatii tabghii hattaa tafii'a ilaa amri llaahijika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap yang lain, perangilah yang berbuat aniaya sehingga ia kembali kepada perintah Allah
- فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُواfa-in faa'at fa-ashlihuu baynahumaa bi-l-'adli wa-aqsithuujika ia telah kembali, damaikanlah keduanya dengan adil, dan bersikaplah adil
- إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَinna llaaha yuhibbu l-muqsithiinasesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil
Terjemahan per kata (30 kata)
- وَإِنْwa-indan jika
- طَائِفَتَانِthaa'ifataanidua golongan
- مِنَminadari
- الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinaorang-orang beriman
- اقْتَتَلُواqtataluumereka berperang
- فَأَصْلِحُواfa-ashlihuumaka damaikanlah kalian
- بَيْنَهُمَاbaynahumaaantara keduanya
- فَإِنْfa-inmaka jika
- بَغَتْbaghatberbuat aniaya
- إِحْدَاهُمَاihdaahumaasalah satu keduanya
- عَلَى'alaaatas
- الْأُخْرَىٰl-ukhraayang lain
- فَقَاتِلُواfa-qaatiluumaka perangilah kalian
- الَّتِيllatiiyang
- تَبْغِيtabghiiia berbuat aniaya
- حَتَّىٰhattaasampai
- تَفِيءَtafii'akembali
- إِلَىٰilaakepada
- أَمْرِamriurusan
- اللَّهِllaahiAllah
- فَإِنْfa-inmaka jika
- فَاءَتْfaa'atkembali
- فَأَصْلِحُواfa-ashlihuumaka damaikanlah kalian
- بَيْنَهُمَاbaynahumaaantara keduanya
- بِالْعَدْلِbi-l-'adlidengan adil
- وَأَقْسِطُواwa-aqsithuudan berlaku adillah kalian
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- يُحِبُّyuhibbumencintai
- الْمُقْسِطِينَl-muqsithiinaorang-orang yang berlaku adil
Inti bacaan
Bentuk qtataluu muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:253 dan 49:9, dan hanya di 49:9 kata kerjanya disusul perintah fa-qaatiluu yang berakar sama.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ, wa-in thaa'ifataani mina l-mu'miniina) yang berarti "dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin". Kata (طَائِفَتَانِ, thaa'ifataani) berasal dari akar ط-و-ف dan berbentuk dua, dan bentuk persis ini muncul dua kali di dalam Al-Qur'an, yaitu di 3:122 dan 49:9. Di 3:122 bunyinya (هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا, hammat thaa'ifataani minkum an tafsyalaa) yang berarti "dua golongan di antara kalian hendak gentar", disusul (وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا, wa-llaahu waliyyuhumaa) yang berarti "padahal Allah pelindung keduanya". Bentuk dua bertahan di 49:9 pada (بَيْنَهُمَا, baynahumaa) yang berarti "antara keduanya" dan (إِحْدَاهُمَا, ihdaahumaa) yang berarti "salah satu dari keduanya". Sesudah itu kata ganti beralih ke bentuk tunggal perempuan, pada (الَّتِي تَبْغِي, llatii tabghii) yang berarti "yang berbuat aniaya" dan pada kata kerja tafii'a dan faa'at, sehingga terjemahan memakai "ia" untuk golongan yang dimaksud.
Kata kerja pertama ditulis (اقْتَتَلُوا, qtataluu) yang berarti "saling berperang", dari akar ق-ت-ل. Bentuk persis qtataluu muncul dua kali, yaitu di 2:253 dan 49:9. Di 2:253 ayat itu memuat dua kata kerja yang berbeda, yaitu (وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا, wa-laakini khtalafuu) yang berarti "tetapi mereka berselisih" dan (وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا, wa-law syaa'a llaahu maa qtataluu) yang berarti "dan sekiranya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling membunuh". Dengan demikian, di satu ayat yang sama perselisihan ditulis dengan akar lain, dan akar ق-ت-ل dipakai untuk saling membunuh. Ayat 49:9 memakai akar ق-ت-ل, dan kata kerja sesudahnya (فَقَاتِلُوا, fa-qaatiluu) yang berarti "perangilah" berasal dari akar yang sama. Karena itu terjemahan memakai "saling berperang", sehingga keterkaitan kedua kata kerja itu terbaca, dan peperangan tidak berubah menjadi perselisihan biasa.
Perintah pertama ditulis (فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا, fa-ashlihuu baynahumaa) yang berarti "maka damaikanlah keduanya", dari akar ص-ل-ح. Bentuk perintah jamak ashlihuu muncul di tiga ayat, yaitu 8:1, 49:9, dan 49:10, dan di 49:9 muncul dua kali. Di 8:1 bunyinya (وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ, wa-ashlihuu dzaata baynikum) yang berarti "dan perbaikilah hubungan di antara kalian", sehingga hubungan antara pelaku sendirilah yang diperbaiki. Di 49:9 dan 49:10 hubungan yang diperbaiki terletak antara dua pihak lain, yaitu baynahumaa dan bayna akhawaykum, sementara pelakunya berada di luar kedua pihak itu. Karena itu terjemahan memakai "damaikanlah" di dua ayat terakhir dan "perbaikilah" di 8:1.
Kata untuk perbuatan golongan itu ditulis (فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ, fa-in baghat ihdaahumaa 'alaa l-ukhraa) yang berarti "jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap yang lain", dari akar ب-غ-ي. Kata kerja baghaa yang diikuti 'alaa menyebut pihak yang dikenai, misalnya di 28:76, (فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ, fa-baghaa 'alayhim) yang berarti "lalu ia berbuat aniaya terhadap mereka", dan di 10:23, (بَغْيُكُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ, baghyukum 'alaa anfusikum) yang berarti "perbuatan aniaya kalian atas diri kalian sendiri". Kata kerja ibtaghaa dari akar yang sama diterjemahkan lain, seperti pada (وَابْتَغِ, wa-btaghi) yang berarti "dan carilah". Perintah memerangi ditulis (فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي, fa-qaatiluu llatii tabghii) yang berarti "maka perangilah yang berbuat aniaya". Bentuk persis fa-qaatiluu muncul di tiga ayat, yaitu 4:76, 9:12, dan 49:9. Di 49:9 sasarannya dibatasi pada golongan yang berbuat aniaya, dan tidak mencakup kedua golongan.
Batas perang itu ditulis (حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ, hattaa tafii'a ilaa amri llaahi) yang berarti "sehingga ia kembali kepada perintah Allah". Kata kerja tafii'a berakar ف-ي-أ dan muncul di dua ayat, yaitu 2:226 dan 49:9. Di 2:226 bunyinya (فَإِنْ فَاءُوا, fa-in faa'uu) yang berarti "maka jika mereka kembali", disusul penyebutan Allah sebagai pengampun lagi pengasih. Di 49:9 kata kerja itu muncul dua kali, sebagai tafii'a dan faa'at, dan susunan (إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ, ilaa amri llaahi) yang berarti "kepada perintah Allah" hanya ada di ayat ini. Ayat tidak merinci isi perintah Allah yang dimaksud.
Dua kata untuk keadilan muncul berdampingan di 49:9. Perintah damai kedua ditulis (فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ, fa-ashlihuu baynahumaa bi-l-'adli) yang berarti "maka damaikanlah keduanya dengan adil", dari akar ع-د-ل, lalu disusul (وَأَقْسِطُوا, wa-aqsithuu) yang berarti "dan bersikaplah adil", dari akar ق-س-ط. Bentuk bi-l-'adli muncul di lima ayat, yaitu 2:282, 4:58, 16:76, 16:90, dan 49:9, sedangkan bi-l-qisthi muncul di 14 ayat. Terjemahan memakai "adil" untuk kedua akar, sehingga pembedanya terlihat pada kata Arabnya dan tidak pada kata Indonesianya. Penutup ayat ditulis (يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ, yuhibbu l-muqsithiina) yang berarti "Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil". Bentuk pelaku muqsithiin muncul di tiga ayat, yaitu 5:42, 49:9, dan 60:8, dan di ketiganya didahului kata kerja yang berarti mencintai. Akar ع-د-ل tidak memiliki bentuk pelaku di dalam Al-Qur'an, sehingga "orang-orang yang bersikap adil" di sini menerjemahkan akar ق-س-ط.
Tafsiran
Ayat ini menetapkan tiga langkah berurutan bagi dua golongan orang mukmin yang saling berperang, dan tiap langkah dipicu satu kata "jika". Langkah pertama berlaku jika dua golongan itu berperang, yaitu mendamaikan. Langkah kedua berlaku jika salah satu berbuat aniaya terhadap yang lain, yaitu memerangi golongan itu sampai ia kembali kepada perintah Allah. Langkah ketiga berlaku jika golongan itu sudah kembali, yaitu mendamaikan lagi dengan adil dan bersikap adil. Pelaku kata kerja di semua langkah adalah "kalian", yaitu pihak di luar kedua golongan. Ayat tidak menyebut siapa saja yang termasuk "kalian" itu, tidak menyebut cara memerangi, dan tidak merinci isi perintah Allah yang menjadi ukuran kembali.
Ketegangan ayat ini ada pada dua perintah yang tampak berlawanan, yaitu mendamaikan dan memerangi, dan teks menyelesaikannya dengan batas. Perang berhenti pada kata hattaa tafii'a, "sehingga ia kembali", dan sesudah kembali kata kerja yang dipakai kembali ke "damaikanlah". Sasaran perang dibatasi pada golongan yang berbuat aniaya, dan tujuan akhirnya disebut di penutup, yaitu bahwa Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil. Perang di ayat ini dengan demikian terpasang di antara dua perdamaian.
Sebutan "mukmin" tidak dicabut dari kedua golongan. Ayat membuka dengan "dua golongan dari orang-orang mukmin", tidak mengganti sebutan itu ketika satu golongan berbuat aniaya, dan memakai sebutan yang sama untuk keduanya sampai akhir. Ayat 49:10 sesudahnya menyebut orang-orang mukmin bersaudara dan memerintahkan mendamaikan "kedua saudara kalian". Ayat 49:6 menyebut "suatu kaum" yang bisa tertimpa akibat kabar yang tidak diperiksa, dan 49:9 menyebut dua golongan yang sudah saling berperang. Ayat tidak menyatakan hubungan sebab antara kedua keadaan itu, dan pembaca menerimanya sebagai dua persoalan yang bertetangga.
Renungan dan Hikmah
- Ayat menyebut kedua golongan itu mukmin dari awal sampai akhir, termasuk ketika satu di antaranya berbuat aniaya. Sebutan tidak berpindah kepada golongan yang lain dan tidak diganti dengan nama yang lebih keras. Pembaca yang pernah berselisih dengan sesama dapat memperhatikan nama apa yang diberikannya kepada pihak seberang ketika sengketa memuncak. Apakah nama itu masih sama dengan nama yang dipakainya sebelum sengketa itu mulai, atau sudah diganti satu kata yang lebih mudah dibenci?
- Pelaku semua perintah di ayat ini adalah "kalian", yaitu pihak yang berada di luar kedua golongan. Tempat yang diminta ayat adalah tempat di antara keduanya, dengan satu tangan pada masing-masing ujung dan tidak memihak ke salah satu sisi. Pembaca dapat mengingat sengketa terakhir yang diketahuinya dan bertanya di sisi mana kakinya berdiri sebelum memutuskan berdiri di antara. Apakah pihak yang disukai sudah terpilih lebih dulu, lalu alasan menyusul belakangan?
- Perang di ayat ini berhenti pada kata hattaa tafii'a, "sehingga ia kembali". Ukuran selesai yang ditulis ayat adalah kembalinya golongan yang berbuat aniaya kepada perintah Allah, dan kekalahan atau kehancurannya tidak disebut. Pembaca yang terlibat dalam sebuah pertikaian dapat menuliskan apa yang dianggapnya sebagai tanda selesai. Apakah tandanya berupa pihak lain mengaku salah, pihak lain tersingkir, atau pihak lain kembali ke tempat yang semula disepakati bersama?
- Perintah mendamaikan muncul dua kali, dan hanya yang kedua dilengkapi kata "dengan adil". Damai yang pertama menghentikan pertempuran, dan damai yang kedua datang sesudah ada pihak yang kembali serta membawa takaran. Pembaca yang pernah menengahi dan merasa urusan sudah beres karena kedua pihak berhenti berbicara dapat bertanya apakah damai yang tercapai itu sudah memasuki langkah kedua. Berapa banyak perdamaian yang berhenti tepat sebelum kata "adil" ditambahkan, padahal ayat menutup dengan Allah yang mencintai orang-orang yang bersikap adil?
- Sesudah perintah mendamaikan dengan adil, ayat langsung memerintahkan "bersikaplah adil" kepada pelaku yang sama. Penengah tidak berdiri di luar timbangan, dan diminta memegang takaran yang sama dengan yang dipasangnya pada orang lain. Penutup ayat menyebut orang-orang yang bersikap adil sebagai orang yang dicintai Allah. Pembaca yang menengahi dapat menimbang apakah kedua pihak merasa takaran yang sama dipakai untuk menimbang mereka, atau takaran yang berbeda menurut kedekatan.
- Ayat menyebut aniaya terjadi di antara dua golongan yang sama-sama disebut mukmin. Sebutan iman tidak tertulis sebagai pelindung dari perbuatan melampaui batas, dan golongan yang melampaui batas diminta kembali kepada perintah Allah, bukan kepada golongan lawannya. Pembaca dapat bertanya kata apa yang dipakainya ketika pihaknya sendiri yang melampaui batas. Apakah kata itu sama kerasnya dengan kata yang dipakai ketika pihak lain yang melakukannya, dan apakah ayat yang menyebut keduanya dengan sebutan yang sama masih terbaca tenang bagi dirinya?