إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian dirahmati.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌinnamaa l-mu'minuuna ikhwatunsesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara
  2. فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْfa-ashlihuu bayna akhawaykumkarena itu, damaikanlah kedua saudara kalian
  3. وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَwa-ttaquu llaaha la'allakum turhamuunadan bertakwalah kepada Allah agar kalian dirahmati

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
  2. الْمُؤْمِنُونَl-mu'minuunaorang-orang beriman
  3. إِخْوَةٌikhwatunsaudara-saudara
  4. فَأَصْلِحُواfa-ashlihuumaka damaikanlah kalian
  5. بَيْنَbaynadi antara
  6. أَخَوَيْكُمْakhawaykumdua saudara kalian
  7. وَاتَّقُواwa-ttaquudan jagalah diri dari
  8. اللَّهَllaahaAllah
  9. لَعَلَّكُمْla'allakumagar kalian
  10. تُرْحَمُونَturhamuunakalian dirahmati

Inti bacaan

Prinsip persaudaraan 'orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudara kalian', kerangka kekeluargaan sebagai dasar motivasi menyelesaikan perselisihan, bukan sekadar kewajiban formal.

Penjelasan pilihan kata

"Orang-orang mukmin bersaudara" (الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ, l-mu'minuuna ikhwatun) diterjemahkan tanpa kata "itu" setelahnya, karena kepastian rujukan di sini dibawa oleh kata sandang "ال" di depan kata itu (الْمُؤْمِنُونَ, l-mu'minuuna), bukan oleh kata tunjuk terpisah. "Kedua saudara kalian" (أَخَوَيْكُمْ, akhawaykum) juga diterjemahkan tanpa tambahan "yang bertikai", karena konteks pertikaian sudah jelas dari ayat sebelumnya dan tidak diulang lagi di sini.

Tafsiran

Ayat ini merangkum ayat sebelumnya dalam satu prinsip. Kata pembatas "sesungguhnya... hanyalah" (إِنَّمَا, innamaa) menempatkan persaudaraan sebagai definisi, bukan pilihan yang bisa diambil atau ditinggalkan sesuka hati. Karena itulah mendamaikan yang bertikai bukan tindakan sukarela yang boleh dilakukan atau tidak, melainkan konsekuensi langsung dari apa artinya menjadi orang beriman. Penutup ayat, "agar kalian dirahmati", mengaitkan rahmat bagi diri sendiri dengan kesediaan merawat hubungan dengan sesama, bukan semata dengan ibadah personal.

Renungan dan Hikmah

  • Kalimatnya berbentuk pembatas: orang-orang mukmin 'hanyalah' bersaudara. Itu keterangan tentang apa mereka, bukan anjuran supaya berbuat begitu. Persaudaraan di sini tidak diperoleh dengan akur dan tidak hilang karena bertengkar. Ia keadaan yang sudah ditetapkan Allah, dan itulah yang membuat mendamaikan jadi kewajiban, bukan kebaikan hati.
  • Perintahnya 'damaikanlah kedua saudara kalian'. Keduanya disebut saudara, termasuk pihak yang bersalah. Pendamai di sini tidak berdiri di luar sebagai penengah yang netral; kedua pihak adalah miliknya. Itu jauh lebih berat daripada menengahi, dan jauh lebih sulit ditinggalkan di tengah jalan.
  • Penutupnya 'agar kalian dirahmati', dan yang disapa bukan pihak yang bertikai melainkan yang diperintahkan mendamaikan. Rahmat dijanjikan kepada yang merapikan, bukan kepada yang dirapikan. Allah menempatkan keuntungan terbesar pada orang yang paling mudah merasa sedang mengurus perkara orang lain.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: “saudaramu” diterjemahkan “saudara kalian”; “kamu” diterjemahkan “kalian”. Dalam ayat ini, 'rahima' tanpa kata sandang al-. verba rahima diterjemahkan keluarga 'merahmati/memberi rahmat' (sejalan raahimiin diterjemahkan 'pemberi rahmat', kata terjemahan lain SENDIRI di 23:109).