إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian dirahmati.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌinnamaa l-mu'minuuna ikhwatunsesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara
- فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْfa-ashlihuu bayna akhawaykumkarena itu, damaikanlah kedua saudara kalian
- وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَwa-ttaquu llaaha la'allakum turhamuunadan bertakwalah kepada Allah agar kalian dirahmati
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
- الْمُؤْمِنُونَl-mu'minuunaorang-orang beriman
- إِخْوَةٌikhwatunsaudara-saudara
- فَأَصْلِحُواfa-ashlihuumaka damaikanlah kalian
- بَيْنَbaynadi antara
- أَخَوَيْكُمْakhawaykumdua saudara kalian
- وَاتَّقُواwa-ttaquudan jagalah diri dari
- اللَّهَllaahaAllah
- لَعَلَّكُمْla'allakumagar kalian
- تُرْحَمُونَturhamuunakalian dirahmati
Inti bacaan
Rangkaian wa-ttaquu llaaha la'allakum muncul di empat ayat Al-Qur'an, dan hanya 49:10 yang berakhir dengan turhamuuna; tiga ayat lain (2:189, 3:130, 3:200) berakhir dengan tuflihuuna.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ, innamaa l-mu'minuuna ikhwatun) yang berarti "sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara". Rangkaian innamaa l-mu'minuuna muncul di empat ayat, yaitu 8:2, 24:62, 49:10, dan 49:15. Tiga ayat lainnya melanjutkannya dengan kata penghubung lladziina dan daftar ciri, misalnya di 8:2, (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ, innamaa l-mu'minuuna lladziina) yang berarti "sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang", dan di 49:15, (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا, innamaa l-mu'minuuna lladziina aamanuu) yang berarti "sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang beriman". Di 49:10 rangkaian itu langsung disusul satu kata benda, yaitu ikhwatun, tanpa ciri apa pun. Terjemahan 49:10 menyampaikan innamaa dengan "sesungguhnya", sama dengan 8:2.
Kata (إِخْوَةٌ, ikhwatun) yang berarti "bersaudara" berakar أ-خ-و. Bentuk persis ikhwatun muncul dua kali, yaitu di 4:11 dan 49:10. Di 4:11 bunyinya (لَهُ إِخْوَةٌ, lahu ikhwatun) yang berarti "jika ia mempunyai beberapa saudara", dalam kalimat tentang hubungan kerabat. Bentuk jamak lain dari akar yang sama, yaitu ikhwaan, dipakai untuk orang-orang yang bersatu hatinya, misalnya di 3:103, (فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا, fa-allafa bayna quluubikum fa-ashbahtum bi-ni'matihi ikhwaanan) yang berarti "lalu Dia mempersatukan hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara". Ayat 49:10 memilih kata ikhwatun, bentuk yang sama dengan kata untuk saudara dalam keluarga di 4:11. Ayat tidak menjelaskan seberapa jauh persamaan itu berlaku, dan terjemahan memakai "saudara" untuk semua bentuk itu.
Sasaran perintah ditulis (أَخَوَيْكُمْ, akhawaykum) yang berarti "kedua saudara kalian". Kata ini berbentuk dua dari akar yang sama, melekat pada akhiran -kum, "kalian", dan bentuk persis akhawaykum muncul sekali. Ayat ini menaruh kata jamak ikhwatun lebih dulu, lalu kata dua akhawaykum pada kalimat perintah. Pada 49:9 bentuk dua juga dipakai, yaitu thaa'ifataani, baynahumaa, dan ihdaahumaa. Apakah "kedua saudara" itu dua orang atau dua golongan, ayat membiarkannya terbuka, dan terjemahan memakai "kedua saudara kalian" untuk menjaga bentuk dua itu.
Perintah damai ditulis (فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ, fa-ashlihuu bayna akhawaykum) yang berarti "karena itu damaikanlah kedua saudara kalian". Huruf fa menyambung pernyataan tentang persaudaraan dengan perintah, dan terjemahan menyampaikannya sebagai "karena itu". Kata kerja ashlihuu sama dengan yang dipakai di 49:9 dan sasarannya berubah dari baynahumaa, "antara keduanya", menjadi bayna akhawaykum, "antara kedua saudara kalian".
Perintah terakhir ditulis (وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ, wa-ttaquu llaaha la'allakum turhamuuna) yang berarti "dan bertakwalah kepada Allah agar kalian dirahmati". Rangkaian wa-ttaquu llaaha muncul tiga kali dalam surah 49, yaitu di 49:1, 49:10, dan 49:12. Rangkaian wa-ttaquu llaaha la'allakum muncul di empat ayat, yaitu 2:189, 3:130, 3:200, dan 49:10, dan tiga yang pertama berakhir dengan (وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ, wa-ttaquu llaaha la'allakum tuflihuuna) yang berarti "dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung". Ayat 49:10 berakhir dengan turhamuuna dan tidak dengan tuflihuuna. Rangkaian la'allakum turhamuuna muncul di 8 ayat, yaitu 3:132, 6:155, 7:63, 7:204, 24:56, 27:46, 36:45, dan 49:10. Kata kerja turhamuuna berakar ر-ح-م dan berbentuk pasif, sehingga siapa yang merahmati tidak ditulis pada kata itu.
Tafsiran
Ayat ini memberi alasan bagi perintah di 49:9 dan menyatukannya dengan dua hal lain dalam satu ayat pendek. Susunannya tiga bagian, yaitu pernyataan tentang status, perintah mendamaikan, dan perintah bertakwa dengan harapan dirahmati. Pernyataan status ditulis tanpa kata kerja, dan perintah menyusul dengan huruf fa, sehingga damai dibaca sebagai akibat dari status itu.
Ayat 49:9 memberi prosedur untuk dua golongan yang saling berperang, dan 49:10 memberi hubungan yang menjadi dasarnya. Prosedur di 49:9 menyebut mukmin, dan 49:10 menambahkan sebutan saudara. Dua sebutan itu bertemu dalam satu urutan, sehingga perang di 49:9 terbaca sebagai peristiwa di antara orang-orang yang bersaudara.
Ayat 3:103 menyebut hati yang dipersatukan, nikmat, dan persaudaraan dalam satu ayat, sedangkan 49:7 dan 49:8 menyebut hati dan nikmat sebelum 49:9 dan 49:10 menyebut perang dan persaudaraan. Surah 49 menaruh keempat hal itu berdekatan. Kedua kelompok ayat itu ditulis terpisah, dan keterkaitannya dibaca dari letaknya.
Kata akh muncul lagi di 49:12, (لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا, lahma akhiihi maytan) yang berarti "daging saudaranya yang sudah mati". Dalam surah ini akar أ-خ-و muncul hanya di 49:10 dan 49:12. Persaudaraan yang menjadi dasar damai di 49:10 menjadi dasar rasa jijik di 49:12.
Renungan dan Hikmah
- Persaudaraan di ayat ini ditulis sebagai kenyataan, dan tugas mendamaikan menyusul dengan kata "karena itu". Tugas tidak ditulis sebagai syarat untuk menjadi saudara. Pembaca yang pernah menunggu sebuah pertengkaran selesai dengan sendirinya dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh pekerjaan di tangan orang yang berada di luar pertengkaran itu. Siapa yang biasanya ditunggu untuk memulai, dan sudah berapa lama penantian itu berjalan tanpa ada yang bergerak?
- Ayat memakai akhiran -kum pada kata saudara, sehingga dua pihak yang bertikai disebut saudara dari pelaku yang diperintah, selain saudara satu sama lain. Penengah dengan demikian memiliki hubungan dengan keduanya dan kehilangan sesuatu bila keduanya terpisah, dan kedudukannya berbeda dari orang asing yang kebetulan lewat. Pembaca dapat memeriksa apakah dua orang yang berselisih di sekitarnya diperlakukan sebagai urusan orang lain, atau sebagai dua saudara sendiri yang sedang tidak berbicara.
- Perintah bertakwa ditempatkan sesudah perintah mendamaikan. Ayat tidak merinci apa yang dimaksud dengan bertakwa kepada Allah dalam urusan ini, tetapi urutannya dapat dibaca sebagai pekerjaan mendamaikan yang berjalan bersama kesadaran akan Allah. Pembaca yang pernah mendamaikan dua orang dapat mengingat saat yang paling menggoda untuk memihak. Apakah pada saat itu terlintas bahwa ada yang melihat apa yang sedang dikerjakan, dan apakah terlintasnya berubah menjadi sikap?
- Kata dirahmati ditulis dalam bentuk pasif, dan ayat menyebut Allah sebagai tujuan takwa sedangkan pelaku rahmat tidak disebut. Rahmat di sini ditulis dengan kata kerja pasif, sehingga terbaca sebagai sesuatu yang diterima. Kata "agar" yang mendahuluinya menandai harapan yang dirangkaikan dengan takwa, dan tidak menandai janji. Pembaca yang mendamaikan karena mengharapkan hasil tertentu dapat menimbang apa yang tersisa bila hasil itu tidak datang, dan apakah pekerjaannya masih terasa layak dikerjakan.
- Di 49:12 kata saudara muncul lagi, kali ini dalam kalimat tentang memakan daging saudara yang sudah mati. Orang yang dua ayat sebelumnya diperintah mendamaikan dua saudara ternyata diminta juga menjaga ucapan tentang salah satunya ketika yang bersangkutan tidak hadir. Pembaca dapat bertanya apakah sebutan saudara hanya diingat ketika harus menengahi, atau juga ketika sedang membicarakan seseorang di belakangnya sambil merasa tidak ada yang mendengar. Ayat 49:12 memuat lagi perintah bertakwa kepada Allah, lalu menyebut Allah penyambut tobat lagi pengasih.
- Di tiga ayat lain orang mukmin didefinisikan lewat ciri, sedangkan di sini lewat hubungan. Ayat tidak menyebut apakah keduanya saling menggantikan, dan hubungan antara dua cara menjelaskan itu tidak dinyatakan teks. Pembaca dapat membuat daftar orang yang dihitungnya sebagai saudara dalam arti ayat ini. Daftar itu mungkin lebih pendek atau lebih panjang daripada daftar orang yang dikenalnya dengan baik, dan perbedaannya patut dilihat dengan jujur.