يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kalian yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kalian membencinya. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah penyambut tobat lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (6 jeda)
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّyaa ayyuhaa lladziina aamanuu jtanibuu katsiiran mina zh-zhanniwahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka
- إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌinna ba'dha zh-zhanni itsmunsesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa
- وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًاwa-laa tajassasuu wa-laa yaghtab ba'dhukum ba'dhanjanganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kalian yang menggunjing sebagian yang lain
- أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُa-yuhibbu ahadukum an ya'kula lahma akhiihi maytan fa-karihtumuuhuapakah ada di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kalian membencinya
- وَاتَّقُوا اللَّهَwa-ttaquu llaahabertakwalah kepada Allah
- إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌinna llaaha tawwaabun rahiimunsesungguhnya Allah penyambut tobat lagi pengasih
Terjemahan per kata (32 kata)
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- اجْتَنِبُواjtanibuujauhilah kalian
- كَثِيرًاkatsiiranbanyak
- مِنَminadari
- الظَّنِّzh-zhanniprasangka
- إِنَّinnasesungguhnya
- بَعْضَba'dhasebagian
- الظَّنِّzh-zhanniprasangka
- إِثْمٌitsmundosa
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تَجَسَّسُواtajassasuukalian mencari-cari kesalahan
- وَلَاwa-laadan janganlah
- يَغْتَبْyaghtabmenggunjing
- بَعْضُكُمْba'dhukumsebagian kalian
- بَعْضًاba'dhansebagian
- أَيُحِبُّa-yuhibbuapakah suka
- أَحَدُكُمْahadukumsalah seorang kalian
- أَنْanuntuk
- يَأْكُلَya'kulamemakan
- لَحْمَlahmadaging
- أَخِيهِakhiihisaudaranya
- مَيْتًاmaytanyang mati
- فَكَرِهْتُمُوهُfa-karihtumuuhumaka kalian membencinya
- وَاتَّقُواwa-ttaquudan jagalah diri dari
- اللَّهَllaahaAllah
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- تَوَّابٌtawwaabunpenyambut tobat
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Rangkaian wa-ttaquu llaaha yang langsung disusul inna llaaha ada di sembilan ayat (5:2, 5:4, 5:7, 5:8, 8:69, 49:1, 49:12, 59:7, 59:18), dan dua di antaranya, 8:69 dan 49:12, menutupnya dengan pengampunan atau penyambutan tobat.
Penjelasan pilihan kata
Perintah pembuka ayat ini, (اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ, jtanibuu katsiiran mina zh-zhanni), berarti "jauhilah banyak prasangka". Kata kerja (اجْتَنِبُوا, jtanibuu) berakar ج-ن-ب dan berarti "jauhilah". Bentuk perintah yang tertulis persis seperti ini ada di tiga ayat, yaitu 16:36, 22:30, dan 49:12. Di dua ayat yang lain objeknya benda atau ucapan: (الطَّاغُوتَ, th-thaaghuuta) di 16:36 dan (قَوْلَ الزُّورِ, qawla z-zuuri) yang berarti "perkataan dusta" di 22:30. Di 49:12 objeknya adalah sesuatu yang terjadi di dalam diri. Kata (الظَّنِّ, zh-zhanni) berakar ظ-ن-ن. Terjemahan memakai "prasangka" di sini dan "dugaan" di 4:157, (إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ, illaa ittibaa'a zh-zhanni) yang berarti "selain mengikuti dugaan". Di 4:157 kata itu dipertentangkan dengan pengetahuan, (مِنْ عِلْمٍ, min 'ilmin), sedangkan di 49:12 kalimat-kalimat sesudahnya membicarakan orang lain, sehingga "prasangka" lebih tepat. Perintahnya memakai (كَثِيرًا, katsiiran) yang berarti "banyak", dan alasannya di kalimat berikutnya memakai (بَعْضَ, ba'dha) yang berarti "sebagian".
Alasan itu berbunyi (إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ, inna ba'dha zh-zhanni itsmun), yang berarti "sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa". Kata (إِثْمٌ, itsmun) berakar أ-ث-م dan berarti "dosa". Bentuk persis itsmun ada di dua ayat, yaitu 2:219 dan 49:12. Di 2:219, (فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ, fiihimaa itsmun kabiirun) yang berarti "pada keduanya ada dosa besar", dosa itu disandingkan dengan manfaat bagi manusia. Di 49:12 kata itu menjadi sifat bagi sebagian dari sesuatu yang lebih luas. Kata "adalah" dalam terjemahan menyambung dua kata benda, karena kalimat Arabnya tidak memuat kata kerja di antaranya.
Dua larangan berikutnya tertulis dalam satu kalimat, (وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا, wa-laa tajassasuu wa-laa yaghtab ba'dhukum ba'dhan). Kata kerja (تَجَسَّسُوا, tajassasuu) berakar ج-س-س dan hanya ada di ayat ini. Ayat tidak memberinya objek. Terjemahan melengkapinya dengan "kesalahan orang lain" karena kalimat sebelum dan sesudahnya membicarakan orang lain, dan objek itu merupakan bacaan dari sekitar kalimat, tidak tertulis di ayat. Kata kerja (يَغْتَبْ, yaghtab) berakar غ-ي-ب dan juga hanya ada di ayat ini. Akar yang sama dikenal dari (بِالْغَيْبِ, bi-l-ghaybi) di 12:52, (لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ, lam akhunhu bi-l-ghaybi) yang berarti "aku tidak mengkhianatinya di belakangnya". Terjemahan "menggunjing" membaca yaghtab sebagai perbuatan terhadap orang yang tidak berada di tempat, dan perumpamaan sesudahnya tentang saudara yang sudah mati mendukung bacaan itu. Pola (بَعْضُكُمْ بَعْضًا, ba'dhukum ba'dhan) yang berarti "sebagian kalian terhadap sebagian yang lain" ada di tiga ayat, yaitu 2:283, 29:25, dan 49:12. Di 2:283, (فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا, fa-in amina ba'dhukum ba'dhan) berarti "jika sebagian kalian mempercayai sebagian yang lain", dan di 29:25, (وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا, wa-yal'anu ba'dhukum ba'dhan) berarti "dan sebagian kalian melaknat sebagian yang lain". Pelaku dan sasaran pola itu berasal dari kelompok yang sama.
Perumpamaan ayat ini berbentuk pertanyaan, (أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا, a-yuhibbu ahadukum an ya'kula lahma akhiihi maytan), yang berarti "apakah salah seorang kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati". Pertanyaan tentang keinginan salah seorang dari kalian ada juga di 2:266, (أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ, a-yawaddu ahadukum an takuuna lahu jannatun) yang berarti "apakah salah seorang kalian ingin memiliki sebuah kebun". Rangkaian (أَحَدُكُمْ أَنْ, ahadukum an) ada di dua ayat itu saja, yaitu 2:266 dan 49:12. Kata (أَخِيهِ, akhiihi) yang berarti "saudaranya" berakar أ-خ-و, akar yang sama dengan (إِخْوَةٌ, ikhwatun) di 49:10. Kata (مَيْتًا, maytan) berarti "yang sudah mati" dan berbentuk laki-laki tunggal, sama seperti lahma dan akhiihi, sehingga kalimat ini tidak memutuskan apakah yang mati adalah saudaranya atau dagingnya. Terjemahan "daging saudaranya yang sudah mati" membiarkan kedua bacaan itu.
Jawaban pertanyaan itu tertulis dalam satu kata, (فَكَرِهْتُمُوهُ, fa-karihtumuuhu), yang berarti "maka kalian membencinya". Kata kerja (كَرِهْتُمُوهُ, karihtumuuhu) berakar ك-ر-ه dan berbentuk lampau, sehingga membenci itu ditulis sebagai keadaan yang sudah ada pada pendengar. Bentuk yang sama susunannya, kata kerja kariha dengan akhiran kalian dan kata ganti objek, ada di 4:19, (فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ, fa-in karihtumuuhunna) yang berarti "maka jika kalian tidak menyukai mereka". Terjemahan memakai "membenci" untuk kariha, seperti di 2:216, (وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ, wa-huwa kurhun lakum) yang berarti "padahal itu kalian benci", dan tidak memakai kata yang lebih keras, sebab tidak ada kata Arab di sini yang melahirkannya. Akhiran -hu menunjuk perbuatan memakan atau dagingnya, dan kalimat ini tidak memilih salah satunya.
Penutup ayat dimulai dengan (وَاتَّقُوا اللَّهَ, wa-ttaquu llaaha) yang berarti "dan bertakwalah kepada Allah", lalu (إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ, inna llaaha tawwaabun rahiimun). Rangkaian wa-ttaquu llaaha yang langsung disusul inna llaaha ada di sembilan ayat, yaitu 5:2, 5:4, 5:7, 5:8, 8:69, 49:1, 49:12, 59:7, dan 59:18. Penutupnya berbeda-beda: (شَدِيدُ الْعِقَابِ, syadiidu l-'iqaabi) di 5:2 dan 59:7, (سَرِيعُ الْحِسَابِ, sarii'u l-hisaabi) di 5:4, (عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ, 'aliimun bi-dzaati sh-shuduuri) di 5:7, (خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ, khabiirun bimaa ta'maluuna) di 5:8 dan 59:18, (غَفُورٌ رَحِيمٌ, ghafuurun rahiimun) di 8:69, dan (سَمِيعٌ عَلِيمٌ, samii'un 'aliimun) di 49:1. Dua penutup menyebut pengampunan atau penyambutan tobat, yaitu 8:69 dan 49:12. Kata (تَوَّابٌ, tawwaabun) berakar ت-و-ب, akar yang sama dengan (يَتُبْ, yatub) di 49:11, dan bentuk tanpa kata sandang al- diterjemahkan dengan huruf kecil. Bentuk dengan kata sandang, (التَّوَّابُ الرَّحِيمُ, at-tawwaabu r-rahiimu), ada di enam ayat, yaitu 2:37, 2:54, 2:128, 2:160, 9:104, dan 9:118. Terjemahan memakai "penyambut tobat" dan menyisihkan "penerima tobat", sebab untuk menerima Al-Qur'an memakai akar lain, yaitu (يَقْبَلُ التَّوْبَةَ, yaqbalu t-tawbata) di 9:104 dan 42:25 serta (قَابِلِ التَّوْبِ, qaabili t-tawbi) di 40:3. Di 9:118 urutannya (ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا, tsumma taaba 'alayhim li-yatuubuu) yang berarti "kemudian Dia menyambut mereka agar mereka bertobat", sehingga penyambutan itu mendahului tobat hamba.
Tafsiran
Ayat ini bergerak dari apa yang diucapkan di 49:11 ke apa yang ada sebelum dan sesudah ucapan: dugaan di dalam diri, pengintaian di luar, dan pembicaraan di belakang orang yang dibicarakan. Tiga larangan itu ditulis berurutan, dan urutannya dapat dibaca sebagai jalan dari sesuatu yang tersimpan menuju sesuatu yang terucap. Ayat sendiri tidak menamai urutan itu sebagai tahapan.
Perintah pembuka memakai kata "banyak" dan alasannya memakai kata "sebagian". Perintah menjauhi karena itu lebih luas daripada penetapan dosa, dan ayat tidak memberi ciri untuk memisahkan prasangka yang termasuk dosa dari prasangka yang tidak. Dapat dibaca bahwa karena batas itu tidak diberikan, menjauhi prasangka dalam jumlah banyak adalah cara yang aman.
Larangan mencari-cari perlu dibaca bersama 49:6. Ayat 49:6 mengatur sikap terhadap berita yang datang, (إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ, in jaa'akum faasiqun bi-naba'in) yang berarti "jika seorang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita", dan memerintahkan verifikasi. Ayat 49:12 melarang pencarian yang dimulai oleh pendengar sendiri. Kedua ayat tidak saling meniadakan, karena pemicu keduanya berbeda: berita yang datang di 49:6, pencarian yang diprakarsai di 49:12.
Perumpamaan memakan daging saudara yang sudah mati bekerja lewat reaksi pendengarnya. Ayat tidak memerintahkan membenci gunjingan. Ayat menunjuk reaksi yang sudah ada, (فَكَرِهْتُمُوهُ, fa-karihtumuuhu), lalu membiarkan pendengar menyambungkannya ke perbuatan yang baru dilarang. Sasaran gunjingan disebut saudara, seperti dua pihak yang bertikai disebut saudara di 49:10, dan 49:11 di antaranya menyebut sesama dengan kata diri kalian. Tiga ayat berturut-turut memakai bahasa kedekatan untuk orang yang menjadi bahan celaan, ejekan, dan pembicaraan.
Penutup ayat berpindah dari larangan ke Allah sebagai penyambut tobat. Akar ت-و-ب muncul di ujung dua ayat berturut-turut, sebagai kata kerja yang dilekatkan pada manusia di 49:11 dan sebagai sifat Allah di 49:12. Dengan susunan itu, larangan-larangan di kedua ayat berujung pada tobat dari sisi manusia dan penyambutan dari sisi Allah. Ayat ini tidak menyebut hukuman atas tiga larangan itu, dan kalimat terakhirnya menunjuk ke arah kembali.
Renungan dan Hikmah
- Ayat memerintahkan menjauhi banyak prasangka, padahal yang disebut dosa hanya sebagian dari prasangka. Batas antara bagian yang dosa dan bagian yang bukan tidak diberikan, dan perintah itu dibuat lebih luas daripada penetapannya. Ayat ini sendiri berakhir dengan perintah bertakwa kepada Allah. Pembaca yang membaca raut wajah rekannya lalu menyimpulkan niatnya tidak pernah diberi tahu dugaan mana yang termasuk sebagian itu. Dari dugaan yang terbentuk tentang orang lain hari ini, berapa yang akan tetap dipegang bila ternyata sebagian itu ada di dalamnya?
- Perintah pertama ayat ini menyangkut sesuatu yang tidak didengar siapa pun, yaitu dugaan yang masih tersimpan. Ayat menaruh keadaan yang hanya diketahui pemiliknya ke dalam wilayah yang dibahasnya. Kalimat sesudahnya baru bergerak ke pengintaian dan pembicaraan, dua hal yang dapat dilihat orang lain. Pembaca yang merasa percakapannya sudah bersih karena tidak ada yang buruk terucap mendapati bahwa ayat mulai satu langkah lebih awal. Apa yang sedang dipegang pembaca tentang orang di sebelahnya hari ini, dan sudah berapa lama dugaan itu tidak pernah diperiksa?
- Ayat 49:6 menyebut berita yang datang kepada pendengar, sedangkan 49:12 melarang pencarian yang dimulai pendengar sendiri. Perbedaan itu menaruh pertanyaan di tempat yang jarang diperiksa, yaitu asal pengetahuan seseorang tentang orang lain. Sebagian datang sendiri lewat percakapan dan kabar, sebagian dicari lewat menelusuri, bertanya kepada orang ketiga, atau mengamati dari jauh. Dari semua yang diketahui pembaca tentang orang di lingkarannya, berapa yang datang sendiri dan berapa yang dicari?
- Perumpamaan ayat ini memilih keadaan mati, keadaan ketika sasaran perbuatan tidak dapat menanggapi apa pun, dan menyebutnya saudara. Pembicaraan tentang orang yang tidak hadir berlangsung dalam keadaan yang serupa: yang dibicarakan tidak sempat meluruskan, menambahkan, atau menolak. Pembaca yang pernah duduk di percakapan seperti itu tahu betapa mudahnya cerita menjadi lengkap tanpa kehadiran orang yang diceritakan. Percakapan terakhir yang menyebut orang yang tidak hadir, apa yang akan berubah dalam kalimat-kalimatnya bila orang itu duduk di kursi sebelah?
- Ayat tidak memerintahkan pendengarnya membenci gunjingan. Ayat menulis bahwa kalian membencinya, dalam bentuk lampau, seakan reaksi itu sudah ada sebelum perumpamaan selesai diucapkan. Hujahnya berjalan lewat perasaan pendengar sendiri. Pembaca yang merasa jijik pada gambaran itu memegang ukuran yang dipakai ayat, dan ukuran itu sudah ada di dalam dirinya sebelum ayat menyebut apa pun. Sesudah perumpamaan itu ayat langsung memerintahkan bertakwa kepada Allah. Pada saat gunjingan didengar langsung, apakah reaksi yang sama muncul, atau hilang tertutup rasa penasaran?
- Larangan menggunjing memakai pola sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, sehingga pelaku dan sasaran berasal dari kelompok yang sama. Orang yang menggunjing hari ini dapat menjadi orang yang digunjing besok, dan percakapan yang sama berlangsung di tempat lain dengan kursi yang tertukar. Pembaca yang menyimak gunjingan tentang seseorang biasanya merasa dirinya penonton, padahal pola ayat tidak menyediakan kursi penonton. Ayat menutup dengan pernyataan bahwa Allah penyambut tobat lagi pengasih. Dalam percakapan semalam, pembaca duduk sebagai pembicara, sebagai pendengar, atau sebagai orang yang dibicarakan di tempat lain?