قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Katakanlah, “Apakah kalian mengajari Allah tentang pertanggungjawaban kalian, padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Allah berilmu akan segala sesuatu.”

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْa-tu'allimuuna llaaha bi-diinikumapakah kalian mengajari Allah tentang pertanggungjawaban kalian
  3. وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِwa-llaahu ya'lamu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhipadahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi
  4. وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌwa-llaahu bi-kulli syay'in 'aliimunAllah berilmu akan segala sesuatu

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. أَتُعَلِّمُونَa-tu'allimuunaapakah kalian mengajari
  3. اللَّهَllaahaAllah
  4. بِدِينِكُمْbi-diinikumtentang pertanggungjawaban kalian
  5. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  6. يَعْلَمُya'lamumengetahui
  7. مَاmaaapa yang
  8. فِيfiidi
  9. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  10. وَمَاwa-maadan apa yang
  11. فِيfiidi
  12. الْأَرْضِl-ardhibumi
  13. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  14. بِكُلِّbi-kullipada segala
  15. شَيْءٍsyay'insesuatu
  16. عَلِيمٌ'aliimunberilmu

Inti bacaan

Susunan (وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ, wa-llaahu bi-kulli syay'in 'aliimun) muncul enam kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:282, 4:176, 24:35, 24:64, 49:16, dan 64:11.

Penjelasan pilihan kata

Perintah (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah" membuka ayat ini, dan kata kerja sesudahnya adalah (أَتُعَلِّمُونَ, a-tu'allimuuna) yang berarti "apakah kalian mengajari". Huruf a- di depannya membuat kalimat menjadi pertanyaan, dan akhiran -uuna menunjuk beberapa orang yang diajak bicara. Akarnya ع-ل-م, sama dengan akar "mengetahui", tetapi bentuk kata kerjanya lain. Bentuk persis a-tu'allimuuna hanya muncul di 49:16. Kata kerja dari akar ع-ل-م dengan bentuk seperti ini muncul di 35 ayat, yaitu 49:16 dan 34 ayat lain: 2:31, 2:32, 2:102, 2:129, 2:151, 2:239, 2:251, 2:282, 3:48, 3:79, 3:164, 4:113, 5:4, 5:110, 6:91, 12:6, 12:21, 12:37, 12:68, 12:101, 16:103, 18:65, 18:66, 20:71, 21:80, 26:49, 27:16, 36:69, 53:5, 55:2, 55:4, 62:2, 96:4, dan 96:5. Di 34 ayat itu terjemahan memakai kata ajar, misalnya (وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ, wa-'allama aadama l-asmaa'a) yang berarti "dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama" di 2:31, dan (الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ, alladzii 'allama bi-l-qalami) yang berarti "yang mengajar dengan pena" di 96:4. Karena itu 49:16 memakai "mengajari" dan tidak memakai "memberi tahu". Untuk kata kerja pemberitahuan dari akar lain terjemahan memakai "beritahukan" dan "memberitakan", misalnya (أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ, anbi'uunii bi-asmaa'i) yang berarti "beritahukan kepada-Ku nama-nama" di 2:31, dan (يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا, yunabbi'uhum bi-maa 'amiluu) yang berarti "memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan" di 58:7.

Kata (بِدِينِكُمْ, bi-diinikum) tersusun dari bi-, kata dasar diin, dan akhiran -kum yang berarti "kalian". Diin diterjemahkan "pertanggungjawaban", sama seperti di 1:4 pada (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, maaliki yawmi d-diini) yang berarti "Pemilik Hari Pertanggungjawaban", di 51:12, dan di 82:15, dan seperti di 3:19 pada (إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ, inna d-diina 'inda llaahi l-islaamu) yang berarti "sesungguhnya pertanggungjawaban di sisi Allah adalah keberserahan". Bentuk diinikum muncul enam kali di lima surah, yaitu 2:217, 4:171, 5:3, 5:77, 9:12, dan 49:16, dan di semuanya terjemahan memakai "pertanggungjawaban kalian". Surah 5 memuatnya dua kali, di 5:3 dan 5:77, sehingga enam kemunculan itu jatuh di lima surah. Hanya di 49:16 bentuk ini didahului bi-, sedangkan lima ayat lainnya memakai fii, 'an, atau min. Bi- sesudah kata kerja pemberitahuan menunjuk isi yang diberitahukan, seperti pada bi-asmaa'i di 2:31 dan bi-maa 'amiluu di 58:7, dan terjemahan 49:16 mengikuti pola itu dengan "tentang pertanggungjawaban kalian". Bi- bisa juga menunjuk alat, seperti (بِالْقَلَمِ, bi-l-qalami) di 96:4 yang berarti "dengan pena". Bacaan alat tidak dipilih di 49:16 karena benda atau cara untuk mengajar tidak muncul di ayat ini, sedangkan isi yang diajarkan muncul.

Sesudah pertanyaan datang (وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, wa-llaahu ya'lamu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) yang berarti "padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi". Huruf wa- di awalnya menandai keadaan yang berlaku bersamaan dengan pertanyaan itu, dan karena itu diterjemahkan "padahal". Rangkaian ya'lamu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi muncul empat kali, yaitu di 3:29, 5:97, 49:16, dan 58:7. Kata maa diulang dua kali, sekali untuk langit dan sekali untuk bumi, dan terjemahan mengikutinya dengan "apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi". Di 58:7 rangkaian itu menjadi isi sebuah pertanyaan, (أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, a-lam tara anna llaaha ya'lamu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) yang berarti "apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi?", sedangkan di 49:16 rangkaian itu menyertai pertanyaan sebagai keadaan yang berlaku bersamaan dengannya.

Akar ع-ل-م muncul tiga kali dalam ayat ini, dan ketiganya memakai bentuk yang berbeda: a-tu'allimuuna "kalian mengajari", ya'lamu "Dia mengetahui", dan (وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ, wa-llaahu bi-kulli syay'in 'aliimun) yang berarti "Allah berilmu akan segala sesuatu". Kata terakhir adalah kata sifat, bukan kata kerja, sehingga terjemahan memakai "berilmu" untuk membedakannya dari ya'lamu "mengetahui" di kalimat sebelumnya. Kalimat wa-llaahu bi-kulli syay'in 'aliimun muncul enam kali di lima surah, yaitu di 2:282, 4:176, 24:35, 24:64, 49:16, dan 64:11. Surah 24 memuatnya dua kali, di 24:35 dan 24:64. Dari tiga kata berakar sama di ayat ini, hanya kata pertama yang pelakunya manusia, sedangkan dua yang lain milik Allah.

Tafsiran

Ayat ini mengubah sebuah klaim menjadi pertanyaan. Perintah qul muncul tiga kali di surah 49, yaitu di 49:14, 49:16, dan 49:17. Di 49:16 isinya satu pertanyaan, satu keadaan, dan satu pernyataan, tanpa larangan dan tanpa perintah kepada orang yang ditanya. Siapa yang dimaksud dengan "kalian" tidak dinyatakan di ayat ini. Ayat 49:17 dimulai dengan "mereka" lalu berpindah ke "kalian" dalam perintah qul, sehingga dua ayat itu dapat dibaca sebagai pembicaraan dengan orang yang sama, yaitu (الْأَعْرَابُ, l-a'raabu) di 49:14 yang berarti "kaum Badui" dan yang berkata "kami telah beriman". Pembacaan ini hanya kemungkinan, sebab 49:16 sendiri tidak memberi nama kepada lawan bicaranya.

Kalimat tentang ilmu Allah atas langit dan bumi dipakai ayat-ayat lain untuk keperluan yang berlainan. Di 3:29 kalimat itu menyusul (قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ, qul in tukhfuu maa fii shuduurikum) yang berarti "katakanlah, jika kalian menyembunyikan apa yang ada dalam hati kalian", dan ayat itu menyebut dua kemungkinan, menyembunyikan atau menampakkan. Di 5:97 kalimat itu menjadi tujuan dari ketetapan yang disebut sebelumnya, dan di 58:7 kalimat itu mengantar ke pembicaraan rahasia antara beberapa orang. Di 49:16 kalimat itu menjadi alasan di dalam pertanyaan tentang menyampaikan sesuatu kepada Allah, sehingga 49:16 dapat dibaca menyentuh kemungkinan kedua di 3:29, yaitu menampakkan.

Dua pernyataan penutup bergerak dari tempat ke cakupan. Pernyataan pertama menyebut langit dan bumi, sedangkan pernyataan kedua menyebut "segala sesuatu" tanpa menyebut tempat lagi. Pertanyaan pembuka, tentang pertanggungjawaban yang disampaikan, dapat dibaca termasuk dalam "segala sesuatu" itu.

Ayat 49:17 membahas hal lain, yaitu rasa berjasa, lalu 49:18 kembali memakai kata kerja ya'lamu. Pernyataan tentang ilmu Allah karena itu berada di dua sisi 49:17.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan di ayat ini membawa jawabannya sendiri: pihak yang ditanya sudah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, sehingga laporan tentang keadaan seorang manusia tidak menambah apa pun pada pengetahuan-Nya. Kalau begitu, siapa yang sebenarnya menerima ketika orang menyebut dirinya taat, sabar, atau ikhlas dengan suara yang cukup keras untuk didengar sesamanya? Mungkin ruangan itu penuh pendengar yang tampak, sedangkan Allah, yang dalam pertanyaan ini menjadi pihak yang diajari, tinggal sebagai alasan untuk berbicara. Pembaca dapat mengingat kalimat terakhir yang diucapkannya tentang kesalehannya sendiri, lalu memeriksa kepada siapa kalimat itu sebenarnya ditujukan, dan siapa di antara pendengarnya yang belum tahu.
  • Ayat ini memilih kata kerja mengajari dan tidak memilih memberi tahu, sehingga orang yang menyampaikan pertanggungjawabannya digambarkan sebagai pengajar. Gambaran seperti itu bisa tidak terasa dari dalam, sebab orang yang sedang menjelaskan dirinya dapat merasa sedang berlaku jujur dan tidak merasa sedang mengajar. Seorang pembaca dapat memperhatikan nada suaranya ketika membicarakan imannya di depan orang lain, apakah terdengar seperti orang yang menjawab pertanyaan atau seperti orang yang memberi pelajaran kepada pendengar yang dianggap belum paham. Ayat ini tidak menuduh siapa pun dan membiarkan kata kerjanya terlihat jelas, sehingga penilaian atas nada itu berada di tangan pembaca sendiri.
  • Kata yang diterjemahkan pertanggungjawaban juga muncul dalam Hari Pertanggungjawaban di 1:4, 51:12, dan 82:15, sehingga kata yang dibahas ayat ini di tempat lain bersanding dengan kata hari. Sesuatu yang bersanding dengan hari seperti itu dapat dibaca lebih mirip laporan yang masih menunggu pemeriksanya daripada hiasan yang dipajang. Laporan yang dibacakan lengkap sebelum diminta dapat terbaca seperti laporan dari orang yang yakin bahwa pemeriksanya tidak akan menemukan apa-apa. Pembaca dapat menanyai dirinya apakah lebih sering menyiapkan kalimat tentang keadaannya atau menyiapkan keadaan itu sendiri, dan siapa yang akan menilai keduanya.
  • Kalimat penutup, "Allah berilmu akan segala sesuatu", berlaku tanpa pengecualian apa pun, sehingga bagian diri yang sulit diterangkan kepada orang lain ikut tercakup, seperti niat yang bercampur atau perasaan yang belum punya nama. Bagi orang yang lelah menjelaskan dirinya, termasuk kepada dirinya sendiri, cakupan tanpa pengecualian ini dapat dibaca sebagai ruang untuk berhenti menjelaskan. Pembaca dapat membayangkan sesuatu tentang dirinya yang tidak pernah berhasil diterangkannya kepada siapa pun, lalu bertanya apa yang berubah bila hal itu sudah diketahui tanpa perlu diterangkan lagi.
  • Perintah qul memberi kata-kata kepada orang yang akan menegur, dan kata-kata itu berbentuk pertanyaan yang sudah memasang alasannya di dalam, yaitu padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Teguran seperti ini meninggalkan tempat bagi lawan bicara untuk menjawab, dan tidak menutup percakapan dengan vonis tentang orangnya. Orang yang pernah menegur orang lain tentang caranya beragama dapat membandingkan dengan tegurannya sendiri: apakah isinya pernyataan tentang orang itu, atau pertanyaan yang memuat alasan sekaligus menyisakan jalan untuk dijawab? Seberapa sering sebuah teguran terdengar lebih ringan ketika alasannya ikut disebut di dalamnya?
  • Kata kerja a-tu'allimuuna memakai bentuk untuk beberapa orang, sehingga yang ditanya adalah sebuah kelompok dan tidak seorang pribadi. Pernyataan tentang pertanggungjawaban dapat diucapkan atas nama kelompok, dengan kalimat seperti kami ini kelompok yang taat atau kami ini komunitas yang sabar. Kalimat semacam itu bisa terdengar seperti laporan yang disusun bersama-sama untuk pihak yang sudah mengetahui isinya. Pembaca yang menjadi bagian dari sebuah kelompok dapat menghitung berapa kali ikut mengucapkan kata kami tentang keadaan rohani, dan berapa banyak dari kalimat itu pernah diperiksanya sendiri sebelum ikut mengucapkannya.