يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keberserahan mereka. Katakanlah, “Janganlah merasa berjasa kepadaku dengan keberserahan kalian. Sebenarnya Allahlah yang melimpahkan nikmat kepada kalian dengan menunjukkan kalian kepada keimanan, jika kalian orang-orang benar.”
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُواyamunnuuna 'alayka an aslamuumereka merasa berjasa kepadamu dengan keberserahan mereka
- قُلْqulkatakanlah
- لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْlaa tamunnuu 'alayya islaamakumjanganlah merasa berjasa kepadaku dengan keberserahan kalian
- بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَbali llaahu yamunnu 'alaykum an hadaakum li-l-iimaani in kuntum shaadiqiinasebenarnya Allahlah yang melimpahkan nikmat kepada kalian dengan menunjukkan kalian kepada keimanan, jika kalian orang-orang benar
Terjemahan per kata (19 kata)
- يَمُنُّونَyamunnuunamereka mengungkit
- عَلَيْكَ'alaykaatasmu
- أَنْankarena
- أَسْلَمُواaslamuumereka berserah diri
- قُلْqulkatakanlah
- لَاlaajanganlah
- تَمُنُّواtamunnuukalian mengungkit
- عَلَيَّ'alayyaatasku
- إِسْلَامَكُمْislaamakumkeislaman kalian
- بَلِbalibahkan
- اللَّهُllaahuAllah
- يَمُنُّyamunnumemberi karunia
- عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
- أَنْankarena
- هَدَاكُمْhadaakummemberi petunjuk kepada kalian
- لِلْإِيمَانِli-l-iimaanikepada iman
- إِنْinjika
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- صَادِقِينَshaadiqiinaorang-orang yang benar
Inti bacaan
'janganlah merasa berjasa kepadaku dengan keberserahan kalian. Sebenarnya Allahlah yang melimpahkan nikmat kepada kalian', pembalikan arah rasa syukur, dari menuntut pengakuan atas jasa menjadi mengakui anugerah yang diterima.
Penjelasan pilihan kata
"Keberserahan" (أَسْلَمُوا, aslamuu / إِسْلَامَكُمْ, islaamakum), akar kata yang sama dengan "kami baru berserah diri" di 49:14. Orang-orang ini merasa berjasa karena telah berserah diri, padahal ayat ini menegaskan sebaliknya: "sebenarnya Allahlah yang melimpahkan nikmat kepada kalian" (بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ, bali llaahu yamunnu 'alaykum). Hidayah menuju keimanan itu sendiri adalah karunia dari Allah, bukan sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk merasa berjasa kepada Nabi.
Tafsiran
Ayat ini kembali ke istilah "berserah diri" dari 49:14, kali ini menyoroti sisi lain dari kesalahpahaman yang sama, yaitu anggapan bahwa berserah diri adalah jasa yang layak diakui pemiliknya. Struktur pembalikannya sama persis dengan ayat sebelumnya: yang seharusnya dianggap pemberi justru penerima, dan sebaliknya. Ayat ini menutup rangkaian koreksi terhadap klaim-klaim keagamaan yang keliru arah, dari mengaku beriman padahal baru berserah diri, sampai mengaku berjasa padahal justru menerima karunia.
Renungan dan Hikmah
- Rasul tidak menerima rasa berjasa itu lalu meneruskannya kepada Allah. Ia menolaknya lebih dulu: 'janganlah merasa berjasa kepadaku'. Ada perbedaan antara orang yang menampung penghormatan lalu berkata itu bukan miliknya, dan orang yang tidak menampungnya sama sekali.
- Kata yang dipakai di sini sama dengan yang dipakai tiga ayat sebelumnya, dan Allah meluruskannya untuk kedua kalinya dari arah yang berlawanan. Di sana: jangan menyebutnya iman, itu baru berserah diri. Di sini: jangan pula menyebutnya jasa. Satu perbuatan, dua salah label, dan keduanya sama-sama membesarkan pemiliknya.
- Kalimatnya ditutup 'jika kalian orang-orang benar', syarat yang sama yang dipakai dua ayat sebelumnya. Pengakuan diuji lagi dengan alat yang sama. Rangkaian ini rupanya tidak sedang membahas beberapa kekeliruan yang berbeda, melainkan satu kekeliruan yang muncul dalam beberapa bentuk, yaitu jarak antara apa yang dikatakan tentang diri sendiri dan apa yang ada.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain menerjemahkan s-l-m di sini via 'keislaman'. terjemahan ini menyeragamkan DALAM cabang keberserahan; sisi-keadaan (salaam/saliim) = 'keselamatan/damai', TIDAK diseragamkan lintas cabang. Rollout cabang keberserahan akar s-l-m. 'muslim' diterjemahkan 'orang yang berserah diri' meng-universalkan istilah (bdk QS 3:83: seluruh ciptaan 'aslama'), konsisten dgn sikap keberserahan=orientasi hati, bukan keanggotaan institusi (FDI_FRAMEWORK_DIIN). ' akar s-l-m (slm), cabang KEBERSERAHAN (aslama/islaam/muslim/mustaslim). Diverifikasi corpus Leeds (127 ayat slm; cabang keberserahan 66). Konvensi terjemahan ini: islaam diterjemahkan 'keberserahan(-diri)', aslama diterjemahkan 'berserah diri', muslim diterjemahkan 'orang yang berserah diri'.