إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Allah melihat apa yang kalian kerjakan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِinna llaaha ya'lamu ghayba s-samaawaati wa-l-ardhisesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi
  2. وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَwa-llaahu bashiirun bi-maa ta'maluunaAllah melihat apa yang kalian kerjakan

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. اللَّهَllaahaAllah
  3. يَعْلَمُya'lamumengetahui
  4. غَيْبَghaybayang gaib
  5. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  6. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  7. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  8. بَصِيرٌbashiirunmelihat
  9. بِمَاbi-maapada apa yang
  10. تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan

Inti bacaan

Rangkaian (غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, ghayba s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:33 dan 49:18.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dimulai dengan (إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ, inna llaaha ya'lamu ghayba) yang berarti "sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib", dan kata (غَيْبَ, ghayba) berakar غ-ي-ب. Bentuk ya'lamu ghayba hanya muncul di 49:18, sedangkan di 2:33 kata kerjanya a'lamu, dalam (أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, a'lamu ghayba s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "Aku mengetahui yang gaib di langit dan di bumi", dan kalimat itu diucapkan Allah sendiri.

Rangkaian ghayb as-samaawaati wa-l-ardhi, dengan akhiran yang berbeda-beda, muncul enam kali, yaitu di 2:33, 11:123, 16:77, 18:26, 35:38, dan 49:18, dalam tiga susunan. Di 2:33 dan 49:18 Allah menjadi pelaku kata kerja mengetahui. Di 35:38 bunyinya (إِنَّ اللَّهَ عَالِمُ غَيْبِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, inna llaaha 'aalimu ghaybi s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "sesungguhnya Allah Yang Mengetahui yang gaib di langit dan di bumi". Di 11:123, 16:77, dan 18:26 yang gaib itu disebut milik Allah, seperti pada (وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi ghaybu s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "dan milik Allah yang gaib di langit dan bumi" di 11:123.

Kata ghayba, dengan kata sandang atau tanpa kata sandang, muncul delapan kali di delapan surah, yaitu di 2:33, 6:50, 7:188, 11:31, 19:78, 27:65, 34:14, dan 49:18. Di enam ayat di antaranya, yaitu 6:50, 7:188, 11:31, 19:78, 27:65, dan 34:14, yang gaib disebut dalam kalimat yang menyangkal atau mempertanyakan pengetahuan makhluk. Contohnya (وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ, wa-laa a'lamu l-ghayba) yang berarti "dan aku tidak mengetahui yang gaib" di 6:50, dan (لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ, laa ya'lamu man fii s-samaawaati wa-l-ardhi l-ghayba) yang berarti "tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui yang gaib" di 27:65. Ayat 27:65 menyisakan pengetahuan itu bagi Allah lewat pengecualian "selain Allah". Allah menjadi pelaku langsung kata kerja mengetahui bagi yang gaib hanya di 2:33 dan 49:18.

Akar غ-ي-ب di surah 49 dimiliki dua kata, yaitu ghayba di 49:18 dan (يَغْتَبْ, yaghtab) di 49:12. Kata kedua berarti "menggunjing", dalam (وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ, wa-laa tajassasuu wa-laa yaghtab) yang berarti "dan janganlah mencari-cari kesalahan, dan janganlah menggunjing". Bentuk yaghtab hanya muncul di 49:12.

Kata (بَصِيرٌ, bashiirun) berakar ب-ص-ر dan diterjemahkan "melihat". Rangkaian (وَاللَّهُ بَصِيرٌ, wa-llaahu bashiirun) muncul 6 kali, yaitu di 2:96, 3:15, 3:20, 3:163, 5:71, dan 49:18. Di 3:15 dan 3:20 Allah melihat hamba-hamba, dalam (بِالْعِبَادِ, bi-l-'ibaadi), dan di 2:96, 3:163, serta 5:71 Allah melihat (بِمَا يَعْمَلُونَ, bi-maa ya'maluuna) yang berarti "apa yang mereka kerjakan". Kata (تَعْمَلُونَ, ta'maluuna) yang berarti "kalian kerjakan" disusulkan sesudah bashiirun hanya di 49:18. Dua belas ayat memakai susunan terbalik, (بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ, bi-maa ta'maluuna bashiirun), yaitu 2:110, 2:233, 2:237, 2:265, 3:156, 8:72, 11:112, 34:11, 41:40, 57:4, 60:3, dan 64:2. Di 49:18 kata bashiirun datang lebih dulu, sehingga kata terakhir ayat dan surah ini adalah ta'maluuna.

Akar ع-م-ل muncul tiga kali di surah 49: (أَعْمَالُكُمْ, a'maalukum) yang berarti "amal-amal kalian" di 49:2, (أَعْمَالِكُمْ, a'maalikum) di 49:14, dan ta'maluuna di 49:18. Dua yang pertama berupa kata benda dan yang ketiga berupa kata kerja, sehingga terjemahan memakai "mengerjakan" untuk kata kerja itu.

Tafsiran

Ayat ini menutup surah 49 dengan dua pernyataan tentang Allah dan tanpa satu pun perintah atau larangan. Surah ini punya 18 ayat, dan dua ayat sebelumnya masing-masing memuat perintah qul. Di ayat terakhir tidak ada lagi orang yang diperintah berbicara dan tidak ada orang yang dilarang berbuat.

Ayat pertama surah ini berakhir pada (إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ, inna llaaha samii'un 'aliimun) yang berarti "sesungguhnya Allah mendengar lagi berilmu", dan ayat terakhir dibuka dengan inna llaaha lagi, kali ini disusul kata kerja mengetahui dan sifat melihat. Akar س-م-ع hanya muncul di 49:1 dan akar ب-ص-ر hanya di 49:18 dalam surah ini, sehingga mendengar ada di awal dan melihat ada di akhir. Ayat 49:2 dan 49:3 membicarakan suara yang ditinggikan dan direndahkan, sedangkan ayat penutup membicarakan perbuatan. Dapat dibaca bahwa pembukaan dan penutup surah ini diikat oleh dua sifat itu: mendengar di awal, melihat di akhir.

Di 49:12 larangan mencari-cari kesalahan dan menggunjing ditujukan kepada manusia, dan kata menggunjing berakar sama dengan yang gaib. Dapat dibaca bahwa 49:18 menunjuk siapa yang memang mengetahui hal-hal tersembunyi, sementara manusia diminta menahan diri dari mencarinya. Hubungan itu tidak dinyatakan langsung oleh ayat.

Ayat 49:16 menyebut apa yang ada di langit dan di bumi, sedangkan 49:18 menyebut apa yang gaib di langit dan di bumi, sehingga kedua ayat menyebut dua lapisan di wilayah yang sama. Di antara keduanya, 49:17 menyebut Allah sebagai pemberi karunia. Pemberi karunia itu dengan begitu adalah pihak yang sama dengan yang pengetahuannya disebut sebelum dan sesudahnya.

Ayat 49:14 menjanjikan bahwa amal orang yang taat tidak dikurangi sedikit pun, dan 49:18 menutup rangkaian ayat itu dengan penglihatan atas apa yang dikerjakan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini dimulai dengan sesuatu yang paling jauh dari jangkauan manusia, yaitu yang gaib di langit dan di bumi, lalu kalimat berikutnya beralih ke sesuatu yang paling dekat, yaitu apa yang dikerjakan tangan pembaca sendiri. Keduanya berada dalam satu ayat dan di hadapan satu pengamat, yaitu Allah. Orang yang merasa pekerjaannya terlalu kecil untuk diperhatikan siapa pun dapat memeriksa ukuran yang dipakainya: apakah ukuran itu datang dari ayat ini, yang menyebut pekerjaan manusia dan yang gaib di langit dalam satu ayat, atau dari penilaian orang-orang di sekitarnya?
  • Surah ini dibuka dengan Allah yang mendengar dan ditutup dengan Allah yang melihat. Di bagian awal pembicaraannya tentang suara yang ditinggikan dan direndahkan, dan di bagian akhir tentang apa yang dikerjakan. Pembaca dapat menimbang berapa banyak dari hidupnya yang dibangun di atas apa yang terdengar oleh orang lain, seperti kata-kata, kesan, dan nada bicara, dan berapa banyak di atas apa yang benar-benar dikerjakannya. Ayat penutup berhenti pada yang kedua, dan bagian yang pertama tidak disebut lagi.
  • Di 49:12 manusia dilarang mencari-cari kesalahan sesamanya dan menggunjing, lalu di 49:18 ayat menyebut siapa yang memang mengetahui yang gaib. Orang yang gemar menyelidiki keadaan tersembunyi orang lain dapat bertanya apa sebenarnya yang sedang dicarinya, sebab yang tersembunyi itu sudah diketahui oleh Allah dan manusia tidak diminta menggantikan pengetahuan itu. Rasa ingin tahu tentang kekurangan orang lain mungkin tetap muncul, dan ayat ini menyebut pengetahuan itu berada di tangan pihak lain.
  • Ayat penutup ini memuat dua pernyataan tentang Allah dan tidak memuat kata hukuman, ganjaran, atau perintah. Karena itu apa yang didengar pembaca dalam kalimat Allah melihat apa yang kalian kerjakan, entah rasa takut, rasa ditemani, atau rasa lega, datang dari pembaca dan tidak disediakan oleh ayat. Pembaca dapat mencatat reaksi pertamanya saat membaca kalimat itu, lalu bertanya dari mana reaksi itu berasal dan siapa yang menaruhnya di sana.
  • Di 49:2 amal dapat terhapus sementara pelakunya tidak menyadari, di 49:14 amal orang yang taat tidak akan dikurangi sedikit pun, dan di 49:18 apa yang dikerjakan dilihat oleh Allah. Tiga ayat itu menyebut tiga keadaan sebuah amal: bisa lenyap tanpa disadari, bisa utuh, dan terlihat. Pelaku di 49:2 bahkan tidak menyadari nasib amalnya sendiri. Pembaca yang cemas tentang amal-amalnya dapat bertanya apa yang terjadi pada kecemasan itu ketika ayat terakhir menyebut siapa yang melihat amal itu.
  • Di 49:14 sampai 49:17 ada banyak nama golongan: kaum Badui yang berkata kami telah beriman, orang-orang beriman, dan orang-orang yang benar. Ayat penutup tidak memakai satu pun nama golongan dan berbicara kepada kalian tentang apa yang dikerjakan. Pembaca dapat mencoba menuliskan dirinya dalam satu kalimat tanpa nama golongan, kelompok, atau gelar, dengan kata kerja saja, lalu melihat seberapa panjang kalimat yang tersisa dan siapa yang bisa membenarkannya.