بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ

Qaaf. Demi Al-Qur'an yang luhur.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قqaafQaf
  2. وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِwa-l-qur'aani l-majiididemi Al-Qur'an yang luhur

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. قqaafQaaf
  2. وَالْقُرْآنِwa-l-qur'aanidemi Al-Qur'an
  3. الْمَجِيدِl-majiidiyang mulia

Inti bacaan

Kata majiid menyifati Allah atau pemilik Arasy di 11:73 dan 85:15, dan menyifati Al-Qur'an di 50:1 dan 85:21.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan huruf (ق, qaaf) yang terjemahan tulis sebagai namanya, "Qaaf", karena huruf ini berdiri sendiri dan tidak membentuk kata Arab yang punya padanan Indonesia. Susunan yang sama ada di 38:1, (ص, shaad), dan di 68:1, (ن, nuun). Di ketiga ayat itu satu huruf langsung disusul kata yang diawali (وَ, wa) yang berarti "demi", sehingga huruf dan sumpah berada dalam satu ayat. Ayat 36:1 dan 43:1 juga dibuka dengan huruf, tetapi keduanya berupa dua huruf dan sumpahnya baru datang di ayat berikutnya, yaitu 36:2 dan 43:2. Ayat 50:1 tidak menerangkan apa yang dimaksud huruf pertamanya, dan terjemahan tidak menambahkan keterangan itu.

Kata (وَالْقُرْآنِ, wa-l-qur'aani) yang berarti "demi Al-Qur'an" berakar ق-ر-أ dan memakai kata sandang al-. Bentuk persis ini muncul empat kali di empat surah, yaitu 9:111, 36:2, 38:1, dan 50:1. Di 9:111 huruf wa menyambung sebuah daftar, (فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ, fii t-tawraati wa-l-injiili wa-l-qur'aani) yang berarti "dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an", sehingga artinya "dan". Di tiga ayat lainnya wa membuka ayat dan artinya "demi". Ketiga sumpah itu menyebut Al-Qur'an dengan sifat yang berlainan, yaitu (الْحَكِيمِ, l-hakiimi) yang berarti "yang penuh hikmah" di 36:2, (ذِي الذِّكْرِ, dzii dz-dzikri) yang berarti "yang mengandung peringatan" di 38:1, dan (الْمَجِيدِ, l-majiidi) yang berarti "yang luhur" di 50:1. Tiap sumpah memakai satu sifat sendiri, dan tidak ada dua ayat yang memakai sifat yang sama.

Sifat terakhir itu, (الْمَجِيدِ, l-majiidi), berakar م-ج-د dan berbentuk kata sifat majiid. Akar ini hanya membentuk satu kata, majiid, dan kata itu muncul empat kali di tiga surah, yaitu 11:73, 50:1, 85:15, dan 85:21. Dua kali kata ini menyifati Allah atau pemilik Arasy, yaitu (حَمِيدٌ مَجِيدٌ, hamiidun majiidun) di 11:73 dan (ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ, dzuu l-'arsyi l-majiidu) di 85:15. Dua kali lainnya kata ini menyifati Al-Qur'an, yaitu di 50:1 dan pada (قُرْآنٌ مَجِيدٌ, qur'aanun majiidun) di 85:21. Terjemahan memakai "luhur" untuk majiid di 11:73, 50:1, dan 85:21.

Dua padanan lain yang dekat sudah terpakai untuk kata Arab yang berbeda: kata "mulia" menerjemahkan (كَرِيمٌ, kariimun) pada (لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ, la-qur'aanun kariimun) di 56:77, dan kata "agung" menerjemahkan (الْعَظِيمَ, l-'azhiima) pada (وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ, wa-l-qur'aana l-'azhiima) di 15:87. Karena itu 50:1 memakai "luhur", supaya pembaca terjemahan masih dapat membedakan tiga sifat bagi Al-Qur'an itu, yaitu kariim, azhiim, dan majiid.

Susunan sifat ini berbeda antara 50:1 dan 85:21. Di 50:1 kedua kata memakai kata sandang, (الْقُرْآنِ الْمَجِيدِ, l-qur'aani l-majiidi), dan seluruhnya menjadi sebutan bagi sasaran sumpah. Di 85:21 kedua kata tanpa kata sandang dan didahului (هُوَ, huwa) yang berarti "itu", yaitu (هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ, huwa qur'aanun majiidun), sehingga susunannya berupa kalimat pernyataan "itu Al-Qur'an yang luhur". Ayat 50:1 tidak berbentuk kalimat pernyataan seperti itu, dan terjemahannya tidak menambahkan "itu" ataupun kata kerja apa pun, serta mengakhiri ayat dengan titik karena ayat ini berhenti pada sifat itu.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan dua unsur, yaitu sebuah huruf dan sebuah sumpah, dan surah baru bergerak ke persoalannya di ayat kedua. Seluruh bobot ayat jatuh pada Al-Qur'an sebagai sasaran sumpah dan pada sifatnya, "luhur". Pembaca yang membaca ayat ini sedang membaca kitab yang disumpahi itu sendiri, dan sifat luhurnya dinyatakan sebelum ada satu pun klaim yang perlu disaksikan.

Letak ayat ini dalam surah terlihat dari 50:45. Ayat terakhir surah, (فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ, fa-dzakkir bi-l-qur'aani man yakhaafu wa'iidi) yang berarti "maka berilah peringatan dengan Al-Qur'an kepada siapa pun yang takut pada ancaman-Ku", menyebut Al-Qur'an lagi. Bentuk (بِالْقُرْآنِ, bi-l-qur'aani) dengan awalan bi- muncul dua kali di seluruh mushaf, yaitu 20:114 dan 50:45. Kata Al-Qur'an sendiri di surah ini hanya muncul di dua tempat, yaitu 50:1 dan 50:45, sedangkan ayat-ayat di antaranya membicarakan penolakan di 50:2 dan 50:5, penciptaan langit dan bumi di 50:6 sampai 50:7, serta kebangkitan di 50:3, 50:42, dan 50:44. Dengan susunan itu surah ini dibingkai oleh penyebutan Al-Qur'an di awal dan di akhirnya.

Arah sumpah ini baru terlihat dari ayat sesudahnya. Ayat 50:2 menyebut keheranan orang-orang yang menolak, dan 50:3 memuat ucapan mereka tentang kebangkitan, sehingga sumpah demi kitab yang luhur berhadapan langsung dengan reaksi manusia atas kitab itu. Sumpah di ayat lain berjalan berbeda. Sumpah demi Al-Qur'an di 36:2 disusul isi yang dituju pada 36:3, yaitu (إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ, innaka la-mina l-mursaliina) yang berarti "sesungguhnya engkau benar-benar salah seorang dari para rasul", dan sumpah demi pena di 68:1 disusul isi pada 68:2, yaitu (مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ, maa anta bi-ni'mati rabbika bi-majnuunin) yang berarti "engkau, dengan nikmat Tuhanmu, bukanlah orang gila". Di 38:1 dan 50:1 sumpah demi Al-Qur'an disusul kata (بَلْ, bal), yang di 38:2 berbentuk (بَلِ, bali) karena kata sesudahnya diawali kata sandang. Dua ayat itu langsung menuju keadaan orang-orang yang menolak, dan isi yang dibenarkan sumpahnya tidak dituliskan sebagai kalimat tersendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 50:1 menaruh huruf (ق, qaaf) di awal surah tanpa keterangan sekecil apa pun, padahal ayat berikutnya sudah dapat dibaca tanpa mengetahui apa yang dimaksud huruf itu. Pembaca yang tiba di sana dapat tergoda mengisi kekosongan itu dengan dugaan yang disukainya, lalu membawa dugaan itu ke ayat-ayat sesudahnya seakan-akan dugaan itu bagian dari bacaan. Huruf itu dibiarkan seperti tertulis, dan keadaan itu memperlihatkan seberapa sering sebuah celah ditutup oleh pembacanya sendiri. Apa yang berubah pada pemahaman pembaca bila satu huruf dibiarkan tanpa penjelasan dan bacaan tetap berlanjut?
  • Sumpah di 50:1 jatuh pada Al-Qur'an, yaitu bacaan yang bagi pembaca sekarang sedang berlangsung di hadapannya. Sasaran sumpah ini tidak berada di tempat yang jauh atau di masa yang lain, sebab sasaran itu ikut hadir dalam kejadian membaca itu sendiri. Pembaca mendengar sumpah demi sesuatu yang sedang dibacanya, sehingga pembaca ikut berada di dalam peristiwa itu. Perintah bertasbih dengan memuji Tuhanmu tertulis di 50:39, tiga puluh delapan ayat sesudah sumpah ini. Bagaimana rasanya membaca halaman yang pada saat yang sama sedang disebut sebagai sasaran sumpah?
  • Sifat "luhur" di 50:1 tertulis lebih dulu, dan reaksi manusia atas kitab itu baru diceritakan di 50:2. Urutan ini menaruh kedudukan kitab sebelum penerimaan atau penolakan siapa pun, sehingga penerimaan atau penolakan itu tidak mengubah kedudukan yang sudah dinyatakan. Pembaca yang membawa penilaian sendiri ke dalam bacaan dapat memperhatikan di titik mana penilaiannya terbentuk, apakah sebelum atau sesudah sifat yang dinyatakan ayat ini terdengar. Apakah penilaiannya tentang sebuah bacaan berubah ketika diketahui bahwa kedudukan bacaan itu sudah disebut sebelum ada yang ikut menilai?
  • Sumpah di 50:1 sudah terucap, sedangkan isi yang hendak dibenarkannya belum ada dalam ayat itu. Ayat sesudahnya berisi keheranan orang-orang yang menolak, sehingga pendengar menerima sumpah lebih dulu daripada pokok perkaranya. Posisi ini mirip dengan orang yang mendengar kalimat yang belum selesai dan harus menahan diri dari menebak bagian yang belum datang. Pembaca bisa menyadari dorongannya sendiri untuk segera menyelesaikan kalimat itu menurut selera, padahal ayat ini berhenti pada sifat kitab. Kalimat yang diawali "Dia berfirman" baru tertulis di 50:28, sesudah dua puluh tujuh ayat yang dibaca tanpa kalimat semacam itu. Berapa lama pembaca sanggup membiarkan sebuah pernyataan menggantung sebelum memasukkan maksudnya sendiri?
  • Rangka huruf tunggal lalu sumpah muncul di 38:1, 50:1, dan 68:1 dengan sasaran sumpah yang berlainan. Pembaca yang menyadari kemiripan itu memegang dua kenyataan sekaligus, yaitu tiga surah memakai cetakan yang sama dan tiap surah mengisinya dengan sasaran sendiri. Kemiripan semacam ini terlihat ketika halaman-halaman itu dibuka berdampingan. Pembaca yang selama ini membaca surah satu per satu dapat bertanya, apa saja yang tidak pernah terlihat karena dua halaman tidak pernah ditaruh berdampingan?
  • Surah ini dibuka dengan Al-Qur'an di 50:1 dan ditutup dengan Al-Qur'an di 50:45, dan perjalanan di antaranya melewati hal-hal lain. Pembaca yang sampai di ayat terakhir bertemu lagi dengan kata yang dijumpainya di ayat pertama, sehingga bacaan itu berbentuk lingkaran. Pembaca yang mengikuti sebuah surah dari awal ke akhir mungkin membawa kesan telah menempuh jarak yang jauh, padahal kata penutupnya sama dengan pembukanya. Di antara kedua titik itu, 50:29 menulis "Perkataan di sisi-Ku tidak diubah", sehingga lingkaran bacaan itu memuat juga kalimat yang diucapkan Dia. Apa yang masih diingat dari ayat pertama ketika ayat terakhir tiba, dan apakah kata yang sama itu terasa sama?