بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ

Bahkan mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka, lalu orang-orang kafir berkata, “Ini sesuatu yang mengherankan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْbal 'ajibuu an jaa'ahum mundzirun minhumbahkan mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka
  2. فَقَالَ الْكَافِرُونَfa-qaala l-kaafiruunalalu, orang-orang kafir berkata
  3. هَٰذَا شَيْءٌ عَجِيبٌhaadzaa syay'un 'ajiibunini sesuatu yang mengherankan

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. بَلْbalbahkan
  2. عَجِبُوا'ajibuumereka heran
  3. أَنْankarena
  4. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  5. مُنْذِرٌmundzirunpemberi peringatan
  6. مِنْهُمْminhumdari mereka
  7. فَقَالَfa-qaalalalu berkata
  8. الْكَافِرُونَl-kaafiruunaorang-orang kafir
  9. هَٰذَاhaadzaaini
  10. شَيْءٌsyay'unsesuatu
  11. عَجِيبٌ'ajiibunyang mengherankan

Inti bacaan

Rangkaian 'ajibuu an jaa'ahum mundzirun minhum muncul dua kali di Al-Qur'an (38:4, 50:2), dan hanya 50:2 yang melanjutkannya dengan fa-qaala l-kaafiruuna.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan". Dalam surah ini bal berdiri sebagai kata tersendiri tiga kali, yaitu di 50:2, 50:5, dan 50:15, dan di ketiganya kata itu menggeser pembicaraan dari sesuatu yang baru disebut kepada keadaan orang-orang yang menolak. Di 50:15, (بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ, bal hum fii labsin min khalqin jadiidin) yang berarti "bahkan mereka dalam keraguan tentang penciptaan yang baru", kata itu bekerja dengan cara yang sama seperti di sini.

Kata (عَجِبُوا, 'ajibuu) yang berarti "mereka heran" berakar ع-ج-ب dan merupakan kata kerja lampau untuk beberapa orang. Bentuk dasar kata kerja dari akar ini, yang berarti "heran", muncul di delapan ayat, yaitu 7:63, 7:69, 11:73, 13:5, 37:12, 38:4, 50:2, dan 53:59. Bentuk lampau untuk "mereka" ini, 'ajibuu, hanya ada di 38:4 dan 50:2, sedangkan enam ayat lainnya memakai bentuk untuk "kalian", "engkau", atau bentuk sekarang. Empat dari delapan ayat itu memakai kata (أَنْ, an) sesudah kata kerja heran untuk menyebut hal yang membuat heran, yaitu 7:63, 7:69, 38:4, dan 50:2. Di 7:63, (أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ, a-wa-'ajibtum an jaa'akum dzikrun min rabbikum) berarti "apakah kalian heran bahwa telah datang kepada kalian peringatan dari Tuhan kalian", dan 7:69 memuat rangkaian Arab yang sama.

Rangkaian (عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ, 'ajibuu an jaa'ahum mundzirun minhum) yang berarti "mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka" hanya muncul dua kali, yaitu di 38:4 dan 50:2. Kata (جَاءَهُمْ, jaa'ahum) tersusun dari jaa'a yang berarti "datang" dan akhiran -hum yang berarti "mereka". Kata (مُنْذِرٌ, mundzirun) berakar ن-ذ-ر dan berbentuk pelaku, sehingga artinya "pemberi peringatan"; akhiran -un menandai bahwa orangnya tak tentu, sehingga terjemahan memakai "seorang". Bentuk persis mundzirun muncul empat kali di tiga surah, yaitu 13:7, 38:4, 38:65, dan 50:2. Di 13:7 dan 38:65 kata itu berada dalam kalimat dengan (إِنَّمَا, innamaa), yaitu (إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ, innamaa anta mundzirun) di 13:7 dan (إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ, innamaa anaa mundzirun) di 38:65, sedangkan di 38:4 dan 50:2 kata itu menyebut orang yang kedatangannya membuat heran. Kata (مِنْهُمْ, minhum) tersusun dari min yang berarti "dari" dan -hum yang berarti "mereka", dan -hum itu menunjuk kelompok yang sama dengan -hum pada jaa'ahum. Terjemahan menulisnya "dari kalangan mereka", sama dengan 38:4.

Kalimat (فَقَالَ الْكَافِرُونَ, fa-qaala l-kaafiruuna) berarti "lalu orang-orang kafir berkata". Kata kafiruun berakar ك-ف-ر dan qaala berakar ق-و-ل. Di 38:4 kalimat yang menyusul keheranan ditulis (وَقَالَ الْكَافِرُونَ, wa-qaala l-kaafiruuna), dengan wa yang berarti "dan". Di 50:2 dipakai (فَ, fa) yang berarti "lalu", dan susunan fa-qaala l-kaafiruuna hanya ada di 50:2. Dengan fa, ucapan itu dibaca sebagai sesuatu yang menyusul langsung dari keheranan, dan terjemahan memakai "lalu". Ucapan di 38:4 berbunyi (هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ, haadzaa saahirun kadzdzaabun) yang berarti "ini adalah penyihir yang banyak berdusta". Ucapan di 50:2 berbunyi lain.

Ucapan itu adalah (هَٰذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ, haadzaa syay'un 'ajiibun) yang berarti "ini sesuatu yang mengherankan". Kata (عَجِيبٌ, 'ajiibun) berakar sama dengan 'ajibuu, jadi akar ع-ج-ب muncul dua kali dalam satu ayat, sekali dalam kalimat penutur dan sekali dalam ucapan orang-orang kafir. Bentuk 'ajiibun muncul dua kali, yaitu di 50:2 dan di 11:72, (إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ, inna haadzaa la-syay'un 'ajiibun) yang diterjemahkan "sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang ajaib". Kata sejenis dengan bentuk lain ada di 38:5, (إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ, inna haadzaa la-syay'un 'ujaabun) yang diterjemahkan "sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang mengherankan". Terjemahan 50:2 memakai "mengherankan" supaya pembaca melihat bahwa kata "heran" di bagian pertama ayat dan "mengherankan" di bagian kedua berasal dari akar yang sama. Kata ganti (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini" tidak menyebut sasarannya di dalam ayat ini sendiri, dan terjemahan tidak mengisinya.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan surah dari sumpah di 50:1 ke manusia yang menanggapi kitab itu. Sesudah sumpah, surah mencatat keheranan yang muncul karena seorang pemberi peringatan datang dari lingkungan yang sama dengan orang-orang yang diperingatkan. Keberatan yang tertulis di ayat ini bertumpu pada asal pembawa peringatan, yaitu (مِنْهُمْ, minhum) yang berarti "dari kalangan mereka", dan belum pada isi peringatannya.

Kata heran dicatat dua kali dengan dua cara. Penutur ayat mencatatnya dari luar dengan (عَجِبُوا, 'ajibuu) yang berarti "mereka heran", lalu orang-orang kafir mengucapkannya sendiri dengan (عَجِيبٌ, 'ajiibun) yang berarti "mengherankan". Perasaan yang pertama dialami, dan yang kedua sudah menjadi penilaian atas sebuah hal. Pergeseran dari satu ke yang lain terjadi di dalam satu ayat dan satu tarikan kalimat.

Ucapan itu belum selesai di ayat ini. Kutipan terbuka di 50:2 dan baru tertutup di 50:3, sehingga pembaca harus membaca dua ayat untuk mengetahui apa yang mereka anggap mengherankan. Kata "ini" di 50:2 belum menunjuk sasarannya di dalam ayat itu sendiri. Ayat berikutnya memuat (أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا, a-idzaa mitnaa wa-kunnaa turaaban) yang berarti "apakah apabila kami telah mati dan menjadi tanah", dan ucapan itu dapat dibaca sebagai isi keberatan itu, meskipun ayat tidak menyatakannya secara tertulis. Dengan susunan itu 50:2 menaruh reaksi lebih dulu, dan 50:3 menyusul.

Perbandingan dengan 38:4 sampai 38:5 memperlihatkan bahwa reaksi yang sama bisa membawa keberatan yang berbeda. Di 38:4 orang-orang kafir menyebut pemberi peringatan itu penyihir yang banyak berdusta, dan di 38:5 mereka bertanya apakah tuhan-tuhan dijadikan satu Tuhan. Di 50:2 sampai 50:3 ucapan mereka menyangkut keadaan sesudah mati. Bagian pertama kedua ayat itu hampir sama, tetapi bagian keduanya menuju persoalan yang berlainan, sehingga keheranan yang sama membuka keberatan yang berbeda.

Renungan dan Hikmah

  • Di 50:2 kata heran muncul dua kali, sekali sebagai perasaan yang dicatat penutur ayat, "mereka heran", dan sekali sebagai penilaian yang diucapkan orang-orang kafir, "ini sesuatu yang mengherankan". Perpindahan itu terjadi dalam satu ayat tanpa jeda yang terlihat, dan di dalamnya rasa heran berubah dari keadaan diri menjadi sifat suatu benda. Pembaca dapat memeriksa kapan dirinya berpindah dengan cara yang sama, dari merasa heran menjadi menyatakan bahwa sesuatu memang aneh. Pada titik mana sebuah rasa heran berhenti menjadi pertanyaan dan mulai menjadi vonis?
  • Keheranan di 50:2 diarahkan pada kenyataan bahwa pemberi peringatan itu datang (مِنْهُمْ, minhum), dari kalangan mereka sendiri, dan ayat ini belum menyebut isi peringatannya. Ayat sesudahnya memuat ucapan tentang kebangkitan, sehingga keberatan atas pembawa dan keberatan atas isi tertulis berurutan dalam dua ayat, dan keduanya tidak dinyatakan saling menyebabkan. Pembaca dapat memperhatikan bahwa asal seorang pembawa pesan sudah menjadi bahan keberatan sebelum pesannya selesai didengar. Keberatan atas pembawa tertulis di 50:2, dan nama Allah tertulis di 50:26, dalam kalimat tentang orang yang menjadikan tuhan lain bersama Allah. Dari siapa sebuah peringatan terasa lebih mudah diterima, dan apa yang membuat dua pembawa terasa berbeda padahal pesannya sama?
  • Ucapan di 50:2 dibuka dengan "ini" dan baru di 50:3 diketahui apa yang dimaksud. Orang yang mendengar ucapan itu lebih dulu menangkap nada herannya, sedangkan alasannya datang sesudah. Dalam urutan ini reaksi sudah lengkap dengan nadanya, sementara bahan yang diributkan belum diperlihatkan. Pembaca dapat menaruh perhatian pada kemungkinan dirinya menilai lebih dulu sebelum sasaran penilaian itu jelas. Bila sebuah kalimat dibuka dengan "ini aneh" tanpa menyebut apa yang dimaksud, apa sebenarnya yang sedang dinilai?
  • Dua ayat, 38:4 dan 50:2, memuat bagian pertama yang sama kata demi kata, yaitu heran karena datang pemberi peringatan dari kalangan mereka. Kelanjutannya berbeda, penyihir pendusta di 38:4 dan sesuatu yang mengherankan di 50:2 yang isinya baru diketahui di 50:3. Dua keberatan yang berlainan bisa berawal dari perasaan yang tampak sama. Pembaca yang pernah mendengar kata "aneh" dari orang lain dapat mengingat bahwa kata itu belum tentu menunjuk persoalan yang sama pada setiap penuturnya. Kedua keberatan itu diucapkan tentang pembawa pesan, sedangkan 50:27 mengutip seruan kepada Tuhan, yaitu "Tuhan kami", sehingga satu bacaan memuat ucapan tentang manusia dan ucapan kepada Tuhan. Apa yang berada di balik kata aneh yang diucapkan orang kepadanya, keberatan pada pembawanya atau pada isinya?
  • Ayat 50:2 mengutip ucapan orang-orang kafir apa adanya, termasuk kata yang mereka pilih, "mengherankan". Kata itu menjadi tertulis dan dapat dibaca ulang oleh siapa pun, jauh sesudah penuturnya selesai berbicara. Pembaca dapat membayangkan ucapannya sendiri tentang sesuatu yang belum dimengerti tertulis seperti itu, lengkap dengan kata yang dipilih dalam keadaan heran. Ayat 50:28 juga memuat kutipan, tetapi yang dikutip di sana adalah ucapan Dia kepada mereka yang bertengkar di hadapan-Ku. Apakah kata-kata yang terucap ketika terkejut akan terbaca sama seperti yang dimaksudkan, bila dibaca orang lain tanpa nada suaranya?
  • Kata (بَلْ, bal) di 50:2 membelokkan surah dari sumpah menuju manusia, dan kata itu kembali di 50:5 dan 50:15. Tiga kali kata yang sama membawa pembicaraan dari sesuatu yang baru disebut kepada keadaan orang-orang yang menolak. Pembaca yang mengikuti ketiga belokan itu melihat satu pola berulang pada satu surah. Pembaca dapat memeriksa dalam bacaannya sendiri, pada kalimat mana perhatiannya berpindah dari pokok pembicaraan kepada tanggapan orang lain, dan apa yang tertinggal di belakang belokan itu?