بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ
Bahkan mereka mendustakan kebenaran ketika ia datang kepada mereka, maka mereka dalam keadaan kacau balau.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْbal kadzdzabuu bi-l-haqqi lammaa jaa'ahumbahkan mereka mendustakan kebenaran ketika ia datang kepada mereka
- فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍfa-hum fii amrin mariijinmaka, mereka dalam keadaan kacau balau
Terjemahan per kata (9 kata)
- بَلْbalbahkan
- كَذَّبُواkadzdzabuumendustakan
- بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
- لَمَّاlammaaketika
- جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
- فَهُمْfa-hummaka mereka
- فِيfiidalam
- أَمْرٍamrinurusan
- مَرِيجٍmariijinkacau
Inti bacaan
Rangkaian kadzdzabuu bi-l-haqqi lammaa jaa'ahum muncul dua kali di Al-Qur'an (6:5, 50:5).
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan", kata yang sama dengan pembuka 50:2 dan menyela kalimat di 50:15. Sesudahnya datang (كَذَّبُوا, kadzdzabuu) yang berarti "mereka mendustakan", dari akar ك-ذ-ب dengan huruf kedua digandakan, yaitu bentuk kedua dari kata kerja ini. Bentuk dasarnya, (كَذَبَ, kadzaba), dipakai untuk orang yang berdusta, dan bentuk kedua dipakai untuk menolak sesuatu yang datang dari pihak lain. Kedua bentuk itu berdampingan dalam satu kalimat di 39:32, yaitu (كَذَبَ عَلَى اللَّهِ, kadzaba 'alaa llaahi) yang berarti "berbohong terhadap Allah" dan (وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ, wa-kadzdzaba bi-sh-shidqi idz jaa'ahu) yang berarti "dan mendustakan kebenaran ketika ia datang kepadanya". Kata kerja bentuk kedua di sini disusul awalan (بِ, bi-) dan sesuatu yang ditolak, sehingga terjemahan memakai "mendustakan kebenaran".
Kata (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi) yang berarti "kebenaran" berakar ح-ق-ق dan memakai kata sandang al-. Rangkaian (كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ, kadzdzabuu bi-l-haqqi lammaa jaa'ahum) yang berarti "mereka mendustakan kebenaran ketika ia datang kepada mereka" muncul dua kali, yaitu di 6:5 dan 50:5. Bagian (لَمَّا جَاءَهُمْ, lammaa jaa'ahum) yang berarti "ketika datang kepada mereka", dalam bentuk persis ini dengan akhiran jaa'ahum yang sama, muncul di dua belas ayat, yaitu 2:89, 2:101, 6:5, 28:36, 34:43, 35:42, 40:25, 41:41, 43:47, 46:7, 50:5, dan 61:6. Lima di antaranya meletakkan sesuatu yang ditolak persis sebelum bagian itu, yaitu 6:5, 34:43, 41:41, 46:7, dan 50:5. Di 46:7, (قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ, qaala lladziina kafaruu li-l-haqqi lammaa jaa'ahum) berarti "orang-orang yang kufur berkata tentang kebenaran ketika datang kepada mereka", dan di 41:41, (كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ, kafaruu bi-dz-dzikri lammaa jaa'ahum) berarti "kufur terhadap Peringatan ketika ia datang kepada mereka".
Kata kerja (جَاءَ, jaa'a) di 50:5 tidak diikuti kata benda yang menjadi pelakunya, sebab pelaku tunggal sudah terkandung dalam kata kerja itu sendiri. Terjemahan membacanya sebagai kebenaran, sama seperti 6:5, 34:43, dan 46:7, sebab kebenaran adalah kata benda tunggal yang baru disebut tepat sebelumnya. Kata kerja yang sama dengan akhiran yang sama ada di 50:2, tempat pelakunya disebut jelas sebagai (مُنْذِرٌ, mundzirun) yang berarti "pemberi peringatan". Teks 50:5 sendiri tidak memutuskan apakah yang datang itu pemberi peringatan atau kebenaran, dan terjemahan mengikuti 6:5.
Kata (فَهُمْ, fa-hum) yang berarti "maka mereka" tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "maka" dan (هُمْ, hum) yang berarti "mereka". Kata hum di sini berdiri sendiri dan tidak menempel pada kata kerja, seperti (بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ, bal hum fii labsin) di 50:15. Kata (فِي أَمْرٍ, fii amrin) yang berarti "dalam keadaan" hanya muncul di 50:5. Kata (أَمْرٍ, amrin) berakar أ-م-ر dan di ayat lain diterjemahkan "perintah", seperti (فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ, fa-ttaba'uu amra fir'awna) di 11:97 yang berarti "mengikuti perintah Firaun", atau "urusan", seperti (عَاقِبَةُ أَمْرِهَا, 'aaqibatu amrihaa) di 65:9 yang berarti "akibat urusannya". Di 50:5 terjemahan memakai "keadaan", sebab kata sifat sesudahnya melukiskan kondisi dan kata (فِي, fii) yang berarti "dalam" menaruh mereka di dalam kondisi itu.
Kata sifat (مَرِيجٍ, mariijin) yang berarti "kacau balau" berakar م-ر-ج dan hanya muncul di 50:5. Akar ini ada di enam ayat, yaitu 25:53, 50:5, 55:15, 55:19, 55:22, dan 55:58, dan membentuk empat kata yang berbeda. Kata kerja maraja di 25:53 dan 55:19 ada dalam (مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ, maraja l-bahrayni) yang berarti "Dia mengalirkan dua laut". Kata benda (مَارِجٍ, maarijin) di 55:15 ada dalam (مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ, min maarijin min naarin) yang berarti "dari nyala api", dan kata benda (الْمَرْجَانُ, l-marjaanu) di 55:22 dan 55:58 berarti "marjan". Kesamaan huruf tidak dipakai sebagai petunjuk makna. Kata sifat ini tidak muncul di tempat lain, sehingga maknanya hanya dapat ditetapkan dari letaknya di 50:5 sendiri, yaitu sesudah kebenaran yang didustakan, dan terjemahan "kacau balau" bertumpu pada letak itu.
Tafsiran
Ayat ini mencatat apa yang tersisa pada orang-orang yang menolak sesudah mereka heran di 50:2, berucap di 50:3, dan dijawab di 50:4. Rangkaiannya terbaca dalam tiga tahap berurutan, yaitu heran, mendustakan, dan berada dalam keadaan kacau. Penilaian yang yakin di 50:3, "itu pengembalian yang jauh", berhadapan dengan sebutan di 50:5 bahwa mereka sendiri berada dalam keadaan yang kacau.
Dengan kata "ketika", penolakan ditaruh tepat pada saat kedatangan. Dari lima ayat yang meletakkan sesuatu yang ditolak persis sebelum bentuk lammaa jaa'ahum itu, yang menyusul berbeda-beda. Di 6:5 menyusul peringatan tentang berita yang akan datang, di 34:43 dan 46:7 menyusul ucapan "ini sihir yang nyata", di 41:41 menyusul pernyataan tentang kitab itu, dan di 50:5 menyusul sebutan tentang keadaan orang-orang itu sendiri. Di antara kelimanya, hanya 50:5 yang berakhir pada kondisi si penolak, dan keempat ayat lain berakhir pada ucapan, ancaman, atau pernyataan tentang kitab. Ayat ini menuliskan akibat penolakan sebagai sebuah keadaan, yaitu (فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ, fii amrin mariijin).
Susunan "mereka dalam" dipakai lagi di 50:15, (بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ, bal hum fii labsin min khalqin jadiidin) yang berarti "bahkan mereka dalam keraguan tentang penciptaan yang baru". Surah ini melukiskan keadaan orang-orang yang menolak dua kali dengan bentuk yang sama, sekali sebagai kekacauan dan sekali sebagai keraguan. Kekacauan di 50:5 mengikuti penolakan terhadap kebenaran secara umum, dan keraguan di 50:15 menyangkut penciptaan yang baru, jadi kedua keadaan itu tidak disamakan.
Ayat sesudahnya mengubah arah pandang. Ayat 50:6 menanyakan (أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ, a-fa-lam yanzhuruu ilaa s-samaa'i fawqahum) yang berarti "maka, tidakkah mereka memperhatikan langit di atas mereka", dan menyebut bahwa langit itu tidak punya retak-retak. Sesudah menggambarkan mereka sebagai orang yang berada dalam keadaan kacau, surah mengarahkan perhatian mereka kepada sesuatu yang dibangun dan dihiasi, dan hubungan antara dua ayat itu dapat dibaca sebagai pergeseran dari kondisi mereka kepada sesuatu di luar diri mereka.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 50:5 meletakkan penolakan pada saat kebenaran itu datang, dan menulisnya dengan kata "ketika", sehingga penolakan dicatat terjadi pada saat kedatangan itu. Pembaca dapat memperhatikan kapan penilaiannya sendiri jatuh terhadap sesuatu yang baru tiba, apakah pada saat pertama mendengarnya atau sesudah memeriksanya. Pembaca yang pernah menolak sebuah kabar sebelum selesai mendengarnya dapat bertanya, apa yang terjadi pada pertimbangannya di antara kedatangan dan penolakan itu?
- Di 50:3 para penutur memutuskan dengan yakin bahwa pengembalian itu jauh, dan di 50:5 keadaan mereka disebut kacau. Dua ayat itu berdekatan, tetapi gambaran yang diberikan tentang orang yang sama saling berjauhan, dengan ucapan yang tegas dan keadaan yang tidak tertata. Pembaca dapat membandingkan ketegasan nada dengan ketertataan keadaan, dua hal yang dapat berjalan sendiri-sendiri. Kalimat tegas lain tertulis di 50:28, ketika Dia berfirman, "Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku", sehingga surah ini memuat ucapan yang tegas dari manusia dan dari Dia. Seberapa sering sebuah kalimat yang diucapkan dengan mantap datang dari keadaan yang belum tertata?
- Ayat 50:5 menyebut akibat penolakan dalam bentuk keadaan, "mereka dalam keadaan kacau balau", dan tidak menyebut sebuah peristiwa atau hukuman. Ayat ini tidak menyebut hari mulai bagi keadaan itu, dan hanya menyatakan bahwa mereka berada di dalamnya. Berbeda dari peristiwa yang punya tanggal, keadaan terbaca sebagai tempat tinggal yang dihuni. Pembaca dapat melihat dalam hidupnya sendiri keadaan yang berawal dari satu penolakan kecil, lalu menjadi tempat tinggal. Keadaan lain yang ditulis dengan cara serupa adalah kesesatan yang jauh di 50:27, dalam ucapan "Tuhan kami" dari teman penyerta, sehingga dua ayat itu sama-sama menggambarkan keadaan tanpa tanggal. Keadaan apa yang sekarang dihuninya, dan penolakan mana yang dulu mengawalinya?
- Kata kerja datang di 50:5 tidak menyebut pelakunya, dan di 50:2 kata kerja yang sama dengan akhiran yang sama menyebut pelakunya, yaitu pemberi peringatan. Pembaca bisa membaca "ia datang" sebagai kebenaran atau sebagai pembawanya, dan ayat tidak memilihkan. Menolak seseorang dan menolak apa yang dibawanya adalah dua tindakan yang dapat menyatu dalam satu reaksi. Dalam penolakannya sendiri, apakah yang ditolak itu orangnya atau isi yang dibawanya, dan bagaimana bedanya diketahui?
- Rangkaian Arab (لَمَّا جَاءَهُمْ, lammaa jaa'ahum), yang terjemahannya "ketika datang kepada mereka" di 46:7 dan "ketika ia datang kepada mereka" di 50:5, dilanjutkan dengan empat cara berbeda di lima dari dua belas ayat itu, yaitu kabar yang akan datang di 6:5, ucapan sihir di 34:43 dan 46:7, pernyataan tentang kitab di 41:41, dan di 50:5 sebutan tentang keadaan penolaknya. Satu saat yang sama membuka kelanjutan yang tidak serupa. Pembaca yang pernah menolak sesuatu pada saat kedatangannya dapat bertanya, kelanjutan mana yang sedang berjalan dalam hidupnya, yaitu ucapan, kabar yang belum tiba, atau keadaan yang menetap?
- Sesudah menyebut mereka berada dalam keadaan kacau, 50:6 mengajak melihat langit di atas mereka yang tidak punya retak. Arah pandang berpindah dari kondisi diri ke sesuatu yang dibangun dan tetap utuh. Pembaca yang sedang berada dalam keadaan kacau dapat memperhatikan ke mana pandangannya biasa tertuju, ke dalam dirinya atau ke sesuatu yang berada di luar dan di atasnya. Perintah bertasbih dengan memuji Tuhanmu di 50:39 datang sesudah penciptaan langit dan bumi di 50:38, sehingga pandangan ke atas di 50:6 bertemu lagi dengan pujian di ayat itu. Ke mana pandangan itu pergi ketika keadaan sedang kacau?