أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ
Maka, tidakkah mereka memperhatikan langit di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak ada retak-retak padanya?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَاa-fa-lam yanzhuruu ilaa s-samaa'i fawqahum kayfa banaynaahaa wa-zayyannaahaamaka, tidakkah mereka memperhatikan langit di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya
- وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍwa-maa lahaa min furuujindan tidak ada retak-retak padanya
Terjemahan per kata (12 kata)
- أَفَلَمْa-fa-lammaka tidakkah
- يَنْظُرُواyanzhuruumereka memperhatikan
- إِلَىilaakepada
- السَّمَاءِs-samaa'ilangit
- فَوْقَهُمْfawqahumdi atas mereka
- كَيْفَkayfabagaimana
- بَنَيْنَاهَاbanaynaahaaKami membangunnya
- وَزَيَّنَّاهَاwa-zayyannaahaadan Kami menghiasinya
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- لَهَاlahaabaginya
- مِنْmindari
- فُرُوجٍfuruujincelah
Inti bacaan
Bentuk banaynaahaa, "Kami membangunnya", muncul dua kali di Al-Qur'an (50:6, 51:47), dan zayyannaahaa, "Kami menghiasinya", juga dua kali (15:16, 50:6).
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan pertanyaan (أَفَلَمْ يَنْظُرُوا, a-fa-lam yanzhuruu) yang berarti "maka, tidakkah mereka memperhatikan". Bentuk ini tersusun dari (أَ, a) yang menandai pertanyaan, (فَ, fa) yang berarti "maka", (لَمْ, lam) yang berarti "tidak", dan (يَنْظُرُوا, yanzhuruu) yang berarti "mereka memperhatikan" dari akar ن-ظ-ر. Susunan utuhnya hanya muncul di 50:6. Kata kerja yang sama disusul (إِلَى, ilaa) yang berarti "kepada" dan benda yang diminta untuk diamati di 2:259, 6:99, 30:50, 80:24, dan 88:17. Di empat ayat, yaitu 2:259, 30:50, 88:17, dan 50:6, kata (كَيْفَ, kayfa) yang berarti "bagaimana" menyusul benda yang dilihat. Contohnya di 88:17, (أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ, a-fa-laa yanzhuruuna ilaa l-ibili kayfa khuliqat) yang berarti "maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan". Terjemahan memakai "memperhatikan" untuk kata kerja ini di semua ayat itu, dan karena kata "bagaimana" menyusul benda yang dilihat, pertanyaannya menyangkut cara benda itu dibuat.
Mereka diminta melihat (السَّمَاءِ, s-samaa'i) yang berarti "langit", dan ayat langsung menyebut letaknya dengan (فَوْقَهُمْ, fawqahum) yang berarti "di atas mereka". Kata fawqahum muncul enam kali di lima surah, yaitu 2:212, 7:127, 7:171, 50:6, 67:19, dan 69:17; 7:127 dan 7:171 berada di surah yang sama. Di empat ayat lainnya kata ini menempatkan sesuatu di atas pelaku cerita: orang-orang bertakwa di 2:212, pihak yang berkuasa di 7:127, gunung di 7:171, dan Arasy di 69:17. Hanya 67:19 yang memakainya seperti 50:6, untuk benda yang diminta dilihat, yaitu (أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ, a-wa-lam yaraw ilaa th-thayri fawqahum) yang berarti "tidakkah mereka memperhatikan burung-burung di atas mereka".
Kata (بَنَيْنَاهَا, banaynaahaa) yang berarti "Kami membangunnya" tersusun dari kata kerja banaa berakar ب-ن-ي, akhiran -naa yang berarti "Kami", dan akhiran -haa yang berarti "-nya", yaitu langit. Bentuk persis ini muncul dua kali, di 50:6 dan 51:47, dengan bunyi (وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا, wa-s-samaa'a banaynaahaa) yang berarti "dan langit, Kami bangun" di 51:47. Akar yang sama dipakai untuk langit di 2:22, 40:64, 79:27, dan 91:5. Di 78:12, (وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا, wa-banaynaa fawqakum sab'an syidaadan) yang berarti "dan Kami bangun di atas kalian tujuh yang kukuh", akar itu dipakai tanpa kata langit, dan letaknya ditandai dengan fawq seperti di 50:6.
Kata (وَزَيَّنَّاهَا, wa-zayyannaahaa) yang berarti "dan Kami menghiasinya" berakar ز-ي-ن dan memakai akhiran yang sama dengan banaynaahaa, sehingga dua pekerjaan itu terbaca ditujukan kepada benda yang sama. Bentuk persis zayyannaahaa muncul dua kali, di 15:16 dan 50:6. Di 15:16, (وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ, wa-zayyannaahaa li-n-naazhiriina) yang berarti "dan Kami menghiasinya bagi orang-orang yang memandang", penerima hiasan itu berakar ن-ظ-ر, sama dengan yanzhuruu di 50:6. Akar ز-ي-ن dipakai untuk langit juga di 37:6, 41:12, dan 67:5, dengan bintang-bintang dan pelita sebagai alatnya. Ayat 50:6 tidak menyebut alat apa pun, dan terjemahannya tidak menambahkan "dengan bintang-bintang".
Bagian terakhir (وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ, wa-maa lahaa min furuujin) yang berarti "dan tidak ada retak-retak padanya" tersusun dari (مَا, maa) yang berarti "tidak", (لَهَا, lahaa) yang berarti "padanya", (مِنْ, min) yang berarti "dari", dan (فُرُوجٍ, furuujin) yang berarti "retak-retak". Kata furuuj berakar ف-ر-ج, dan lemanya muncul delapan kali, yaitu 21:91, 23:5, 24:30, 24:31, 33:35, 50:6, 66:12, dan 70:29. Tujuh ayat yang lain menyebut apa yang dijaga atau dipelihara manusia, misalnya (وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ, wa-lladziina hum li-furuujihim haafizhuuna) yang berarti "dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka" di 23:5 dan 70:29. Hanya di 50:6 kata ini menyifati langit, sehingga terjemahannya tidak membawa "kemaluan" atau "kehormatan" ke sini. Akar yang sama dipakai untuk langit di 77:9, (وَإِذَا السَّمَاءُ فُرِجَتْ, wa-idzaa s-samaa'u furijat) yang berarti "dan apabila langit dibelah". Dua ayat itu memakai akar yang sama untuk dua keadaan langit yang berbeda.
Arab tidak merinci bentuk celah yang ditiadakan di 50:6. Terjemahan memilih "retak-retak" karena langit di ayat ini sesuatu yang dibangun (banaynaahaa), dan celah pada bangunan terbaca sebagai retak. Ketiadaan cacat di langit dinyatakan dengan kata lain di 67:3, (هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ, hal taraa min futhuurin) yang berarti "adakah engkau melihat suatu cela". Kata futhuur hanya muncul di ayat itu, dan terjemahan 50:6 tidak memakai "cela" supaya dua kata Arab yang berbeda tetap terbedakan. Terjemahan juga tidak menambahkan "sempurna" atau "kokoh" pada langit, karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.
Tafsiran
Ayat ini membuka rangkaian 50:6 sampai 50:11 dengan pertanyaan kepada orang-orang yang di 50:5 disebut mendustakan kebenaran dan berada (فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ, fii amrin mariijin) yang berarti "dalam keadaan kacau balau". Pertanyaan itu tidak memuat tuduhan dan tidak menyebut apa yang harus disimpulkan dari langit. Kesimpulan rangkaian ini baru tertulis di 50:11, (كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ, ka-dzaalika l-khuruuju) yang berarti "demikianlah kebangkitan", lima ayat sesudahnya. Kata itu dapat dibaca menyambung ke ucapan penolak di 50:3, (ذَٰلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ, dzaalika raj'un ba'iidun) yang berarti "itu pengembalian yang jauh". Dengan susunan itu 50:6 memberi mereka sesuatu untuk dilihat lebih dulu, dan kepercayaan yang diminta dari mereka datang belakangan.
Ayat 67:3 dan 67:4 membicarakan langit tanpa cela dengan cara lain. Di sana orang diperintahkan mengulang pandangannya untuk mencari cela, lalu pandangan itu kembali kepadanya dalam keadaan letih. Di 50:6 ketiadaan retak disebut dalam kalimat yang sama dengan pembangunan dan penghiasan, tanpa perintah mencari, sehingga dapat dibaca sebagai bagian dari apa yang diminta untuk diperhatikan.
Rangkaian ini bergerak dari atas ke bawah. Langit dilihat dari bawah di 50:6, bumi menyusul di 50:7, dan di 50:9 langit disebut lagi sebagai asal air yang diturunkan. Dapat dibaca bahwa pandangan yang naik di ayat ini kembali ke bawah lewat sesuatu yang datang dari arah yang sama, tetapi 50:6 sendiri belum menyebut air.
Renungan dan Hikmah
- Letak langit di ayat ini ditandai dengan satu kata, (فَوْقَهُمْ, fawqahum) yang berarti "di atas mereka", tanpa ukuran dan tanpa jarak. Benda yang diminta untuk diperhatikan berada di atas mereka. Pembaca yang sedang berada di bawah atap atau di bawah langit terbuka dapat bertanya kapan terakhir kali menengadah tanpa urusan lain, dan apakah masih teringat apa yang tampak ketika itu. Di 13:2 yang meninggikan langit tanpa tiang yang kalian lihat disebut dengan nama, yaitu Allah, sedangkan 50:6 hanya menyebut letaknya dan memintanya diperhatikan.
- Ayat ini berbentuk pertanyaan dan jawabannya tidak ada di dalamnya. Ayat 50:7 sudah berpindah ke bumi, dan kesimpulan rangkaian ini baru datang di 50:11. Pembaca mendapat jeda lima ayat antara pertanyaan dan kesimpulan. Orang yang menunda kesimpulan selama membaca dapat memperhatikan apa yang mengisi jeda itu pada dirinya, apakah jawaban yang sudah disiapkan sebelum ayat selesai, rasa ingin tahu, atau rasa bosan terhadap hal yang sudah terlalu sering terlihat, dan siapa di dalam dirinya yang sedang menjawab.
- Ayat ini menyebut dua pekerjaan berurutan yang digandeng satu kata sambung, membangun dan menghiasi. Ayat tidak mengatakan bahwa penghiasan itu diperlukan agar langit berdiri; urutannya hanya memperlihatkan bahwa pekerjaan kedua datang sesudah yang pertama selesai. Seseorang yang menyelesaikan pekerjaan dapat bertanya apakah pekerjaannya punya tahap kedua semacam itu, tahap yang tidak dituntut agar hasilnya berfungsi, dan apakah tahap itu biasanya dilewati karena tidak ada yang akan menagihnya. Di 79:27 dan 79:28 pelakunya ditulis Dia, dan di sana pekerjaan itu juga berurutan, yaitu membangun, meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.
- Kalimat terakhir ayat ini menilai langit dengan sesuatu yang tidak ada. Pernyataan bahwa tidak ada retak pada benda sebesar langit terdengar seperti hasil pemeriksaan, dan 67:3 sampai 67:4 menggambarkan pemeriksaan itu sebagai pandangan yang diulang sampai letih. Pembaca dapat menimbang pekerjaannya sendiri dengan ukuran yang sama. Retak mana yang sudah dicari sebelum menyatakan suatu pekerjaan selesai, dan retak mana yang baru ditemukan orang lain sesudah pekerjaan itu diserahkan?
- Di 88:18 pertanyaan tentang langit disusun dengan (رُفِعَتْ, rufi'at) yang berarti "ditinggikan", bentuk yang tidak menyebut siapa yang meninggikan. Di 50:6 dua kata kerja membawa akhiran -naa, "Kami", sehingga langit dilihat bersama pembangunnya. Kedua ayat mengajak orang menengadah. Rumusan 88:18 membiarkan langit tampak tanpa menyebut pembuatnya, sedangkan rumusan 50:6 menyebut pekerjaannya. Orang yang menatap langit malam dapat bertanya bagaimana pandangannya berubah ketika yang tampak adalah sebuah pekerjaan, sebelum menentukan sikap terhadap pembuatnya. Di 40:64 pembangun itu disebut dengan nama, yaitu Allah yang menjadikan langit sebagai bangunan.
- Dua ayat berurutan menaruh dua keadaan berdampingan. Ayat 50:5 menyebut mereka berada (فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ, fii amrin mariijin) yang berarti "dalam keadaan kacau balau", dan 50:6 menyebut langit di atas mereka tanpa retak. Ayat tidak menarik garis dari keadaan yang satu ke yang lain. Seorang pembaca yang sedang merasa kacau dapat bertanya apa yang terjadi pada rasa kacaunya ketika pandangannya naik ke sesuatu yang oleh ayat disebut utuh, dan apakah rasa itu bergerak, bertahan, atau menjadi terasa lebih jelas.