وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

Dan bumi Kami hamparkan, dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung yang kukuh, dan Kami tumbuhkan padanya setiap pasang yang indah,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَاwa-l-ardha madadnaahaadan bumi Kami hamparkan
  2. وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَwa-alqaynaa fiihaa rawaasiyadan Kami pancangkan padanya gunung-gunung yang kukuh
  3. وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍwa-anbatnaa fiihaa min kulli zawjin bahiijindan Kami tumbuhkan padanya setiap pasang yang indah

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  2. مَدَدْنَاهَاmadadnaahaaKami menghamparkannya
  3. وَأَلْقَيْنَاwa-alqaynaadan Kami melemparkan
  4. فِيهَاfiihaapadanya
  5. رَوَاسِيَrawaasiyagunung-gunung
  6. وَأَنْبَتْنَاwa-anbatnaadan Kami menumbuhkan
  7. فِيهَاfiihaapadanya
  8. مِنْmindari
  9. كُلِّkullisegala
  10. زَوْجٍzawjinpasangan
  11. بَهِيجٍbahiijinyang indah

Inti bacaan

Susunan wa-l-ardha madadnaahaa wa-alqaynaa fiihaa rawaasiya wa-anbatnaa fiihaa muncul dua kali di Al-Qur'an (15:19, 50:7), dengan ujung yang berbeda: "menurut ukuran" di 15:19 dan "setiap pasang yang indah" di 50:7.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا, wa-l-ardha madadnaahaa) yang berarti "dan bumi Kami hamparkan". Kata (الْأَرْضَ, al-ardha) yang berarti "bumi" disebut lebih dulu daripada kata kerjanya, (مَدَدْنَاهَا, madadnaahaa) yang berakar م-د-د dan berarti "Kami menghamparkannya". Susunan persis ini muncul dua kali, di 15:19 dan 50:7. Kata kerja yang sama dengan bumi sebagai yang dikenai ada di 13:3, (وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ, wa-huwa lladzii madda l-ardha) yang berarti "dan Dialah yang menghamparkan bumi". Terjemahan memakai "hamparkan" juga untuk dua kata kerja lain tentang bumi, yaitu (فَرَشْنَاهَا, farasynaahaa) di 51:48 dan (دَحَاهَا, dahaahaa) di 79:30. Ketiganya dibedakan oleh kata Arabnya, sedangkan kata Indonesianya sama.

Bagian berikutnya, (وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ, wa-alqaynaa fiihaa rawaasiya) yang berarti "dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung yang kukuh", juga muncul persis dua kali, di 15:19 dan 50:7. Kata (فِيهَا, fiihaa) yang berarti "padanya" menunjuk bumi, dan (أَلْقَيْنَا, alqaynaa) berakar ل-ق-ي. Bentuk (رَوَاسِيَ, rawaasiya) muncul sembilan kali, yaitu 13:3, 15:19, 16:15, 21:31, 27:61, 31:10, 41:10, 50:7, dan 77:27. Empat di antaranya memakai alqaa seperti 50:7, yaitu 15:19, 16:15, 31:10, dan 50:7, sedangkan lima lainnya memakai (جَعَلَ, ja'ala) yang berarti "menjadikan". Kata rawaasiya berakar ر-س-و dan berarti "yang menancap kukuh", dan Arab di 50:7 tidak menyebut kata gunung. Terjemahan menambahkan "gunung-gunung" karena akar yang sama di 79:32 mengambil gunung sebagai yang dikenai, (وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا, wa-l-jibaala arsaahaa) yang berarti "dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan kukuh", dan karena 78:7 menyebut gunung (أَوْتَادًا, awtaadan) yang berarti "pasak-pasak". Di 77:27 rawaasiya disusul (شَامِخَاتٍ, syaamikhaatin) yang berarti "yang tinggi". Di 34:13 akar yang sama menyifati periuk, (وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ, wa-qudurin raasiyaatin) yang berarti "dan periuk-periuk yang tetap". Karena itu kata ini tidak dengan sendirinya menyebut gunung, dan penyebutan gunung di 50:7 bertumpu pada 79:32, 78:7, dan 77:27.

Bagian terakhir, (وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ, wa-anbatnaa fiihaa min kulli zawjin bahiijin) yang berarti "dan Kami tumbuhkan padanya setiap pasang yang indah", dibuka dengan (وَأَنْبَتْنَا فِيهَا, wa-anbatnaa fiihaa) yang berakar ن-ب-ت dan muncul dua kali, di 15:19 dan 50:7. Kedua ayat itu sama sampai di sini, dan kontrasnya terletak di ujung: 15:19 menutup dengan (مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ, min kulli syay'in mawzuunin) yang berarti "dari segala sesuatu menurut ukuran", sedangkan 50:7 menutup dengan pasangan yang indah. Susunan (مِنْ كُلِّ زَوْجٍ, min kulli zawjin) muncul empat kali, yaitu 22:5, 26:7, 31:10, dan 50:7, dan sifatnya berbeda: (بَهِيجٍ, bahiijin) di 22:5 dan 50:7, dan (كَرِيمٍ, kariimin) yang berarti "mulia" di 26:7 dan 31:10. Kata bahiij berakar ب-ه-ج dan dipakai di dua ayat itu saja, sedangkan akar yang sama muncul di 27:60 sebagai (بَهْجَةٍ, bahjatin) pada kebun-kebun yang ditumbuhkan dengan air. Terjemahan memakai "indah" untuk keduanya.

Kata (زَوْجٍ, zawjin) berakar ز-و-ج dan menyebut satu dari dua yang berpasangan, sehingga bentuk dualnya (زَوْجَيْنِ, zawjayni) di 13:3 berarti sepasang. Akar ini dipakai untuk tumbuhan di 20:53, 22:5, 26:7, 31:10, 36:36, dan 50:7. Ayat 36:36 menyebut asal pasangan itu, (مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ, mimmaa tunbitu l-ardhu) yang berarti "dari apa yang ditumbuhkan bumi", dan menambahkan diri mereka sendiri serta apa yang tidak mereka ketahui. Terjemahan menulis "setiap pasang" dan tidak menambahkan "tumbuhan" sesudahnya, karena kata itu datang dari anbatnaa dan tidak dari zawj. Tanda koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 50:8, yang tidak membuka dengan kata sambung.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan pandangan dari langit di 50:6 ke bumi, dan mengisinya dengan tiga pekerjaan berurutan yang semuanya memakai "Kami" dan menunjuk bumi lewat akhiran -haa atau (فِيهَا, fiihaa): menghamparkan, memancangkan, dan menumbuhkan. Urutannya bergerak dari permukaan ke penahan, lalu ke isi. Dapat dibaca bahwa tiap pekerjaan mengandaikan yang sebelumnya, sebab pemancangan membutuhkan permukaan dan penumbuhan membutuhkan tempat tumbuh. Ayat ini sendiri tidak menyatakan hubungan itu dan menderetkan ketiganya dengan kata sambung yang sama.

Ayat 16:15, 21:31, dan 31:10 menyebut tujuan pemancangan itu dengan (أَنْ تَمِيدَ, an tamiida) yang berarti "agar tidak berguncang". Ayat 50:7 tidak menyebut tujuan semacam itu untuk gunung. Tujuan bagi deretan di 50:6 dan 50:7 dapat dibaca baru muncul di 50:8, (تَبْصِرَةً وَذِكْرَىٰ, tabshiratan wa-dzikraa) yang berarti "untuk menjadi pelajaran dan pengingat". Dengan begitu gunung di 50:7 hadir sebagai sesuatu untuk diperhatikan, dan fungsinya sebagai penahan tidak ikut diuraikan di sini.

Ujung ayat ini, (مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ, min kulli zawjin bahiijin), muncul juga di 22:5. Di sana susunan itu datang sesudah bumi yang kering disirami air dan sesudah keraguan terhadap kebangkitan disebut di awal ayat. Di 50:7 air belum disebut, dan 50:9 menyusulkannya. Di surah ini dua tahap yang di 22:5 berada dalam satu kalimat dipisahkan, dengan hasil yang indah lebih dulu dan sebabnya sesudahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Setelah ayat sebelumnya menaruh langit di atas kepala, ayat ini menaruh bumi di bawah kaki, dan seperti langit, bumi disebut sebagai hasil pekerjaan, yaitu dihamparkan. Di 13:3 pekerjaan menghamparkan bumi dikaitkan dengan Dia, dan di 15:19 pekerjaan yang sama ditulis dengan Kami, seperti di 50:7. Pembaca berdiri di antara dua benda yang tidak dipasang dan tidak diperiksa olehnya sendiri. Seseorang dapat bertanya sejak kapan permukaan yang diinjaknya berhenti terasa sebagai hasil kerja dan mulai terasa sebagai lantai begitu saja, dan apa yang berubah pada langkahnya bila rasa yang pertama itu kembali.
  • Ayat 78:7 menyebut gunung (أَوْتَادًا, awtaadan) yang berarti "pasak-pasak", dan terjemahan 50:7 memakai "pancangkan" untuk gunung yang sama. Pasak tampak sebagian saja, sebab sisanya tertanam, dan kedalamannya tidak terlihat. Pembaca dapat memandang hidupnya dengan gambar itu. Bagian mana darinya yang berfungsi sebagai pasak, tertanam jauh di bawah dan jarang dilihat, dan apa yang akan bergeser, serta seberapa jauh, bila bagian itu dicabut tanpa pemberitahuan lebih dulu?
  • Di 16:15, 21:31, dan 31:10 gunung muncul bersama kegunaannya, yaitu agar bumi tidak berguncang. Di 50:7 gunung muncul tanpa kegunaan, di tengah deretan hal yang diminta untuk diperhatikan. Pembaca dapat bertanya apa yang tampak dari sesuatu ketika kegunaannya tidak ikut disebut, dan apakah benda yang sering dimanfaatkan tetapi jarang dilihat masih diperhatikan. Ayat ini tidak menjawab pertanyaan semacam itu dan membiarkan gunung berdiri dalam daftar, di antara hamparan dan tumbuhan, tanpa tugas yang tertulis di sampingnya. Di 31:10 yang meletakkan gunung-gunung itu disebut dengan kata ganti Dia, dan ayat sesudahnya, 31:11, menyebut semuanya ciptaan Allah.
  • Kata zawj dipakai ayat ini untuk tumbuhan, dan 36:36 memakai akar yang sama untuk tumbuhan, untuk diri manusia, dan untuk apa yang tidak mereka ketahui. Deretan di 50:7 dengan demikian memuat sesuatu yang juga berlaku atas pembacanya, yaitu berpasangan. Pembaca dapat bertanya bagaimana pasangan pada tumbuhan di tepi jalan terbaca bila dilihat dari sisi dirinya sendiri, dan hubungan apa dalam hidupnya yang belum pernah dihitung sebagai pasangan, padahal selalu hadir berdua dengan sesuatu yang lain. Di 13:3 yang menjadikan segala buah-buahan sepasang-sepasang disebut Dia.
  • Pasangan tumbuhan yang sama disifati "mulia" di 26:7 dan 31:10, dan "indah" di 22:5 dan 50:7. Ayat ini memilih kata yang menyebut apa yang tampak di mata dan tidak menyebut nilainya. Pembaca dapat bertanya ukuran mana yang dipakai ketika memuji sesuatu di sekitarnya, mulianya atau indahnya, dan apakah ada tumbuhan atau tempat yang pernah dilewati bertahun-tahun tanpa sekali pun dinyatakan indah, padahal ayat ini memakai kata itu untuk hal yang tumbuh begitu saja di tanah.
  • Ayat ini menyebut tumbuhan lebih dulu, dan air baru disebut di 50:9. Pembaca yang membaca berurutan melihat hasil sebelum mengetahui sebabnya, seperti orang yang menerima hasil panen sebelum tahu dari mana airnya datang. Seseorang dapat bertanya hasil apa dalam hidupnya yang sudah lama dinikmati tanpa pernah ditanyakan dari mana datangnya, dan air macam apa yang pernah mengalir ke tanah tempat hasil itu tumbuh sebelum sampai ke tangannya.