وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ
dan pohon-pohon kurma yang tinggi yang mayangnya bersusun-susun,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌwa-n-nakhla baasiqaatin lahaa thal'un nadhiidundan pohon-pohon kurma yang tinggi yang mayangnya bersusun-susun
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَالنَّخْلَwa-n-nakhladan pohon kurma
- بَاسِقَاتٍbaasiqaatinyang tinggi
- لَهَاlahaabaginya
- طَلْعٌthal'unmayang
- نَضِيدٌnadhiiduntersusun
Inti bacaan
Kata thal'un muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:99, 26:148, 37:65, dan 50:10.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَالنَّخْلَ, wa-n-nakhla) yang berarti "dan pohon-pohon kurma". Kata nakhl berakar ن-خ-ل dan muncul sebelas kali, yaitu 6:99, 6:141, 18:32, 20:71, 26:148, 50:10, 54:20, 55:11, 55:68, 69:7, dan 80:29. Bentuk dengan kata sandang dan huruf wa seperti di sini muncul dua kali, di 6:141 dan 50:10. Ayat 6:141 menyebutnya sesudah jannaat, (وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ, wa-n-nakhla wa-z-zar'a) yang berarti "pohon kurma, dan tanaman", seperti 50:10 yang menyusul jannaat di 50:9. Bentuk kata nakhla di sini menandainya sebagai benda yang dikenai kata kerja, sama dengan habba di 50:9, dan ayat ini tidak memuat kata kerja sendiri. Karena itu nakhla terbaca sebagai hal ketiga yang ditumbuhkan oleh anbatnaa di 50:9, dan terjemahan tidak mengulang kata kerja itu. Kata nakhl menyebut pohonnya. Buahnya disebut dengan kata lain, misalnya (وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ, wa-min tsamaraati n-nakhiili) yang berarti "dan dari buah-buah kurma" di 16:67 dan (رُطَبًا, ruthaban) yang berarti "kurma yang masak" di 19:25. Ayat 50:10 tidak menyebut buahnya.
Kata berikutnya, (بَاسِقَاتٍ, baasiqaatin) yang berarti "yang tinggi", berakar ب-س-ق dan hanya muncul di 50:10. Bentuknya jamak dan menyifati nakhl, sehingga terjemahan memakai "pohon-pohon" dan "yang tinggi". Karena akar ini tidak punya pemakaian lain, arti "tinggi" tidak dapat diuji dengan ayat lain dan bertumpu pada bentuk kata itu sendiri. Ayat ini juga tidak menyebut seberapa tinggi, dan terjemahan tidak menambahkan ukuran.
Sifat pohon itu dilanjutkan dengan (لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ, lahaa thal'un nadhiidun) yang berarti "yang mayangnya bersusun-susun". Susunan lahaa thal'un muncul satu kali. Kata (طَلْعٌ, thal'un) berakar ط-ل-ع dan muncul empat kali, yaitu 6:99, 26:148, 37:65, dan 50:10. Di tiga ayat lainnya mayang itu disandarkan kepada tumbuhan dengan akhiran -haa: (مِنْ طَلْعِهَا, min thal'ihaa) yang berarti "dari mayangnya" di 6:99 pada pohon kurma, (طَلْعُهَا هَضِيمٌ, thal'uhaa hadhiimun) yang berarti "mayangnya lembut" di 26:148 juga pada pohon kurma, dan (طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ, thal'uhaa ka-annahu ru'uusu sy-syayaathiini) yang berarti "mayangnya seperti kepala-kepala setan" di 37:65 pada pohon yang disebut di 37:64. Tiga sifat berbeda diberikan pada mayang: lembut di 26:148, menyerupai kepala-kepala setan di 37:65, dan bersusun-susun di 50:10. Di 6:99 mayang itu disusul (قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ, qinwaanun daaniyatun) yang berarti "tangkai-tangkai buah yang menjuntai rendah", sehingga mayang adalah bagian pohon yang mendahului buah. Terjemahan memakai "mayang" di keempat ayat itu.
Sifat (نَضِيدٌ, nadhiidun) yang berarti "bersusun-susun" berakar ن-ض-د, dan bentuk ini hanya muncul di 50:10. Akar yang sama muncul sebagai (مَنْضُودٍ, mandhuudin) di dua ayat lain: 11:82, (مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ, min sijjiilin mandhuudin) yang berarti "dari tanah liat yang dibakar, tersusun bertumpuk", dan 56:29, (وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ, wa-thalhin mandhuudin) yang berarti "dan pohon pisang yang bersusun-susun". Kata thalh di 56:29 berakar ط-ل-ح, akar yang berbeda dari thal' di ayat ini. Pada ketiga ayat itu sifat tersebut dikenakan pada benda yang bagiannya diletakkan satu di atas yang lain: batu, pohon, dan mayang. Terjemahan memakai "bersusun-susun" di 50:10 dan 56:29, dan menambahkan "bertumpuk" di 11:82 untuk batu yang dihujankan. Terjemahan tidak menyebut jumlah lapisan atau warna mayang, dan tidak menambahkan "buah" atau "kurma yang masak". Tanda koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 50:11.
Tafsiran
Ayat ini menutup deretan yang ditumbuhkan dengan air di 50:9 memakai satu jenis pohon yang diuraikan lebih rinci daripada yang lain. Kebun-kebun dan biji-bijian di 50:9 disebut tanpa sifat, sedangkan pohon kurma di sini diberi dua sifat, tinggi dan bermayang bersusun. Dapat dibaca bahwa deretan itu bergerak dari yang umum ke yang khusus, dan bahwa pandangan yang diminta di 50:6 sampai pada rincian yang terlihat dari dekat.
Pohon kurma dicirikan oleh bagian bunganya di beberapa ayat. Di 55:11, (وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ, wa-n-nakhlu dzaatu l-akmaami) yang berarti "dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang", pohon itu dicirikan oleh kelopak mayang, dan buah-buahan disebut terpisah sebelumnya. Di 6:99 mayang disebut sebagai asal tangkai buah. Ayat 50:10 sejalan dengan itu: ayat ini berhenti pada mayang dan tidak menyebut buah. Rezeki, yang disebut di 50:11, tidak dinamai di sini, dan ayat-ayat ini tidak menyatakan bahwa rezeki itu adalah buah kurma.
Ayat 6:99 mengajak pandangan ke buah kurma dengan kata kerja yang sama dengan 50:6, (انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ, unzhuruu ilaa tsamarihi) yang berarti "perhatikanlah buahnya". Ayat 50:10 tidak memuat ajakan semacam itu, tetapi karena berada dalam rangkaian yang dibuka dengan ajakan melihat di 50:6, rincian mayang di sini dapat dibaca sebagai hal yang terlihat oleh pandangan yang sudah diminta memperhatikan. Rangkaian itu belum berhenti di ayat ini. Ayat 50:11 yang mengikutinya menyebut tujuan bagi hamba-hamba dan menutup dengan kebangkitan.
Renungan dan Hikmah
- Di antara yang ditumbuhkan air di 50:9 dan 50:10, pohon kurma diberi sifat, dan sifatnya ada dua. Kebun dan biji-bijian disebut dengan satu kata masing-masing. Pembaca dapat bertanya hal apa di sekitarnya yang sudah dikenalnya sampai ke bagian terkecil karena pernah dipandang lama, dan hal apa yang selalu disebutnya dengan satu kata umum seperti pohon, rumput, atau hujan. Perbandingan ini tidak menilai mana yang lebih penting, sebab ayat memberi rincian lebih banyak pada satu jenis saja tanpa menyatakan alasannya.
- Ayat ini berhenti pada mayang, tahap pohon sebelum berbuah, dan buahnya tidak disebut. Rezeki di 50:11 pun tidak dinamai. Dalam pekerjaan yang hasilnya sedang ditunggu, pembaca dapat bertanya tahap mana yang pernah dianggap layak disebut tersendiri, dan tahap mana yang selalu dilewati dengan tergesa menuju hasil. Mayang yang bersusun disebut tersendiri di ayat ini, padahal menurut 6:99 tangkai-tangkai buah baru keluar dari mayang itu sesudahnya. Di 6:99 kalimat itu dibuka dengan Dia yang menurunkan air dari langit.
- Pohon di ayat ini disifati tinggi, dan benda setinggi itu paling mudah dilihat dengan kepala terangkat. Ayat 50:6 meminta pandangan naik ke langit yang dibangun, dan 50:10 menyebut pohon yang tumbuh dan dapat dipandang dengan cara serupa. Dua benda yang ditatap ke atas berada dalam satu rangkaian, yang satu dibangun dan yang lain ditumbuhkan. Pembaca dapat bertanya kapan terakhir kali mendongak ke sesuatu yang tumbuh dan tidak ke sesuatu yang dibangun, dan apakah arah pandang itu mengubah cara berdirinya. Di 13:2 yang meninggikan langit disebut Allah, sedangkan pohon yang tinggi di 50:10 tidak disertai penyebut pelakunya.
- Sifat bersusun-susun menyebut mayang sebagai kumpulan bagian kecil yang diletakkan satu di atas yang lain. Susunan semacam itu baru terlihat bila benda dipandang dari dekat dan cukup lama. Susunan kecil apa dalam hidup pembaca yang tidak pernah dihitung karena tampak sebagai satu benda utuh, misalnya satu hari kerja, satu percakapan, atau satu tandan? Ayat tidak menyebut jumlah lapisannya.
- Ayat ini menamai pohonnya dan mayangnya, dan tidak menamai buahnya. Kata kurma dalam bahasa Indonesia dapat menunjuk buah yang dimakan. Pembaca dapat bertanya apakah sesuatu lebih dulu dikenalnya dari yang diambil atau dari tempatnya tumbuh, dan benda apa dalam hidupnya yang namanya hanya dikenal lewat hasilnya padahal pohonnya tumbuh di dekat rumah. Ayat 16:67 dan 19:25 memakai kata lain untuk buah yang dimakan, jadi sebutan di sini berbeda dari yang dipakai ketika hasilnya sudah ada di tangan.
- Ayat ini tidak memuat kata kerja. Pohon-pohon yang tinggi itu ditumbuhkan oleh kata kerja yang berdiri dua ayat sebelumnya, di 50:9, dengan Kami sebagai pelakunya, dan di 16:11 pekerjaan menumbuhkan pohon kurma dan buah-buahan dikaitkan dengan Dia. Pembaca yang sampai di 50:10 melihat sesuatu yang tegak, sementara perbuatan yang menegakkannya sudah lewat dan tidak disebut ulang. Seseorang dapat bertanya apa dalam hidupnya yang berdiri tinggi hari ini bergantung pada tindakan yang sudah lama selesai dan jarang diingat, dan siapa yang akan menyebut tindakan itu bila tidak diulang oleh yang bersangkutan.