رِزْقًا لِلْعِبَادِ ۖ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ

sebagai rezeki bagi hamba-hamba; dan Kami hidupkan dengannya negeri yang mati; demikianlah keluarnya.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. رِزْقًا لِلْعِبَادِrizqan li-l-'ibaadisebagai rezeki bagi hamba-hamba
  2. وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًاwa-ahyaynaa bihi baldatan maytandan Kami hidupkan dengannya negeri yang mati
  3. كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُka-dzaalika l-khuruujudemikianlah keluarnya

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. رِزْقًاrizqanrezeki
  2. لِلْعِبَادِli-l-'ibaadibagi para hamba
  3. وَأَحْيَيْنَاwa-ahyaynaadan Kami menghidupkan
  4. بِهِbihidengannya
  5. بَلْدَةًbaldatannegeri
  6. مَيْتًاmaytanyang mati
  7. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  8. الْخُرُوجُl-khuruujukeluar

Inti bacaan

Kata (خُرُوجٍ, khuruujin), "keluar", muncul lima kali di tiga surah, yaitu di 9:46, 9:83, 40:11, 50:11, dan 50:42.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka tanpa kata kerja. Kata (رِزْقًا, rizqan) yang berarti "rezeki" berakar ر-ز-ق dan menyambung kalimat yang dimulai di 50:9, tempat air diturunkan lalu kebun-kebun, biji-bijian, dan pohon kurma ditumbuhkan. Bentuk rizqan muncul enam belas kali di tiga belas surah, yaitu 2:22, 2:25, 3:37, 11:88, 14:32, 16:67, 16:73, 16:75, 20:132, 22:58, 28:57, 29:17, 33:31, 40:13, 50:11, dan 65:11. Tiga di antaranya, 2:22, 14:32, dan 40:13, menyebut rezeki yang berasal dari langit atau dari air yang turun dari langit, dan ketiganya memuat kata (لَكُمْ, lakum) yang berarti "bagi kalian". Contohnya di 14:32, (فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ, fa-akhraja bihi mina ts-tsamaraati rizqan lakum) yang berarti "lalu dengannya Dia mengeluarkan dari buah-buahan rezeki bagi kalian". Ayat 50:11 menyebut penerima yang berbeda, yaitu (رِزْقًا لِلْعِبَادِ, rizqan li-l-'ibaadi) yang berarti "sebagai rezeki bagi hamba-hamba", orang ketiga dan tidak ditujukan kepada "kalian". Terjemahan memakai "sebagai rezeki" seperti di 2:22.

Kata (لِلْعِبَادِ, li-l-'ibaadi) tersusun dari li yang berarti "bagi", kata sandang al-, dan 'ibaad yang berarti "hamba-hamba", bentuk jamak dari 'abd yang berakar ع-ب-د. Terjemahan memakai "hamba" untuk akar ini, sehingga hubungannya dengan "mengabdi" terjaga. Di surah yang sama akar itu muncul tiga kali dalam tiga bentuk, yaitu (لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ, li-kulli 'abdin muniibin) yang berarti "bagi setiap hamba yang kembali" di 50:8, bentuk jamak ini di 50:11, dan (لِلْعَبِيدِ, li-l-'abiidi) di 50:29. Bentuk persis li-l-'ibaadi muncul dua kali, yaitu di 40:31 dan 50:11. Di 40:31, (وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ, wa-maa llaahu yuriidu zhulman li-l-'ibaadi) yang berarti "dan Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba", kata itu berdiri tanpa sifat tambahan, sama seperti di 50:11. Hamba di 50:8 lain halnya, sebab diberi sifat (مُنِيبٍ, muniibin) yang berarti "yang kembali". Karena itu terjemahan 50:11 tidak menambahkan "yang beriman" atau "yang kembali" pada hamba-hamba.

Kata kerja (وَأَحْيَيْنَا, wa-ahyaynaa) yang berarti "dan Kami hidupkan" berakar ح-ي-ي, dan (بِهِ, bihi) yang berarti "dengannya" menunjuk air yang sama dengan bihi di 50:9. Rangkaian ahyaynaa bihi muncul dua kali, yaitu di 35:9 dan 50:11. Objeknya berlainan. Di 35:9, (فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا, fa-ahyaynaa bihi l-ardha ba'da mawtihaa) yang berarti "lalu dengannya Kami hidupkan bumi setelah matinya", sedangkan di 50:11 objeknya (بَلْدَةً مَيْتًا, baldatan maytan) yang berarti "negeri yang mati". Pasangan baldatan maytan muncul tiga kali, di 25:49, 43:11, dan 50:11, masing-masing dengan kata kerja yang lain: (لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا, li-nuhyiya bihi baldatan maytan) di 25:49 dan (فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا, fa-anasyarnaa bihi baldatan maytan) di 43:11. Dua ayat lain memakai pasangan yang berbeda bentuknya, yaitu (لِبَلَدٍ مَيِّتٍ, li-baladin mayyitin) di 7:57 dan (إِلَىٰ بَلَدٍ مَيِّتٍ, ilaa baladin mayyitin) di 35:9. Terjemahan memakai "negeri" dan "yang mati" untuk kelima ayat itu.

Kata (الْخُرُوجُ, l-khuruuju) berakar خ-ر-ج dan berarti "keluar" sebagai kata benda. Kata ini muncul lima kali di tiga surah, yaitu 9:46, 9:83, 40:11, 50:11, dan 50:42. Di 50:42, (ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ, dzaalika yawmu l-khuruuji) menyebut hari keluar, dan di 40:11, (فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ, fa-hal ilaa khuruujin min sabiilin) berarti "maka, adakah jalan untuk keluar". Terjemahan 50:11 memakai "keluarnya" sejajar dengan keduanya. Kata yang diterjemahkan "kebangkitan" di 35:9 adalah (النُّشُورُ, n-nusyuuru), kata Arab yang lain, sehingga "kebangkitan" tidak dipakai di sini.

Kata (كَذَٰلِكَ, ka-dzaalika) yang berarti "demikianlah" menutup penuturan tentang tanah mati yang dihidupkan di lima ayat, yaitu 7:57, 30:19, 35:9, 43:11, dan 50:11. Penutupnya berbeda-beda: (نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ, nukhriju l-mawtaa) yang berarti "Kami mengeluarkan orang-orang mati" di 7:57, (تُخْرَجُونَ, tukhrajuuna) yang berarti "kalian dikeluarkan" di 30:19 dan 43:11, n-nusyuuru di 35:9, dan l-khuruuju di 50:11.

Tafsiran

Ayat ini menyelesaikan kalimat yang dimulai di 50:9 dan tidak berdiri sendiri. Air yang diturunkan di 50:9 menumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian, 50:10 menambahkan pohon kurma, lalu 50:11 menyebut dua akibat dari air yang sama: rezeki bagi hamba-hamba dan negeri mati yang dihidupkan. Kata bihi muncul di 50:9 dan di 50:11 dan menunjuk air itu, sehingga seluruh rangkaian memiliki satu sumber. Semua kata kerja dari 50:9 sampai 50:11 berbentuk "Kami", yaitu nazzalnaa, anbatnaa, dan ahyaynaa, dan tidak ada kata kerja yang pelakunya manusia.

Kata penutup ayat ini menghubungkannya dengan 50:3. Di sana kaum yang menolak berkata, (أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا, a-idzaa mitnaa wa-kunnaa turaaban) yang berarti "apakah setelah kami mati dan menjadi tanah", lalu menyebutnya pengembalian yang jauh. Ayat 50:11 meletakkan sesuatu yang dapat diamati di hadapan ucapan itu: tanah mati yang sama menghasilkan taman dan biji-bijian sesudah air turun. Kata "mati" di 50:3 dan di 50:11 berakar sama, م-و-ت, sehingga kedua ayat memakai akar kata yang sama untuk mati. Kata ka-dzaalika menghubungkan keduanya sebagai perbandingan yang disebut terang-terangan, dan ayat ini tidak menguraikan bagaimana perbandingan itu berlaku.

Ayat ini juga tidak menyebut siapa yang keluar atau dari mana keluarnya. Pertanyaan itu dijawab di ayat lain: 30:19 dan 43:11 menaruh pembaca di dalam gambar lewat "kalian dikeluarkan", dan 50:42 menaruh keluar itu pada sebuah hari. Akar ح-ي-ي muncul dua kali di surah ini, yaitu di 50:11 untuk negeri yang mati dan di 50:43, (إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ, innaa nahnu nuhyii wa-numiitu) yang berarti "sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan dan mematikan". Di 50:43 kata kerja itu tidak disertai objek, sedangkan di 50:11 objeknya adalah negeri yang mati.

Renungan dan Hikmah

  • Rezeki di 50:11 dialamatkan kepada hamba-hamba tanpa sifat tambahan, sedangkan pelajaran di 50:8 dikaitkan dengan hamba yang kembali. Pembaca yang menerima hasil panen, gaji, atau sepiring makanan dapat memperhatikan bahwa ayat ini tidak memasang syarat apa pun pada penerimanya. Ayat 40:31 memakai (لِلْعِبَادِ, li-l-'ibaadi) dalam konteks lain, yaitu Allah tidak menghendaki kezaliman bagi hamba-hamba, sehingga kedua ayat itu tidak disamakan dan hanya menunjukkan bahwa kata ini berdiri tanpa sifat di dua tempat. Pembaca dapat menimbang ukuran yang selama ini dipakainya untuk menilai layak atau tidaknya menerima. Apakah ukuran itu tercantum di ayat ini?
  • Air di 50:9 menghasilkan dua hal yang berlainan jenisnya: sesuatu yang dimakan, yaitu rezeki, dan sesuatu yang hidup kembali, yaitu negeri yang mati. Keduanya muncul dalam rangkaian 50:9 sampai 50:11 dengan kata kerja yang berbeda, tetapi memakai (بِهِ, bihi) yang berarti "dengannya" pada keduanya. Pembaca yang menimbang hujan dari harga sayur dan beras di pasar memperhitungkan satu akibat saja, dan ayat ini menyebut akibat kedua, yaitu tanah yang tadinya mati. Bila langit mendung, akibat mana yang lebih dulu terbayang oleh pembaca? Di 30:50 yang menghidupkan bumi setelah matinya disebut dengan nama, yaitu Allah, dan di 41:39 air diturunkan oleh Kami sedangkan yang menghidupkan bumi disebut Dia.
  • Kaum yang menolak di 50:3 menyebut diri mereka tanah, dengan kata (تُرَابًا, turaaban), dan 50:11 menyebut negeri yang mati dengan akar م-و-ت yang sama dengan kata "mati" dalam ucapan mereka. Ucapan itu keluar dari mulut mereka sendiri, dan gambaran yang diletakkan di hadapannya terletak pada tanah yang sama, tidak di tempat yang jauh. Pembaca dapat mengingat tanah kering yang pernah dilihatnya menghijau setelah hujan, lalu bertanya apakah tanah itu pernah dipakainya sebagai alasan untuk menolak sesuatu, atau sebagai bahan berpikir.
  • Kata (الْخُرُوجُ, l-khuruuju) di 50:11 berupa kata benda tanpa pelaku, berbeda dari 30:19 dan 43:11 yang memakai (تُخْرَجُونَ, tukhrajuuna) yang berarti "kalian dikeluarkan". Pembaca yang hanya membaca 50:11 menonton gambar itu dari luar, seperti orang yang berdiri di tepi ladang dan melihat tunas muncul. Dua ayat lain menarik pembaca masuk ke dalam gambar itu sebagai salah satu yang dikeluarkan. Perbedaan itu menyisakan satu pertanyaan: ketika pembaca menyaksikan tunas muncul dari tanah, apakah rasanya seperti menyaksikan peristiwa orang lain atau peristiwa yang suatu hari berlaku pada dirinya sendiri?
  • Bentuk jamak hamba-hamba di 50:11 menaruh rezeki pada banyak orang sekaligus dan tidak menyebut satu nama pun. Ayat ini tidak membagi hamba-hamba menjadi petani dan pembeli, atau menjadi yang memberi dan yang menerima. Pembaca yang menyebut sebagian hasil bumi sebagai miliknya sendiri dapat bertanya bagaimana pembagian antara bagiannya dan bagian hamba-hamba lain terbaca dari ayat ini. Ayat ini tidak menyebut bagian apa pun, sehingga pertanyaan itu menunggu jawaban dari tempat lain. Di mana pembaca menaruh ukuran pembagian itu selama ini?
  • Kata kerja (وَنَزَّلْنَا, wa-nazzalnaa) dan (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) di 50:9 serta (وَأَحْيَيْنَا, wa-ahyaynaa) di 50:11 berpelaku "Kami" semuanya, dan kerja manusia tidak disebut di antaranya. Ayat-ayat itu tidak menyangkal kerja petani dan tidak pula membicarakannya. Pembaca yang merasa rezekinya sepenuhnya hasil kerjanya sendiri dapat membaca rangkaian itu sebagai gambar yang diambil dari sudut lain, yaitu sudut air yang turun, tunas yang tumbuh, dan tanah yang hidup. Di 7:57 rangkaian serupa dimulai dengan Dia yang mengirim angin sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya, lalu beralih ke Kami untuk menurunkan air dan mengeluarkan buah-buahan. Dari sudut itu, apa yang tersisa dari kalimat "ini hasil jerih payahku" bila air tidak turun?