أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ ۚ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ
Maka, apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Bahkan mereka dalam kekaburan tentang penciptaan yang baru.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِa-fa-'ayiinaa bi-l-khalqi l-awwalimaka, apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama
- بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍbal hum fii labsin min khalqin jadiidinbahkan mereka dalam kekaburan tentang penciptaan yang baru
Terjemahan per kata (10 kata)
- أَفَعَيِينَاa-fa-'ayiinaamaka apakah Kami letih
- بِالْخَلْقِbi-l-khalqidengan penciptaan
- الْأَوَّلِl-awwaliyang pertama
- بَلْbalbahkan
- هُمْhummereka
- فِيfiidalam
- لَبْسٍlabsinkekaburan
- مِنْmindari
- خَلْقٍkhalqinciptaan
- جَدِيدٍjadiidinyang baru
Inti bacaan
Bentuk (عَيِينَا, 'ayiinaa) berakar ع-ي-ي, dan akar itu muncul dua kali di Al-Qur'an (46:33, 50:15).
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَفَعَيِينَا, a-fa-'ayiinaa) yang berarti "maka, apakah Kami letih". Kata itu tersusun dari huruf tanya a, huruf fa yang berarti "maka", dan kata kerja (عَيِينَا, 'ayiinaa) yang berarti "Kami letih" dari akar ع-ي-ي. Pembuka a-fa- muncul dua kali di surah ini, yaitu (أَفَلَمْ يَنْظُرُوا, a-fa-lam yanzhuruu) yang berarti "maka, tidakkah mereka memperhatikan" di 50:6, dan a-fa-'ayiinaa di 50:15. Akar ع-ي-ي muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 46:33 dan 50:15. Di 46:33, (وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ, wa-lam ya'ya bi-khalqihinna) yang berarti "dan tidak merasa letih karena menciptakannya", kata kerja itu disusul huruf bi dan kata khalq, sama seperti di 50:15, (أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ, a-fa-'ayiinaa bi-l-khalqi).
Keletihan disebut dengan kata lain di dua ayat yang lain. Di 50:38, dua puluh tiga ayat sesudah ayat ini, (وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ, wa-maa massanaa min lughuubin) yang berarti "dan Kami tidak disentuh oleh kelelahan", memakai kata benda (لُغُوبٍ, lughuubin). Kata lughuub muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 35:35 dan 50:38. Terjemahan memakai "letih" untuk kata kerja ayiy dan "kelelahan" untuk lughuub, sehingga dua kata itu tidak tertukar.
Kata (الْخَلْقِ, l-khalqi) berakar خ-ل-ق, dan terjemahan memakai "penciptaan" di kedua bagian ayat ini, yaitu (بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ, bi-l-khalqi l-awwali) yang berarti "dengan penciptaan yang pertama" dan (مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ, min khalqin jadiidin) yang berarti "tentang penciptaan yang baru". Kata ayiy yang disusul bi-khalq berarti letih oleh perbuatan mencipta, sehingga khalq di sini adalah perbuatan dan bukan makhluk. Bentuk persis al-khalqi l-awwali ada di 50:15 saja, tetapi 21:104 memuat (أَوَّلَ خَلْقٍ, awwala khalqin) yang berarti "penciptaan pertama" dalam (كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ, ka-maa bada'naa awwala khalqin nu'iiduhu) yang berarti "sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama, Kami mengulanginya". Enam ayat lain memasangkan penciptaan dengan dua kata kerja, memulai dan mengembalikan, yaitu 10:4, 10:34, 27:64, 29:19, 30:11, dan 30:27, dengan bunyi seperti (يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ, yabda'u l-khalqa tsumma yu'iiduhu) yang berarti "memulai penciptaan, kemudian mengembalikannya". Ayat 50:15 memasangkan penciptaan dengan dua sifat, yaitu pertama dan baru.
Frasa khalq jadiid muncul delapan kali di tujuh surah, yaitu 13:5, 14:19, 17:49, 17:98, 32:10, 34:7, 35:16, dan 50:15, dengan akhiran yang berbeda di 17:49 dan 17:98. Lima di antaranya, 13:5, 17:49, 17:98, 32:10, dan 34:7, berada dalam ucapan orang-orang yang menolak, seperti (أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ, a-innaa la-fii khalqin jadiidin) yang berarti "apakah kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru" di 32:10. Dua ayat lainnya, 14:19 dan 35:16, memuatnya dalam pernyataan tentang kemampuan, (وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ, wa-ya'ti bi-khalqin jadiidin) yang berarti "dan mendatangkan makhluk yang baru". Di 50:15 frasa itu menjadi keterangan keadaan kaum yang menolak, dengan huruf min di depannya, dan huruf min itu tidak dipakai di tujuh ayat lain.
Kata (لَبْسٍ, labsin) berakar ل-ب-س dan terjemahan memakai "kekaburan". Kata benda ini ada di 50:15 saja. Akar yang sama dipakai sebagai kata kerja untuk mencampur dan mengaburkan, seperti (لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ, li-ma talbisuuna l-haqqa bi-l-baathili) yang berarti "mengapa kalian mencampuradukkan yang hak dengan yang batil" di 3:71 dan (وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَ, wa-la-labasnaa 'alayhim maa yalbisuuna) yang berarti "dan tentu Kami kaburkan atas mereka apa yang mereka kaburkan sendiri" di 6:9. Rangkaian (بَلْ هُمْ فِي, bal hum fii) muncul empat kali, yaitu di 27:66, 38:8, 44:9, dan 50:15. Tiga ayat pertama menyambungnya dengan (شَكٍّ, syakkin) yang berarti "keraguan", sedangkan 50:15 menyambungnya dengan labsin. Karena itu terjemahan memakai "kekaburan" dan tidak memakai "keraguan", supaya syakk dan labs tetap dua kata.
Kata (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan" membuka tiga ayat di surah ini, yaitu 50:2, 50:5, dan 50:15. Tanda tanya di tengah terjemahan menandai akhir pertanyaan, dan kata bal memulai kalimat kedua tentang keadaan kaum yang diajak bicara.
Tafsiran
Ayat ini kembali ke persoalan yang dibuka di 50:3. Di sana kaum yang menolak berkata bahwa setelah mati dan menjadi tanah, kembali adalah hal yang jauh. Sesudah itu 50:4 menyatakan bahwa apa yang dimakan bumi dari mereka sudah diketahui, 50:6 sampai 50:11 mengajak memperhatikan langit, bumi, dan air, dan 50:12 sampai 50:14 menyebut kaum-kaum terdahulu. Ayat 50:15 mengambil persoalan yang sama dan menamainya lain. Di 50:3 persoalannya disebut raj'un, yaitu pengembalian, dan di 50:15 disebut khalqun jadiidun, yaitu penciptaan yang baru.
Ayat ini terdiri atas dua kalimat dengan dua sasaran. Kalimat pertama berupa pertanyaan, dengan Allah sebagai pembicara dan keletihan sebagai hal yang diuji. Kalimat kedua, yang dibuka kata bal, berbalik ke kaum yang diajak bicara surah ini dan menyebut keadaan mereka. Pertanyaan itu menyebut penciptaan yang pertama sebagai sesuatu yang sudah terjadi. Ayat ini tidak menyatakan apakah kaum itu mengakui penciptaan pertama. Kekaburan mereka disebut pada penciptaan yang baru.
Keadaan kaum itu sudah digambarkan satu kali di surah ini, yaitu di 50:5, (فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ, fa-hum fii amrin mariijin) yang berarti "maka mereka dalam keadaan kacau balau". Ayat 50:15 menggambarkannya sekali lagi dengan kata lain, labs. Kedua ayat memakai susunan yang sama, huruf fii disusul kata benda tak tentu, dan keduanya menyebut keadaan yang tidak jernih, tetapi 50:5 memakai kata sifat mariij dan 50:15 memakai kata benda labs. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa keduanya sama.
Kata khalq di ayat ini berlanjut ke ayat berikutnya. Ayat 50:16 membuka dengan (وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ, wa-la-qad khalaqnaa l-insaana) yang berarti "sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia", yaitu kata kerja khalq lagi. Akar خ-ل-ق muncul di surah ini empat kali, yaitu dua kali di 50:15, sekali di 50:16, dan sekali di 50:38, dan ayat terakhir itu yang memuat jawaban atas pertanyaan di 50:15.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan "apakah Kami letih" menaruh keletihan, sebuah pengalaman manusia, di meja untuk diuji, lalu menanyakan apakah keletihan itu berlaku pada penciptaan. Pembaca yang menaksir kemungkinan sesuatu dengan ukuran tenaganya sendiri cenderung menjawab pertanyaan itu dengan ukuran yang sama, yaitu dengan mengingat betapa cepat tubuhnya letih. Pembaca dapat mencoba menjawab tanpa memakai ukuran itu, sedangkan ayat ini tidak menyebut jawabannya. Di 46:33 Allah disebut sebagai yang menciptakan langit dan bumi serta tidak merasa letih karena menciptakannya. Seberapa jauh ukuran keletihan pribadi dipakai pembaca untuk menimbang hal-hal yang jauh melampaui tenaganya?
- Ayat ini memakai kata labs, yang berarti kekaburan, dan tidak memakai kata syakk, yang berarti keraguan, padahal tiga ayat lain memakai susunan yang sama dengan syakk. Pembaca yang menyebut sikapnya terhadap sebuah hal besar sebagai keraguan dapat memeriksa apakah itu keraguan karena bukti belum ada, atau kekaburan karena bukti yang ada tercampur dengan hal lain, seperti dugaan, kebiasaan, atau ketakutan. Kata kerja dari akar yang sama dipakai untuk mencampur kebenaran dengan kebatilan di 3:71. Dari mana kekaburan pembaca berasal, dari kurangnya bahan atau dari campurannya?
- Ayat ini menaruh dua hal berdampingan, penciptaan yang pertama yang telah terjadi dan penciptaan yang baru yang belum terjadi, dan menyebut kekaburan pada yang kedua. Pembaca yang mudah menerima apa yang sudah terlihat dan sulit menerima apa yang belum terlihat dapat menyadari bahwa ayat ini membaca kedua hal itu dengan kata yang sama, yaitu penciptaan. Perbedaannya terletak pada waktu, dan ayat tidak menyatakan adanya perbedaan lain. Di 29:19 Allah memulai penciptaan lalu mengembalikannya dalam satu kalimat, dan di 29:20 yang menumbuhkan kejadian yang akhir juga disebut Allah. Bila waktu dikesampingkan, apa yang masih membedakan keduanya di mata pembaca?
- Kaum yang diajak bicara digambarkan dua kali dengan susunan yang sama: di 50:5 sebagai kacau balau, mariij, dan di 50:15 sebagai kabur, labs. Keduanya memakai huruf (فِي, fii) yang menempatkan mereka di dalam sebuah keadaan. Pembaca dapat bertanya apakah keadaan pikirannya sendiri lebih mirip yang kacau atau yang kabur ketika memikirkan akhir hidupnya. Mana di antara kedua gambaran itu yang lebih dekat dengan keadaan pikiran pembaca?
- Tiga ayat sebelum 50:15 menyebut kaum-kaum yang ancamannya telah berlaku, dan ayat ini beralih ke penciptaan yang pertama dan yang baru, yaitu ke permulaan. Pembaca yang sedang merenungkan akhir sesuatu, misalnya akhir sebuah kaum atau akhir hidupnya sendiri, diberi pertanyaan tentang awalnya dalam ayat yang langsung menyusul. Ayat-ayat itu tidak menjelaskan hubungan di antara keduanya. Di 10:4 pembicaraan tentang tempat kembali kepada-Nya disusul langsung oleh Dia yang memulai penciptaan, kemudian mengembalikannya. Apakah pembaca terbiasa memikirkan akhir tanpa pernah menanyakan bagaimana awalnya terjadi?
- Pertanyaan di 50:15 tidak dijawab di ayat yang sama, dan jawabannya dengan kata lughuub baru ada di 50:38, dua puluh tiga ayat kemudian. Pembaca yang memegang sebuah pertanyaan selama dua puluh tiga ayat membawanya melewati ayat tentang kedekatan, dua pencatat, dan sakratulmaut. Selama itu pertanyaannya tetap terbuka. Apa yang dilakukan pembaca dengan pertanyaan yang belum dijawab, menutupnya dengan jawabannya sendiri atau membiarkannya sampai jawaban itu datang?