وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakratulmaut dengan benar; itu yang dahulu engkau hindari.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّwa-jaa'at sakratu l-mawti bi-l-haqqidan datanglah sakratulmaut dengan benar
  2. ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُdzaalika maa kunta minhu tahiiduitu yang dahulu engkau hindari

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَجَاءَتْwa-jaa'atdan datang
  2. سَكْرَةُsakratusakratul
  3. الْمَوْتِl-mawtikematian
  4. بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
  5. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  6. مَاmaaapa yang
  7. كُنْتَkuntaengkau adalah
  8. مِنْهُminhudarinya
  9. تَحِيدُtahiidumenghindar

Inti bacaan

Bentuk tahiidu tercatat satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 50:19.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ, wa-jaa'at sakratu l-mawti) yang berarti "dan datanglah sakratulmaut". Kata (وَجَاءَتْ, wa-jaa'at) adalah kata kerja bentuk selesai untuk pelaku perempuan, mengikuti (سَكْرَةُ, sakratu). Kata wa-jaa'at tanpa akhiran kata ganti ada di tiga ayat, yaitu 12:19, 50:19, dan 50:21. Dua di antaranya berada di surah ini, karena 50:21 dibuka dengan (وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ, wa-jaa'at kullu nafsin) yang berarti "dan datanglah setiap jiwa". Kedua kedatangan itu dibuka dengan kata yang sama, dan di antaranya ada peniupan sangkakala di 50:20.

Kata (سَكْرَةُ, sakratu) berakar س-ك-ر. Bentuk ini ada di dua ayat, yaitu (لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ, la-fii sakratihim ya'mahuuna) di 15:72 yang berarti "terombang-ambing dalam kemabukan mereka", dan 50:19. Akar yang sama dipakai di 22:2, (وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ, wa-taraa n-naasa sukaaraa wa-maa hum bi-sukaaraa) yang berarti "dan engkau melihat manusia mabuk padahal mereka tidak mabuk". Di 15:72 dan 22:2 akar ini menunjuk keadaan kesadaran yang kabur dan terlihat dari orang yang mengalaminya, yaitu terombang-ambing di 15:72 dan tampak mabuk di 22:2. Di 15:72 keadaan itu dialami orang yang masih hidup. Karena itu "sakratulmaut" dapat dibaca sebagai kemabukan yang datang bersama kematian, dan terjemahan mempertahankan kata serapan itu sebagai satu kata Indonesia.

Kata (الْحَقِّ, l-haqqi) berakar ح-ق-ق, dan susunan dengan awalan bi- ada di 75 ayat dalam 34 surah. Di surah ini susunan itu ada tiga kali, yaitu 50:5, 50:19, dan 50:42. Di 50:5, (بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ, bal kadzdzabuu bi-l-haqqi lammaa jaa'ahum) berarti "bahkan mereka mendustakan kebenaran ketika ia datang kepada mereka", sehingga kebenaran di sana adalah sesuatu yang didustakan dan yang datang. Di 50:42, (يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ, yawma yasma'uuna sh-shayhata bi-l-haqqi) berarti "pada hari mereka mendengar suara menggelegar dengan benar". Di 37:37, (بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ, bal jaa'a bi-l-haqqi) berarti "bahkan, ia datang dengan kebenaran". Terjemahan 50:19 memakai "dengan benar". Apa yang dimaksud benar itu tidak diperinci di 50:19.

Kata ganti penunjuk (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu" muncul di tujuh ayat surah ini, yaitu 50:3, 50:19, 50:20, 50:34, 50:37, 50:42, dan 50:44. Di 50:3 kata itu diucapkan orang-orang yang menolak, (ذَٰلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ, dzaalika raj'un ba'iidun) yang berarti "itu pengembalian yang jauh". Di 50:19, (ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ, dzaalika maa kunta minhu tahiidu) yang berarti "itu yang dahulu engkau hindari", kata yang sama menunjuk hal yang sudah datang. Ayat ini tidak menyatakan apa yang ditunjuk, apakah sakratulmaut, kematian, atau seluruh kejadian itu. Terjemahan mengikuti kata penunjuk Arabnya dan tidak memilih salah satu.

Kata kerja (تَحِيدُ, tahiidu) berakar ح-ي-د dan ada di 50:19 saja, sehingga artinya tidak dapat diuji dengan ayat lain. Terjemahan "hindari" bersandar pada susunan (مِنْهُ تَحِيدُ, minhu tahiidu), yaitu kata kerja yang disusul "darinya" seperti pada kata kerja lari di ayat yang disebut berikut. Kontras dengan akar lain yang dipakai Al-Qur'an untuk kematian terlihat di 62:8, (الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ, l-mawta lladzii tafirruuna minhu) yang berarti "kematian yang kalian lari darinya", dan di 33:16, (إِنْ فَرَرْتُمْ مِنَ الْمَوْتِ, in farartum mina l-mawti) yang berarti "jika kalian lari dari kematian". Akar ف-ر-ر diterjemahkan "lari" di dua ayat itu, sehingga akar ح-ي-د mendapat padanan yang berbeda, "hindari". Kata (كُنْتَ, kunta) berarti "engkau adalah" dalam bentuk selesai, dan terjemahan memakai "dahulu" untuk menyatakan bahwa penghindaran itu terjadi sebelum sakratulmaut datang.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan perhatian dari ucapan sehari-hari di 50:18 ke peristiwa yang mengakhirinya. Tiga ayat sebelumnya menyebut manusia dalam kata ganti orang ketiga, yaitu bisikan dirinya, ucapannya, dan pengawas di sisinya. Di 50:19 muncul kata engkau, (كُنْتَ, kunta), sedangkan ayat 50:1 sampai 50:18 tidak memuat satu pun kata ganti orang kedua. Ayat tidak menyebut siapa yang berbicara kepada siapa, dan terjemahan tidak memakai tanda kutip. Sapaan itu kemudian berlanjut di 50:22, (لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا, la-qad kunta fii ghaflatin min haadzaa) yang berarti "sungguh, engkau dahulu benar-benar lalai tentang ini".

Ayat ini juga bersambut dengan 50:5. Di 50:5 kebenaran didustakan ketika ia datang, dan di 50:19 sakratulmaut datang bersama kebenaran. Dua ayat itu memakai kata kerja datang dan kata kebenaran, tetapi keduanya tidak saling menunjuk, dan 50:5 tidak menyatakan bahwa kebenaran yang didustakan itu berupa sakratulmaut. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata kerja datang dan kata kebenaran muncul bersama di 50:5 dan 50:19, dengan pelaku yang berbeda di tiap ayat.

Pembaca juga melihat perubahan kata penunjuk. Di 50:19 dan 50:20 hal yang datang disebut dengan kata itu, (ذَٰلِكَ, dzaalika), seperti kata yang dipakai orang-orang yang menolak di 50:3. Di 50:22 hal yang dilalaikan disebut dengan kata ini, (هَٰذَا, haadzaa). Perubahan dari itu ke ini dapat dibaca sebagai hal yang tadinya jauh menjadi dekat, tetapi ayat tidak menyatakan bahwa keduanya menunjuk hal yang sama.

Kematian datang di 50:19, sangkakala ditiup di 50:20, dan setiap jiwa datang di 50:21. Urutan itu tertulis dalam teks. Hubungan waktu di antaranya, termasuk seberapa lama jarak antara satu dan lainnya, tidak disebut.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja menghindar di 50:19 berbentuk sedang berlangsung dan didahului kata dahulu, sehingga terjemahan membacanya sebagai kebiasaan dan tidak sebagai satu kali lari. Di 62:8 kematian yang mereka lari darinya pasti menemui mereka, lalu mereka dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan Dia memberitakan apa yang mereka kerjakan. Di 33:16 lari itu disebut tidak berguna. Dua ayat itu memakai akar kata yang berbeda dari 50:19 dan tidak disamakan dengannya. Seseorang dapat memperhatikan pembicaraan mana dalam hidupnya yang selalu dialihkan ketika menyentuh kematian. Apa yang terjadi pada pembicaraan itu selama bertahun-tahun ketika terus dialihkan?
  • Ayat 4:78 menyebut bahwa di mana pun kalian berada kematian akan menyusul kalian, meskipun kalian berada di benteng yang kokoh. Ayat itu berbicara kepada orang banyak dan 50:19 kepada satu engkau, sehingga keduanya tidak dijadikan satu pernyataan. Kata benteng di 4:78 dapat dibaca sebagai gambaran usaha menjauhkan kematian. Ayat 50:19 menyebut apa yang dilakukan sebelum sakratulmaut datang, yaitu menghindar, dan tidak menyebut apa yang dibangun. Benteng macam apa yang pernah dikira cukup tinggi, rumah, simpanan, atau sesuatu yang lain?
  • Di 63:10 orang yang didatangi kematian berkata, (رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ, rabbi lawlaa akhkhartanii ilaa ajalin qariibin) yang berarti "Tuhanku, sekiranya Engkau menunda aku sampai waktu yang dekat", lalu orang itu menyebut sedekah yang akan diberikannya. Di 16:61 Allah menangguhkan manusia sampai waktu yang ditentukan, dan ketika ajal datang mereka tidak dapat menundanya sesaat pun. Di 50:19 tidak ada ucapan manusia yang dikutip ketika sakratulmaut datang, dan teksnya memuat kata dahulu tentang apa yang dihindari. Ketiga ayat itu berbeda konteksnya dan tidak disamakan. Pekerjaan apa yang selama ini ditunda dengan alasan masih ada waktu yang dekat?
  • Kata al-haqq dipakai di 24:25 untuk menyebut Allah, (اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ, llaaha huwa l-haqqu l-mubiinu) yang berarti "Allah, Dialah Yang Benar, Yang Nyata". Di 50:5 kata yang sama dipakai untuk sesuatu yang didustakan, dan di 50:19 sakratulmaut datang dengan kata itu. Tiga pemakaian ini berada di tiga ayat yang berbeda, dan 50:19 tidak menyatakan yang mana yang dimaksud. Pembaca dapat memperhatikan bahwa satu kata yang sama punya tiga pemakaian, dan bahwa memilih satu di antaranya untuk 50:19 berarti membaca lebih dari yang tertulis. Hal apa yang selama ini dianggap benar karena belum ada yang membantah?
  • Di 50:19 dan 50:20 kata penunjuknya itu, dan di 50:22 kata penunjuknya ini, dalam kalimat yang menyapa engkau. Dalam bahasa sehari-hari kata itu dipakai untuk hal yang jauh, dan kata ini untuk hal yang dekat. Tidak ada ayat yang menyatakan bahwa 50:19 dan 50:22 menunjuk hal yang sama, tetapi urutan kata penunjuk itu dapat dibaca sebagai jarak yang menyusut. Seseorang yang biasa menyebut kematian dengan kata itu, misalnya dalam obrolan tentang orang lain, dapat memperhatikan kapan kata itu berganti menjadi ini. Apa yang berubah dalam isi percakapan ketika kata penunjuknya berganti?
  • Kata engkau di 50:19 tidak diikuti nama, dan ayat 50:1 sampai 50:18 tidak memuat sapaan kepada orang kedua. Sapaan itu muncul sesudah tiga ayat yang berbicara tentang manusia dalam kata ganti orang ketiga. Ayat 3:185 menyebut bahwa setiap diri akan merasakan mati. Pembaca dapat memilih membaca engkau di 50:19 sebagai dirinya sendiri, dengan catatan bahwa teks tidak mengatakannya dan bahwa 3:185 berbicara tentang setiap diri dalam kalimat yang berbeda. Ketika kata engkau dibaca tanpa nama, siapa yang pertama kali terbayang di benak pembaca?