لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

Sungguh, engkau dahulu benar-benar lalai tentang ini, maka Kami singkapkan penutupmu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَاla-qad kunta fii ghaflatin min haadzaasungguh, engkau dahulu benar-benar lalai tentang ini
  2. فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَfa-kasyafnaa 'anka ghithaa'akamaka, Kami singkapkan penutupmu
  3. فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌfa-basharuka l-yawma hadiidunsehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. لَقَدْla-qadsungguh
  2. كُنْتَkuntaengkau adalah
  3. فِيfiidalam
  4. غَفْلَةٍghaflatinkelalaian
  5. مِنْmindari
  6. هَٰذَاhaadzaaini
  7. فَكَشَفْنَاfa-kasyafnaamaka Kami menyingkap
  8. عَنْكَ'ankadarimu
  9. غِطَاءَكَghithaa'akatutupmu
  10. فَبَصَرُكَfa-basharukamaka penglihatanmu
  11. الْيَوْمَl-yawmahari ini
  12. حَدِيدٌhadiiduntajam

Inti bacaan

Kata ghithaa' hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 18:101 dan 50:22, dan rangkaian fii ghaflatin min haadzaa hanya ada di 21:97 dan 50:22.

Penjelasan pilihan kata

Kalimat ini dibuka dengan (لَقَدْ كُنْتَ, la-qad kunta) yang berarti "sungguh, engkau dahulu". Bagian la- adalah huruf penegas, qad menegaskan lagi, dan kunta adalah kata kerja lampau untuk satu lawan bicara laki-laki. Rangkaian la-qad kunta muncul di 50:22 saja. Kata kunta yang sama sudah dipakai di 50:19, (ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ, dzaalika maa kunta minhu tahiidu) yang memuat kata kunta yang sama, sehingga sapaan "engkau dahulu" muncul di 50:19 dan 50:22, dua ayat yang dipisahkan oleh 50:20 dan 50:21. Terjemahan menuangkan dua penegas itu menjadi "sungguh" dan "benar-benar".

Kata (غَفْلَةٍ, ghaflatin) yang berarti "kelalaian" berakar غ-ف-ل dan muncul dalam bentuk ini di lima ayat: 19:39, 21:1, 21:97, 28:15, dan 50:22. Rangkaian (فِي غَفْلَةٍ, fii ghaflatin) yang berarti "dalam kelalaian" ada di empat ayat, yaitu 19:39, 21:1, 21:97, dan 50:22. Di 19:39 dan 21:1 bunyinya (وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ, wa-hum fii ghaflatin) yang berarti "sedang mereka dalam kelalaian", sebuah keadaan yang sedang berlangsung dan dikatakan tentang pihak ketiga. Di 21:97 dan 50:22 kelalaian itu sudah lampau, dan kata kerjanya kana: (قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا, qad kunnaa fii ghaflatin min haadzaa) di 21:97 berarti "kami dahulu dalam kelalaian tentang ini", diucapkan oleh orang-orang yang kufur, sedangkan di 50:22 sapaannya "engkau dahulu". Rangkaian lengkap fii ghaflatin min haadzaa hanya ada di dua ayat itu. Di 21:97 sesudahnya disambung pengakuan bahwa mereka orang-orang zalim, dan di 50:22 sambungan itu tidak ada.

Kata tunjuk (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini" menunjuk sesuatu yang dekat. Di antara 50:19 dan 50:23, kata tunjuk jauh dzaalika muncul dua kali, di 50:19 dan 50:20, yaitu (ذَٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ, dzaalika yawmu l-wa'iidi) yang menunjuk hari yang diancamkan. Kata tunjuk dekat haadzaa muncul dua kali sesudahnya, di 50:22 dan 50:23. Urutannya berpindah dari "itu" ke "ini", dan perpindahan itu dapat dibaca sebagai peristiwa yang tadinya jauh kini sampai. Ayat 50:22 tidak menamai apa yang ditunjuk haadzaa, dan terjemahan memakai "ini" tanpa kata benda, sehingga tambahan seperti "peristiwa" tidak dipakai karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.

Kata (فَكَشَفْنَا, fa-kasyafnaa) yang berarti "maka Kami singkapkan" tersusun dari fa yang berarti "maka", kata kerja kasyafa, dan -naa yang berarti "Kami". Pelaku penyingkapan ditulis dengan kata ganti pertama jamak, jadi penyingkap itu bukan orang yang disapa. Bentuk fa-kasyafnaa muncul dua kali, di 21:84 dan 50:22. Di 21:84, (فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ, fa-kasyafnaa maa bihi min dhurrin) berarti "lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya". Akar ك-ش-ف muncul 20 kali, dan terjemahan memilih kata menurut objeknya: "menyingkap" bila yang dilepas adalah penutup atau bagian tubuh dan kata kerjanya diikuti an, seperti di 27:44, (وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا, wa-kasyafat 'an saaqayhaa) yang berarti "dan ia menyingkapkan kedua betisnya", serta di 68:42, (يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ, yawma yuksyafu 'an saaqin) yang berarti "pada hari betis disingkapkan". Bahaya yang dilepas diterjemahkan "menghilangkan" atau "melenyapkan" di belasan ayat, antara lain 6:17, 10:12, dan 21:84. Di 50:22 yang dilepas adalah penutup, sehingga terjemahan memakai "menyingkap".

Kata (غِطَاءَكَ, ghithaa'aka) yang berarti "penutupmu" tersusun dari ghithaa' yang berarti "penutup" dan -ka yang berarti "-mu". Kata ghithaa' hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 18:101 dan 50:22. Di 18:101, (أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ, a'yunuhum fii ghithaa'in) berarti "mata mereka dalam keadaan tertutup", dan kata Arab untuk mata, a'yun, tertulis tersendiri. Di 50:22 kata untuk mata tidak ada dalam frasa penutup itu. Terjemahan karena itu memakai "penutupmu" tanpa menambahkan "mata", dan hubungan penutup itu dengan penglihatan terbaca dari bagian kalimat sesudahnya. Dua ayat lain memakai kata penutup yang berbeda untuk penglihatan, yaitu (غِشَاوَةٌ, ghisyaawatun) di 2:7, (وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ, wa-'alaa abshaarihim ghisyaawatun) yang berarti "dan pada penglihatan mereka ada penutup", serta di 45:23.

Kata (فَبَصَرُكَ, fa-basharuka) yang berarti "sehingga penglihatanmu" tersusun dari fa, basharu "penglihatan", dan -ka "-mu". Bentuk basharu sebagai pokok kalimat muncul di empat ayat, dan tiap ayat menyebut keadaannya. Di 50:22 penglihatan itu tajam. Di 53:17, (مَا زَاغَ الْبَصَرُ, maa zaagha l-basharu) berarti "penglihatannya tidak menyimpang". Di 67:4, (يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ, yanqalib ilayka l-basharu) berarti "pandanganmu kembali kepadamu", dengan keadaan kecewa dan letih. Di 75:7, (فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ, fa-idzaa bariqa l-basharu) berarti "apabila mata terbelalak". Kata (الْيَوْمَ, al-yawma) yang berarti "hari ini" mengikat keadaan itu pada saat ayat diucapkan.

Kata (حَدِيدٌ, hadiidun) yang berarti "tajam" berakar ح-د-د. Bentuk dasarnya muncul enam kali. Lima ayat memakainya untuk besi, yaitu 17:50, 18:96, 22:21, 34:10, dan 57:25, misalnya (وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ, wa-anzalnaa l-hadiida) yang berarti "dan Kami menurunkan besi". Satu ayat sisanya adalah 50:22. Bentuk jamak dari akar yang sama dipakai untuk lidah di 33:19, (بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ, bi-alsinatin hidaadin) yang berarti "dengan lidah yang tajam". Terjemahan "tajam" di 50:22 bertumpu pada 33:19 dan pada pokok kalimatnya, penglihatan, yang tidak cocok disebut "besi".

Tafsiran

Ayat ini kembali ke sapaan langsung sesudah dua ayat yang berbicara tentang peristiwa dan tentang setiap jiwa. Ayat 50:19 menyapa dengan kunta, lalu 50:20 dan 50:21 tidak menyapa siapa pun, dan 50:22 menyapa lewat empat kata sekaligus: kunta, anka, ghithaa'aka, dan basharuka, yang semuanya memuat tanda "engkau" atau "-mu". Seluruh ayat ini terarah kepada satu lawan bicara.

Isi ayat ini tersusun dalam tiga langkah menurut waktunya. Langkah pertama berada di masa lampau, yaitu kelalaian yang dinyatakan dengan kunta. Langkah kedua adalah tindakan oleh pelaku yang menyebut diri "Kami", yaitu menyingkap penutup. Langkah ketiga berada di masa kini, yaitu penglihatan yang tajam pada al-yawma. Urutan lampau, tindakan, lalu kini menempatkan penyingkapan sebagai titik balik, dengan orang yang disapa berada di kedua ujungnya: lalai di ujung pertama dan tajam penglihatannya di ujung ketiga.

Hubungan dengan 21:97 membantu menempatkan ayat ini. Kalimat serupa di 21:97 adalah ucapan orang-orang yang kufur sendiri ketika janji yang benar telah dekat, yaitu kami dahulu dalam kelalaian tentang ini. Di 50:22 kalimat itu datang dari pihak lain kepada yang disapa, yaitu engkau dahulu dalam kelalaian tentang ini, tanpa kutipan pengakuan. Kedua ayat tidak menyatakan bahwa pihak yang dimaksud sama, dan 50:22 tidak menyebut siapa yang disapa dengan kunta. Ayat 50:22 juga tidak menambahkan penilaian seperti di 21:97, tempat sesudah kelalaian ada pengakuan zalim: kelalaian di sini disebut apa adanya, bersama penyingkapan yang menyusulnya.

Ayat ini terletak di antara dua ayat yang memakai kata tunjuk berbeda. Ayat 50:19 dan 50:20 memakai dzaalika yang jauh, dan 50:22 serta 50:23 memakai haadzaa yang dekat. Sesudah 50:22, ayat 50:23 membuka kutipan ucapan pertama sejak 50:2, yaitu teman yang menyertai berkata bahwa sesuatu ada padanya. Penyingkapan penutup di 50:22 dengan demikian berada tepat sebelum ucapan itu, dan kata tunjuk dekat di kedua ayat menunjuk ke sesuatu yang kini berada dekat.

Ayat ini menahan beberapa keterangan. Yang dilihat dengan penglihatan tajam itu tidak disebut, dan lama kelalaian maupun sebabnya tidak disebut. Tidak ada kata yang mengatakan bahwa penutup itu ada pada semua orang. Sapaan hanya ditujukan kepada satu lawan bicara laki-laki yang tidak diberi nama.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 50:22 menyebut penutup yang disingkapkan lalu penglihatan yang tajam, tanpa menyebut mata pada penutupnya. Ayat 18:101 menyebut mata dalam penutup, dan 2:7 menyebut Allah telah mengunci hati dan pendengaran, sementara pada penglihatan ada penutup. Dua kata berbeda dipakai untuk penutup, yaitu ghithaa' di 18:101 dan 50:22 serta ghisyaawah di 2:7, dan ketiga ayat itu tidak disamakan. Di ketiganya penutup dikaitkan dengan penglihatan. Ayat 50:22 menunjukkan bahwa penutup semacam itu dapat disingkapkan, sedangkan 18:101 dan 2:7 tidak menyebut penyingkapan. Pembaca dapat menimbang apa dalam hidupnya yang terasa seperti penutup, dan apa yang mungkin masih bekerja dengan baik di bawahnya. Apakah penutup itu sudah pernah dicurigai keberadaannya?
  • Ayat 19:39 dan 21:1 menyebut kelalaian dengan bentuk sedang berlangsung dan tentang orang lain: sedang mereka dalam kelalaian. Ayat 50:22 menyebutnya dengan bentuk lampau dan kepada orang yang disapa: engkau dahulu dalam kelalaian. Kelalaian terbaca dari dua tempat berdiri, yaitu dari luar ketika orang masih di dalamnya, dan dari sesudah, ketika orang itu sudah keluar. Seseorang yang membaca ketiga ayat itu dapat menimbang kalimat mana yang lebih sering diucapkannya tentang orang lain, dan kalimat mana yang akan diucapkan kepadanya. Dalam hal apa hari ini seseorang memakai kata sedang untuk orang lain tetapi kata dahulu untuk dirinya sendiri?
  • Pelaku penyingkapan di 50:22 ditulis Kami, bukan orang yang disapa. Akar yang sama dipakai di 6:17: jika Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Objek di dua ayat itu berbeda, yaitu penutup dan kemudaratan, sehingga keduanya tidak disamakan, tetapi pelaku yang melepaskan dalam kedua ayat itu berada di luar orang yang dikenai. Pembaca dapat menanyakan apa dalam dirinya yang dianggap dapat disingkap sendiri, dan apa yang tidak pernah tersingkap kecuali ada yang menyingkapkannya. Bagian mana dari kelalaian seseorang yang sudah disadari sebelum ada yang menyingkapnya?
  • Kata hadiidun, "tajam", di 50:22 menyifati penglihatan, dan bentuk jamak dari akar yang sama di 33:19 menyifati lidah orang-orang yang mencaci setelah rasa takut hilang. Ayat 33:19 itu sendiri menyebut orang-orang itu tidak beriman dan Allah menghapus amal mereka, dan keadaan itu tidak dibawa ke 50:22. Dua anggota tubuh yang berlainan sama-sama disebut tajam, dan arah ketajamannya berbeda: lidah mengarah kepada orang lain, penglihatan mengarah kepada apa yang dilihat. Kedua ayat itu berbicara tentang hal berbeda dan tidak saling menafsirkan. Seseorang dapat memperhatikan mana yang lebih sering ditajamkannya dalam sehari, lidahnya atau pandangannya, dan terhadap siapa.
  • Kata al-yawma, "hari ini", di 50:22 mengikat ketajaman penglihatan pada saat ayat diucapkan. Ayat 40:17 memakai kata yang sama dua kali: pada hari ini setiap jiwa dibalas dengan apa yang telah dikerjakannya, tidak ada kezaliman pada hari ini, dan Allah cepat perhitungan-Nya. Di dua ayat itu hari ini menjadi tempat sesuatu berubah, yang satu penglihatan dan yang lain balasan. Ayat 40:17 berbicara tentang perhitungan dan 50:22 tentang penglihatan, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat menimbang bahwa ketajaman penglihatan di 50:22 datang sesudah penutupnya disingkapkan, bukan sebelumnya. Apa yang akan paling dulu tampak jelas pada hari seperti itu?
  • Di 21:97 kalimat kami dahulu dalam kelalaian tentang ini disusul pengakuan bahwa mereka orang-orang zalim. Di 50:22 kalimat engkau dahulu dalam kelalaian tentang ini berhenti pada kelalaian, lalu langsung beralih ke penyingkapan. Orang yang disapa tidak diminta menjawab, dan jawabannya tidak dikutip. Ayat 21:97 memberi giliran bicara kepada orang yang lalai, sedangkan 50:22 tidak mengutip ucapan orang yang disapa dan terjemahannya tidak menambahkan ucapan itu. Pengakuan di 21:97 keluar dari mulut yang lalai sendiri, dan penyebutan kelalaian di 50:22 datang dari pihak lain. Seandainya diberi giliran bicara, kalimat pertama apa yang akan diucapkan seseorang di hadapan kalimat semacam itu?