مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ

yang sangat menghalangi kebaikan, melampaui batas, lagi meragukan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍmannaa'in li-l-khayri mu'tadin muriibinyang sangat menghalangi kebaikan, melampaui batas, lagi meragukan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. مَنَّاعٍmannaa'inyang sangat menghalangi
  2. لِلْخَيْرِli-l-khayrikepada kebaikan
  3. مُعْتَدٍmu'tadinyang melampaui batas
  4. مُرِيبٍmuriibinyang meragukan

Inti bacaan

Baris mannaa'in li-l-khayri hanya tercatat di 50:25 dan 68:12, sedangkan muriibin tercatat di tujuh ayat dan akar م-ن-ع di tujuh belas ayat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini melanjutkan kutipan dari 50:24 dan masih terbuka sampai 50:26. Kata pertamanya, (مَنَّاعٍ, mannaa'in) yang berarti "yang sangat menghalangi", memiliki huruf tengah yang digandakan sehingga maknanya menguat. Pola yang sama ada pada (كَفَّارٍ, kaffaarin) di 50:24 dan pada tiga sifat di 68:10 dan 68:11, yaitu (حَلَّافٍ, hallaafin), (هَمَّازٍ, hammaazin), dan (مَشَّاءٍ, masysyaa'in). Rangkaian (مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ, mannaa'in li-l-khayri) yang berarti "yang sangat menghalangi kebaikan" ada di dua ayat, yaitu 50:25 dan 68:12. Baris di 68:12 berbunyi (مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ, mannaa'in li-l-khayri mu'tadin atsiimin) yang berarti "yang sangat menghalangi kebaikan, melampaui batas, lagi bergelimang dosa".

Akar م-ن-ع ada di 17 ayat. Bentuk kata kerja lampaunya ada di tujuh ayat, yaitu 7:12, 9:54, 17:59, 17:94, 18:55, 20:92, dan 38:75. Di 7:12, (مَا مَنَعَكَ, maa mana'aka) berarti "apa yang menghalangimu", dan di 17:94, (وَمَا مَنَعَ النَّاسَ, wa-maa mana'a n-naasa) berarti "dan tidak ada yang menghalangi manusia". Terjemahan 50:25 memakai "menghalangi" mengikuti dua ayat itu, dan menambah "sangat" untuk huruf yang digandakan. Di 70:21, akar yang sama muncul sebagai sifat dalam (وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا, wa-idzaa massahu l-khayru manuu'an) yang berarti "dan apabila kebaikan menyentuhnya, dia kikir". Terjemahan merangkai huruf li dan kata kebaikan menjadi "menghalangi kebaikan", tanpa tambahan "bagi orang lain" atau "bagi dirinya", karena ayat ini tidak menyebut kebaikan itu untuk siapa.

Kata (مُعْتَدٍ, mu'tadin) yang berarti "yang melampaui batas" berakar ع-د-و. Dengan akhiran yang berubah menurut kedudukannya dalam kalimat, kata ini muncul di sembilan ayat, yaitu 2:190, 5:87, 6:119, 7:55, 9:10, 10:74, 50:25, 68:12, dan 83:12. Bentuk persis mu'tadin ada di tiga ayat, yaitu 50:25, 68:12, dan 83:12. Di 83:12, (كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ, kullu mu'tadin atsiimin) berarti "setiap pelampau batas lagi bergelimang dosa". Di 2:190 dan 5:87, kata kerja seakar muncul dalam larangan (وَلَا تَعْتَدُوا, wa-laa ta'taduu) yang berarti "dan janganlah kalian melampaui batas", lalu kedua ayat itu menyebut bahwa Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas. Di 7:55 keterangan itu berbunyi (لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ, laa yuhibbu l-mu'tadiina) yang berarti "tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas". Batas apa yang dimaksud tidak disebut di 50:25.

Kata (مُرِيبٍ, muriibin) berakar ر-ي-ب dan ditandai sebagai pelaku, yaitu yang melakukan sesuatu, bukan yang mengalaminya. Kata ini muncul di tujuh ayat, yaitu 11:62, 11:110, 14:9, 34:54, 41:45, 42:14, dan 50:25, dan bentuk persisnya sama di ketujuhnya. Di enam ayat pertama kata ini menyifati kata (شَكٍّ, syakkin) yang berarti "keraguan", misalnya (لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ, la-fii syakkin mimmaa tad'uunaa ilayhi muriibin) di 11:62 yang berarti "benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang engkau serukan kepada kami". Keraguan tidak merasakan keraguan, sehingga di enam ayat itu kata ini lebih masuk akal dibaca sebagai yang menggelisahkan. Itu penalaran dari pemakaian, bukan keterangan yang disebut ayat. Di 50:25 kata yang sama menyifati orang, dan terjemahan memilih "meragukan", yaitu yang menimbulkan keraguan pada pihak lain. Pilihan itu juga penalaran yang belum pasti, sebab ayat tidak menyebut keraguan siapa. Bacaan "yang dirinya sendiri ragu" tidak dipilih, karena enam pemakaian lain menyifati keraguan, bukan pihak yang ragu.

Tafsiran

Ayat ini tidak membuka perintah baru. Kutipan dari 50:24 tetap terbuka, menyambung ke 50:26, dan 50:25 merinci tiga sifat bagi "setiap pengingkar yang keras kepala". Ketiga sifat itu dituliskan berderet tanpa kata dan, masing-masing satu kata, sehingga terbaca dalam satu tarikan napas. Akhiran ketiganya sama dengan akhiran dua sifat di 50:24, jadi semuanya terdengar sebagai keterangan bagi satu pribadi yang sama.

Ketiga sifat menunjuk tiga arah. Sifat pertama menyangkut sikap terhadap kebaikan, sifat kedua menyangkut batas, dan sifat ketiga menyangkut keraguan yang timbul pada orang lain. Ayat tidak menyebut kebaikan apa yang dihalangi, batas apa yang dilampaui, dan keraguan tentang apa. Ayat juga tidak mengatakan bahwa satu sifat menjadi sebab bagi sifat yang lain.

Baris yang hampir sama ada di 68:12. Dua sifat pertama sama persis, sedangkan sifat ketiga berganti dari "bergelimang dosa" di 68:12 menjadi "meragukan" di 50:25. Di 68:12 baris itu bagian dari rangkaian yang dibuka larangan di 68:10, dan di 50:25 baris itu bagian dari kutipan perintah.

Ayat 50:26 menambahkan satu perbuatan sesudah tiga sifat itu, yaitu menjadikan tuhan lain bersama Allah. Ayat 50:25 sendiri tidak memuat perbuatan apa pun, hanya sifat. Pembicara kutipan, dua pihak yang diperintah, dan hubungan antara sifat-sifat itu dengan perbuatan di ayat berikutnya tidak dinyatakan di sini.

Renungan dan Hikmah

  • Tiga sifat di 50:25 ditulis berderet tanpa kata dan, sehingga telinga mendengarnya sebagai satu gambaran, bukan tiga butir yang dapat dicentang satu per satu. Susunan tanpa penghubung yang sama terlihat di 68:10 sampai 68:12. Orang yang mendengar deretan seperti itu dapat lebih dulu mencari satu sifat yang tidak mengenai dirinya, lalu merasa aman. Susunan tanpa kata dan menutup jalan itu, karena yang disebut adalah satu pribadi dengan tiga sifat yang berdampingan. Di 50:25 sifat melampaui batas berada di tengah, diapit dua sifat lain, dan 7:55 menyebut bahwa Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas. Sifat mana yang paling cepat dilewati seseorang saat mendengar deretan ini, dan mengapa yang itu?
  • Ayat 50:25 menyebut kebaikan tanpa menyebut kebaikan siapa, dalam bentuk apa, atau di bidang apa. Karena tidak diperinci, pembaca tidak dapat memindahkan sifat ini kepada orang lain dengan alasan bahwa kebaikan yang dihalangi itu bukan urusannya. Di 70:21 akar kata yang sama dipakai untuk manusia yang kikir ketika kebaikan menyentuhnya, dan 17:94 memakainya untuk apa yang menghalangi manusia untuk beriman. Kedua ayat itu berbicara tentang hal berbeda dan tidak saling menafsirkan. Seseorang dapat menimbang kebaikan mana yang lewat di tangannya dalam seminggu terakhir, entah milik sendiri atau milik orang lain, lalu melihat apakah tangannya memperlancar atau menahannya. Kebaikan apa yang pernah tertahan di tangannya, padahal tidak ada yang melarangnya melepaskan?
  • Kata melampaui batas muncul juga dalam peringatan kepada pembaca sendiri. Di 2:190 dan 5:87 larangan (وَلَا تَعْتَدُوا, wa-laa ta'taduu) yang berarti "dan janganlah kalian melampaui batas" ditujukan kepada yang disapa, dan di 5:87 sapaannya adalah "wahai orang-orang yang beriman". Kedua ayat menutup larangan itu dengan keterangan bahwa Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas. Di 2:190 larangan itu berdampingan dengan perintah berperang di jalan Allah, dan di 5:87 dengan larangan mengharamkan yang baik dari apa yang Allah halalkan. Kedua ayat berbicara tentang hal berbeda dan tidak saling menafsirkan. Di 50:25 batasnya tidak disebut sama sekali, sehingga pembaca tidak punya daftar batas untuk dicentang. Di bidang apa seseorang paling mudah melewati batas tanpa merasa telah melewatinya?
  • Di enam ayat lain kata muriib menyifati keraguan yang menggelisahkan. Di 14:9 keraguan itu diucapkan kepada para rasul yang datang dengan bukti-bukti yang jelas, dan di 11:110 serta 41:45 keraguan itu menyangkut Kitab yang diberikan kepada Musa, dalam ayat yang juga menyebut ketetapan yang mendahului dari Tuhanmu. Di 50:25 kata yang sama menyifati orang. Terjemahan "meragukan" menunjuk, sebagai penalaran yang belum pasti, orang yang menimbulkan keraguan pada pihak lain. Ayat tidak mengatakan bagaimana keraguan itu ditimbulkan, entah lewat ucapan atau sikap. Seseorang dapat memperhatikan bagaimana ucapannya meninggalkan kesan pada orang yang mendengar. Setelah bercakap dengan seseorang, apakah lawan bicaranya pulang lebih yakin pada kebaikan atau lebih goyah?
  • Dua sifat pertama di 50:25 sama dengan 68:12, dan sifat ketiganya berbeda: bergelimang dosa di 68:12 dan meragukan di 50:25. Menghalangi kebaikan dan melampaui batas dapat berdampingan dengan dua penutup yang berlainan. Di 83:12 pasangan melampaui batas dan bergelimang dosa muncul lagi dalam kalimat tentang siapa yang mendustakan Hari Pertanggungjawaban, ayat yang berbicara tentang hal lain dan tidak menafsirkan 50:25. Di dua dari tiga tempat itu penutupnya bergelimang dosa, dan hanya di 50:25 penutupnya meragukan. Sifat apa dalam diri seseorang yang paling jarang dinamai orang lain, sehingga pemiliknya sendiri tidak pernah berpikir untuk mengujinya?
  • Ayat 50:26 menyebut perbuatan sesudah tiga sifat, yaitu menjadikan tuhan lain bersama Allah. Perbuatan itu disebut belakangan, sesudah sifat-sifat yang tampak dalam sikap terhadap kebaikan, terhadap batas, dan terhadap keyakinan yang digoyahkan. Ayat tidak mengatakan bahwa sifat-sifat itu menjadi sebab perbuatan itu atau sebaliknya. Pembaca dapat bertanya hal-hal kecil apa dalam hidupnya yang bentuknya mirip salah satu dari tiga sifat itu, tanpa menyimpulkan bahwa dirinya telah melakukan perbuatan di 50:26. Sifat kecil apa yang sudah ia kenali pada dirinya sendiri sebelum membaca ayat ini?