قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَٰكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ
Teman yang menyertainya berkata, “Tuhan kami, aku tidak membuatnya melampaui batas, tetapi ia berada dalam kesesatan yang jauh.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالَ قَرِينُهُqaala qariinuhuteman yang menyertainya berkata
- رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَٰكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍrabbanaa maa athghaytuhu wa-laakin kaana fii dhalaalin ba'iidinTuhan kami, aku tidak membuatnya melampaui batas, tetapi ia berada dalam kesesatan yang jauh
Terjemahan per kata (10 kata)
- قَالَqaalaberkata
- قَرِينُهُqariinuhupendampingnya
- رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
- مَاmaatidaklah
- أَطْغَيْتُهُathghaytuhuaku membuatnya melampaui batas
- وَلَٰكِنْwa-laakintetapi
- كَانَkaanaia berada
- فِيfiidalam
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- بَعِيدٍba'iidinyang jauh
Inti bacaan
Bentuk (أَطْغَيْتُهُ, athghaytuhu) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 50:27.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قَالَ قَرِينُهُ, qaala qariinuhu) yang berarti "teman yang menyertainya berkata". Kata (قَرِينُهُ, qariinuhu) berakar ق-ر-ن dan tersusun dari qariin yang berarti "teman yang menyertai" dan akhiran -hu yang berarti "-nya". Bentuk persis qariinuhu muncul dua kali, keduanya di surah ini, yaitu di 50:23 dan 50:27. Kata qariin sendiri muncul enam kali di empat surah, yaitu 4:38, 37:51, 43:36, 43:38, 50:23, dan 50:27, dan artinya mengenai peran, tidak mengenai jenis pihaknya. Di 43:36, (فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ, fa-huwa lahu qariinun) yang berarti "maka ia menjadi teman baginya", pihak yang menjadi teman itu setan yang ditetapkan bagi orang yang berpaling dari peringatan Ar-Rahman. Di 37:51, (إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ, innii kaana lii qariinun) yang berarti "sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman", salah seorang dari mereka yang saling bertanya di 37:50 menuturkan temannya yang dulu bertanya apakah pembicara termasuk orang yang membenarkan. Karena kata qariin dipakai untuk setan di satu tempat dan untuk teman yang berbicara di tempat lain, terjemahan ayat ini memakai "teman yang menyertainya" dan tidak menambahkan "setan". Sebutan (رَبَّنَا, rabbanaa) yang berarti "Tuhan kami" berakar ر-ب-ب, dan cakupan kata "kami" di dalamnya tidak diperinci.
Kata (أَطْغَيْتُهُ, athghaytuhu) yang berarti "aku membuatnya melampaui batas" berakar ط-غ-ي. Bentuk athghaytuhu muncul satu kali, di 50:27, dan kata kerjanya berarti membuat orang lain melakukan perbuatan akarnya. Pembicara menyangkal bahwa dialah yang membuat orang lain melampaui batas. Dalam dua puluh ayat lain, kata kerja, pelaku, dan bentuk "lebih" dari akar yang sama diterjemahkan "melampaui batas", yaitu 11:112, 20:24, 20:43, 20:45, 20:81, 37:30, 38:55, 51:53, 52:32, 53:17, 53:52, 55:8, 68:31, 69:5, 69:11, 78:22, 79:17, 79:37, 89:11, dan 96:6. Terjemahan ayat ini mengikuti padanan itu. Padanan "menyesatkan" membuat kata ini terbaca sejalur dengan "kesesatan" di ujung ayat yang sama, padahal teksnya memakai dua akar yang berbeda.
Kata (ضَلَالٍ, dhalaalin) yang berarti "kesesatan" berakar ض-ل-ل, dan (بَعِيدٍ, ba'iidin) yang berarti "yang jauh" berakar ب-ع-د. Pasangan keduanya muncul di sepuluh ayat dalam enam surah. Dalam bentuk persis (فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ, fii dhalaalin ba'iidin), pasangan itu muncul tiga kali, yaitu di 14:3, 42:18, dan 50:27. Bentuk lainnya muncul tujuh kali: (ضَلَالًا بَعِيدًا, dhalaalan ba'iidan) di 4:60, 4:116, 4:136, dan 4:167, (الضَّلَالُ الْبَعِيدُ, dh-dhalaalu l-ba'iidu) di 14:18 dan 22:12, serta (وَالضَّلَالِ الْبَعِيدِ, wa-dh-dhalaali l-ba'iidi) di 34:8. Di 14:3 dan 42:18 kalimat itu dituturkan sebagai keterangan tentang sekelompok orang, sedangkan di 50:27 kalimat itu diucapkan oleh seorang pembicara tentang orang yang ditemaninya. Terjemahan memakai "kesesatan yang jauh" di ketiga tempat bentuk persisnya.
Tafsiran
Ayat ini memuat suara pertama sesudah perintah melempar di 50:24 sampai 50:26, dan suara itu berupa pembelaan. Ayat 50:24 sampai 50:26 tidak memuat tuduhan apa pun kepada teman itu. Penyangkalan "aku tidak membuatnya melampaui batas" karena itu muncul tanpa tuduhan tertulis di depannya, dan yang disangkal adalah sesuatu yang tidak dikatakan oleh ayat-ayat sebelumnya.
Pembelaan itu terdiri atas dua bagian, yaitu penyangkalan atas perbuatan sendiri dan penunjukan keadaan pihak lain. Susunan yang sama ada di 14:22, ketika setan berkata (وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ, wa-maa kaana liya 'alaykum min sulthaanin) yang berarti "dan tidak ada bagiku atas kalian suatu keterangan", lalu mengalihkan celaan kepada pendengarnya, dan di 37:30, ketika satu pihak menyangkal kuasa atas lawan bicaranya, (وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ, wa-maa kaana lanaa 'alaykum min sulthaanin) yang berarti "dan kami tidak mempunyai kekuasaan apa pun atas kalian", lalu menyebut mereka (قَوْمًا طَاغِينَ, qawman thaaghiina) yang berarti "kaum yang melampaui batas". Ayat 50:27 dapat dibaca satu jalur dengan keduanya, tetapi ayat itu tidak menamai teman tersebut setan, dan kata qariin dipakai untuk setan di 43:36 serta untuk teman yang berbicara di 37:51. Perbedaan lain ada pada akar kata yang dipakai: di 37:30 pihak yang disebut melampaui batas ditunjuk dengan akar yang sama dengan kata kerja yang disangkal di 50:27, sedangkan di 50:27 penunjukan keadaan memakai akar lain, yaitu kesesatan.
Penyangkalan yang disusul kata "tetapi" ada juga di 11:101 dan 43:76, (وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ, wa-maa zhalamnaahum wa-laakin) yang berarti "dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi", serta di 16:33. Di ketiga ayat itu akar kata yang disangkal diulang sesudah "tetapi" dan dikenakan kepada pihak lain. Di 50:27 sesudah "tetapi" tidak ada akar yang diulang, yang ada keadaan, yaitu pihak lain itu berada dalam kesesatan.
Ungkapan "kesesatan yang jauh" di ayat ini adalah penilaian pembicara, dan ayat berikutnya tidak membenarkan atau membantahnya. Ayat 34:8 menaruh azab dan kesesatan yang jauh dalam satu frasa untuk satu golongan, dan 50:26 serta 50:27 menaruh keduanya di dua ayat yang bertetangga: azab dalam perintah, kesesatan dalam ucapan teman.
Teman yang berbicara di 50:23 dan 50:27 disebut dengan kata yang sama, dan belum tentu keduanya pihak yang sama. Ayat 50:28 menjawab ucapan ini dengan satu larangan yang mengenai kedua pihak.
Renungan dan Hikmah
- Pembelaan di 50:27 muncul tanpa tuduhan tertulis di depannya, dan Allah baru berfirman kepada kedua pihak di 50:28. Pembaca dapat memikirkan kalimat "bukan aku" yang sudah siap padahal tidak ada yang bertanya. Kalimat seperti itu dapat menandakan bahwa pengucapnya sudah menduga dirinya akan dituduh. Dalam hal apa pembaca pernah menyiapkan penjelasan lebih dulu daripada pertanyaannya, dan apa yang membuat penjelasan itu terasa sudah perlu?
- Dua bagian pembelaan itu memakai dua akar yang berbeda, dan bagian kedua adalah penilaian tentang keadaan orang lain yang tidak dibenarkan atau dibantah oleh firman Allah di 50:28. Orang yang berkata "dia sudah tersesat jauh sebelum aku datang" memuat dua klaim sekaligus, satu tentang dirinya dan satu tentang orang lain, dan klaim kedua dapat lewat tanpa diperiksa. Bagian mana dari kalimat serupa yang selama ini ditimbang pembaca dengan teliti, dan bagian mana yang lewat tanpa diperiksa?
- Kata qariinuhu muncul dua kali di surah ini, dan ucapan di bawahnya berbeda jenis. Di 50:23 teman itu menyebut apa yang ada padanya, dan di 50:27 teman itu menyebut apa yang tidak ia lakukan. Bila keduanya pihak yang sama, satu mulut mengucapkan penyerahan lalu pengelakan, dalam jarak empat ayat. Pembaca dapat memikirkan dua macam kalimat yang keluar dari mulut yang sama, yang satu memberikan apa yang ada dan yang satu menyingkirkan tanggung jawab. Kalimat mana yang lebih mudah keluar dari mulut pembaca sendiri?
- Teman itu berkata "Tuhan kami", dan kata "kami" di sana tidak diperinci cakupannya. Bila cakupannya meliputi dia dan orang yang ditemaninya, dua pihak yang saling menunjuk di ayat ini memanggil Tuhan yang sama dan sedang berbicara di depan-Nya. Pertengkaran antara dua pihak berlangsung di sini dengan satu alamat yang sama. Ketika orang menunjuk orang lain sebagai penyebab, terbayangkah bahwa keduanya berbicara di hadapan Tuhan yang sama?
- Surah ini memakai kata "jauh" tiga kali, dan tiga-tiganya menyangkut jarak yang berbeda. Di 50:3 para pengingkar menyebut pengembalian sesudah mati sebagai pengembalian yang jauh, di 50:27 teman itu menyebut kesesatan yang jauh, dan di 50:31 taman didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, "tidak jauh". Jarak selalu punya titik ukur, dan ayat-ayat itu tidak menyebut titik yang dipakai. Pembaca dapat bertanya dari mana kebangkitan, kesesatan, dan taman itu diukur, dan apakah ketiganya diukur dari tempat yang sama?
- Di 96:6 dan 96:7 manusia melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup, sehingga sebab perbuatan itu ditaruh pada pandangan orang itu terhadap dirinya. Dua ayat itu berbicara tentang manusia pada umumnya dan tidak tentang teman di 50:27, jadi keduanya tidak disamakan. Bila akar yang sama dibaca berdampingan, pertanyaan tentang siapa yang membuat batas terlewati bertemu pertanyaan tentang apa yang dilihat orang pada dirinya saat batas itu terlewati.