إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya dan dia menyaksikan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌinna fii dzaalika la-dzikraa li-man kaana lahu qalbunsesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati
  2. أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌaw alqaa s-sam'a wa-huwa syahiidunatau yang menggunakan pendengarannya dan dia menyaksikan

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. فِيfiipada
  3. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  4. لَذِكْرَىٰla-dzikraabenar-benar peringatan
  5. لِمَنْli-manbagi orang yang
  6. كَانَkaanaadalah
  7. لَهُlahubaginya
  8. قَلْبٌqalbunhati
  9. أَوْawatau
  10. أَلْقَىalqaamelemparkan
  11. السَّمْعَs-sam'apendengaran
  12. وَهُوَwa-huwasedang ia
  13. شَهِيدٌsyahiidunmenyaksikan

Inti bacaan

Rangkaian inna fii dzaalika la-dzikraa muncul dua kali di Al-Qur'an (39:21, 50:37), dan hanya 50:37 yang menyebut penerimanya dengan anak kalimat li-man kaana lahu qalbun, sedangkan 39:21 memakai sebutan golongan li-ulii l-albaabi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ, inna fii dzaalika la-dzikraa) yang berarti "sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan". Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) menunjuk sesuatu yang jauh, dan ayat tidak menyebut apa yang ditunjuknya; ayat terdekat sebelumnya adalah 50:36. Awalan (لَ, la-) pada la-dzikraa memberi tekanan, dan terjemahan menyampaikannya dengan "pasti". Rangkaian persis ini muncul dua kali, yaitu di 39:21 dan 50:37. Di 39:21 penerimanya disebut dengan sebutan golongan, (لِأُولِي الْأَلْبَابِ, li-ulii l-albaabi) yang berarti "bagi orang-orang yang berpikiran sehat". Kata (ذِكْرَىٰ, dzikraa) berakar ذ-ك-ر, dan dengan awalan (لِ, li-) yang menyebut penerimanya, kata ini muncul di dua belas ayat, yaitu 6:90, 7:2, 11:114, 11:120, 21:84, 29:51, 38:43, 39:21, 40:54, 50:8, 50:37, dan 74:31. Di sebelas ayat di luar 50:37, penerimanya disebut dengan sebutan golongan atau sifat, misalnya (لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ, li-kulli 'abdin muniibin) yang berarti "bagi setiap hamba yang kembali" di 50:8. Di 50:37 penerimanya disebut dengan anak kalimat yang dibuka (لِمَنْ كَانَ لَهُ, li-man kaana lahu) yang berarti "bagi siapa yang mempunyai", dan rangkaian itu hanya ada di ayat ini.

Kata (قَلْبٌ, qalbun) yang berarti "hati" berbentuk tak tentu, jadi (كَانَ لَهُ قَلْبٌ, kaana lahu qalbun) berarti "dia mempunyai hati" tanpa menyebut hati yang bagaimana. Bentuk persis qalbun hanya ada di 50:37. Surah ini memakai kata hati sekali lagi, di 50:33, dengan susunan lain: (وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ, wa-jaa'a bi-qalbin muniibin) yang berarti "dan datang dengan hati yang kembali". Susunan (بِقَلْبٍ, bi-qalbin) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 26:89, 37:84, dan 50:33. Di 50:33 hati dibawa datang, sedangkan di 50:37 hati dimiliki; kedua ayat memakai kata kerja berbeda dan tidak saling menjelaskan. Kata (مَنْ, man) berbentuk tunggal tetapi berarti "siapa saja", sehingga terjemahan memakai "orang-orang" di awal kalimat dan "dia" pada akhirnya, mengikuti kata ganti tunggal dalam bunyi Arabnya.

Frasa (أَلْقَى السَّمْعَ, alqaa s-sam'a) tersusun dari kata kerja (أَلْقَى, alqaa) dan kata benda (السَّمْعَ, s-sam'a) yang berakar س-م-ع dan berarti "pendengaran". Kata kerja alqaa berakar ل-ق-ي dan arti dasarnya adalah "melemparkan", seperti pada (فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ, fa-alqaa 'ashaahu) di 7:107 yang berarti "maka ia melemparkan tongkatnya". Terjemahan mengikuti bendanya. Di 4:94, (أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ, alqaa ilaykumu s-salaama) menjadi "mengucapkan salam kepada kalian", di 31:10, (وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ, wa-alqaa fii l-ardhi rawaasiya) menjadi "memancangkan di bumi gunung-gunung yang kukuh", dan di 75:15, (وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ, wa-law alqaa ma'aadziirahu) menjadi "walaupun ia mengemukakan alasan-alasannya". Karena itu "melemparkan pendengaran" diterjemahkan "menggunakan pendengarannya". Frasa dengan benda yang sama muncul juga di 26:223, (يُلْقُونَ السَّمْعَ, yulquuna s-sam'a), yang diterjemahkan "mereka menyampaikan hasil pendengarannya", dan kalimat sesudahnya di ayat itu menyebut bahwa kebanyakan mereka pendusta. Di 50:37 tidak ada kata yang menyebut kepada siapa atau untuk apa pendengaran itu dilemparkan, sehingga arahnya terbuka dan terjemahan memilih "menggunakan".

Kata (أَوْ, aw) yang berarti "atau" memisahkan dua keadaan, yaitu punya hati atau melemparkan pendengaran. Keadaan kedua disambung dengan (وَهُوَ شَهِيدٌ, wa-huwa syahiidun) yang berarti "dan dia menyaksikan". Awalan wa pada wa-huwa membuka keadaan yang berlangsung bersama kata kerja sebelumnya, jadi mendengar dan menyaksikan terjadi bersamaan. Kata (شَهِيدٌ, syahiidun) berakar ش-ه-د, dan bentuk persis ini muncul tiga belas kali di dua belas surah, yaitu 2:282, 3:98, 5:117, 6:19, 10:46, 22:17, 34:47, 41:53, 50:21, 50:37, 58:6, 85:9, dan 100:7. Di 3:98 dan 85:9 pelakunya Allah dan terjemahan memakai "menyaksikan", misalnya (وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ, wa-llaahu 'alaa kulli syay'in syahiidun) yang berarti "dan Allah atas segala sesuatu menyaksikan". Di 50:21, (سَائِقٌ وَشَهِيدٌ, saa'iqun wa-syahiidun) berarti "seorang penggiring dan seorang saksi", sehingga di surah yang sama kata ini juga nama pihak yang menyertai setiap jiwa. Di 50:37 kata ini menerangkan orang yang disebut lewat man, dan ayat tidak menyebut apa yang disaksikan.

Tafsiran

Ayat ini menyambung kabar kebinasaan di 50:36 dengan penerima peringatan. Penerimanya ditentukan lewat dua keadaan, yaitu orang yang mempunyai hati dan orang yang melemparkan pendengarannya sambil menyaksikan. Keadaan pertama menyangkut apa yang dimiliki, dan keadaan kedua menyangkut apa yang dikerjakan. Kata hubung (أَوْ, aw) menaruh keduanya sebagai dua jalan, dan ayat tidak mengatakan salah satunya lebih tinggi. Ayat juga tidak menuliskan apa yang terjadi pada orang yang tidak memenuhi salah satu keadaan itu.

Surah ini memakai dzikraa dua kali, yaitu di 50:8 dan 50:37. Di 50:8, (تَبْصِرَةً وَذِكْرَىٰ لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ, tabshiratan wa-dzikraa li-kulli 'abdin muniibin) menaruh peringatan bagi hamba yang kembali. Kata (مُنِيبٍ, muniibin) muncul lagi di 50:33, kali ini menerangkan hati, (بِقَلْبٍ مُنِيبٍ, bi-qalbin muniibin). Ayat 50:37 menyebut hati dan peringatan dalam satu kalimat, sehingga ketiga ayat terbaca sebagai susunan: peringatan bagi hamba yang muniib, hati yang muniib, dan peringatan bagi pemilik hati. Ketiganya tidak saling menjelaskan, dan susunan itu adalah cara membaca yang tidak dinyatakan ayat.

Kata penunjuk pada "yang demikian itu" mengikat ayat ini ke ayat sebelumnya. Bila yang ditunjuk adalah 50:36, maka peringatan yang dimaksud terletak pada kabar tentang generasi yang lebih kuat, yang menjelajah negeri, lalu dibinasakan. Ayat tidak menyatakan yang mana yang ditunjuk, dan daftar bangsa terdahulu di 50:12 sampai 50:14 juga mungkin termasuk di dalamnya.

Tema mendengar di ayat ini kembali dua ayat kemudian. Di 50:41 ada perintah (وَاسْتَمِعْ, wa-stami') yang berarti "dan dengarkanlah", dan di 50:42 ada (يَسْمَعُونَ, yasma'uuna) yang berarti "mereka mendengar". Ayat 50:37 menyebut siapa yang menerima peringatan lewat pendengarannya, 50:41 memerintahkan mendengarkan, dan 50:42 menyebut apa yang terdengar.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 50:37 menyebut dua keadaan yang dipisahkan kata "atau", yaitu mempunyai hati atau melemparkan pendengaran sambil menyaksikan. Pembaca yang tidak merasa memenuhi keadaan pertama menemukan keadaan kedua di ayat yang sama, dan ayat tidak menyusun urutan antara keduanya. Pembaca dapat bertanya keadaan mana yang lebih sering dipakainya untuk menerima sesuatu yang penting, dan apa yang terjadi pada kepekaannya ketika hanya satu dari keduanya yang digunakan.
  • Kata kerja pada (أَلْقَى السَّمْعَ, alqaa s-sam'a) berarti dasarnya melemparkan, sehingga mendengar di ayat ini terbaca sebagai gerak dari pihak yang mendengar. Di 26:223 frasa serupa diterjemahkan sebagai menyampaikan hasil pendengaran, dan kalimat sesudahnya menyebut kebanyakan mereka pendusta. Pihak yang dibicarakan di kedua ayat berbeda, jadi keduanya tidak disamakan; arah lemparan di 26:223 mengarah keluar, sedangkan di 50:37 arahnya tidak disebut. Pembaca dapat memeriksa ke mana pendengarannya diarahkan sesudah mendengar sesuatu yang penting, kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain.
  • Frasa (وَهُوَ شَهِيدٌ, wa-huwa syahiidun) menyatakan bahwa mendengar dan menyaksikan berlangsung bersamaan pada orang yang sama. Ayat tidak menyebut apa yang disaksikan, jadi isi penyaksian itu dibiarkan terbuka. Pembaca yang biasa mendengar sambil mengerjakan hal lain dapat membandingkan kedua keadaan itu dari pengalamannya sendiri: ketika pendengaran dan kehadirannya berada di tempat yang sama, dan ketika pendengarannya sampai tetapi kehadirannya tertinggal di tempat lain. Kapan yang tertinggal itu kembali, sebelum atau sesudah peringatan itu lewat?
  • Di sebelas ayat lain penerima dzikraa disebut dengan sebutan golongan, seperti orang-orang beriman di 7:2 dan 11:120, atau orang-orang yang berpikiran sehat atau berakal di 38:43, 39:21, dan 40:54. Di 39:21 peringatan itu menyusul uraian tentang Allah yang menurunkan air dari langit. Ayat 50:37 tidak memakai sebutan golongan, dan memakai dua keadaan yang dapat diperiksa satu per satu. Pembaca yang merasa termasuk suatu golongan tidak menemukan sebutan golongannya di ayat ini. Di ayat ini tersisa pertanyaan apakah dua keadaan itu terpenuhi pada dirinya hari ini.
  • Ayat 50:37 tidak menuliskan nasib orang yang tidak mempunyai hati dan tidak melemparkan pendengarannya, dan tidak menuliskan apa yang Allah lakukan terhadap mereka. Kalimatnya berhenti pada penerima peringatan. Pembaca yang mengisi kekosongan itu dengan penilaian atas orang lain sedang menulis kalimat yang tidak ada di ayat ini. Di sisi lain, ayat ini tetap memberi ukuran yang bisa dipakai pembaca untuk memeriksa dirinya sendiri tanpa menyebut siapa pun. Pembaca dapat bertanya nama siapa yang pertama muncul dalam pikirannya ketika membaca kalimat yang berhenti itu.
  • Di 50:37 hati disebut sebagai sesuatu yang dimiliki, dan di 50:33 sebagai sesuatu yang dibawa datang dengan sifat bertobat. Ayat 50:33 berbicara tentang orang yang takut kepada Ar-Rahman, nama yang di 17:110 disejajarkan dengan Allah, secara gaib dan datang, sedangkan 50:37 tentang penerima peringatan, sehingga keduanya berbicara tentang pihak yang berbeda dan tidak disamakan. Bila dibaca berdampingan, dua kata kerja itu, memiliki dan membawa datang, mengundang satu pertanyaan. Pembaca dapat bertanya apakah hati yang dipunyai hari ini, dengan segala isinya, sama dengan hati yang kelak dibawa datang.
  • Bila kata dzaalika menunjuk ke ayat sebelumnya, peringatan yang dimaksud terletak pada kabar tentang generasi yang lebih kuat namun dibinasakan oleh Allah, pihak yang berkata "Kami" di 50:36. Ayat 50:37 tidak merinci peringatannya, sehingga pembaca diminta menyebutnya sendiri. Bila pembaca diminta menuliskan satu kalimat tentang apa yang diingatkan kepadanya oleh kabar tentang generasi yang menjelajah negeri lalu binasa, kalimat apa yang akan muncul pertama?