وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak disentuh oleh kelelahan sedikit pun.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍwa-la-qad khalaqnaa s-samaawaati wa-l-ardha wa-maa baynahumaa fii sittati ayyaamindan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya dalam enam masa
  2. وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍwa-maa massanaa min lughuubindan Kami tidak disentuh oleh kelelahan sedikit pun

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. خَلَقْنَاkhalaqnaaKami ciptakan
  3. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  4. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  5. وَمَاwa-maadan apa yang
  6. بَيْنَهُمَاbaynahumaaantara keduanya
  7. فِيfiidalam
  8. سِتَّةِsittatienam
  9. أَيَّامٍayyaaminhari
  10. وَمَاwa-maadan tidaklah
  11. مَسَّنَاmassanaamenimpa Kami
  12. مِنْmindari
  13. لُغُوبٍlughuubinkelelahan

Inti bacaan

Frasa fii sittati ayyaamin muncul tujuh kali di Al-Qur'an (7:54, 10:3, 11:7, 25:59, 32:4, 50:38, 57:4), dan hanya 50:38 yang menyambungnya dengan penyangkalan kelelahan, wa-maa massanaa min lughuubin.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَقَدْ خَلَقْنَا, wa-la-qad khalaqnaa) yang berarti "dan sungguh Kami telah menciptakan". Awalan (وَلَقَدْ, wa-la-qad) menggabungkan "dan", la yang memberi tekanan, dan qad yang menegaskan bahwa perbuatan itu sudah terjadi. Kata kerja (خَلَقْنَا, khalaqnaa) berakar خ-ل-ق dan pelakunya "Kami". Rangkaian (وَلَقَدْ خَلَقْنَا, wa-la-qad khalaqnaa) di surah ini ada dua kali, yaitu 50:16 dan 50:38. Di 50:16, (وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ, wa-la-qad khalaqnaa l-insaana) berarti "sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia", sedangkan di 50:38 objek penciptaannya (السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "langit dan bumi".

Rangkaian (خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا, khalaqnaa s-samaawaati wa-l-ardha wa-maa baynahumaa) muncul empat kali di empat surah, yaitu 15:85, 44:38, 46:3, dan 50:38. Tiga ayat lainnya memakainya dalam penyangkalan, misalnya (وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ, wa-maa khalaqnaa s-samaawaati wa-l-ardha wa-maa baynahumaa laa'ibiina) di 44:38 yang berarti "dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya dengan main-main". Di 50:38 rangkaian itu berupa peristiwa yang dinyatakan, dan penyangkalan dipindahkan ke bagian sesudahnya, yaitu pada kelelahan. Kata (بَيْنَهُمَا, baynahumaa) berakar ب-ي-ن dan berbentuk dual, "antara keduanya", dan ayat tidak merinci apa yang berada di antara langit dan bumi.

Frasa (فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ, fii sittati ayyaamin) berarti "dalam enam masa". Kata (سِتَّةِ, sittati) berakar س-ت-ت dan berarti "enam", sedangkan (أَيَّامٍ, ayyaamin) adalah bentuk jamak dari yawm, "hari", yang berakar ي-و-م. Frasa persis ini muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu 7:54, 10:3, 11:7, 25:59, 32:4, 50:38, dan 57:4. Terjemahan memakai "masa" untuk ayyaamin berdasarkan penalaran dari ayat-ayat lain yang menyebut hari dengan ukuran berbeda dari hari manusia. Di 22:47, (وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ, wa-inna yawman 'inda rabbika ka-alfi sanatin) berarti "dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun", di 32:5 kadarnya seribu tahun, dan di 70:4, (فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ, fii yawmin kaana miqdaaruhu khamsiina alfa sanatin) berarti "dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun". Ayat 50:38 sendiri tidak menyebut berapa lama satu masa.

Kata kerja (مَسَّنَا, massanaa) berakar م-س-س dan berarti "menyentuh", dengan -naa "Kami" sebagai yang disentuh, sehingga (وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ, wa-maa massanaa min lughuubin) berarti "dan Kami tidak disentuh oleh kelelahan sedikit pun". Partikel (مِنْ, min) sebelum lughuubin disampaikan terjemahan dengan "sedikit pun". Kata (لُغُوبٍ, lughuubin) berakar ل-غ-ب dan muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 35:35 dan 50:38, dan keduanya berpasangan dengan akar م-س-س. Di 35:35, (لَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ, laa yamassunaa fiihaa lughuubun) berarti "dan tidak pula menyentuh kami kelelahan" di tempat kediaman yang kekal yang disebut ayat itu. Ayat 35:35 menafikan dua kata dari tempat itu, yaitu (نَصَبٌ, nashabun) yang diterjemahkan "kepenatan" dan lughuub, sedangkan 50:38 menyebut lughuub saja. Ayat 35:35 membicarakan orang-orang yang ditempatkan di sana, dan 50:38 menafikan kelelahan dari "Kami".

Kata lain untuk lelah di surah ini adalah (عَيِينَا, 'ayiinaa) di 50:15, dalam (أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ, a-fa-'ayiinaa bi-l-khalqi l-awwali) yang berarti "maka, apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama?". Terjemahan memakai "letih" di 50:15 dan "kelelahan" di 50:38 sehingga kedua akar itu tidak tertukar.

Tafsiran

Ayat ini memuat dua pernyataan tentang penciptaan, yaitu langit, bumi, dan yang di antara keduanya diciptakan dalam enam masa, dan kelelahan tidak menyentuh "Kami", pelaku penciptaan itu. Letaknya di antara 50:36 dan 50:37, yang berbicara tentang generasi yang dibinasakan dan tentang peringatan, serta 50:39, yang dibuka dengan perintah bersabar. Pergantian dari kabar kebinasaan ke penciptaan langit dan bumi dihubungkan oleh huruf wa di awal ayat.

Frasa enam masa dipakai di tujuh ayat, dan kalimat sesudahnya berbeda-beda. Lima ayat menyambungnya dengan (ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ, tsumma stawaa 'alaa l-'arsyi) yang berarti "kemudian Dia bersemayam di atas Arasy", yaitu 7:54, 10:3, 25:59, 32:4, dan 57:4. Ayat 11:7 menyambungnya dengan Arasy yang berada di atas air. Ayat 50:38 menyambungnya dengan penyangkalan kelelahan, dan penutup itu tidak ada di keenam ayat lain. Ayat tidak merinci apa yang dikerjakan pada tiap masa, dan tidak menuliskan mengapa penciptaan disebut bersama ketiadaan lelah. Ayat hanya menuliskan dua pernyataan dalam satu kalimat.

Surah ini sudah membicarakan kelelahan dalam penciptaan di 50:15, dalam bentuk pertanyaan, dan pertanyaan itu disusul (بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ, bal hum fii labsin min khalqin jadiidin) yang berarti "bahkan mereka dalam kekaburan tentang penciptaan yang baru". Di 50:3 ucapan yang dikutip dari orang-orang kafir berbunyi (أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا, a-idzaa mitnaa wa-kunnaa turaaban) yang berarti "apakah apabila kami telah mati dan menjadi tanah?". Ayat 50:38 menyatakan bahwa kelelahan tidak menyentuh pelaku penciptaan, dalam bentuk pernyataan. Ayat tidak mengaitkannya dengan ucapan di 50:3, sehingga hubungan itu adalah bacaan. Kabar tentang penciptaan langit dan bumi tanpa lelah dapat dibaca sebagai bahan bagi orang yang meragukan penciptaan yang baru.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 50:38 menaruh jangka waktu yang berbilangan, yaitu enam masa, dan ketiadaan lelah dalam satu kalimat. Pembaca yang biasa menilai besarnya pekerjaan dari lamanya dan letihnya dapat melihat bahwa ayat ini menyebut jangka tanpa menyebut letih. Di 35:35 kata lughuub dinafikan dari orang-orang yang ditempatkan di tempat kediaman yang kekal, dan di 50:38 dari "Kami". Pihak yang dibicarakan di kedua ayat berbeda, jadi keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat bertanya ukuran apa yang dipakainya untuk menilai berat sebuah pekerjaan bila rasa letih dikeluarkan dari hitungan.
  • Ayat 50:38 menyebut enam masa tanpa kadar. Ayat 22:47 menyebut sehari di sisi Tuhan sebagai seribu tahun menurut hitungan manusia, dalam pembicaraan tentang azab yang diminta disegerakan, dan 70:4 menyebut sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun, dalam pembicaraan tentang naiknya para malaikat. Kedua ayat itu tidak menjelaskan 50:38 secara langsung, tetapi dapat dibaca memperlihatkan bahwa kata "hari" dipakai untuk kadar yang berlainan dengan hari manusia. Pembaca yang memakai kalender untuk menilai apakah sesuatu sudah cukup lama dapat bertanya satuan apa yang sebenarnya dipakainya, dan seberapa cocok satuan itu dengan hal yang sedang dinilainya.
  • Gagasan bahwa penciptaan melelahkan Allah disebut lebih dulu sebagai pertanyaan di 50:15, (أَفَعَيِينَا, a-fa-'ayiinaa) yang berarti "maka, apakah Kami letih", lalu dinafikan sebagai pernyataan di 50:38. Jarak keduanya dua puluh tiga ayat. Gagasan itu diberi bentuk kalimat dahulu, dan jawabannya datang kemudian. Pembaca yang menyimpan keraguan tanpa pernah mengucapkannya dapat memperhatikan bahwa dalam dua ayat ini keraguan memperoleh bentuk kalimat sebelum jawabannya tiba. Apakah keraguan yang belum diberi kalimat dapat dijawab oleh siapa pun?
  • Ayat 50:38 menyebut tiga kelompok ciptaan, yaitu langit, bumi, dan (وَمَا بَيْنَهُمَا, wa-maa baynahumaa) yang berarti "serta apa yang di antara keduanya". Kelompok ketiga tidak dirinci. Di 44:38 kelompok yang sama disebut dalam penyangkalan bahwa penciptaannya main-main. Pembaca dapat menimbang bahwa dirinya dan pekerjaannya berada di antara langit dan bumi, yaitu di dalam kelompok yang tidak dirinci itu, dan bertanya apakah pekerjaan itu diperlakukan sebagai sesuatu yang diciptakan tidak untuk main-main.
  • Enam masa yang sama disebut di 11:7 bersama (لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا, li-yabluwakum ayyukum ahsanu 'amalan) yang berarti "untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalnya", dan di 50:38 bersama ketiadaan lelah. Dua ayat itu tidak saling menjelaskan. Ayat 11:7 menyebut mutu amal sebagai ukuran ujian dan tidak menyebut letih. Pembaca dapat menimbang apakah ukuran yang dipakainya untuk menilai kerja kerasnya sendiri lebih dekat ke seberapa letih, atau ke seberapa baik hasil pekerjaannya.
  • Rangkaian pembuka yang sama dipakai untuk manusia di 50:16 dan untuk langit dan bumi di 50:38. Di 50:16 rangkaian itu disusul (وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ, wa-na'lamu maa tuwaswisu bihi nafsuhu) yang berarti "dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya", dan di 50:38 disusul penyangkalan lelah. Objek penciptaan di kedua ayat berbeda, jadi keduanya tidak disamakan, tetapi Allah yang berkata "Kami" di kedua ayat itu sama. Pembaca dapat membaca kedua ayat dalam satu napas dan bertanya apa yang berubah pada cara mendengar bisikan dirinya sendiri bila bisikan itu diketahui oleh pihak yang menciptakan langit dan bumi tanpa disentuh lelah.