Ayat 51:1

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا

Demi yang menerbangkan dengan sekuat-kuatnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًاwa-dz-dzaariyaati dzarwandemi yang menerbangkan dengan sekuat-kuatnya

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَالذَّارِيَاتِwa-dz-dzaariyaatidemi yang menerbangkan
  2. ذَرْوًاdzarwandengan sekuat-kuatnya

Inti bacaan

Sumpah dibuka dengan daya yang menerbangkan sekuat-kuatnya; siapa pelakunya dan apa sasarannya tidak diperkenalkan, sehingga pembaca melihat geraknya dahulu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan huruf sumpah yang melekat pada kata pertamanya, (وَالذَّارِيَاتِ, wa-dz-dzaariyaati), yang berarti "demi yang menerbangkan". Kata itu bentuk jamak perempuan dari sebutan bagi pelaku, dan akarnya ذ-ر-و berarti menerbangkan sesuatu sampai tercerai-berai. Bentuk jamak ini muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:1.

Akar ذ-ر-و hanya dipakai di dua ayat, 18:45 dan 51:1. Di 18:45 akar itu menjadi kata kerja (تَذْرُوهُ, tadzruuhu) yang berarti "menerbangkannya". Ayat itu menyebut dengan terang apa yang diterbangkan, yaitu tumbuh-tumbuhan yang telah menjadi (هَشِيمًا, hasyiiman) yang berarti "kering remuk", dan menyebut pula pelakunya, (الرِّيَاحُ, ar-riyaahu) yang berarti "angin-angin". Konteks 18:45 adalah perumpamaan kehidupan dunia, sehingga pemakaian lain akar ini menggambarkan sesuatu yang rapuh diterbangkan angin, sedangkan di 51:1 kerapuhan itu tidak disebut sama sekali. Ayat pertama surah ini membiarkan kosong apa yang diterbangkan dan siapa yang menerbangkannya.

Kata (ذَرْوًا, dzarwan) berasal dari akar yang sama dan muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:1. Bentuknya kata benda bertanwin di ujung ayat, dan tugasnya menerangkan cara: menerbangkan dengan sungguh-sungguh, yang dalam terjemahan dipadankan dengan "sekuat-kuatnya". Ungkapan "sekuat-kuatnya" adalah pilihan terjemahan untuk menyampaikan kesungguhan perbuatan itu.

Pola pembuka seperti ini muncul di lima surah. Surah 37, 51, 77, 79, dan 100 sama-sama dibuka dengan huruf sumpah, kata bentuk jamak perempuan, lalu kata benda bertanwin yang menutup ayat pertama: (صَفًّا, shaffan) di 37:1, (ذَرْوًا, dzarwan) di 51:1, (عُرْفًا, 'urfan) di 77:1, (غَرْقًا, gharqan) di 79:1, dan (ضَبْحًا, dhabhan) di 100:1. Kelimanya dapat dibaca sebagai ajakan melihat gerak lebih dulu, dan pernyataan pokok surah baru datang beberapa ayat kemudian. Di surah ini pernyataan itu muncul di 51:5.

Terjemahan memilih "yang menerbangkan" tanpa menambahkan kata benda di depannya. Ayat ini menyebut perbuatan dan caranya, sedangkan pelaku dan sasarannya dibiarkan kosong, dan tiga ayat sesudahnya, 51:2 sampai 51:4, meneruskan dengan bentuk jamak perempuan lain yang juga tidak diberi nama. Menambahkan kata seperti "angin" atau "debu" berarti mengisi tempat yang dikosongkan oleh Arabnya. Pembuka serupa di 77:1, 79:1, dan 100:1 pun diterjemahkan tanpa menamai pelakunya, sehingga pilihan ini searah dengan pembuka-pembuka itu.

Huruf sumpah di awal ayat ini berlaku sampai 51:4. Empat ayat pertama surah ini dengan demikian seluruhnya berisi sumpah, dan jawabannya baru datang di 51:5.

Tafsiran

Ayat ini menaruh pendengar di tengah sebuah gerak sebelum memberinya pernyataan apa pun. Surah yang pokoknya tentang apa yang dijanjikan kepada manusia, seperti terbaca di 51:5, tidak mulai dari janji itu. Surah ini mulai dari perbuatan menerbangkan yang dilakukan sekuat-kuatnya, dengan pelaku dan sasaran yang tak bernama.

Huruf sumpah di ayat ini baru yang pertama dari empat penyambung. Di 51:2, 51:3, dan 51:4 penyambungnya berganti menjadi (فَ, fa) yang berarti "lalu", sehingga empat ayat pertama terbaca sebagai urutan: ayat ini memberi titik berangkat, dan tiga ayat berikutnya melanjutkan dari titik itu. Urutan itu baru bisa dinilai utuh setelah 51:4 dibaca.

Penekanan ayat jatuh pada daya. Kata penutup (ذَرْوًا, dzarwan) menambah bobot pada perbuatannya, dan pendengar yang menunggu nama tidak mendapatkannya di ayat ini maupun di tiga ayat sesudahnya. Pembuka 77:1, 79:1, dan 100:1 memperlakukan pelakunya dengan cara serupa, sehingga kekosongan itu tampak sebagai ciri pola pembuka ini dan muncul juga di pembuka-pembuka lain.

Sumpah dalam rangkaian ini tidak membuktikan apa-apa dengan sendirinya. Rangkaian itu menyiapkan pendengar untuk sebuah kalimat yang ditahan sampai ayat kelima, dan seberapa jauh keempat gambar menopang jawabannya akan dibicarakan di 51:4 dan 51:5.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini membuka dengan sebuah daya yang bekerja penuh tanpa disertai nama. Sebuah daya yang bekerja penuh tanpa nama membuat pertanyaan tentang siapa di baliknya mudah muncul. Pembuka surah ini membiarkan pertanyaan itu menggantung selama empat ayat, karena Allah tidak menamai pelaku satu pun dari gerak itu. Apa yang biasanya dicari pertama kali ketika sesuatu bergerak: penyebabnya atau akibatnya? Gerak yang paling besar dalam kehidupan, seperti cuaca yang berubah, kabar yang menyebar, dan rezeki yang berpindah tangan, sering sudah berlangsung lama sebelum ada yang sempat menanyakan siapa yang menggerakkannya.
  • Sebelum ada satu kalimat yang bisa dibantah, pendengar sudah diminta menyaksikan sesuatu yang bergerak. Urutan itu membalik kebiasaan berdebat, tempat pernyataan datang lebih dulu dan bukti menyusul. Di sini Allah menaruh pemandangan lebih dulu, dan pernyataan baru muncul ketika pendengar sudah memegang gambar yang cukup untuk menimbangnya. Orang yang pernah menerangkan sesuatu kepada anak kecil mengenal urutan ini, karena menunjuk dulu terasa lebih jujur daripada menyimpulkan dulu.
  • Empat ayat berlalu sebelum ada kalimat yang menyatakan sesuatu. Dalam percakapan sehari-hari, jeda sepanjang itu biasanya diisi dengan menebak kelanjutan, dan tebakan sering lebih cepat daripada kalimat yang ditunggu. Bagi pembaca yang berhenti di tengah, empat ayat ini hanya deretan gambar tentang gerak. Maknanya terbaca penuh ketika sampai pada ayat kelima, dan orang yang berhenti lebih awal sering membawa pulang kesimpulan yang tidak pernah ditulis.
  • Apa yang diterbangkan tidak disebut. Pembaca biasanya mengisinya sendiri, dengan debu, daun, atau awan, sesuai dengan yang pernah ia lihat. Isian itu lebih banyak bercerita tentang pengalaman pembacanya daripada tentang isi ayat. Dua orang yang membaca baris yang sama dapat membayangkan dua pemandangan berbeda, dan keduanya masih bisa jujur selama mereka ingat bahwa gambar itu datang dari kepala mereka sendiri.
  • Kata penutup menekankan kesungguhan perbuatan menerbangkan, dan penekanan itu jatuh pada sesuatu yang berlangsung di luar kendali pendengar. Orang yang sehari-hari merasa mengatur hasil kerjanya, jadwalnya, dan lingkungannya dihadapkan pada gambar tentang daya yang tidak meminta izin lebih dulu. Gambar itu tidak merendahkan kemampuan mengatur. Gambar yang Allah ucapkan itu menempatkannya di samping sesuatu yang jauh lebih besar, dan ukuran sebenarnya baru terasa dari perbandingan itu.
  • Kata pembuka ayat ini tidak muncul lagi di bagian mana pun dari Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di satu ayat lain saja. Pembaca tidak punya ayat pembanding untuk menebak maknanya dari kebiasaan pemakaian. Pembaca menimbangnya dari bunyi dan lingkungannya: di 18:45 akar itu dipakai untuk tumbuhan yang sudah kering, dan di sini untuk daya yang menyebar dengan kuat. Kata yang sekali saja ditemui menuntut pembacaan yang lebih pelan daripada kata yang sudah akrab.

Ayat 51:2

فَالْحَامِلَاتِ وِقْرًا

lalu yang memikul muatan berat,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَالْحَامِلَاتِ وِقْرًاfa-l-haamilaati wiqranlalu yang memikul muatan berat

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَالْحَامِلَاتِfa-l-haamilaatilalu yang memikul
  2. وِقْرًاwiqranmuatan berat

Inti bacaan

Perbuatan kedua dalam sumpah adalah menanggung: para penanggung dan barang bawaannya sama-sama dibiarkan tanpa perkenalan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dimulai dengan (فَالْحَامِلَاتِ, fa-l-haamilaati), yang berarti "lalu yang memikul". Huruf (فَ, fa) di depannya berarti "lalu" dan meneruskan sumpah dari 51:1. Sisanya bentuk jamak perempuan dari sebutan bagi pelaku, dari akar ح-م-ل yang berarti memikul atau mengangkut. Bentuk ini muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:2. Karena (فَ, fa) menandai urutan, perbuatan memikul di ayat ini terbaca sebagai langkah sesudah perbuatan menerbangkan di 51:1, dan ayat tidak menjelaskan apakah urutan itu berarti sebab-akibat atau sekadar giliran.

Akar ح-م-ل dipakai untuk muatan yang kasatmata maupun yang tak terlihat. Di 12:72 akar itu menyebut muatan seekor unta, (حِمْلُ بَعِيرٍ, himlu ba'iirin) yang berarti "muatan seekor unta". Di 20:101 akar yang sama menyebut muatan pada hari kiamat, (حِمْلًا, himlan) yang berarti "muatan". Di 69:11 kata kerjanya, (حَمَلْنَاكُمْ, hamalnaakum) yang berarti "Kami mengangkut kalian", dipakai untuk manusia yang diangkut. Akar yang sama juga dipakai untuk kandungan di 22:2, (ذَاتِ حَمْلٍ, dzaati hamlin) yang berarti "yang mempunyai kandungan". Karena itu kata ini sendiri tidak memastikan apa yang dipikul, dan padanan "memikul" dipilih sebagai yang paling netral di antara pilihan yang ada.

Kata (وِقْرًا, wiqran) berarti "muatan berat" dan muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:2. Akarnya و-ق-ر dipakai di sembilan ayat: 6:25, 17:46, 18:57, 31:7, 41:5, 41:44, 48:9, 51:2, dan 71:13. Di enam ayat pertama bentuknya berharakat fatha, (وَقْرًا, waqran) atau (وَقْرٌ, waqrun), dan menyebut sesuatu yang diletakkan di telinga orang yang tidak mendengarkan, misalnya di 6:25 dan 31:7. Di 48:9 dan 71:13 akar yang sama menjadi (وَتُوَقِّرُوهُ, wa-tuwaqqiruuhu) dan (وَقَارًا, waqaaran), yang bermakna memuliakan dan kewibawaan. Maknanya berkisar pada bobot, dan di 51:2 bobot itu dipakai untuk muatan.

Dengan (وِقْرًا, wiqran), ayat ini memberi sasaran bagi perbuatan memikul. Susunannya berbeda dari 51:1. Di sana kata benda bertanwin di ujung ayat menerangkan cara, sedangkan di sini kata benda bertanwin itu menyebut apa yang dipikul. Empat ayat pertama surah ini bergantian begitu: (ذَرْوًا, dzarwan) menerangkan cara, (وِقْرًا, wiqran) menyebut sasaran, (يُسْرًا, yusran) di 51:3 menerangkan cara lagi, dan (أَمْرًا, amran) di 51:4 menyebut sasaran lagi.

Terjemahan tidak menambahkan nama pada yang memikul ataupun pada muatannya. Arabnya mengatakan bahwa ada yang memikul sesuatu yang berat, dan sama seperti di 51:1, ayat-ayat sesudahnya tidak mengisi kekosongan itu. Padanan "muatan berat" mengikuti arti kata, bukan jenis barang yang dimuat.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan perbuatan kedua pada rangkaian sumpah, dan arahnya berlawanan dengan yang pertama. Di 51:1 sesuatu diterbangkan sampai tercerai-berai. Di sini sesuatu dipikul dan dibawa, yang berarti dikumpulkan dan bergerak bersama. Dua ayat pertama dengan demikian memperlihatkan dua sisi gerak, menyebar dan membawa, dan sumpah demi keduanya mengisyaratkan bahwa daftar ini tidak menunjuk satu jenis kejadian saja.

Kata (وِقْرًا, wiqran) memberi bobot pada gambar itu. Muatan itu tidak ringan, dan karena pemikulnya berbentuk jamak, gambarnya berupa banyak pemikul yang masing-masing menanggung muatan berat. Ayat tidak mengatakan apa isi muatan itu, siapa yang menerimanya, dan ke mana dibawa. Ketiga hal itu dibiarkan tanpa jawaban, sama seperti pelaku di 51:1.

Surah ini kemudian menyebut di 51:22 bahwa di langit ada rezeki dan apa yang dijanjikan. Ayat 51:2 tidak menyatakan bahwa muatan yang dipikul itu sama dengan keduanya, sehingga hubungan itu tetap terbuka di sini dan tidak ditutup dengan tebakan. Dari ayat ini urutannya bisa dipastikan: sesudah daya yang menyebar, disebut daya yang membawa beban, lalu rangkaian bergerak ke 51:3. Dengan dua ayat berurutan pendengar mulai mengenali pola yang akan berlanjut, yaitu satu gerak, lalu gerak lain, dengan kata benda bertanwin di ujung tiap ayat.

Renungan dan Hikmah

  • Pemikul muatan berat di ayat ini tidak diberi nama, dan muatannya tidak diberi isi. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang paling banyak menanggung biasanya yang paling jarang disebut: pengangkut yang tiba sebelum subuh, pengurus yang menyelesaikan berkas yang tak pernah dibaca atasannya, orang tua yang memikul tanpa laporan. Contoh-contoh itu gambaran pembaca dan tidak tertulis di ayat. Ayat sendiri menyebut pemikul-pemikul tak bernama dalam sumpah Allah, di antara hal-hal yang dipandang cukup penting untuk disebut.
  • Dua gerak yang berlawanan disebut berurutan. Gerak pertama mencerai-beraikan, gerak kedua menampung dan membawa. Banyak kejadian besar memang punya dua sisi itu: kabar yang tersebar ke mana-mana selalu disusul oleh orang-orang yang memikul akibatnya, dan musim yang melepaskan sesuatu selalu disusul oleh tangan yang mengumpulkannya kembali. Ayat ini menaruh kedua sisi itu dalam satu napas sehingga yang satu tidak dibaca tanpa yang lain. Siapa yang biasanya memperhatikan pihak kedua itu?
  • Muatan berat biasanya dibayangkan bergerak pelan. Allah menyebut beratnya tanpa menyebut lambatnya, dan ayat sesudahnya, 51:3, menyebut gerak yang mudah. Orang yang pernah membawa sesuatu yang berat sampai ke tujuan tahu bahwa bobot dan laju tidak selalu berbanding terbalik. Kadang beban yang pantas membuat langkah lebih mantap, karena tidak ada lagi yang perlu dipertimbangkan selain jalannya, dan pembawa yang sudah mengenal bobotnya berjalan tanpa tergesa maupun ragu.
  • Isi muatan tidak disebut. Hampir semua orang pernah mengantar sesuatu yang isinya tidak mereka ketahui: bungkusan untuk orang lain, pesan yang harus disampaikan, wasiat yang belum dibuka. Pembawa seperti itu tidak perlu tahu isinya untuk menjalankan tugasnya, dan Allah dalam sumpah ini membiarkan pendengar berada pada kedudukan yang sama. Pendengar diminta menerima bahwa ada pembawaan yang nyata, sementara isi dan tujuannya belum diperlihatkan kepadanya, dan penerimaan seperti itu adalah bentuk kepercayaan yang sangat biasa dalam kehidupan sehari-hari.
  • Bentuk jamak pada kata pertama ayat ini menggambarkan banyak pemikul, bukan satu tokoh yang menanggung semuanya. Pekerjaan yang paling besar hampir selalu merupakan kerja banyak pihak yang tidak saling mengenal, dan hasil akhirnya tampak seperti satu gerak padahal tersusun dari ribuan pemikul kecil. Pembaca yang membayangkan satu pahlawan di balik hal-hal besar akan menemukan di ayat ini gambaran yang lebih ramai dan lebih rendah hati, tempat jasa terbagi pada banyak tangan yang tidak pernah masuk catatan.
  • Akar kata memikul dipakai untuk muatan seekor unta di 12:72 dan untuk muatan pada hari kiamat di 20:101. Kata yang sama sanggup menggambarkan beban di punggung dan beban yang tidak terlihat sama sekali. Dalam pengalaman manusia, perpindahan itu terjadi terus: orang membawa tas, lalu membawa janji, lalu membawa nama baik, dan bobotnya berpindah dari tangan ke dada tanpa ada yang mengumumkannya.

Ayat 51:3

فَالْجَارِيَاتِ يُسْرًا

lalu yang mengalir dengan mudah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَالْجَارِيَاتِ يُسْرًاfa-l-jaariyaati yusranlalu yang mengalir dengan mudah

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَالْجَارِيَاتِfa-l-jaariyaatilalu yang mengalir
  2. يُسْرًاyusrandengan mudah

Inti bacaan

Gambar ketiga dalam sumpah menyangkut gerak yang lapang; benda yang bergerak dan penyebab kelapangannya sama-sama tidak diperkenalkan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dimulai dengan (فَالْجَارِيَاتِ, fa-l-jaariyaati), yang berarti "lalu yang mengalir". Huruf (فَ, fa) berarti "lalu" dan menyambung dari 51:2, sedangkan (الْجَارِيَاتِ, al-jaariyaati) adalah bentuk jamak perempuan dari sebutan bagi pelaku, dari akar ج-ر-ي yang berarti mengalir atau berjalan lancar. Bentuk jamak ini muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:3.

Akar ج-ر-ي dipakai untuk benda-benda yang sangat berbeda. Di 22:65 dan 31:31 kata kerjanya, (تَجْرِي, tajrii) yang berarti "berlayar" atau "mengalir", dipakai untuk kapal di laut. Di 36:38 kata yang sama dipakai untuk matahari, dan di 88:12 bentuk tunggalnya, (جَارِيَةٌ, jaariyatun), menyebut mata air yang mengalir. Bentuk tunggal berkata sandang, (الْجَارِيَةِ, al-jaariyati), muncul di 69:11 untuk sesuatu yang membawa manusia di atas air. Karena akarnya menjangkau sedemikian luas, kata ini sendiri tidak menentukan benda apa yang dimaksud di 51:3.

Kata (يُسْرًا, yusran) berarti "dengan mudah" dan muncul enam kali di empat surah: 18:88, 51:3, 65:4, 65:7, 94:5, dan 94:6. Lawannya adalah (الْعُسْرِ, al-'usri) yang berarti "kesulitan" di 94:5 dan 94:6, serta (عُسْرٍ, 'usrin) di 65:7. Di 18:88 dan 65:4 kata itu muncul tepat di belakang (أَمْرِنَا, amrinaa) dan (أَمْرِهِ, amrihi), yang berarti "urusan Kami" dan "urusan-Nya". Pasangan ini, kemudahan dan urusan, berdampingan lagi di 51:3 dan 51:4.

Di 65:4 dan 65:7 kemudahan itu diberikan oleh Allah. Di 65:4 kalimatnya (يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا, yaj'al lahu min amrihi yusran) yang berarti "Dia menjadikan baginya dari urusan-Nya kemudahan", dan di 65:7 (سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا, sayaj'alu llahu ba'da 'usrin yusran) yang berarti "Allah akan menjadikan sesudah kesulitan kemudahan". Di 51:3 ayatnya tidak menyebut siapa yang memberi kemudahan itu kepada yang mengalir.

Terjemahan memilih "yang mengalir" karena kata kerja itu dipakai untuk semua benda tadi, dan tidak menambahkan nama benda di depannya. Kata "kapal" tidak dipakai karena laut dan air tidak muncul dalam ayat ini.

Padanan "mengalir" dipilih di antara beberapa kemungkinan. Kata "berlayar" mempersempit gambar ke kapal, kata "berlari" membawa kesan tubuh yang bergerak, sedangkan "mengalir" dipakai dalam bahasa Indonesia untuk air, cahaya, dan waktu, sehingga paling dekat dengan jangkauan akar ج-ر-ي yang dicontohkan di atas. Arabnya juga tidak menyebut tempat benda itu berjalan, dan padanan ini tidak memasukkan air ke dalam ayat atas nama kata "mengalir". Pilihan itu menjaga ayat tetap terbuka bagi pembaca yang ingin membayangkan sendiri benda yang mengalir.

Tafsiran

Ayat ini membawa rangkaian sumpah ke gambar ketiga, dan nadanya berubah. Di 51:1 gerak dilukiskan dengan kekuatan penuh, dan di 51:2 dengan muatan berat. Di sini gerak itu dilukiskan dengan kemudahan. Pendengar yang tadi dibawa ke gambar yang menegang kini dibawa ke gambar yang lapang, dan perubahan itu terjadi tanpa pindah ke pokok lain.

Kemudahan dalam Al-Qur'an, seperti terlihat di 94:5, 94:6, dan 65:7, sering berdiri di hadapan kesulitan. Di 51:3 lawannya tidak disebut, tetapi gambar sebelumnya, menerbangkan dengan sekuat-kuatnya dan memikul muatan berat, bisa dibaca sebagai latar yang membuat kemudahan terasa. Pembacaan ini bersifat pembacaan, karena ayat sendiri tidak menyatakan hubungan itu.

Pasangan kata (يُسْرًا, yusran) di sini dan (أَمْرًا, amran) di ayat berikutnya mengulang kebersamaan yang tampak di 18:88 dan 65:4. Karena itu 51:3 dan 51:4 dapat dibaca sebagai dua ayat yang saling mengacu, dengan kemudahan di satu ayat dan urusan di ayat lain. Siapa yang menjadikan gerak itu mudah, dan urusan apa yang dibagi sesudahnya, tidak dijawab di rangkaian ini.

Urutan tiga gambar pertama dengan demikian membentuk lengkung: tenaga besar, beban berat, lalu kelapangan. Lengkung itu tampak bagi pembaca yang menahan ketiganya dalam ingatan sekaligus, sehingga ayat-ayat ini lebih tepat dibaca sebagai satu rangkaian daripada tiga sumpah yang berdiri sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini melukiskan sesuatu yang mengalir dengan mudah tanpa menyebut siapa yang membuatnya mudah. Orang yang hidupnya lancar sering mengira kelancaran itu hasil rancangannya sendiri, sedangkan yang menjadikan jalan itu rata luput dari pandangan. Di 65:4 dan 65:7 kemudahan disebut berasal dari Allah, dan di 51:3 sambungan itu dibiarkan pada pembaca. Gambar tentang aliran mengingatkan pada sungai yang tampak bergerak sendiri, padahal alurnya dibentuk oleh tanah, kemiringan, dan hujan yang jatuh jauh dari tempat sungai itu terlihat. Orang yang berdiri di tepi hanya melihat air lewat.
  • Kemudahan di sini melekat pada gerak, bukan pada tujuan. Sesuatu yang mengalir dengan mudah tidak sedang memikirkan tempat tujuannya. Orang yang pernah bekerja pada hari ketika semuanya selaras tahu rasanya: tangan bergerak, keputusan jatuh pada tempatnya, dan tidak ada tenaga yang terbuang untuk melawan. Hari seperti itu jarang, dan Allah menempatkannya di antara hal-hal yang disebut dalam sumpah, sejajar dengan yang kuat dan yang berat.
  • Dua ayat sebelumnya penuh tenaga dan bobot, dan ayat ini terasa seperti napas yang dilepaskan. Susunan itu mirip pengalaman orang sehabis kerja berat: tubuh yang tadi tegang menemukan bahwa jalan berikutnya menurun. Hubungan bahwa lega merupakan upah bagi berat tidak ditulis di ayat ini. Pembaca hanya diberi urutannya, dan urutan itu sudah cukup untuk dikenali oleh siapa pun yang pernah melewati hari panjang lalu merasakan beban di bahunya mengendur tanpa tahu persis kapan itu terjadi.
  • Ketika perjalanan lancar, hampir tidak ada yang berhenti untuk memikirkan apa yang membuatnya lancar. Orang baru menyadari kemudahan ketika kehilangannya: jalan yang macet, sambungan yang putus, tubuh yang tidak bisa digerakkan seperti biasa. Kata yang dipilih ayat ini menyorot kemudahan pada saat kemudahan itu sedang berjalan, ketika orang tidak merasakan apa-apa, padahal saat itu paling jarang dipandang. Menyebut kemudahan dalam sumpah berarti meminta pendengar menengok sesuatu yang biasanya lewat tanpa dicatat. Kapan terakhir kali seseorang berterima kasih kepada jalan yang lancar?
  • Allah menempatkan hal yang mengalir dengan mudah sejajar dengan yang menerbangkan dengan kuat dan yang memikul muatan berat. Susunan itu memasukkan yang tenang ke dalam daftar sumpah bersama yang keras dan yang berat. Gerak yang mudah disebut dalam sumpah yang sama dengan gerak yang kuat dan yang berat. Orang yang terbiasa menilai penting-tidaknya sesuatu dari kerasnya bunyi akan menemukan di sini ukuran yang berbeda.
  • Bentuk jamak membuat gambar ini terdiri dari banyak arus yang berjalan bersamaan. Kota, pasar, dan keluarga dihidupi oleh banyak aliran kecil yang masing-masing mengikuti jalurnya sendiri, dan semuanya terlihat sebagai satu kehidupan yang bergerak. Pembaca yang menatap ayat ini lama akan sulit membayangkan satu aliran saja, karena kata yang dipakai sudah menyebut banyak aliran sekaligus dan membiarkan pendengar yang menentukan jumlah serta arahnya.

Ayat 51:4

فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًا

lalu yang membagi-bagi urusan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًاfa-l-muqassimaati amranlalu yang membagi-bagi urusan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَالْمُقَسِّمَاتِfa-l-muqassimaatilalu yang membagi-bagi
  2. أَمْرًاamranurusan

Inti bacaan

Deretan sumpah ditutup oleh perbuatan memberi jatah, sementara penentu jatah dan penerimanya tidak dikenalkan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dimulai dengan (فَالْمُقَسِّمَاتِ, fa-l-muqassimaati), yang berarti "lalu yang membagi-bagi". Huruf (فَ, fa) menyambung dari 51:3, dan (الْمُقَسِّمَاتِ, al-muqassimaati) adalah bentuk jamak perempuan dari sebutan bagi pelaku, dari akar ق-س-م yang berarti membagi. Huruf tengah kata ini berganda, yaitu bentuk kata kerja yang dalam Indonesia dipadankan dengan pengulangan, "membagi-bagi". Bentuk ini muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:4.

Akar ق-س-م dipakai untuk dua urusan yang berbeda. Pemakaian pertama berarti membagi: (قِسْمَةٌ, qismatun) yang berarti "pembagian" di 53:22 dan (الْقِسْمَةَ, al-qismata) di 4:8. Pemakaian kedua berarti bersumpah: (أُقْسِمُ, uqsimu) yang berarti "Aku bersumpah" di 75:1 dan (أَقْسَمُوا, aqsamuu) yang berarti "mereka bersumpah" di 5:53. Rangkaian sumpah ini dengan demikian berakhir pada kata yang akarnya sama dengan akar kata untuk bersumpah, walaupun maknanya di sini membagi.

Pembagian oleh Allah dengan akar ini disebut di 43:32, (نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ, nahnu qasamnaa baynahum ma'iisyatahum) yang berarti "Kamilah yang membagi di antara mereka penghidupan mereka". Di sana penghidupan dalam kehidupan dunia yang dibagi, dan pembagi disebut dengan terang. Di 51:4 pembagi dan yang dibagi sama-sama tak disebut.

Kata (أَمْرًا, amran) berarti "urusan" dan muncul tujuh belas kali di empat belas surah: 2:117, 3:47, 8:42, 8:44, 12:18, 12:83, 18:69, 19:21, 19:35, 27:32, 33:36, 40:68, 43:79, 44:5, 51:4, 65:1, dan 79:5. Susunan yang paling dekat dengan 51:4 ada di 79:5, (فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا, fa-l-mudabbiraati amran) yang berarti "lalu yang mengatur urusan", yaitu huruf (فَ, fa), kata bentuk jamak perempuan, lalu (أَمْرًا, amran). Di 79:5 pun yang mengatur tidak dinamai.

Terjemahan memakai "urusan" tanpa keterangan jenisnya, karena ayat tidak menyebut urusan apa yang dibagi dan kepada siapa. Di 44:4 dan 44:5, (أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا, amran min 'indinaa) yang berarti "urusan dari sisi Kami" menunjukkan bahwa kata ini dalam Al-Qur'an sanggup menyebut ketetapan yang datang dari Allah, tetapi 51:4 tidak menyatakan bahwa itu maksudnya.

Padanan "membagi-bagi" dipilih agar bentuk kata yang berganda tetap terasa dalam bahasa Indonesia. Padanan "urusan" dipilih karena sudah dipakai untuk (أَمْرًا, amran) di 79:5, sehingga dua ayat yang bentuknya sama dibaca dengan padanan yang sama. Kata "perintah" tidak dipakai, sebab ayat ini menyebut sesuatu yang dibagi, dan yang dibagi paling wajar dibayangkan sebagai bagian yang dapat dihitung.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian empat sumpah, dan penutupnya berbeda sifatnya dari tiga pendahulu. Tiga yang pertama melukiskan gerak: menerbangkan, memikul, mengalir. Gambar keempat melukiskan pembagian, sebuah perbuatan yang menyiratkan adanya bagian dan penerima bagian. Dengan demikian daftar ini bergerak dari daya yang menyebar ke daya yang mengatur siapa memperoleh apa.

Pergeseran itu membuat 51:5 terbaca sebagai kelanjutan. Setelah menyebut sesuatu yang membagi-bagi urusan, ayat berikutnya berbicara kepada "kalian" tentang apa yang dijanjikan. Ayat tidak menyatakan hubungan antara pembagian urusan dan janji itu. Anggapan bahwa janji termasuk urusan yang dibagi merupakan pembacaan dan tidak tertulis di ayat. Ayat 43:32 dan 44:5 menunjukkan bahwa Al-Qur'an memang berbicara tentang pembagian dan ketetapan dari sisi Allah di tempat lain.

Dari empat ayat itu terbentuk pola berselang-seling antara cara dan sasaran, yaitu (ذَرْوًا, dzarwan), (وِقْرًا, wiqran), (يُسْرًا, yusran), dan (أَمْرًا, amran). Pola itu memberi rangkaian ini bentuk yang rapi, dan karena akhir tiap ayat bunyinya sama, pendengar mengikutinya seperti mengikuti hitungan. Setelah hitungan itu selesai, kalimat yang ditahan sejak 51:1 akhirnya diucapkan.

Renungan dan Hikmah

  • Tiga gambar pertama menunjukkan gerak, dan gambar keempat menunjukkan jatah. Pergeseran itu mirip perjalanan pikiran orang yang baru menyadari sesuatu: mula-mula melihat kejadian, lalu bertanya siapa yang kebagian apa. Keluhan sehari-hari tentang rezeki, kesempatan, dan giliran dapat dibaca sebagai pertanyaan kedua itu. Allah membawa pendengar ke sana dengan memutar lewat gerak yang jauh lebih besar, seakan pertanyaan kecil itu baru pantas diajukan setelah pemandangan yang luas dilihat.
  • Ayat ini memisahkan pembagi dari penerima, meski keduanya tidak diberi nama. Siapa yang pernah merasa jatahnya ditetapkan tanpa ditanya? Dalam pengalaman manusia, yang membagi dan yang menerima hampir tidak pernah satu orang, dan ketegangan hampir selalu muncul di celah itu: anak yang menerima warisan, pekerja yang menerima upah, warga yang menerima pelayanan. Kata yang dipilih ayat ini menyentuh celah itu tanpa menunjuk siapa yang benar, dan pembaca yang pernah berdiri di salah satu sisinya akan mengenali ketegangannya.
  • Urusan yang dibagi tidak diperinci. Pembaca yang ingin kepastian akan merasa kehilangan pegangan, sedangkan pembaca yang bisa menerima bahwa kata "urusan" cukup lebar akan melihat bahwa ayat ini sengaja tidak mempersempitnya. Segala yang pernah datang kepada seseorang tanpa diminta, entah kesempatan, entah kesulitan, entah pertemuan, dapat dimasukkan ke dalam kata itu tanpa memaksanya, sehingga ayat ini terasa dekat bagi orang dengan pengalaman yang sangat berbeda.
  • Dalam pembagian yang dilakukan manusia lazim ada daftar, tanda terima, dan saksi. Pembagian yang Allah sebut di ayat ini tidak diperinci dengan satu pun dari ketiganya; ayat hanya menyebut bahwa ada yang membagi-bagi urusan. Perbandingan itu milik pembaca dan tidak tertulis di ayat, tetapi orang yang terbiasa menagih bukti di setiap langkah akan merasakan ayat ini sebagai ruang yang tidak biasa, karena tidak ada dokumen yang bisa diperiksa dan tidak ada penerima yang dipanggil maju.
  • Akar kata yang menutup rangkaian ini sama dengan akar kata untuk bersumpah. Kebetulan bunyi itu tidak diterangkan ayat, dan pembaca tidak perlu menariknya jauh. Namun pembaca yang memperhatikan akan melihat bahwa sebuah sumpah panjang berakhir pada kata yang berasal dari dunia yang sama dengan sumpah itu sendiri, seperti kalimat yang berakhir pada kata yang menyimpan nama kalimat itu. Kebetulan semacam ini kecil, tetapi pembaca yang suka menyimak akar kata akan menyimpannya sebagai catatan di pinggir halaman.
  • Allah menyusun empat sumpah berurutan sehingga terbentuk hitungan yang terasa selesai ketika yang keempat diucapkan. Pendengar yang mengikuti dengan sabar mendapat kelegaan kecil karena tahu bahwa kalimat yang ditahan segera datang. Kelegaan itu tidak datang dari isi, tetapi dari bentuk, dan bentuk yang rapi memang bagian dari cara sebuah pernyataan dipercaya. Orang yang pernah mendengar pidato yang tertata baik tahu bahwa ketertiban susunan sudah menyiapkan penerimaan isinya.

Ayat 51:5

إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ

sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian pasti benar,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌinnamaa tuu'aduuna la-shaadiqunsesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian pasti benar

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
  2. تُوعَدُونَtuu'aduunadijanjikan kepada kalian
  3. لَصَادِقٌla-shaadiqunpasti benar

Inti bacaan

Satu kalimat ringkas menjawab sumpah itu: apa yang dijanjikan dinyatakan pasti benar, dan saat datangnya tidak diperbincangkan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat jawaban bagi sumpah di 51:1 sampai 51:4. Kalimatnya dibuka dengan (إِنَّمَا, innamaa), yang dalam terjemahan dibaca "sesungguhnya apa yang". Di 51:5 dan 77:7 kata ini ditulis menyatu, sedangkan di 6:134 ditulis terpisah, (إِنَّ مَا, inna maa). Data morfologi korpus menandai (مَا, maa) di 51:5 sebagai partikel pencegah dan di 77:7 sebagai kata penghubung "apa yang", padahal pembukaan kedua ayat itu sama bentuknya. Terjemahan membaca (مَا, maa) sebagai "apa yang" di ketiga ayat, karena dengan bacaan itu (تُوعَدُونَ, tuu'aduuna) berfungsi sebagai keterangan bagi apa yang dibicarakan.

Kata (تُوعَدُونَ, tuu'aduuna) berarti "dijanjikan kepada kalian". Bentuknya pasif untuk "kalian", dari akar و-ع-د yang berarti menjanjikan, dan akar ini dipakai untuk kabar baik maupun kabar buruk. Bentuk ini muncul dua belas kali di sepuluh surah: 6:134, 21:103, 21:109, 23:36, 36:63, 38:53, 41:30, 50:32, 51:5, 51:22, 72:25, dan 77:7. Di 41:30 dan 50:32 yang dijanjikan berupa taman, sedangkan di 36:63 berupa neraka Jahanam. Padanan "dijanjikan" menjaga kedua arah itu tetap terbuka.

Kata (لَصَادِقٌ, la-shaadiqun) berarti "pasti benar". Huruf (لَ, la) di depannya menegaskan, dan (صَادِقٌ, shaadiqun) dari akar ص-د-ق berarti benar atau jujur. Bentuk tunggal bertanwin ini muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:5. Dalam bentuk jamak, (صَادِقِينَ, shaadiqiina) dipakai untuk orang yang bertutur benar, dan enam ayat memuat tantangan yang sama kepada para penutur: (مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ, mataa haadzaa l-wa'du in kuntum shaadiqiina) yang berarti "Kapankah janji ini, jika kalian orang-orang yang benar?", yaitu di 10:48, 21:38, 27:71, 34:29, 36:48, dan 67:25. Di enam ayat itu penuturnyalah yang diuji kebenarannya. Di 51:5 sifat benar dilekatkan pada janjinya.

Kalimat jawaban serupa memilih kata penutup yang lain. Di 6:134 penutupnya (لَآتٍ, la-aatin) yang berarti "pasti datang", di 77:7 (لَوَاقِعٌ, la-waaqi'un) yang berarti "pasti terjadi", dan di 51:6 pasangan 51:5 mengulang (لَوَاقِعٌ, la-waaqi'un). Ayat 51:5 memilih sifat benar, bukan datang atau terjadi.

Padanan "pasti benar" memikul dua unsur Arabnya. Kata "pasti" mewakili (لَ, la) yang menegaskan, dan kata "benar" mewakili akar ص-د-ق. Akhiran pada (تُوعَدُونَ, tuu'aduuna) menunjuk "kalian", yaitu pendengar, tanpa menyebut siapa mereka, sehingga sapaan di ayat ini terbuka bagi siapa pun yang mendengar. Penutur yang menjanjikan juga tidak disebut karena bentuk kata kerjanya pasif, dan hal yang sama berlaku di 77:7 dan 6:134.

Tafsiran

Kalimat di ayat ini yang pertama kali dalam surah menyatakan sesuatu, setelah empat ayat yang berisi gambar saja. Perubahan itu terasa dari dua sisi. Dari sisi isi, gambar-gambar yang tak bernama diganti kalimat yang tegas. Dari sisi sapaan, pembicaraan tentang benda-benda diganti pembicaraan kepada "kalian", yaitu pendengar sendiri, untuk pertama kali dalam surah.

Ayat ini menyatakan sifat dari apa yang dijanjikan dan tidak menyatakan kapan datangnya. Enam ayat yang memuat tantangan "Kapankah janji ini" menuntut waktu; 51:5 tidak memberinya. Waktunya tidak disebut dan jawabannya tidak dialihkan kepada tanggal. Kebenaran yang dinyatakan di sini tidak bergantung pada ketepatan waktu yang diminta si penanya.

Hubungan antara sumpah dan jawaban tidak diterangkan ayat. Salah satu cara membaca sumpah adalah sebagai pemanggilan saksi, dan dengan bacaan itu saksinya di sini adalah empat gambar tentang gerak dan pembagian. Surah ini sendiri kemudian kembali ke pokok yang sama di 51:23, (إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ, innahu la-haqqun mitsla maa annakum tanthiquuna) yang berarti "sesungguhnya ia benar-benar hak, seperti kalian berbicara". Perbandingan dengan ucapan sehari-hari itu mengarahkan pembaca untuk menilai kebenaran janji dengan kepastian yang biasa mereka pegang.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah empat ayat sumpah, jawaban dari Allah hanya satu kalimat pendek. Perbandingan panjang dan pendek itu seperti orang yang menarik napas dalam sebelum mengucapkan sesuatu yang singkat. Dalam percakapan, kalimat singkat yang didahului persiapan panjang terdengar lebih berat daripada pernyataan yang sama dilontarkan tiba-tiba. Pembaca merasakan bobotnya sebelum mengerti isinya, seperti orang yang mendengar langkah berhenti di depan pintu sebelum mengetuk.
  • Pertanyaan tentang waktu sering dipakai untuk menunda pertanyaan tentang kebenaran. Orang yang bertanya kapan dapat sedang menaruh jarak antara dirinya dan jawabannya. Berapa banyak pertanyaan kapan yang sebenarnya pertanyaan apakah? Ayat ini menjawab dengan sifat, bukan tanggal, sehingga pendengar yang bersembunyi di balik kata kapan kehilangan tempat bersembunyinya. Tinggal pertanyaan apakah seseorang mau menimbang benar-tidaknya sesuatu tanpa lebih dulu mengetahui jadwalnya, dan pertanyaan itu jarang enak dijawab dengan jujur.
  • Sampai 51:4 tidak ada pendengar di dalam kalimat. Di 51:5 Allah menyapa dengan kata "kalian", dan pendengar yang tadinya hanya menonton gambar mendapati bahwa dirinyalah yang sedang dibicarakan. Pengalaman itu dikenal dalam kehidupan sehari-hari: lama mengikuti pembicaraan orang tentang sebuah soal, lalu tiba-tiba nama sendiri disebut. Perhatian berubah seketika, dan sisa kalimat dibaca dengan lebih waspada.
  • Akar kata janji di ayat ini dipakai untuk kabar baik dan kabar buruk di ayat lain, dan ayat ini tidak mempersempitnya. Pembaca yang membaca janji sebagai hadiah dan pembaca yang membacanya sebagai peringatan sama-sama dibiarkan dengan bacaannya, sampai ayat berikutnya memberi keterangan. Orang yang pernah menerima surat tanpa mengetahui isinya mengenal rasa itu: kata yang sama bisa menjadi kabar gembira atau kabar sedih, sebelum amplopnya dibuka, dan jeda sebelum membuka membuat isi surat terasa lebih berat daripada kertasnya.
  • Biasanya penuturlah yang disebut benar, dan kejujurannyalah yang diuji. Di ayat ini sifat benar dilekatkan pada sesuatu yang dijanjikan. Perpindahan itu menggeser cara pembaca menimbang, dari siapa yang bicara dan apakah penutur itu bisa dipercaya ke arah apakah isi perkataannya sungguh begitu adanya. Orang yang terbiasa menimbang kabar dari siapa asalnya akan menemukan di sini ajakan menimbang kabar dari isinya, sesuatu yang memerlukan waktu lebih lama daripada menilai wajah penuturnya.
  • Allah menaruh empat gambar tentang gerak dan pembagian di depan satu kalimat tentang kebenaran. Cara itu mengingatkan pada orang yang menunjuk sekelilingnya sebelum berkata sesuatu, seakan segala yang bisa dilihat ikut menjadi saksi. Ayat tidak menjelaskan bagaimana saksi-saksi itu bekerja, dan pembaca dibiarkan mengisinya dengan pengalamannya sendiri: bahwa hal-hal besar berjalan dengan teratur tanpa menunggu persetujuannya, termasuk hal-hal yang diandalkan setiap hari tanpa pernah diperiksa.