بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا

Demi yang menerbangkan dengan sekuat-kuatnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًاwa-dz-dzaariyaati dzarwandemi yang menerbangkan dengan sekuat-kuatnya

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَالذَّارِيَاتِwa-dz-dzaariyaatidemi yang menerbangkan
  2. ذَرْوًاdzarwandengan sekuat-kuatnya

Inti bacaan

Sumpah dibuka dengan daya yang menerbangkan sekuat-kuatnya; siapa pelakunya dan apa sasarannya tidak diperkenalkan, sehingga pembaca melihat geraknya dahulu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan huruf sumpah yang melekat pada kata pertamanya, (وَالذَّارِيَاتِ, wa-dz-dzaariyaati), yang berarti "demi yang menerbangkan". Kata itu bentuk jamak perempuan dari sebutan bagi pelaku, dan akarnya ذ-ر-و berarti menerbangkan sesuatu sampai tercerai-berai. Bentuk jamak ini muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:1.

Akar ذ-ر-و hanya dipakai di dua ayat, 18:45 dan 51:1. Di 18:45 akar itu menjadi kata kerja (تَذْرُوهُ, tadzruuhu) yang berarti "menerbangkannya". Ayat itu menyebut dengan terang apa yang diterbangkan, yaitu tumbuh-tumbuhan yang telah menjadi (هَشِيمًا, hasyiiman) yang berarti "kering remuk", dan menyebut pula pelakunya, (الرِّيَاحُ, ar-riyaahu) yang berarti "angin-angin". Konteks 18:45 adalah perumpamaan kehidupan dunia, sehingga pemakaian lain akar ini menggambarkan sesuatu yang rapuh diterbangkan angin, sedangkan di 51:1 kerapuhan itu tidak disebut sama sekali. Ayat pertama surah ini membiarkan kosong apa yang diterbangkan dan siapa yang menerbangkannya.

Kata (ذَرْوًا, dzarwan) berasal dari akar yang sama dan muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:1. Bentuknya kata benda bertanwin di ujung ayat, dan tugasnya menerangkan cara: menerbangkan dengan sungguh-sungguh, yang dalam terjemahan dipadankan dengan "sekuat-kuatnya". Ungkapan "sekuat-kuatnya" adalah pilihan terjemahan untuk menyampaikan kesungguhan perbuatan itu.

Pola pembuka seperti ini muncul di lima surah. Surah 37, 51, 77, 79, dan 100 sama-sama dibuka dengan huruf sumpah, kata bentuk jamak perempuan, lalu kata benda bertanwin yang menutup ayat pertama: (صَفًّا, shaffan) di 37:1, (ذَرْوًا, dzarwan) di 51:1, (عُرْفًا, 'urfan) di 77:1, (غَرْقًا, gharqan) di 79:1, dan (ضَبْحًا, dhabhan) di 100:1. Kelimanya dapat dibaca sebagai ajakan melihat gerak lebih dulu, dan pernyataan pokok surah baru datang beberapa ayat kemudian. Di surah ini pernyataan itu muncul di 51:5.

Terjemahan memilih "yang menerbangkan" tanpa menambahkan kata benda di depannya. Ayat ini menyebut perbuatan dan caranya, sedangkan pelaku dan sasarannya dibiarkan kosong, dan tiga ayat sesudahnya, 51:2 sampai 51:4, meneruskan dengan bentuk jamak perempuan lain yang juga tidak diberi nama. Menambahkan kata seperti "angin" atau "debu" berarti mengisi tempat yang dikosongkan oleh Arabnya. Pembuka serupa di 77:1, 79:1, dan 100:1 pun diterjemahkan tanpa menamai pelakunya, sehingga pilihan ini searah dengan pembuka-pembuka itu.

Huruf sumpah di awal ayat ini berlaku sampai 51:4. Empat ayat pertama surah ini dengan demikian seluruhnya berisi sumpah, dan jawabannya baru datang di 51:5.

Tafsiran

Ayat ini menaruh pendengar di tengah sebuah gerak sebelum memberinya pernyataan apa pun. Surah yang pokoknya tentang apa yang dijanjikan kepada manusia, seperti terbaca di 51:5, tidak mulai dari janji itu. Surah ini mulai dari perbuatan menerbangkan yang dilakukan sekuat-kuatnya, dengan pelaku dan sasaran yang tak bernama.

Huruf sumpah di ayat ini baru yang pertama dari empat penyambung. Di 51:2, 51:3, dan 51:4 penyambungnya berganti menjadi (فَ, fa) yang berarti "lalu", sehingga empat ayat pertama terbaca sebagai urutan: ayat ini memberi titik berangkat, dan tiga ayat berikutnya melanjutkan dari titik itu. Urutan itu baru bisa dinilai utuh setelah 51:4 dibaca.

Penekanan ayat jatuh pada daya. Kata penutup (ذَرْوًا, dzarwan) menambah bobot pada perbuatannya, dan pendengar yang menunggu nama tidak mendapatkannya di ayat ini maupun di tiga ayat sesudahnya. Pembuka 77:1, 79:1, dan 100:1 memperlakukan pelakunya dengan cara serupa, sehingga kekosongan itu tampak sebagai ciri pola pembuka ini dan muncul juga di pembuka-pembuka lain.

Sumpah dalam rangkaian ini tidak membuktikan apa-apa dengan sendirinya. Rangkaian itu menyiapkan pendengar untuk sebuah kalimat yang ditahan sampai ayat kelima, dan seberapa jauh keempat gambar menopang jawabannya akan dibicarakan di 51:4 dan 51:5.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini membuka dengan sebuah daya yang bekerja penuh tanpa disertai nama. Sebuah daya yang bekerja penuh tanpa nama membuat pertanyaan tentang siapa di baliknya mudah muncul. Pembuka surah ini membiarkan pertanyaan itu menggantung selama empat ayat, karena Allah tidak menamai pelaku satu pun dari gerak itu. Apa yang biasanya dicari pertama kali ketika sesuatu bergerak: penyebabnya atau akibatnya? Gerak yang paling besar dalam kehidupan, seperti cuaca yang berubah, kabar yang menyebar, dan rezeki yang berpindah tangan, sering sudah berlangsung lama sebelum ada yang sempat menanyakan siapa yang menggerakkannya.
  • Sebelum ada satu kalimat yang bisa dibantah, pendengar sudah diminta menyaksikan sesuatu yang bergerak. Urutan itu membalik kebiasaan berdebat, tempat pernyataan datang lebih dulu dan bukti menyusul. Di sini Allah menaruh pemandangan lebih dulu, dan pernyataan baru muncul ketika pendengar sudah memegang gambar yang cukup untuk menimbangnya. Orang yang pernah menerangkan sesuatu kepada anak kecil mengenal urutan ini, karena menunjuk dulu terasa lebih jujur daripada menyimpulkan dulu.
  • Empat ayat berlalu sebelum ada kalimat yang menyatakan sesuatu. Dalam percakapan sehari-hari, jeda sepanjang itu biasanya diisi dengan menebak kelanjutan, dan tebakan sering lebih cepat daripada kalimat yang ditunggu. Bagi pembaca yang berhenti di tengah, empat ayat ini hanya deretan gambar tentang gerak. Maknanya terbaca penuh ketika sampai pada ayat kelima, dan orang yang berhenti lebih awal sering membawa pulang kesimpulan yang tidak pernah ditulis.
  • Apa yang diterbangkan tidak disebut. Pembaca biasanya mengisinya sendiri, dengan debu, daun, atau awan, sesuai dengan yang pernah ia lihat. Isian itu lebih banyak bercerita tentang pengalaman pembacanya daripada tentang isi ayat. Dua orang yang membaca baris yang sama dapat membayangkan dua pemandangan berbeda, dan keduanya masih bisa jujur selama mereka ingat bahwa gambar itu datang dari kepala mereka sendiri.
  • Kata penutup menekankan kesungguhan perbuatan menerbangkan, dan penekanan itu jatuh pada sesuatu yang berlangsung di luar kendali pendengar. Orang yang sehari-hari merasa mengatur hasil kerjanya, jadwalnya, dan lingkungannya dihadapkan pada gambar tentang daya yang tidak meminta izin lebih dulu. Gambar itu tidak merendahkan kemampuan mengatur. Gambar yang Allah ucapkan itu menempatkannya di samping sesuatu yang jauh lebih besar, dan ukuran sebenarnya baru terasa dari perbandingan itu.
  • Kata pembuka ayat ini tidak muncul lagi di bagian mana pun dari Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di satu ayat lain saja. Pembaca tidak punya ayat pembanding untuk menebak maknanya dari kebiasaan pemakaian. Pembaca menimbangnya dari bunyi dan lingkungannya: di 18:45 akar itu dipakai untuk tumbuhan yang sudah kering, dan di sini untuk daya yang menyebar dengan kuat. Kata yang sekali saja ditemui menuntut pembacaan yang lebih pelan daripada kata yang sudah akrab.