فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًا
lalu yang membagi-bagi urusan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًاfa-l-muqassimaati amranlalu yang membagi-bagi urusan
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَالْمُقَسِّمَاتِfa-l-muqassimaatilalu yang membagi-bagi
- أَمْرًاamranurusan
Inti bacaan
Deretan sumpah ditutup oleh perbuatan memberi jatah, sementara penentu jatah dan penerimanya tidak dikenalkan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dimulai dengan (فَالْمُقَسِّمَاتِ, fa-l-muqassimaati), yang berarti "lalu yang membagi-bagi". Huruf (فَ, fa) menyambung dari 51:3, dan (الْمُقَسِّمَاتِ, al-muqassimaati) adalah bentuk jamak perempuan dari sebutan bagi pelaku, dari akar ق-س-م yang berarti membagi. Huruf tengah kata ini berganda, yaitu bentuk kata kerja yang dalam Indonesia dipadankan dengan pengulangan, "membagi-bagi". Bentuk ini muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 51:4.
Akar ق-س-م dipakai untuk dua urusan yang berbeda. Pemakaian pertama berarti membagi: (قِسْمَةٌ, qismatun) yang berarti "pembagian" di 53:22 dan (الْقِسْمَةَ, al-qismata) di 4:8. Pemakaian kedua berarti bersumpah: (أُقْسِمُ, uqsimu) yang berarti "Aku bersumpah" di 75:1 dan (أَقْسَمُوا, aqsamuu) yang berarti "mereka bersumpah" di 5:53. Rangkaian sumpah ini dengan demikian berakhir pada kata yang akarnya sama dengan akar kata untuk bersumpah, walaupun maknanya di sini membagi.
Pembagian oleh Allah dengan akar ini disebut di 43:32, (نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ, nahnu qasamnaa baynahum ma'iisyatahum) yang berarti "Kamilah yang membagi di antara mereka penghidupan mereka". Di sana penghidupan dalam kehidupan dunia yang dibagi, dan pembagi disebut dengan terang. Di 51:4 pembagi dan yang dibagi sama-sama tak disebut.
Kata (أَمْرًا, amran) berarti "urusan" dan muncul tujuh belas kali di empat belas surah: 2:117, 3:47, 8:42, 8:44, 12:18, 12:83, 18:69, 19:21, 19:35, 27:32, 33:36, 40:68, 43:79, 44:5, 51:4, 65:1, dan 79:5. Susunan yang paling dekat dengan 51:4 ada di 79:5, (فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا, fa-l-mudabbiraati amran) yang berarti "lalu yang mengatur urusan", yaitu huruf (فَ, fa), kata bentuk jamak perempuan, lalu (أَمْرًا, amran). Di 79:5 pun yang mengatur tidak dinamai.
Terjemahan memakai "urusan" tanpa keterangan jenisnya, karena ayat tidak menyebut urusan apa yang dibagi dan kepada siapa. Di 44:4 dan 44:5, (أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا, amran min 'indinaa) yang berarti "urusan dari sisi Kami" menunjukkan bahwa kata ini dalam Al-Qur'an sanggup menyebut ketetapan yang datang dari Allah, tetapi 51:4 tidak menyatakan bahwa itu maksudnya.
Padanan "membagi-bagi" dipilih agar bentuk kata yang berganda tetap terasa dalam bahasa Indonesia. Padanan "urusan" dipilih karena sudah dipakai untuk (أَمْرًا, amran) di 79:5, sehingga dua ayat yang bentuknya sama dibaca dengan padanan yang sama. Kata "perintah" tidak dipakai, sebab ayat ini menyebut sesuatu yang dibagi, dan yang dibagi paling wajar dibayangkan sebagai bagian yang dapat dihitung.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian empat sumpah, dan penutupnya berbeda sifatnya dari tiga pendahulu. Tiga yang pertama melukiskan gerak: menerbangkan, memikul, mengalir. Gambar keempat melukiskan pembagian, sebuah perbuatan yang menyiratkan adanya bagian dan penerima bagian. Dengan demikian daftar ini bergerak dari daya yang menyebar ke daya yang mengatur siapa memperoleh apa.
Pergeseran itu membuat 51:5 terbaca sebagai kelanjutan. Setelah menyebut sesuatu yang membagi-bagi urusan, ayat berikutnya berbicara kepada "kalian" tentang apa yang dijanjikan. Ayat tidak menyatakan hubungan antara pembagian urusan dan janji itu. Anggapan bahwa janji termasuk urusan yang dibagi merupakan pembacaan dan tidak tertulis di ayat. Ayat 43:32 dan 44:5 menunjukkan bahwa Al-Qur'an memang berbicara tentang pembagian dan ketetapan dari sisi Allah di tempat lain.
Dari empat ayat itu terbentuk pola berselang-seling antara cara dan sasaran, yaitu (ذَرْوًا, dzarwan), (وِقْرًا, wiqran), (يُسْرًا, yusran), dan (أَمْرًا, amran). Pola itu memberi rangkaian ini bentuk yang rapi, dan karena akhir tiap ayat bunyinya sama, pendengar mengikutinya seperti mengikuti hitungan. Setelah hitungan itu selesai, kalimat yang ditahan sejak 51:1 akhirnya diucapkan.
Renungan dan Hikmah
- Tiga gambar pertama menunjukkan gerak, dan gambar keempat menunjukkan jatah. Pergeseran itu mirip perjalanan pikiran orang yang baru menyadari sesuatu: mula-mula melihat kejadian, lalu bertanya siapa yang kebagian apa. Keluhan sehari-hari tentang rezeki, kesempatan, dan giliran dapat dibaca sebagai pertanyaan kedua itu. Allah membawa pendengar ke sana dengan memutar lewat gerak yang jauh lebih besar, seakan pertanyaan kecil itu baru pantas diajukan setelah pemandangan yang luas dilihat.
- Ayat ini memisahkan pembagi dari penerima, meski keduanya tidak diberi nama. Siapa yang pernah merasa jatahnya ditetapkan tanpa ditanya? Dalam pengalaman manusia, yang membagi dan yang menerima hampir tidak pernah satu orang, dan ketegangan hampir selalu muncul di celah itu: anak yang menerima warisan, pekerja yang menerima upah, warga yang menerima pelayanan. Kata yang dipilih ayat ini menyentuh celah itu tanpa menunjuk siapa yang benar, dan pembaca yang pernah berdiri di salah satu sisinya akan mengenali ketegangannya.
- Urusan yang dibagi tidak diperinci. Pembaca yang ingin kepastian akan merasa kehilangan pegangan, sedangkan pembaca yang bisa menerima bahwa kata "urusan" cukup lebar akan melihat bahwa ayat ini sengaja tidak mempersempitnya. Segala yang pernah datang kepada seseorang tanpa diminta, entah kesempatan, entah kesulitan, entah pertemuan, dapat dimasukkan ke dalam kata itu tanpa memaksanya, sehingga ayat ini terasa dekat bagi orang dengan pengalaman yang sangat berbeda.
- Dalam pembagian yang dilakukan manusia lazim ada daftar, tanda terima, dan saksi. Pembagian yang Allah sebut di ayat ini tidak diperinci dengan satu pun dari ketiganya; ayat hanya menyebut bahwa ada yang membagi-bagi urusan. Perbandingan itu milik pembaca dan tidak tertulis di ayat, tetapi orang yang terbiasa menagih bukti di setiap langkah akan merasakan ayat ini sebagai ruang yang tidak biasa, karena tidak ada dokumen yang bisa diperiksa dan tidak ada penerima yang dipanggil maju.
- Akar kata yang menutup rangkaian ini sama dengan akar kata untuk bersumpah. Kebetulan bunyi itu tidak diterangkan ayat, dan pembaca tidak perlu menariknya jauh. Namun pembaca yang memperhatikan akan melihat bahwa sebuah sumpah panjang berakhir pada kata yang berasal dari dunia yang sama dengan sumpah itu sendiri, seperti kalimat yang berakhir pada kata yang menyimpan nama kalimat itu. Kebetulan semacam ini kecil, tetapi pembaca yang suka menyimak akar kata akan menyimpannya sebagai catatan di pinggir halaman.
- Allah menyusun empat sumpah berurutan sehingga terbentuk hitungan yang terasa selesai ketika yang keempat diucapkan. Pendengar yang mengikuti dengan sabar mendapat kelegaan kecil karena tahu bahwa kalimat yang ditahan segera datang. Kelegaan itu tidak datang dari isi, tetapi dari bentuk, dan bentuk yang rapi memang bagian dari cara sebuah pernyataan dipercaya. Orang yang pernah mendengar pidato yang tertata baik tahu bahwa ketertiban susunan sudah menyiapkan penerimaan isinya.