وَإِنَّ الدِّينَ لَوَاقِعٌ
dan sesungguhnya pertanggungjawaban pasti terjadi.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِنَّ الدِّينَ لَوَاقِعٌwa-inna d-diina la-waaqi'undan sesungguhnya pertanggungjawaban pasti terjadi
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَإِنَّwa-innadan sungguh
- الدِّينَd-diinaPertanggungjawaban
- لَوَاقِعٌla-waaqi'unpasti terjadi
Inti bacaan
Penegasan kepastian kedua 'pertanggungjawaban pasti terjadi', dua klaim kebenaran yang saling menguatkan, janji dan konsekuensinya sama-sama pasti terjadi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لَوَاقِعٌ, la-waaqi'un) diterjemahkan "pasti terjadi". Huruf (لَ, la) di depannya menegaskan, dan (وَاقِعٌ, waaqi'un) adalah bentuk pelaku dari akar و-ق-ع, akar yang dalam contoh berikut dipakai untuk benda yang jatuh dan peristiwa yang terjadi. Contohnya di 22:65, ketika langit ditahan agar tidak (تَقَعَ, taqa'a) yang berarti "jatuh" ke bumi, dan di 7:71 dalam (قَدْ وَقَعَ, qad waqa'a) yang berarti "sungguh telah jatuh", yang di sana menimpa orang-orang yang diajak bicara berupa kekejian dan kemurkaan. Pada peristiwa, akar yang sama dipakai di 10:51 dalam (إِذَا مَا وَقَعَ, idzaa maa waqa'a) yang berarti "setelah ia terjadi", dan di 56:1 serta 69:15 menjadi nama sebuah peristiwa, (الْوَاقِعَةُ, al-waaqi'atu) yang berarti "Peristiwa itu". Terjemahan memakai "jatuh" bila yang disebut benda atau sesuatu yang menimpa, dan "terjadi" bila yang disebut peristiwa.
Susunan (لَوَاقِعٌ, la-waaqi'un) muncul di tiga ayat, yaitu 51:6, 52:7, dan 77:7, dan pokok kalimatnya berbeda di tiap ayat. Di sini pokoknya (الدِّينَ, d-diina), di 52:7 (عَذَابَ رَبِّكَ, 'adzaaba rabbika) yang berarti "azab Tuhanmu", dan di 77:7 (إِنَّمَا تُوعَدُونَ, innamaa tuu'aduuna) yang berarti "sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian". Ketiga ayat itu tidak menyebut siapa yang tertimpa. Dua ayat lain memakai (وَاقِعٌ بِهِمْ, waaqi'un bihim) yang berarti "menimpa mereka", yaitu 7:171 tentang gunung yang mereka yakini akan jatuh, dan 42:22 tentang orang-orang zalim yang takut akibat perbuatan mereka; di dua ayat itu sasarannya disebut. Karena sasaran memang tidak ada di 51:6, terjemahan memakai "pasti terjadi" dan tidak "pasti menimpa", supaya pembaca tidak diberi alamat yang tidak tertulis di ayat.
Kata (الدِّينَ, d-diina) berasal dari akar د-ي-ن dan diterjemahkan "pertanggungjawaban", sebagaimana di seluruh terjemahan ini, misalnya di 1:4. Pembukaan (إِنَّ الدِّينَ, inna d-diina) hanya ada di dua ayat, yaitu 3:19 dan 51:6. Di 3:19 kelanjutannya (عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ, 'inda llaahi l-islaamu) yang berarti "di sisi Allah adalah keberserahan", sedangkan di sini kelanjutannya sesuatu yang terjadi. Terjemahan ini memakai padanan yang sama di kedua ayat sebagai pilihan konsistensi penerjemah; kelanjutan tiap ayat yang menentukan maknanya, dan kelanjutan keduanya berbeda.
Tanpa kata "hari" di depannya, bentuk (بِالدِّينِ, bid-diini) ada pada 82:9, 95:7, dan 107:1, sebagai sesuatu yang didustakan. Bila disertai "hari", bentuknya (يَوْمِ الدِّينِ, yawmi d-diini) di enam ayat: 1:4, 15:35, 38:78, 70:26, 74:46, dan 83:11. Ayat 51:6 tidak memasang kata "hari" di depannya, sehingga terjemahan tidak menulis "Hari Pertanggungjawaban" dengan huruf besar; pertanggungjawabannya sendiri yang dikatakan pasti terjadi.
Padanan "pembalasan" menyempitkan kata ini ke satu arah. Di 82:15 ada yang memasuki neraka (يَوْمَ الدِّينِ, yawma d-diini) yang berarti "pada Hari Pertanggungjawaban", sedangkan di 26:82 penuturnya berharap kesalahannya diampuni (يَوْمَ الدِّينِ, yawma d-diini) pada hari yang sama. Kedua ayat itu menaruh harapan ampunan dan masuk neraka pada hari yang sama, sehingga terjemahan memilih "pertanggungjawaban", kata tentang hitungan, dan 51:6 menyatakan hitungan itu pasti terjadi.
Tafsiran
Ayat ini menyambung 51:5 dengan huruf (وَ, wa) yang berarti "dan", sehingga keduanya terbaca sebagai dua jawaban atas empat sumpah di 51:1 sampai 51:4. Jawaban pertama menyatakan sifat sesuatu yang dijanjikan, dan jawaban kedua menyebut apa yang akan terjadi. Di 51:5 sasaran janji itu dibiarkan tanpa nama, dan di 51:6 namanya muncul, yaitu pertanggungjawaban.
Pola tiga kata ini dipakai setelah sumpah di dua surah lain. Surah 52 membuka dengan sumpah di 52:1 sampai 52:6 lalu menjawab di 52:7 dengan (إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ, inna 'adzaaba rabbika la-waaqi'un) yang berarti "sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi", dan surah 77 membuka dengan sumpah di 77:1 sampai 77:6 lalu menjawab di 77:7. Tiga rangkaian sumpah berakhir pada penutup yang sama, sedangkan pokok yang ditegaskannya berbeda: janji, azab, dan pertanggungjawaban. Surah 51 membagi jawabannya ke dua ayat, dan dua surah lain mencukupkan satu ayat.
Letak ayat ini juga terlihat dari kelanjutannya. Kata yang sama muncul lagi di 51:12 dalam pertanyaan (أَيَّانَ يَوْمُ الدِّينِ, ayyaana yawmu d-diini) yang berarti "Kapankah Hari Pertanggungjawaban?", dan surah ini menjawabnya dengan gambar, tidak dengan tanggal. Di 51:13 dan 51:14 hari itu berupa orang-orang yang diuji di atas api dan diberi tahu bahwa yang mereka alami sekarang adalah hal yang dahulu mereka minta disegerakan, lalu di 51:15 orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan mata air. Kedua gambar itu memperlihatkan isi dari kata yang di 51:6 baru disebut namanya, dan urutan ayat itu dapat dibaca sebagai gambaran dua keadaan pada hari yang ditanyakan di 51:12, sesuai dua arah yang sudah terlihat pada kata itu sendiri.
Sesudah ayat ini sumpah dibuka lagi di 51:7, dan jawabannya di 51:8 menyebut bahwa pendengar berada dalam perkataan yang berselisih. Teksnya tidak menjelaskan pokok perselisihan itu, sehingga kaitannya dengan 51:6 tidak dapat dipastikan dari ayat-ayatnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertanggungjawaban mudah memunculkan bayangan hukuman, seperti orang yang menerima panggilan pemeriksaan pembukuan dan langsung mengira ada yang salah. Pembukuan sendiri bisa berisi kelebihan maupun kekurangan, dan pemeriksa yang datang bertugas memastikan angkanya cocok dengan kenyataan. Ayat ini memilih kata hitungan, dan ayat-ayat lain meletakkan harapan akan ampunan serta api pada hari yang sama. Pembaca yang menyiapkan diri hanya untuk takut, atau hanya untuk lega, belum membuka seluruh pembukuan itu di hadapan Allah.
- Ketika sebuah pengumuman besar ditempel di dinding, mata pembaca biasanya mencari nama sendiri, dan sebelum itu sering mencari nama orang lain yang dianggap pantas tercantum. Tidak ada nama yang tertimpa di ayat ini, sehingga tidak ada daftar yang bisa dipindai untuk menaruh orang lain di barisan depan. Di 7:171 dan 42:22 sasarannya disebut, dan di sini tidak ada. Kata "kalian" dari ayat sebelumnya masih menggantung di atas pembaca, dan orang yang tersedia untuk dicari di ayat ini tinggal pendengarnya sendiri.
- Tiga ayat memakai penutup yang sama untuk tiga hal: janji di 77:7, azab di 52:7, dan pertanggungjawaban di 51:6. Orang cenderung memeriksa kabar yang menyenangkan dengan longgar dan kabar yang tidak menyenangkan dengan curiga, padahal keduanya datang dengan bentuk kepastian yang sama. Pembaca yang menerima janji sambil menyisihkan azab memakai dua alat ukur untuk satu sumber yang sama, yaitu Allah, dan selisih antara kedua alat itu hanya terlihat ketika kedua kalimat diletakkan berdampingan, seperti ketiga ayat ini di mushaf.
- Ayat 82:9 menyebut orang yang mendustakan pertanggungjawaban, dan 70:26 menyebut orang yang membenarkannya, tanpa menguraikan isi ucapan keduanya. Renungan berikut milik pembaca dan tidak dinyatakan ayat: sikap terhadap pertanggungjawaban dapat terbaca dari hal kecil, seperti menunda mengembalikan barang pinjaman atau membiarkan janji sepele terlewat tanpa ada yang bertanya. Hal-hal itu bisa diperiksa tiap orang pada dirinya sendiri, jauh sebelum hari yang ditanyakan di 51:12, dan hasil pemeriksaannya cukup tersimpan antara pembaca dan Allah.
- Ayat 10:51 bertanya, "Apakah kemudian, setelah ia terjadi, kalian baru beriman kepadanya?" dan ayat tidak menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan itu, yang ditujukan kepada orang-orang yang dahulu meminta agar ia disegerakan, membandingkan dua keadaan, sebelum kejadian dan sesudahnya, dan menaruh pendengarnya di antara keduanya. Pembaca yang menimbang 51:6 sekarang berada di sisi pertanyaan yang belum terjawab itu, seperti orang yang masih memegang kesempatan memutuskan sesuatu yang kelak tidak lagi bergantung pada keputusannya.
- Di 51:5 yang dijanjikan belum bernama, dan di 51:6 sesuatu itu mendapat nama: pertanggungjawaban. Urusan yang kabur mudah ditunda, seperti orang yang berkata "nanti ada yang harus diselesaikan" dan tidak pernah menjadwalkannya. Utang yang punya nama dan angka lebih sulit dilupakan. Ayat ini menukar sesuatu yang samar menjadi sesuatu yang punya nama, dan nama itu tertulis di mushaf tepat di samping "yang dijanjikan" pada ayat sebelumnya.