وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِwa-s-samaa'i dzaati l-hubukidemi langit yang mempunyai jalan-jalan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالسَّمَاءِwa-s-samaa'idan demi langit
  2. ذَاتِdzaatiyang memiliki
  3. الْحُبُكِl-hubukijalan-jalan

Inti bacaan

Rangkaian sumpah baru dibuka dengan huruf wa, dan jawabannya di 51:8 berbicara tentang ucapan para pendengarnya yang tidak seragam.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْحُبُكِ, l-hubuki) diterjemahkan "jalan-jalan". Kata ini bentuk jamak dari akar ح-ب-ك, dan akar itu hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Karena tidak ada pemakaian kedua, makna kata ini tidak bisa dibandingkan dengan ayat lain yang memakai akar yang sama. Pilihan "jalan-jalan" bertumpu pada konteksnya, yaitu sesuatu yang dimiliki langit dan yang dijadikan bahan sumpah, dan terjemahan ini tidak menambahkan keterangan tentang bentuk jalan itu, sebab teks sendiri tidak menguraikannya.

Konteks itu punya pembanding dari akar lain. Di 23:17 ada (سَبْعَ طَرَائِقَ, sab'a tharaa'iqa) yang berarti "tujuh jalan", yang diciptakan di atas pendengarnya, dan kata (طَرَائِقَ, tharaa'iqa) yang berasal dari akar ط-ر-ق itu hanya ada di dua ayat, yaitu 23:17 dan 72:11. Di 72:11 kata yang sama dipakai untuk manusia, dalam (كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا, kunnaa tharaa'iqa qidadan) yang berarti "kami menempuh jalan-jalan yang berbeda-beda". Kata di 23:17 dan 51:7 berbeda, jadi keduanya tidak boleh dianggap satu istilah. Dari 23:17 hanya terlihat bahwa Al-Qur'an memang berbicara tentang jalan-jalan di atas manusia, dan itu cukup menjadi alasan memilih padanan "jalan" di sini, tanpa menyamakan kata ini dengan kata di sana.

Kata (ذَاتِ, dzaati) berarti "yang memiliki", bentuk perempuan dari kata yang dipakai untuk pemilik. Bentuk perempuan dipakai karena (السَّمَاءِ, s-samaa'i) yang berarti "langit", dari akar س-م-و, berjenis perempuan. Susunan (وَالسَّمَاءِ ذَاتِ, wa-s-samaa'i dzaati) yang berarti "demi langit yang memiliki" ada di tiga ayat, yaitu 51:7, 85:1, dan 86:11. Di 85:1 sambungannya (الْبُرُوجِ, l-buruji) yang berarti "gugusan-gugusan bintang", dan di 86:11 sambungannya (الرَّجْعِ, r-raj'i) yang berarti "pengembalian". Ketiga ayat menyebut langit lewat sesuatu yang dimilikinya, dan sesuatu itu berbeda di tiap ayat.

Huruf (وَ, wa) di awal ayat ini berarti "demi", karena huruf itu mendahului benda yang dijadikan sumpah dan jawabannya baru datang sesudahnya, di 51:8 dalam (إِنَّكُمْ لَفِي قَوْلٍ مُخْتَلِفٍ, innakum la-fii qawlin mukhtalifin) yang berarti "sesungguhnya kalian benar-benar dalam perkataan yang berselisih". Di 51:1 sumpah dibuka dengan (وَ, wa), lalu 51:2 sampai 51:4 disambungkan dengan huruf (فَ, fa) yang berarti "lalu". Di ayat ini sambungan itu tidak dipakai, dan sumpah dimulai kembali dengan (وَ, wa). Terjemahan mengikuti perbedaan huruf itu: 51:2 sampai 51:4 dibuka dengan "lalu", sedangkan 51:1 dan 51:7 dibuka dengan "Demi", sehingga pembaca terjemahan pun dapat melihat empat sumpah yang bersambung dan satu sumpah yang memulai rangkaian baru.

Kata (السَّمَاءِ, s-samaa'i) di ayat ini menyebut langit dengan nama bendanya, berbeda dari 51:1 sampai 51:4 yang memakai sebutan pelaku saja, seperti (الذَّارِيَاتِ, adz-dzaariyaati) yang berarti "yang menerbangkan", tanpa menyebut apa yang dimaksud. Di 50:6, satu surah sebelumnya, langit disebut lewat (وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ, wa-maa lahaa min furuujin) yang berarti "dan tidak ada retak-retak padanya". Terjemahan membedakan kata (فُرُوجٍ, furuujin) itu dari "jalan-jalan" di sini: yang satu menafikan celah, dan yang lain menyebut sesuatu yang dimiliki langit.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian sumpah kedua, demi langit yang mempunyai jalan-jalan. Surah ini sudah memakai pola yang sama pada ayat 51:1 sampai 51:6: empat sumpah, lalu dua jawaban. Di 51:7 sumpah dibuka lagi, dan jawabannya di 51:8 berbunyi bahwa pendengar berada dalam perkataan yang berselisih. Sumpah pertama menyebut empat sebutan yang tidak diberi nama bendanya, sedangkan sumpah kedua menyebut bendanya langsung, yaitu langit, sehingga pendengar dibawa dari sesuatu yang harus ditebak ke sesuatu yang bisa ditunjuk dengan menengadah.

Dua hal diletakkan berdampingan oleh susunan ayat ini: langit yang memiliki jalan-jalan, dan pendengar yang berada dalam perkataan yang berselisih. Teks tidak menyatakan sebab-akibat antara keduanya. Teks hanya memuat sumpah dan isinya, dan pembaca dapat menimbang sendiri apa yang terlihat dari penjajaran itu: langit yang dilihat semua orang disebut memiliki jalan-jalan, sedangkan perkataan para pendengar saling berselisih.

Langit tidak berhenti di sini sebagai bahan sumpah. Surah ini kembali ke sana tiga kali sesudah ayat ini. Di 51:22 tertulis (وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ, wa-fii s-samaa'i rizqukum wa-maa tuu'aduuna) yang berarti "dan di langit ada rezeki kalian dan apa yang dijanjikan kepada kalian", dengan kata (تُوعَدُونَ, tuu'aduuna) yang sama dengan 51:5. Di 51:23 sumpah dilakukan lagi dengan (فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ, fa-wa-rabbi s-samaa'i wa-l-ardhi) yang berarti "maka, demi Tuhan langit dan bumi", dan di 51:47 langit disebut dibangun dengan kekuatan dan diluaskan. Dua di antaranya, 51:22 dan 51:23, berkaitan langsung dengan apa yang dijanjikan, dan 51:7 adalah kemunculan pertama langit dalam surah ini, sehingga pandangan pendengar sudah diarahkan ke atas sebelum janji itu disebut.

Renungan dan Hikmah

  • Pembaca bisa saja melihat langit tanpa memikirkannya. Ayat ini menyebut langit itu memiliki jalan-jalan, tanpa menguraikan bentuknya, dan Allah bersumpah dengannya. Langit yang dilihat tanpa terpikir itu dijadikan bahan sumpah, sehingga pembaca tidak perlu mencari ke tempat jauh sebelum menengadah ke langit yang sudah dilihatnya sejak kecil.
  • Pembaca yang membuka ayat ini biasanya sudah punya keyakinan atau keraguan sendiri, dan keduanya ikut menentukan apa yang terlihat saat menatap langit. Ayat tidak menuntut pembacanya menyelesaikan perdebatan lebih dulu. Ayat cukup menyebut sesuatu yang kasatmata dan memakainya untuk bersumpah. Adakah yang perlu diyakini lebih dulu agar sumpah dengan langit itu bisa diterima, atau cukup dengan mendengar Dia menyebutnya? Pertanyaan itu dibiarkan terbuka oleh ayat, dan jawabannya milik tiap pembaca ketika menengadah malam ini.
  • Empat sumpah di 51:1 sampai 51:4 menyebut pelaku tanpa menyebut bendanya, dan pembaca harus menebak apa yang dimaksud. Di 51:7 bendanya disebut langsung, sehingga mata bisa menunjuk ke atas tanpa menebak. Orang yang sedang menimbang sesuatu yang besar sering menunggu kejelasan yang belum ada, padahal sebagian kejelasan sudah ada di depan mata. Allah memakai kedua cara dalam satu rangkaian, yang samar lalu yang nyata, dan pembaca dapat menanyakan pada dirinya bagian mana dari urusannya yang masih ditebaknya padahal sudah bisa ditunjuk.
  • Ayat 72:11 menyebut manusia menempuh jalan-jalan yang berbeda-beda, dan 23:17 menyebut tujuh jalan di atas manusia. Pembaca bisa menaruh kedua ayat itu di samping 51:7 dan melihat bahwa kata jalan dipakai untuk langit dan untuk manusia. Jalan yang ditempuh pembaca dalam bekerja, berkeluarga, dan memutuskan terdengar sepenuhnya miliknya. Namun pembaca berjalan di bawah jalan-jalan lain yang tidak pernah dipilihnya, dan menyadari hal itu bisa mengubah cara pembaca memandang keputusannya sendiri.
  • Orang yang cemas soal rezeki biasanya menunduk: ke ponsel, rekening, dan daftar tagihan. Lima belas ayat sesudah sumpah ini, 51:22 menyebut bahwa di langit ada rezeki dan apa yang dijanjikan. Sumpah di 51:7 sudah mengangkat pandangan pembaca ke arah itu lebih dulu. Ayat tidak menjelaskan bentuk rezeki di langit, dan renungan ini tidak mengisinya. Urutannya saja yang dapat diambil: Dia mengangkat kepala pembaca dulu lewat sumpah, baru kemudian memberi tahu apa yang berada di atas sana.
  • Kata untuk jalan-jalan itu hanya muncul sekali di Al-Qur'an, dan tidak ada ayat lain yang bisa dijadikan pembanding. Pembaca yang terbiasa menutup tiap kata dengan satu arti mungkin merasa ada yang kurang di sini. Terjemahan mengakui bahwa pilihan jalan-jalan bertumpu pada konteks, dan mengakui batas itu terasa lebih jujur daripada menambahkan keterangan yang tidak ada. Sebagian pemahaman memang datang dengan batasnya, dan sumpah itu tetap diucapkan lengkap dengan kata yang tak punya kembaran.