قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ

Binasalah para penerka,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قُتِلَ الْخَرَّاصُونَqutila l-kharraashuunabinasalah para penerka

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. قُتِلَqutilabinasalah
  2. الْخَرَّاصُونَl-kharraashuunapara penerka

Inti bacaan

Kata kerja seruan yang sama membuka lima kalimat, yaitu 51:10, 74:19, 74:20, 80:17, dan 85:4, dan kelimanya diterjemahkan 'binasalah'.

Penjelasan pilihan kata

Kata (قُتِلَ, qutila) berasal dari akar ق-ت-ل, akar untuk membunuh, dan berbentuk kata kerja lampau pasif. Bentuk yang sama muncul di tujuh ayat. Di 3:144 dan 17:33 kata itu menceritakan pembunuhan yang mungkin terjadi atau sudah terjadi, dan terjemahannya "dibunuh". Di 3:144 kata itu disandingkan dengan (مَاتَ أَوْ قُتِلَ, maata aw qutila) yang berarti "wafat atau dibunuh". Di lima ayat lainnya, yaitu 51:10, 74:19, 74:20, 80:17, dan 85:4, kata itu membuka kalimat seruan terhadap orang atau kelompok yang sedang dibicarakan, misalnya (قُتِلَ الْإِنْسَانُ, qutila l-insaanu) di 80:17 yang berarti "binasalah manusia". Di empat ayat seruan selain 51:10 terjemahan memakai "binasalah", dan 51:10 memakai kata yang sama, sehingga kelima ayat seruan itu dapat dibandingkan langsung oleh pembaca.

Seperti 51:9, kata kerja ini pasif, sehingga pelaku yang membinasakan tidak disebut. Bentuknya lampau, tetapi dalam kalimat seruan bentuk lampau itu diterjemahkan dengan akhiran "-lah", mengikuti empat ayat seruan lainnya.

Kata (الْخَرَّاصُونَ, l-kharraashuuna) diterjemahkan "para penerka". Kata ini berasal dari akar خ-ر-ص, berbentuk jamak, berkata sandang, dan huruf tengahnya bertasydid. Sebagai kata benda, akar ini hanya muncul di ayat ini. Bentuk kata kerjanya muncul di empat ayat, yaitu 6:116, 6:148, 10:66, dan 43:20, selalu dalam ujung kalimat (إِلَّا يَخْرُصُونَ, illaa yakhrushuuna) atau (إِلَّا تَخْرُصُونَ, illaa takhrushuuna) yang berarti "hanya mengira-ngira". Di tiga di antaranya kalimat itu didahului (إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ, in yattabi'uuna illaa zh-zhanna) atau bentuk orang keduanya, yang berarti "mereka hanya mengikuti dugaan". Di 43:20 kalimat itu didahului keterangan bahwa mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang hal yang mereka katakan.

Terjemahan memakai "mengira-ngira" untuk kata kerja dari akar ini dan "dugaan" untuk akar ظ-ن-ن, sehingga dua akar yang berdampingan di ayat-ayat itu tetap dapat dibedakan. Kata benda di 51:10 diterjemahkan "para penerka". Awalan "pe-" menamai orang dari kegiatannya, dan "para" menandai bentuk jamak Arabnya.

Kata sandang (الْ, l-) membuat kata ini tertentu, dan ayat berikutnya merinci kelompok itu dengan (الَّذِينَ, lladziina) yang berarti "orang-orang yang". Akhiran (ونَ, uuna) menandai jamak dan kedudukan pokok kalimat, karena kata itu menjadi pokok bagi kata kerja pasif (قُتِلَ, qutila). Terjemahan mempertahankan urutan Arabnya, dengan seruan lebih dulu dan kelompok yang dikenainya sesudahnya, lalu ditutup koma karena kalimatnya berlanjut ke 51:11.

Tafsiran

Ayat ini membuka uraian tentang satu kelompok yang berlanjut sampai 51:14. Di 51:11 mereka disebut (الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ, lladziina hum fii ghamratin saahuuna) yang berarti "orang-orang yang terbenam dalam kelalaian lagi lupa", di 51:12 mereka bertanya kapan Hari Pertanggungjawaban, dan di 51:13 sampai 51:14 disebut hari ketika mereka diuji di atas api. Sesudah 51:8 menyebut perkataan yang berselisih dan 51:9 menyebut orang yang dipalingkan, ayat ini memberi nama kepada para pembicara itu, yaitu para penerka.

Di tiga dari empat ayat yang memakai kata kerja dari akar ini, isi terkaan itu disebut. Di 6:148 orang-orang musyrik berkata bahwa sekiranya Allah menghendaki, mereka dan nenek moyang mereka tidak akan mempersekutukan, lalu mereka ditanya (هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا, hal 'indakum min 'ilmin fa-tukhrijuuhu lanaa) yang berarti "apakah pada kalian ada pengetahuan, maka kemukakanlah itu kepada kami". Di 43:20 mereka berkata bahwa sekiranya Ar-Rahman menghendaki, mereka tidak akan menyembah sembahan-sembahan itu. Di 10:66 terkaan itu menyangkut sekutu-sekutu yang mereka seru selain Allah. Ketiga ayat itu memperlihatkan terkaan tentang kehendak Allah atau tentang kedudukan sembahan mereka. Di 51:12 para penerka bertanya tentang waktu Hari Pertanggungjawaban.

Kalimat seruan dengan kata kerja yang sama ada di 74:19, (فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ, fa-qutila kayfa qaddara) yang berarti "maka binasalah dia, bagaimanakah dia menetapkan", dan diulang di 74:20 dengan pembuka "kemudian". Di 74:18 orang itu disebut telah memikirkan dan menetapkan, di 74:23 berpaling dan menyombongkan diri, lalu di 74:24 sampai 74:25 menyebut “ini” sebagai sihir yang dipelajari dan perkataan manusia. Di surah 74 seruan itu jatuh kepada orang yang menyusun penilaian, dan di 51:10 kepada orang-orang yang menerka. Penjajaran ini dibuat dari kesamaan kata kerjanya, dan 51:10 sendiri tidak merujuk ke surah 74.

Renungan dan Hikmah

  • Di 6:148 dan 43:20 orang-orang berkata bahwa sekiranya Allah menghendaki, mereka tidak akan menyembah selain Dia, dan kedua ayat itu menyebut ucapan tersebut sebagai mengira-ngira. Mereka berbicara tentang kehendak Allah, padahal 43:20 menyebut mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu. Pembaca dapat mengingat kapan terakhir kali berkata bahwa sesuatu sudah menjadi kehendak Allah, lalu memeriksa apakah kalimat itu bersandar pada pengetahuan atau dipakai untuk menutup pembicaraan.
  • Di 6:148 Allah memerintahkan Rasul bertanya kepada orang-orang yang mengira-ngira, apakah pada mereka ada pengetahuan yang bisa dikemukakan. Pertanyaan itu meminta mereka mengeluarkan dasar ucapannya ke hadapan orang lain. Seseorang bisa memegang banyak pendapat tentang agama, tentang orang lain, atau tentang masa depan tanpa pernah diminta menunjukkan dasarnya. Bila pembaca diminta mengemukakan dasar dari keyakinan yang paling sering diucapkannya, apa yang dapat diletakkannya di depan orang yang bertanya?
  • Para penerka di 51:12 bertanya kapan Hari Pertanggungjawaban, dan di 51:14 disebut bahwa mereka dahulu meminta hari itu disegerakan. Rangkaian ayatnya mencatat pertanyaan dan permintaan itu, tanpa mencatat persiapan mereka. Orang yang sibuk menghitung kapan sesuatu akan datang bisa lupa menyiapkan dirinya untuk kedatangan itu. Pembaca yang pernah bertanya-tanya tentang akhir zaman atau tentang ajalnya sendiri dapat menimbang berapa bagian dari pertanyaan itu yang berujung pada persiapan.
  • Di 6:116 Allah menyebut bahwa menaati kebanyakan orang di bumi dapat menyesatkan dari jalan-Nya, lalu menyebut mereka hanya mengikuti dugaan dan hanya mengira-ngira. Ayat itu mengaitkan terkaan dengan jumlah orang yang mengikutinya. Pendapat yang diulang banyak orang mudah terasa seperti pengetahuan. Pembaca dapat memeriksa keyakinan yang dipegangnya karena banyak orang di sekitarnya memegangnya, lalu bertanya apakah ada dasar lain selain jumlah orang itu.
  • Orang di 74:18 telah memikirkan dan menetapkan, lalu di 74:24 sampai 74:25 menyebut “ini” sebagai sihir yang dipelajari dan perkataan manusia. Ayat-ayat itu menyebut kegiatan berpikir, dan di 74:23 orang itu juga disebut berpaling dan menyombongkan diri sebelum mengucapkan penilaiannya. Allah menjatuhkan seruan binasalah kepadanya di 74:19 dan 74:20. Pembaca dapat melihat kembali penilaian yang pernah disusunnya dengan rapi, lalu bertanya apakah penilaian itu disusun sesudah lebih dulu berpaling.
  • Di empat ayat lain akar ini dipakai sebagai kata kerja, yang menceritakan apa yang dilakukan orang, sedangkan di 51:10 akar itu dipakai sebagai nama bagi orangnya, para penerka. Dalam renungan ini perbedaan itu dapat dibaca sebagai gambaran kebiasaan yang sudah melekat menjadi sebutan. Seseorang yang terus berbicara tanpa dasar tentang hal-hal yang besar dapat dikenal dari kebiasaan itu. Pembaca dapat bertanya sebutan apa yang akan melekat padanya bila Allah menamai dirinya dari caranya berbicara tentang hari yang dijanjikan.