الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ

orang-orang yang lengah dalam kelalaian,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَalladziina hum fii ghamratin saahuunaorang-orang yang lengah dalam kelalaian

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
  2. هُمْhummereka
  3. فِيfiidalam
  4. غَمْرَةٍghamratinkelalaian
  5. سَاهُونَsaahuunalengah

Inti bacaan

Akar gh-m-r muncul di empat ayat dan selalu didahului kata depan 'dalam'; tiga ayat menyebut kelalaian, yaitu 23:54, 23:63, dan 51:11, dan 6:93 menyebut sakratulmaut.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الَّذِينَ, alladziina) berarti "orang-orang yang" dan berbentuk jamak. Kata ini menyambung ayat ini ke (الْخَرَّاصُونَ, l-kharraashuuna) di 51:10, sehingga 51:11 menerangkan siapa para penerka itu. Terjemahan ayat ini diawali huruf kecil karena kalimatnya melanjutkan 51:10. Sesudahnya datang kata ganti (هُمْ, hum) yang berarti "mereka", lalu keterangan tempat dan sebutan keadaan. Kalimat ini tidak memakai kata kerja, sehingga keadaan mereka disebut sebagai sifat yang sedang melekat.

Kata (غَمْرَةٍ, ghamratin) berasal dari akar غ-م-ر, berbentuk tunggal dan tak tentu, dan didahului kata depan (فِي, fii) yang berarti "dalam". Akar ini muncul di empat ayat, yaitu 6:93, 23:54, 23:63, dan 51:11. Di 23:54 bentuknya (غَمْرَتِهِمْ, ghamratihim) yang berarti "kelalaian mereka", dalam perintah agar mereka dibiarkan sampai suatu waktu. Di 23:63 bentuknya sama dengan 51:11, dalam (قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِنْ هَٰذَا, quluubuhum fii ghamratin min haadzaa) yang berarti "hati mereka dalam kelalaian dari ini". Di 6:93 bentuk jamaknya muncul dalam (غَمَرَاتِ الْمَوْتِ, ghamaraati l-mawti), keadaan orang-orang zalim ketika para malaikat mengulurkan tangan untuk mengeluarkan nyawa mereka, dan terjemahannya "sakratulmaut".

Di keempat ayat itu kata ini didahului fii, termasuk bentuk jamaknya di 6:93, sehingga orang selalu disebut berada di dalamnya. Terjemahan memakai "kelalaian" seperti di 23:54 dan 23:63, dan fii diterjemahkan "dalam", sehingga keadaan berada di dalam kelalaian itu tetap terbawa ke kalimat Indonesianya.

Kata (سَاهُونَ, saahuuna) berasal dari akar س-ه-و, berbentuk jamak, dan menyebut orang dari keadaan yang dialaminya. Akar ini muncul di dua ayat, 51:11 dan 107:5, keduanya dalam bentuk yang sama. Di 107:5 susunannya (الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ, alladziina hum 'an shalaatihim saahuuna) yang berarti "yang lengah terhadap salatnya". Kedua ayat dibuka dengan (الَّذِينَ هُمْ, alladziina hum) dan ditutup dengan saahuuna. Di 107:5 hal yang dilalaikan disebut lewat kata depan (عَنْ, 'an), yaitu salat mereka. Di 51:11 kata depan itu tidak ada, dan sebelum saahuuna terdapat fii ghamratin. Ayat ini menyebut tempat mereka berada, tanpa menyebut apa yang mereka lalaikan.

Terjemahan memakai "lengah" untuk saahuuna di ayat ini dan di 107:5. Kata "kelalaian" sudah dipakai untuk ghamratin dalam kalimat yang sama, sehingga "lalai" untuk saahuuna akan mengulang kata itu, dan "lupa" sudah dipakai untuk kata kerja yang menyatakan hilangnya ingatan. Dalam susunan Arabnya fii ghamratin datang lebih dulu dan saahuuna di ujung ayat, sedangkan terjemahannya meletakkan "lengah" lebih dulu supaya kalimatnya wajar dibaca. Keduanya tetap menerangkan hum, orang-orang yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menerangkan para penerka di 51:10 dengan menyebut keadaan mereka. Rangkaiannya berlanjut ke 51:12, ketika mereka bertanya (أَيَّانَ يَوْمُ الدِّينِ, ayyaana yawmu d-diini) yang berarti "kapankah Hari Pertanggungjawaban", lalu ke 51:14, yang menyebut bahwa mereka dahulu meminta hari itu disegerakan. Kelalaian di 51:11 dan pertanyaan di 51:12 dilekatkan pada orang-orang yang sama. Mereka lengah, tetapi tetap membicarakan hari itu dengan menanyakan waktunya.

Di surah 23 kata ghamrah muncul dua kali dalam satu rangkaian. Di 23:53 mereka disebut memecah urusan mereka menjadi kepingan, dan setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. Perintah di 23:54 membiarkan mereka dalam kelalaian mereka sampai suatu waktu. Di 23:55 sampai 23:56 mereka mengira harta dan anak-anak yang diberikan kepada mereka sebagai kebaikan yang disegerakan, dan ayat itu ditutup dengan (بَلْ لَا يَشْعُرُونَ, bal laa yasy'uruuna) yang berarti "tidak, tetapi mereka tidak menyadari". Di 23:63 hati mereka disebut dalam kelalaian dari ini, dan ayat yang sama menyebut bahwa mereka mempunyai perbuatan-perbuatan lain yang terus mereka kerjakan.

Di 23:63 kelalaian disebut bersama perbuatan yang terus dikerjakan, dan di 107:4 sampai 107:5 kata saahuuna dilekatkan kepada orang-orang yang bersalat. Di 51:12 orang-orang yang lengah itu bertanya. Ketiga ayat itu menyebut orang yang berada dalam kelalaian sambil tetap berbuat sesuatu. Ayat 51:11 sendiri tidak merinci apa yang mereka kerjakan, dan rinciannya datang dari ayat-ayat sesudahnya dalam surah ini.

Renungan dan Hikmah

  • Para penerka di 51:12 bertanya kapan Hari Pertanggungjawaban, padahal ayat sebelumnya menyebut mereka lengah dalam kelalaian. Pertanyaan tentang hari itu dapat diajukan berulang kali oleh orang yang tidak beranjak dari keadaannya. Ayat 51:12 memuat pertanyaan mereka itu, lalu 51:13 menyebut hari ketika mereka diuji di atas api. Pembaca yang sering membicarakan akhir zaman dapat bertanya apakah pembicaraan itu pernah mengubah sesuatu dalam caranya menjalani hari ini.
  • Di 107:4 sampai 107:5 Allah menyebut celaka orang-orang yang bersalat, yang lengah terhadap salat mereka. Kata saahuuna di sana dipakai untuk orang-orang yang bersalat, dan kata yang sama dipakai di 51:11 untuk para penerka. Mengerjakan salat tidak menjamin seseorang terjaga dari keadaan yang disebut kata itu. Pembaca dapat mengingat salat terakhir yang dikerjakannya, lalu bertanya berapa bagian dari bacaannya yang masih diingatnya sesudah salam.
  • Di 23:63 hati mereka disebut berada dalam kelalaian dari ini, lalu ayat yang sama menyebut bahwa mereka mempunyai perbuatan-perbuatan lain yang terus mereka kerjakan. Kelalaian dalam ayat itu berjalan bersama kesibukan yang tidak berhenti. Seseorang bisa merasa hidupnya penuh dan teratur, sementara seruan Allah kepadanya belum pernah mendapat tempat dalam kesibukan itu. Pembaca dapat menuliskan pekerjaan yang mengisi pekannya, lalu mencari letak seruan itu dalam daftarnya.
  • Di 23:55 sampai 23:56 orang-orang yang dibiarkan dalam kelalaian mengira harta dan anak-anak pemberian Allah sebagai tanda bahwa Allah bersegera memberi mereka kebaikan. Ayat itu menjawab bahwa mereka tidak menyadari. Pemberian yang terus bertambah mudah dibaca pemiliknya sebagai tanda bahwa jalannya sudah benar. Pembaca yang hidupnya sedang lapang dapat bertanya apakah kelapangan itu pernah dipakainya sebagai alasan untuk berhenti memeriksa diri.
  • Perintah di 23:54 berbunyi agar mereka dibiarkan dalam kelalaian mereka sampai suatu waktu. Ayat itu menyebut batasnya tanpa menyebut kapan. Hari-hari yang lewat tanpa teguran mudah dikira sebagai tanda aman oleh orang yang menjalaninya. Allah yang menetapkan batas itu, dan orang yang dibiarkan tidak diberi tahu kapan batasnya tiba. Pembaca dapat bertanya apakah tidak adanya teguran dalam hidupnya pernah dikiranya sebagai tanda bahwa keadaannya baik.
  • Di 107:5 hal yang dilalaikan disebut, yaitu salat mereka. Di 51:11 hal itu tidak disebut, dan ayatnya menyebut keadaan tempat mereka berada. Seseorang yang tahu hal yang dilalaikannya masih bisa kembali kepada hal itu, karena hal itu dapat ditunjuk. Para penerka dalam ayat ini disebut tanpa keterangan tentang hal yang mereka lalaikan. Bila pembaca diminta menyebut hal yang paling sering dilalaikannya dari seruan Allah, apakah ada yang langsung terlintas, atau pertanyaan itu terasa asing?