وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

Dan di langit ada rezeki kalian dan apa yang dijanjikan kepada kalian.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَwa-fii s-samaa'i rizqukum wa-maa tuu'aduunadan di langit ada rezeki kalian dan apa yang dijanjikan kepada kalian

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَفِيwa-fiidan pada
  2. السَّمَاءِs-samaa'ilangit
  3. رِزْقُكُمْrizqukumrezeki kalian
  4. وَمَاwa-maadan apa yang
  5. تُوعَدُونَtuu'aduunadijanjikan kepada kalian

Inti bacaan

Susunan wa-fii s-samaa'i dan bentuk rizqukum masing-masing hanya muncul di 51:22.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَفِي السَّمَاءِ, wa-fii s-samaa'i) yang berarti "dan di langit". Partikel (فِي, fii) menunjuk tempat dan berarti "pada" atau "di". Terjemahan di sini memilih "di" karena langit disebut sebagai letak. Partikel yang sama membuka tiga ayat sebelumnya: (وَفِي أَمْوَالِهِمْ, wa-fii amwaalihim) yang berarti "dan pada harta mereka" di 51:19, (وَفِي الْأَرْضِ, wa-fii l-ardhi) yang berarti "dan di bumi" di 51:20, dan (وَفِي أَنْفُسِكُمْ, wa-fii anfusikum) yang berarti "dan pada diri kalian" di 51:21. Susunan wa-fii s-samaa'i hanya muncul di 51:22.

Kata (السَّمَاءِ, as-samaa'i) yang berarti "langit" berasal dari akar س-م-و, memakai kata sandang al-. Di 43:84 frasa itu dipakai untuk menyebut tempat Tuhan, (وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ, wa-huwa lladzii fii s-samaa'i ilaahun) yang berarti "Dialah Tuhan di langit". Rezeki dan langit juga bertemu di 40:13, (وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا, wa-yunazzilu lakum mina s-samaa'i rizqan) yang berarti "dan menurunkan rezeki dari langit untukmu". Di ayat itu ada kata kerja "menurunkan" dan partikel (مِنَ, mina) yang berarti "dari". Ayat 51:22 hanya memuat fii, sehingga terjemahannya menyebut letak: rezeki ada di langit.

Kata (رِزْقُكُمْ, rizqukum) yang berarti "rezeki kalian" terdiri atas rizq dari akar ر-ز-ق dan akhiran -kum yang berarti "kalian". Bentuk rizqukum hanya muncul di 51:22. Akhiran -kum melanjutkan sapaan dari 51:21, sedangkan 51:15 sampai 51:19 memakai "mereka" untuk orang-orang bertakwa. Kata rizq dalam ayat lain menunjuk apa yang dapat dimakan dan dimanfaatkan. Di 2:22 dan 14:32, (رِزْقًا لَكُمْ, rizqan lakum) yang berarti "rezeki bagi kalian" dipakai untuk buah-buahan yang dikeluarkan dengan air dari langit, dan frasa itu hanya muncul di dua ayat tersebut. Di 50:11, (رِزْقًا لِلْعِبَادِ, rizqan lil-'ibaadi) yang berarti "sebagai rezeki bagi hamba-hamba" menyusul 50:9, yang menyebut air dari langit menumbuhkan taman dan biji-bijian. Bentuk kata kerjanya, (يَرْزُقُكُمْ, yarzuqukum) yang berarti "memberi kalian rezeki", dan di 10:31 berbunyi (مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ, man yarzuqukum mina s-samaa'i wa-l-ardhi) yang berarti "siapakah yang memberi kalian rezeki dari langit dan bumi". Di 10:31 langit disebut bersama bumi, sedangkan 51:22 menyebut langit saja.

Bagian terakhir, (وَمَا تُوعَدُونَ, wa-maa tuu'aduuna), berarti "dan apa yang dijanjikan kepada kalian". Partikel (مَا, maa) berfungsi sebagai kata ganti penghubung yang berarti "apa yang", dan sesudahnya tidak ada kata benda yang menyebut isinya. Kata (تُوعَدُونَ, tuu'aduuna) berakar و-ع-د dan pelaku yang menjanjikan tidak disebut, sehingga "kalian" menjadi penerima janji. Terjemahan menambahkan "kepada" karena penerima janji berada pada kedudukan itu. Surah 51 memuat bentuk tuu'aduuna dua kali, di 51:5 dan 51:22. Di 51:5 bunyinya (إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ, innamaa tuu'aduuna lashaadiqun) yang berarti "sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian pasti benar", dan susunan innamaa tuu'aduuna hanya muncul di 51:5 dan 77:7.

Akar و-ع-د dipakai untuk janji yang menyenangkan dan untuk ancaman. Di 41:30, (بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ, bi-l-jannati llatii kuntum tuu'aduuna) yang berarti "dengan taman yang dahulu dijanjikan kepada kalian" menyebut taman. Di 36:63, (جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ, jahannamu llatii kuntum tuu'aduuna) yang berarti "Jahanam yang dahulu diancamkan kepada kalian" menyebut neraka. Ayat 51:22 tidak memuat nama taman atau neraka, sehingga terjemahan di sini mengikuti 51:5 dan memakai "dijanjikan", kata yang tidak menentukan isi janjinya.

Tafsiran

Ayat ini menutup empat ayat berpola wa-fii: pada harta mereka di 51:19, di bumi di 51:20, pada diri kalian di 51:21, dan di langit di 51:22. Urutannya bergerak dari harta orang bertakwa ke bumi, ke dalam diri, lalu ke langit. Kata ganti ikut berpindah: sampai 51:19 ayat-ayat membicarakan "mereka", dan sejak 51:21 ayat-ayat menyapa "kalian". Ayat 51:21 ditutup pertanyaan apakah kalian tidak memperhatikan, lalu 51:22 beralih ke pernyataan yang menyebut tempat rezeki dan apa yang dijanjikan, keduanya bagi "kalian".

Kalimatnya tersusun dari dua bagian yang disambung wa: rezeki, lalu apa yang dijanjikan. Keduanya ditaruh di tempat yang sama dan memakai satu sapaan. Bagian kedua mengulang sebutan dari awal surah. Di 51:5 apa yang dijanjikan kepada kalian disebut pasti benar, dan 51:6 menyusulnya dengan kalimat bahwa pertanggungjawaban pasti terjadi. Sesudah rangkaian tentang orang bertakwa sejak 51:15, sebutan itu kembali di 51:22 dan ditujukan langsung kepada pendengar.

Ayat sesudahnya mengikat langit tadi dengan bumi. Ayat 51:23 dibuka dengan sumpah, (فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ, fa-wa-rabbi s-samaa'i wa-l-ardhi) yang berarti "maka, demi Tuhan langit dan bumi", lalu menyatakan lewat kata ganti -hu bahwa sesuatu benar-benar hak, dengan kata (لَحَقٌّ, la-haqqun) yang seakar dengan hak peminta di 51:19. Langit dan bumi yang disebut terpisah di 51:20 dan 51:22 disebut bersama di 51:23, sehingga tempat tanda-tanda, tempat rezeki, dan tempat sumpah berada dalam satu rangkaian pendek.

Surah yang sama kembali ke soal rezeki di 51:57 dan 51:58. Di sana disebut (مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ, maa uriidu minhum min rizqin) yang berarti "Aku tidak menghendaki rezeki apa pun dari mereka", lalu Allah disebut (الرَّزَّاقُ, ar-razzaaqu) yang berarti "Sang Pemberi Rezeki".

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 51:22 memakai fii, "di", dan tidak memakai mina, "dari", seperti di 40:13 dan 45:5 yang menyebut rezeki diturunkan dari langit. Rezeki di sini disebut berada di langit, tanpa gambaran jalan yang dilalui sampai ke tangan penerima. Orang yang menghitung rezeki dari saldo rekening, slip gaji, atau isi lumbung biasanya baru tenang bila angkanya cukup. Di 65:2 dan 65:3 Allah memberi orang yang bertakwa jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak diduganya, sehingga sebagian rezeki datang lewat jalan yang tidak masuk hitungan. Pembaca dapat mengingat rezeki setahun terakhir yang tiba dari arah yang tidak pernah direncanakannya.
  • Bagian kedua ayat ini menyebut apa yang dijanjikan tanpa menyebut isinya. Di 51:5 hal itu disebut pasti benar, di 77:7 pasti terjadi, dan di 23:36 orang yang menolaknya berkata bahwa apa yang dijanjikan itu jauh, jauh sekali. Pembaca yang menemukan kata janji sering langsung mengisinya dengan gambaran sendiri, ada yang menyenangkan dan ada yang menakutkan. Di 51:22 ruang itu dibiarkan kosong, dan ayat hanya menyebut letaknya: di langit bersama rezeki. Dari mana gambaran yang selama ini diisikan ke kata itu berasal, dari ayat-ayat yang memuatnya atau dari kebiasaan membayangkan?
  • Sampai 51:19 kata ganti mereka menunjuk orang-orang bertakwa yang berbuat kebaikan, sedikit tidur pada waktu malam, dan memohon ampunan pada akhir malam. Di 51:21 sapaan berubah menjadi kalian, dan di 51:22 rezeki serta apa yang dijanjikan menjadi milik kalian. Kalimat ini menyebut rezeki kalian tanpa syarat di depannya. Pembaca yang selama beberapa ayat membaca tentang orang lain mendapati dirinya ikut disapa. Seseorang dapat memperhatikan kapan terakhir ia membaca sifat yang mulia sebagai gambaran orang lain, dan apa yang berubah ketika sapaan itu menunjuk kepadanya.
  • Di 51:57 dinyatakan bahwa Allah tidak menghendaki rezeki apa pun dari manusia dan tidak menghendaki mereka memberi-Nya makan, lalu 51:58 menyebut Allah sebagai Sang Pemberi Rezeki. Di 20:132, sesudah perintah salat, tertulis: Kami tidak meminta rezeki kepadamu; Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Ayat 51:22 menaruh rezeki di langit sebagai milik kalian, dan kedua ayat tadi menyebut siapa yang tidak meminta rezeki dan siapa yang memberikannya. Orang yang beribadah dengan perasaan telah memberi sesuatu kepada Tuhan dapat membaca ketiga ayat itu bersama, lalu memeriksa apakah arah pemberian yang dibayangkannya sama dengan arah yang tertulis di sana.
  • Di 29:17 apa yang disembah selain Allah disebut tidak mampu memberi rezeki, dan di 16:73 tidak menguasai rezeki dari langit dan bumi sedikit pun. Ayat 67:21 bertanya siapa yang memberi kalian rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya. Orang yang bekerja bagi satu atasan, satu klien besar, atau satu pelanggan tetap dapat merasa rezekinya berada di tangan pihak itu. Perasaan tersebut mudah membentuk sikap sehari-hari, termasuk kesediaan menyembunyikan kekeliruan demi menjaga hubungan. Apakah rasa bergantung pada satu pihak pernah mengalahkan pertimbangan yang sebenarnya sudah diketahui benar, padahal 51:22 menaruh rezeki di langit?
  • Ayat lain menyebut jalan yang dapat ditelusuri. Di 2:22 air diturunkan dari langit dan dengannya dikeluarkan buah-buahan sebagai rezeki, dan di 50:9 sampai 50:11 air yang diturunkan dari langit menumbuhkan taman, biji-bijian, dan pohon-pohon kurma sebagai rezeki bagi hamba-hamba. Orang yang membeli nasi, sayur, dan buah di pasar tanpa pernah melihat sawahnya dapat menelusuri sepiring makanan ke belakang: penjual, pengangkut, petani, tanah, lalu air yang jatuh dari atas. Penelusuran itu memperlihatkan banyaknya tangan yang ikut mengantar makanan sebelum uang berpindah, dan di 45:5 rezeki yang diturunkan Allah dari langit disebut bersama pergantian malam dan siang sebagai tanda.