فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ
Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya ia benar-benar hak, seperti kalian berbicara.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِfa-wa-rabbi s-samaa'i wa-l-ardhimaka, demi Tuhan langit dan bumi
- إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَinnahu la-haqqun mitsla maa annakum tanthiquunasesungguhnya ia benar-benar hak, seperti kalian berbicara
Terjemahan per kata (9 kata)
- فَوَرَبِّfa-wa-rabbimaka demi Tuhan
- السَّمَاءِs-samaa'ilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
- لَحَقٌّla-haqqunbenar-benar kebenaran
- مِثْلَmitslaseperti
- مَاmaaapa yang
- أَنَّكُمْannakumbahwa kalian
- تَنْطِقُونَtanthiquunakalian berbicara
Inti bacaan
Susunan innahu la-haqqun hanya muncul di 10:53 dan 51:23, dan susunan annakum tanthiquuna hanya di 51:23.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَوَرَبِّ, fa-wa-rabbi) yang berarti "maka, demi Tuhan". Tiga bagian menyusunnya. Awalan (فَ, fa) berarti "maka". Awalan (وَ, wa) berfungsi sebagai partikel sumpah dan berarti "demi"; korpus morfologi menandainya sebagai partikel, berbeda dengan wa pada (وَالْأَرْضِ, wa-l-ardhi) yang menandai sambungan "dan". Kata (رَبِّ, rabbi) berasal dari akar ر-ب-ب dan berarti "Tuhan", dengan kedudukan genitif menurut korpus. Susunan fa-wa-rabbi hanya muncul di tiga ayat, yaitu 15:92, 19:68, dan 51:23. Di dua ayat pertama kata itu berbunyi (فَوَرَبِّكَ, fa-wa-rabbika), "maka demi Tuhanmu", dengan akhiran -ka yang menyapa satu orang. Di 51:23 tidak ada akhiran, dan rabbi diikuti langsung oleh dua kata benda yang menjelaskan Tuhan atas apa. Terjemahan di sini menuliskan "Tuhan" tanpa kata ganti, mengikuti susunan itu.
Kata (السَّمَاءِ, s-samaa'i) berarti "langit", dari akar س-م-و, dan (وَالْأَرْضِ, wa-l-ardhi) berarti "dan bumi", dari akar أ-ر-ض. Keduanya berbentuk tunggal. Pasangan Tuhan dengan langit dan bumi di tempat lain memakai bentuk jamak langit, yaitu (رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi) di 43:82, 44:7, dan 78:37, serta (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, rabbu s-samaawaati wa-l-ardhi) di 13:16, 17:102, 18:14, 19:65, 21:56, 26:24, 37:5, dan 38:66. Bentuk tunggal (رَبِّ السَّمَاءِ, rabbi s-samaa'i) hanya ada di 51:23. Bahasa Indonesia tidak membedakan langit tunggal dari langit jamak, sehingga terjemahan memakai "langit" untuk keduanya dan perbedaan bentuk dicatat di sini.
Kata (إِنَّهُ, innahu) berarti "sesungguhnya ia", terdiri dari partikel penegas (إِنَّ, inna) dan kata ganti -hu untuk orang ketiga tunggal laki-laki. Ayat ini tidak menyebut apa yang ditunjuk -hu. Rujukan terdekat dalam teks ada di 51:22, yaitu (رِزْقُكُمْ, rizqukum) yang berarti "rezeki kalian" dan (مَا تُوعَدُونَ, maa tuu'aduuna) yang berarti "apa yang dijanjikan kepada kalian". Kata kerja tuu'aduuna, "kalian dijanjikan", juga ada di 51:5, (إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ, innamaa tuu'aduuna la-shaadiqun), "sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian pasti benar". Bentuk itu muncul di dua belas ayat pada sepuluh surah, dan surah 51 serta surah 21 masing-masing memuatnya dua kali. Terjemahan memakai "ia" supaya rujukan -hu tetap terbuka seperti dalam teks Arabnya.
Kata (لَحَقٌّ, la-haqqun) memuat awalan (لَ, la) yang menegaskan, sehingga pernyataan ini ditegaskan dua kali, oleh inna di depan dan oleh la di dalam kata. Terjemahan "benar-benar" mewakili la. Kata (حَقٌّ, haqqun) berasal dari akar ح-ق-ق, akar yang sama dengan haqqun di 51:19. Di 51:19 kata itu menunjuk bagian milik orang lain pada harta, sedangkan di sini kata itu menjadi sifat bagi sesuatu yang dikatakan, yaitu benar dan pasti. Bahasa Indonesia memakai satu kata, "hak", untuk kedua pemakaian itu. Susunan (إِنَّهُ لَحَقٌّ, innahu la-haqqun) hanya muncul di 10:53 dan 51:23. Di 10:53 susunan itu menjawab pertanyaan (أَحَقٌّ هُوَ, a-haqqun huwa), "benarkah ia?", dan didahului sumpah (وَرَبِّي, wa-rabbii), "demi Tuhanku". Kata la-haqqun sendiri muncul di tiga ayat, yaitu 10:53, 38:64, dan 51:23. Di 38:64, (إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ, inna dzaalika la-haqqun), "sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terjadi", kata yang sama menyifati peristiwa.
Kata (مِثْلَ, mitsla) berarti "seperti", dari akar م-ث-ل. Susunan (مِثْلَ مَا, mitsla maa) muncul di delapan ayat, yaitu 3:73, 6:93, 6:124, 23:81, 28:48, 28:79, 51:23, dan 60:11. Pada tujuh ayat selain 51:23, maa diikuti kata kerja bentuk lampau, misalnya (قَالَ, qaala) yang berarti "telah mengucapkan" di 23:81 dan (أُوتِيَ, uutiya) yang berarti "diberikan" di 28:48 dan 28:79. Di 51:23 maa diikuti (أَنَّكُمْ, annakum) yang berarti "bahwa kalian", lalu kata kerja bentuk sekarang. Susunan (أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ, annakum tanthiquuna) hanya muncul sekali, di ayat ini.
Kata (تَنْطِقُونَ, tanthiquuna) berarti "kalian berbicara", dari akar ن-ط-ق, dalam bentuk kata kerja sekarang untuk "kalian". Akhiran -uuna sudah memuat "kalian", yang disebut juga oleh -kum pada annakum, sehingga pelaku ditunjuk dua kali. Bentuk untuk "kalian" ini hanya ada di dua ayat, yaitu 37:92 dan 51:23. Di 37:92, (مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُونَ, maa lakum laa tanthiquuna), "mengapa kalian tidak berbicara?", kata itu dinegasikan, dan di 51:23 kata itu ditegaskan. Bentuk orang ketiga (يَنْطِقُونَ, yanthiquuna) ada di 21:63, 21:65, 27:85, dan 77:35. Keempatnya bersyarat atau dinegasikan: "jika mereka dapat berbicara" di 21:63, dan "tidak dapat berbicara" atau "tidak berbicara" di tiga ayat lainnya. Bentuk tunggal (يَنْطِقُ, yanthiqu) dipakai untuk kitab yang berbicara dengan (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi), "dengan benar", di 23:62 dan 45:29, dan dinegasikan di 53:3. Bentuk sebab (أَنْطَقَ, anthaqa), "menjadikan berbicara", dipakai di 41:21 untuk Allah yang menjadikan segala sesuatu berbicara. Akar ن-ط-ق dan ح-ق-ق bertemu pertama di 23:62 dan 45:29, lalu di 51:23 keduanya hadir dalam satu ayat, yang satu sebagai hal yang ditegaskan dan yang lain sebagai pembandingnya.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian ayat yang berawal dengan wa-fii, "dan pada". Dari 51:19 sampai 51:22 pendengar dibawa dari harta orang bertakwa ke bumi, ke diri sendiri, lalu ke langit sebagai tempat rezeki dan apa yang dijanjikan. Di 51:23 keterangan tempat itu berhenti dan sumpah mengambil alih. Langit dan bumi yang tadi disebut sebagai tempat tanda dan rezeki muncul lagi, kali ini sebagai wilayah Tuhan yang dipakai bersumpah.
Susunan ayat ini terdiri dari tiga bagian: sumpah, pernyataan, dan pembanding. Pembandingnya diambil dari pendengar sendiri. Sapaan "kalian" sudah muncul di 51:21, "pada diri kalian sendiri", dan di 51:22, "rezeki kalian", lalu di 51:23 pendengar itu menjadi tolok ukur: kepastian apa yang dikatakan disejajarkan dengan kepastian bahwa mereka berbicara.
Pola sumpah lalu penegasan sudah dipakai surah ini sejak awal. Di 51:1 sampai 51:4 sumpah berjajar, lalu 51:5 menyatakan bahwa apa yang dijanjikan kepada kalian pasti benar dan 51:6 menyatakan bahwa pertanggungjawaban pasti terjadi. Di 51:7 sumpah memakai langit itu sendiri, sedangkan di 51:23 sumpah memakai Tuhan langit dan bumi. Kata kerja "dijanjikan" di 51:22 mengaitkan ayat ini kembali ke 51:5, dan penegasan ulangnya memakai kata yang berbeda: pasti benar di 51:5, benar-benar hak di 51:23.
Pertanyaan para penerka di 51:12, "Kapankah Hari Pertanggungjawaban?", ikut terjawab di sini. Jawabannya berbentuk sumpah dan perbandingan, tanpa tanggal. Sumpah serupa menjawab penolakan di tempat lain: di 10:53 atas pertanyaan "benarkah ia?", di 34:3 atas ucapan bahwa Hari Kiamat tidak akan datang, dan di 64:7 atas dugaan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Di 15:92 dan 19:68 sumpah dengan susunan yang sama disusul kata kerja tentang apa yang pasti dilakukan terhadap mereka.
Sesudah ayat ini, 51:24 membuka dengan pertanyaan kepada pendengar tentang tuturan tamu Ibrahim, sehingga rangkaian sumpah, janji, dan rincian orang bertakwa berganti menjadi kisah.
Renungan dan Hikmah
- Orang yang sedang berbicara tidak memeriksa lebih dulu apakah dirinya berbicara. Keyakinan semacam itu dipakai ayat 51:23 sebagai ukuran bagi apa yang dijanjikan di 51:22, yang juga disebut di 51:5. Pembaca dapat meletakkan dua keyakinannya berdampingan: keyakinan bahwa suaranya sendiri ada, dan keyakinan terhadap janji itu. Selisih di antara keduanya menunjukkan seberapa jauh janji itu masih diperlakukan sebagai kemungkinan. Seberapa lebar selisih itu pada dirinya, dan pada keadaan apa selisih itu terasa paling lebar, misalnya ketika rezeki menipis atau ketika semua orang di sekitarnya hidup seolah-olah tidak ada yang akan dimintai pertanggungjawaban?
- Pertanyaan tentang waktu mudah dipakai sebagai alasan untuk menunda. Para penerka di 51:12 bertanya kapan Hari Pertanggungjawaban tiba, dan ayat 51:23 menjawab dengan sumpah dan perbandingan, tanpa tanggal. Orang yang menunggu jadwal jelas sebelum mengubah kebiasaannya sedang memakai syarat yang tidak disediakan ayat ini. Pekerjaan yang ditunda dengan kalimat "belum jelas kapan" dapat diperiksa ulang: apakah penundaan itu lahir dari keraguan tentang kebenarannya, atau dari kenyamanan hari ini yang ingin dipertahankan lebih lama?
- Kemampuan berbicara dapat dipakai untuk berjanji, memberi kabar, dan bersaksi. Di 41:21 kulit yang bersaksi berkata bahwa Allah menjadikan mereka berbicara, dan di 77:35 serta 27:85 ada hari ketika mereka tidak berbicara. Ayat 51:23 memakai kemampuan itu sebagai pembanding. Dari ketiga ayat itu, suara dapat dilihat sebagai sesuatu yang diberikan dan pada suatu hari berhenti dipakai. Percakapan, pesan singkat, dan janji sepintas lalu yang keluar dari mulut seseorang hari ini berasal dari kemampuan yang sama, dan nilai tiap ucapan dapat ditimbang dengan kesadaran itu.
- Ayat 51:22 menaruh rezeki dan apa yang dijanjikan di tempat yang sama, yaitu langit, dan 51:23 meletakkan satu sumpah di atas keduanya. Orang yang menghitung rezekinya dengan cemas, entah gaji, hasil panen, atau pesanan yang belum datang, dan orang yang meragukan janji tentang hari pertanggungjawaban, mungkin sedang membawa satu keraguan dalam dua rupa. Di 51:58 Allah disebut Sang Pemberi Rezeki. Pembaca dapat memperhatikan apakah kecemasan tentang rezeki dan keraguan tentang janji sering muncul bersamaan pada malam yang sama, dan apakah keduanya mereda dengan cara yang sama.
- Sumpah di 51:23 datang sesudah ajakan memperhatikan. Di 51:20 bumi disebut sebagai tempat tanda-tanda, dan di 51:21 diri sendiri disebut bersama pertanyaan apakah mereka tidak memperhatikan. Urutan ini memberi pembaca tempat untuk mulai: ada tanda yang dapat diperiksa lebih dulu, dan sumpah menyusul. Pembaca yang sedang meminta bukti sebelum percaya dapat menanyakan pada dirinya sudah sejauh apa ia memeriksa dua hal yang paling dekat dengannya, yaitu tanah di bawah kakinya dan tubuhnya sendiri, sebelum menyimpulkan bahwa buktinya belum ada?
- Di 15:92 dan 19:68 sumpah memakai "Tuhanmu", yang menyapa satu orang, sedangkan di 51:23 Tuhan itu disebut lewat langit dan bumi. Pembaca yang merasa tidak disapa langsung dapat memperhatikan bahwa langit di atas kepalanya dan tanah di bawah kakinya adalah langit dan bumi yang sama dengan yang disebut dalam sumpah ini. Tempat berdirinya tidak berbeda dengan tempat berdiri orang yang disapa. Dengan kesadaran itu, menatap langit malam atau menginjak tanah pada pagi hari dapat terasa sebagai berada di tempat yang disebut dalam sumpah.