هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ

Sudahkah sampai kepadamu tuturan tentang tamu Ibrahim yang dimuliakan?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَhal ataaka hadiitsu dhayfi ibraahiima l-mukramiinasudahkah sampai kepadamu tuturan tentang tamu Ibrahim yang dimuliakan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. هَلْhalapakah
  2. أَتَاكَataakadatang kepadamu
  3. حَدِيثُhadiitsukisah
  4. ضَيْفِdhayfitamu
  5. إِبْرَاهِيمَibraahiimaIbrahim
  6. الْمُكْرَمِينَl-mukramiinaorang-orang yang dimuliakan

Inti bacaan

Susunan hadiitsu dhayfi hanya muncul di 51:24, dan bentuk mukramiina hanya di 36:27 dan 51:24.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (هَلْ أَتَاكَ, hal ataaka) yang berarti "sudahkah sampai kepadamu". Susunan hal ataaka muncul enam kali di enam surah, yaitu 20:9, 38:21, 51:24, 79:15, 85:17, dan 88:1. Di 20:9 dan 38:21 susunan itu didahului wa, sehingga bunyinya (وَهَلْ أَتَاكَ, wa-hal ataaka) yang berarti "dan apakah telah sampai kepadamu". Kata (أَتَاكَ, ataaka) yang berarti "telah datang kepadamu" tersusun dari kata kerja ataa, dari akar أ-ت-ي, dan akhiran -ka untuk satu orang. Akhiran untuk lebih dari satu orang berbunyi -kum, seperti pada (رِزْقُكُمْ, rizqukum) di 51:22 yang berarti "rezeki kalian". Terjemahan memilih "sampai" karena yang ditanyakan sesuatu yang tiba kepada pendengar, dan pilihan itu dipakai di semua ayat yang memuat susunan ini.

Kata (حَدِيثُ, hadiitsu) yang berarti "tuturan" berakar ح-د-ث dan berakhiran dammah. Bentuk persis ini muncul lima kali di lima surah, semuanya tepat sesudah hal ataaka: 20:9, 51:24, 79:15, 85:17, dan 88:1. Isi tuturannya berbeda di tiap ayat: (حَدِيثُ مُوسَىٰ, hadiitsu muusaa) di 20:9 dan 79:15 yang berarti "tuturan Musa", (حَدِيثُ الْجُنُودِ, hadiitsu l-junuudi) di 85:17 yang berarti "tuturan bala tentara", dan (حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ, hadiitsu l-ghaasyiyati) di 88:1 yang berarti "tuturan peristiwa dahsyat". Di 38:21 yang tiba kepada pendengar disebut (نَبَأُ, naba'u) yang berarti "berita", kata lain dengan susunan pertanyaan yang sama, sehingga terjemahan membedakannya dari "tuturan". Akar yang sama dipakai di 4:87 untuk tuturan Allah, (أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا, ashdaqu mina llaahi hadiitsan) yang berarti "yang lebih benar tuturannya daripada Allah", dan di 39:23, (نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ, nazzala ahsana l-hadiitsi) yang berarti "menurunkan sebaik-baik tuturan". Di dua ayat itu penuturnya disebut, yaitu Allah, sedangkan ayat 51:24 tidak memuat penuturnya.

Kata (ضَيْفِ, dhayfi) yang berarti "tamu" berakar ض-ي-ف dan berakhiran kasrah karena terikat pada nama di belakangnya. Kata dhayf dalam bentuk ini, termasuk yang diikuti akhiran milik seperti -ii dan -hi, muncul lima kali di empat surah: 11:78, 15:51, 15:68, 51:24, dan 54:37, dengan surah 15 memuatnya dua kali. Susunan (ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ, dhayfi ibraahiima) yang berarti "tamu Ibrahim" muncul dua kali, yaitu di 15:51 dan 51:24. Tiga kemunculan lain berada dalam kisah Lut. Di 11:78 Lut berkata (فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي, fa-ttaquu llaaha wa-laa tukhzuuni fii dhayfii) yang berarti "maka bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kalian menghinakan aku di hadapan tamuku". Di 15:68 bunyinya (هَٰؤُلَاءِ ضَيْفِي, haa'ulaa'i dhayfii) yang berarti "mereka tamuku", lalu 15:69 melanjutkan dengan (وَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ, wa-ttaquu llaaha wa-laa tukhzuuni) yang berarti "dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kalian menghinakanku". Di 54:37 ada (عَنْ ضَيْفِهِ, 'an dhayfihi) yang berarti "mengenai tamunya". Akar yang sama muncul sebagai kata kerja di 18:77, (أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا, an yudhayyifuuhumaa) yang berarti "menjamu keduanya".

Kata dhayf berbentuk tunggal, tetapi kata tunjuk jamak di 15:68, (هَٰؤُلَاءِ, haa'ulaa'i) yang berarti "mereka", menunjukkan bahwa kata itu dapat menunjuk lebih dari satu orang, dan sifat di ayat ini juga berbentuk jamak. Terjemahan 15:51 menulis "tamu-tamu" untuk kata yang sama. Di 51:24 sifat jamak yang menyertainya sudah menandai jumlahnya, sehingga terjemahan mempertahankan "tamu" tunggal seperti bentuk Arabnya. Ayat 51:24 memakai sebutan tamu, sedangkan sebutan utusan muncul di tempat lain: (رُسُلُنَا, rusulunaa) yang berarti "utusan-utusan Kami" di 29:31, dan (أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ, ayyuhaa l-mursaluuna) yang berarti "wahai para utusan" di 51:31. Terjemahan mengikuti sebutan yang dipakai ayat ini.

Kata terakhir (الْمُكْرَمِينَ, al-mukramiina) yang berarti "orang-orang yang dimuliakan" berakar ك-ر-م dan memakai kata sandang al-. Bentuk ini menyebut orang yang menerima pemuliaan, dan pada bentuk ini pemberi pemuliaan tidak disebut. Bentuk mukramiina dengan harakat persis ini muncul dua kali di dua surah, yaitu 36:27 dan 51:24. Di 36:27 bunyinya (وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ, wa-ja'alanii mina l-mukramiina) yang berarti "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan", dan pemberinya disebut pada kalimat yang sama, yaitu (رَبِّي, rabbii) yang berarti "Tuhanku". Bentuk berakhiran -uuna, (مُكْرَمُونَ, mukramuuna), muncul tiga kali di tiga surah: 21:26, 37:42, dan 70:35. Di 21:26 bunyinya (بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ, bal 'ibaadun mukramuuna) yang berarti "sebaliknya, mereka hamba-hamba yang dimuliakan". Di 37:42, (وَهُمْ مُكْرَمُونَ, wa-hum mukramuuna) yang berarti "dan mereka orang-orang yang dimuliakan", ayat itu berada dua ayat sesudah 37:40, (إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ, illaa 'ibaada llaahi l-mukhlashiina) yang berarti "kecuali hamba-hamba Allah yang dimurnikan". Di 70:35 bunyinya (فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ, fii jannaatin mukramuuna) yang berarti "di taman-taman, dimuliakan". Tiga dari lima kemunculan bentuk ini berdekatan dengan kata taman: (ادْخُلِ الْجَنَّةَ, udkhuli l-jannata) yang berarti "masuklah ke taman" di 36:26, (فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ, fii jannaati n-na'iimi) yang berarti "di dalam taman-taman kenikmatan" di 37:43, dan 70:35. Di 51:24 yang menerima pemuliaan itu tamu seorang tuan rumah. Terjemahan memakai "dimuliakan" di kelima tempat itu.

Ayat ini tidak memuat kata kerja selain ataaka, dan seluruhnya berbentuk pertanyaan. Terjemahan mempertahankan tanda tanya dan tidak menambahkan nama penerima, karena akhiran -ka menunjuk satu orang tanpa menyebut namanya. Nama (إِبْرَاهِيمَ, ibraahiima) yang berarti "Ibrahim" muncul tanpa gelar, hanya sebagai pemilik tamu.

Tafsiran

Ayat 51:22 dan 51:23 menyapa pendengar dengan kata ganti jamak, rezeki kalian di 51:22 dan kalian berbicara di 51:23. Di 51:24 sapaan menjadi tunggal, kepadamu, dan bentuk kalimat berpindah dari pernyataan dan sumpah ke pertanyaan. Rangkaian wa-fii dari 51:19 sampai 51:22 serta sumpah di 51:23 berupa penegasan, sedangkan mulai 51:24 teks bertanya, lalu bercerita. Ayat 51:25 langsung melanjutkan dengan (إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ, idz dakhaluu 'alayhi) yang berarti "ketika mereka masuk kepadanya", sehingga pertanyaan di 51:24 dijawab lewat penuturan, tanpa kata "ya" atau "belum".

Tamu disebut dimuliakan sebelum peristiwa apa pun dituturkan. Di 51:25 mereka disebut (قَوْمٌ مُنْكَرُونَ, qawmun munkaruuna) yang berarti "kaum yang belum dikenal". Dua keterangan tentang orang yang sama itu berdampingan, dimuliakan di 51:24 dan belum dikenal di 51:25. Ayat 51:26 dan 51:27 menyusul dengan (فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ, fa-jaa'a bi-'ijlin samiinin) yang berarti "lalu datang membawa anak sapi gemuk", dan pertanyaan yang diajukan tuan rumah kepada tamunya menyangkut makanan, yaitu "Mengapa kalian tidak makan?". Dapat dibaca bahwa jamuan disiapkan ketika tamunya masih disebut belum dikenal.

Pembicaraan tentang orang bertakwa di 51:15 sampai 51:19 menyebut hak peminta dan yang tidak meminta pada harta mereka. Ayat 51:24 tidak menyatakan hubungannya dengan daftar itu, tetapi kisah tamu ditempatkan sesudah daftar tersebut dan sesudah sumpah di 51:23. Dapat dibaca bahwa pendengar yang baru saja diperlihatkan sifat-sifat orang bertakwa kini ditanya tentang seorang tuan rumah dan tamunya.

Rangkaian kisah ini juga membawa kata tanda. Ayat 51:20 membuka rangkaian wa-fii dengan tanda-tanda di bumi, dan 51:37 sesudah penuturan tamu menyebut (وَتَرَكْنَا فِيهَا آيَةً, wa-taraknaa fiihaa aayatan) yang berarti "dan Kami tinggalkan di dalamnya suatu tanda". Dapat dibaca bahwa pertanyaan di 51:24 membuka rangkaian yang berujung pada kata yang sama dengan pembuka pembicaraan tentang bumi di 51:20, dengan kisah tamu berada di antara keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 51:24 menanyakan apakah tuturan tentang tamu Ibrahim sudah sampai kepada pendengar, dan pertanyaan serupa diajukan tentang Musa di 20:9 dan 79:15. Di 4:87 tuturan dikaitkan dengan Allah, yaitu siapa yang lebih benar tuturannya daripada Allah. Seseorang yang sudah lama mengenal nama Ibrahim dapat menjawab dengan cepat bahwa kisah itu sudah diketahuinya. Namun yang ditanyakan ayat ini sampai kepadamu, dan dapat dibaca bahwa sampai berarti tuturan tiba pada orang yang menempatkan dirinya sebagai penerima. Apakah tuturan yang dianggap sudah selesai dikenal pernah benar-benar tiba kepada pembacanya, atau tetap tinggal sebagai pengetahuan tentang orang lain?
  • Di 51:24 tamu Ibrahim disebut dimuliakan, dan di 51:25 mereka disebut kaum yang belum dikenal. Dua keterangan itu terpisah satu ayat saja. Kemuliaan yang disebut di 51:24 tidak menunggu perkenalan, dan jamuan di 51:26 dan 51:27 menyusul ketika tamunya masih asing. Orang yang menerima kurir yang belum pernah ditemuinya, tetangga baru, atau pendatang di depan pintu dapat membaca urutan itu sebagai gambaran sikap yang mendahului pengetahuan tentang siapa tamunya. Pembaca dapat menimbang berapa banyak penghormatan yang selama ini baru diberikannya sesudah mengetahui latar, jabatan, atau kegunaan orang yang datang kepadanya.
  • Di 11:78 Lut meminta kaumnya bertakwa kepada Allah dan tidak menghinakannya di hadapan tamunya, lalu 15:68 dan 15:69 menyusun hal yang sama dalam dua ayat berurutan: tamu disebut lebih dulu, kemudian takwa kepada Allah, kemudian larangan menghinakan. Di dua tempat itu seorang tuan rumah menyebut urusan tamu dan urusan takwa dalam satu napas. Ayat 51:24 menyebut tamu Ibrahim dengan sifat dimuliakan. Orang yang menerima tamu di rumahnya dapat membaca sikapnya terhadap tamu sebagai sesuatu yang ditimbang di hadapan Allah, selain di hadapan tetangga dan keluarga. Apakah cara sebuah rumah menyambut orang yang bertamu pernah dihitung sebagai bagian dari takwa?
  • Bentuk dimuliakan menyebut penerima tanpa menyebut pemberi. Di 36:27 pemberinya disebut: Tuhanku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan. Di 37:40 sampai 37:42 hamba-hamba Allah yang dimurnikan disebut lebih dulu, lalu mereka disebut dimuliakan. Dalam ayat-ayat itu kemuliaan diterima dari pihak lain. Orang yang mengharapkan kehormatan lewat jabatan, gelar, atau sebutan dari sesamanya dapat memeriksa dari pihak mana kemuliaan yang diharapkannya itu datang. Apakah kehormatan yang dikejar dari sesama manusia pernah dibandingkan dengan kemuliaan yang di 36:27 diberikan oleh Tuhan?
  • Ayat 51:21 sampai 51:23 menyapa dengan kalian yang berbentuk jamak, dan 51:24 menyapa dengan kamu yang berbentuk tunggal. Sapaan jamak memberi pembaca tempat di dalam kerumunan yang ditunjuk. Sapaan tunggal tidak memberi tempat semacam itu, karena yang ditanya hanya satu penerima. Pembaca yang menemukan pertanyaan sudahkah sampai kepadamu tidak dapat menjawabnya atas nama orang lain, termasuk atas nama keluarga, guru, atau kelompok yang mengajarkan kisah itu kepadanya. Apakah jawaban atas pertanyaan tentang kisah-kisah dalam Al-Qur'an pernah ditimbang sebagai jawaban pribadi, atau masih berupa jawaban yang diwarisi?
  • Ayat 51:20 menyebut tanda-tanda di bumi, dan 51:37 menyebut Kami meninggalkan suatu tanda sesudah kisah yang dibuka di 51:24. Kisah itu bermula dari kunjungan tamu pada 51:25 sampai 51:30, kemudian berlanjut pada utusan yang menuju kaum yang berdosa pada 51:32, lalu berujung pada kata tanda di 51:37. Dapat dibaca bahwa kata tanda dalam rangkaian ini muncul sesudah penuturan yang dimulai dari tamu yang masuk dan salam yang bertukar. Orang yang menunggu tanda dalam bentuk kejadian besar dapat membandingkan harapannya dengan urutan itu. Bagian mana dari sebuah pertemuan dengan tamu yang selama ini dilewatkan tanpa pernah dibaca sebagai awal sebuah tanda?