فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

Maka, ia beranjak menemui keluarganya, lalu datang membawa anak sapi gemuk,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِfa-raagha ilaa ahlihimaka, ia beranjak menemui keluarganya
  2. فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍfa-jaa'a bi-'ijlin samiininlalu datang membawa anak sapi gemuk

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَرَاغَfa-raaghalalu ia beranjak
  2. إِلَىٰilaakepada
  3. أَهْلِهِahlihikeluarganya
  4. فَجَاءَfa-jaa'amaka datang
  5. بِعِجْلٍbi-'ijlindengan anak sapi
  6. سَمِينٍsamiininyang gemuk

Inti bacaan

Susunan jaa'a bi-'ijlin muncul dua kali di Al-Qur'an (11:69, 51:26), dan hanya 51:26 yang memberi anak sapi itu sifat samiinin, "gemuk".

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَرَاغَ, fa-raagha) yang berarti "maka beranjak". Huruf (فَ, fa) yang berarti "maka" menyambung ayat ini dengan 51:25, tempat salam dibalas salam. Kata kerja raagha berakar ر-و-غ, dan bentuk persis (فَرَاغَ, fa-raagha) muncul tiga kali di dua surah, yaitu 37:91, 37:93, dan 51:26. Di 37:91, (فَرَاغَ إِلَىٰ آلِهَتِهِمْ, fa-raagha ilaa aalihatihim) berarti "lalu menyelinap ke tuhan-tuhan mereka", dan 37:90 menyebut orang-orang yang memiliki tuhan-tuhan itu sudah berpaling dan pergi. Di 37:93, (فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ, fa-raagha 'alayhim dharban bi-l-yamiini) berarti "lalu menghadap mereka sambil memukul dengan tangan kanan", sehingga kata kerja yang sama bersambung ke sebuah pukulan. Di 51:26 kata kerja itu bersambung ke ilaa seperti di 37:91, tetapi tujuannya keluarga.

Terjemahan memakai "beranjak" untuk raagha, yaitu gerak meninggalkan tempat menuju tujuan yang disebut sesudah ilaa. Di 37:91 kata kerja yang sama diterjemahkan "menyelinap" dalam keadaan 37:90 yang menyebut orang-orang itu sudah berpaling dan pergi, sedangkan 51:26 tidak memuat keadaan semacam itu, sehingga terjemahannya tidak membawa nuansa bersembunyi. Teksnya juga tidak menyebutkan apakah para tamu mengetahui kepergian itu.

Kata (إِلَىٰ أَهْلِهِ, ilaa ahlihi) yang berarti "kepada keluarganya" tersusun dari ilaa yang berarti "kepada", ahl yang berarti "keluarga", dan akhiran -hi yang berarti "-nya". Kata ahl berakar أ-ه-ل. Susunan ilaa ahlihi dengan akhiran -hi tunggal muncul di tujuh ayat, yaitu 4:92, 12:62, 36:50, 51:26, 75:33, 83:31, dan 84:9. Di 75:33, (ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰ أَهْلِهِ يَتَمَطَّىٰ, tsumma dzahaba ilaa ahlihi yatamaththaa) berarti "kemudian pergi kepada keluarganya dengan menyombongkan diri", dan di 84:9, (وَيَنْقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا, wa-yanqalibu ilaa ahlihi masruuran) berarti "dan dia kembali kepada keluarganya dengan gembira". Kedua ayat itu menyusulkan keadaan batin pelaku sesudah kata keluarga. Di 51:26 sesudah keluarga langsung datang kata kerja berikutnya, sehingga keadaan pelaku di tengah keluarganya tidak dicatat. Ucapan kepada keluarga dicatat di tempat lain dengan huruf li, yaitu (لِأَهْلِهِ, li-ahlihi) yang berarti "kepada keluarganya" di 20:10, 27:7, dan 28:29, dan semuanya memuat ucapan Musa. Di 51:26 tidak ada ucapan kepada keluarga. Terjemahan memakai "keluarga" tanpa menambahkan "istri" atau jumlah anggotanya, karena ayat ini tidak merinci.

Kata (فَجَاءَ, fa-jaa'a) yang berarti "lalu datang" memakai fa untuk kedua kalinya dalam satu ayat: dua kata kerja berurutan dihubungkan fa tanpa penanda waktu. Di 11:69, (فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ, fa-maa labitsa an jaa'a bi-'ijlin haniidin) berarti "maka tidak lama kemudian datang dengan anak sapi yang dipanggang", dan penanda "tidak lama kemudian" ada di sana tetapi tidak ada di 51:26. Terjemahan 51:26 karena itu tidak menambahkan "segera". Huruf (بِ, bi-) sesudah jaa'a diterjemahkan "membawa" di 6:160, (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ, man jaa'a bi-l-hasanati) yang berarti "siapa yang membawa kebaikan", dan di 12:72, (وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ, wa-li-man jaa'a bihi) yang berarti "dan bagi siapa yang membawanya". Di 11:69 padanannya "datang dengan", sehingga "datang membawa" di sini memakai kedua padanan itu. Susunan jaa'a bi-'ijlin, (جَاءَ بِعِجْلٍ, jaa'a bi-'ijlin), muncul dua kali, yaitu di 11:69 dan 51:26.

Kata (عِجْلٍ, 'ijlin) yang berarti "anak sapi" berakar ع-ج-ل dan tanpa kata sandang al-, sehingga terjemahan memakai "anak sapi" tanpa "itu". Sifat (حَنِيذٍ, haniidin) yang berarti "yang dipanggang" muncul satu kali, di 11:69, jadi terjemahan 51:26 tidak menambahkan "dipanggang" atau "dimasak", karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Kata benda yang sama muncul sebagai benda sembahan: (الْعِجْلَ, al-'ijla) enam kali di tiga surah, yaitu 2:51, 2:54, 2:92, 2:93, 4:153, dan 7:152, serta (عِجْلًا, 'ijlan) dua kali di 7:148 dan 20:88. Di 7:148, (عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ, 'ijlan jasadan lahu khuwaarun) berarti "anak sapi berbentuk tubuh yang bersuara melenguh", sebuah benda buatan, sedangkan di 51:26 kata yang sama menyebut hewan yang dibawa kepada tamu. Terjemahan memakai "anak sapi" di semua tempat itu.

Kata terakhir (سَمِينٍ, samiinin) yang berarti "gemuk" berakar س-م-ن dan mengikuti 'ijlin dalam akhiran -in yang menandai benda tak tentu, sehingga keduanya terbaca sebagai satu frasa. Bentuk persis samiinin hanya muncul di 51:26. Bentuk jamaknya (سِمَانٍ, simaanin) muncul dua kali di satu surah, yaitu 12:43 dan 12:46, dalam (سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ, sab'a baqaraatin simaanin) yang berarti "tujuh ekor sapi gemuk". Bentuk kata kerjanya muncul di 88:7, (لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ, laa yusminu wa-laa yughnii min juu'in) yang berarti "yang tidak menggemukkan dan tidak pula mencukupkan dari lapar". Terjemahan memakai "gemuk" di ketiga surah itu. Dua dari ketiganya, 12:43 dan 88:7, menyandingkan akar ini dengan makan: sapi gemuk yang dimakan sapi kurus di 12:43, dan makanan yang tidak menggemukkan di 88:7. Sifat gemuk di 51:26 tidak menyatakan bahwa anak sapi itu yang terbaik di antara hewan milik keluarganya, dan terjemahan tidak menambahkan kata "terbaik".

Tanda koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 51:27, yang dibuka dengan (فَقَرَّبَهُ, fa-qarrabahu) yang berarti "lalu mendekatkannya".

Tafsiran

Ayat 51:24 sampai 51:28 menuturkan satu pertemuan, dan 51:26 tidak memuat kutipan ucapan. Ayat 51:25 memuat salam dan jawaban salam, 51:27 memuat pertanyaan (أَلَا تَأْكُلُونَ, a-laa ta'kuluuna), dan 51:28 memuat seruan "Janganlah takut!". Di tengah ucapan di kedua sisinya, 51:26 memuat dua gerakan saja: pergi kepada keluarga, lalu datang membawa anak sapi gemuk.

Ayat 51:24 menyebut para tamu itu (الْمُكْرَمِينَ, al-mukramiina) yang berarti "yang dimuliakan", tanpa menyebut siapa yang memuliakan mereka. Dapat dibaca bahwa 51:26 dan 51:27 memperlihatkan wujud pemuliaan itu dalam perbuatan, tetapi pembacaan ini tidak dinyatakan oleh 51:24, dan ayat-ayat itu tidak mengaitkan keduanya secara eksplisit.

Pertemuan yang sama dituturkan di 11:69 sampai 11:70, dengan urutan yang sebangun: salam dan jawaban salam, anak sapi dibawa, lalu rasa takut menyusul. Ayat 11:70 menambahkan tangan para tamu yang tidak menjamah hidangan, dan 51:28 menyebut rasa takut itu sesudah pertanyaan di 51:27. Kedua penuturan saling melengkapi rincian. Ayat 11:69 memuat penanda waktu dan cara menyiapkan hidangan, dan ayat 51:26 memuat langkah kepada keluarga dan sifat gemuk. Dapat dibaca bahwa anak sapi itu berasal dari lingkungan keluarga pelaku, karena di 51:26 pelaku pergi kepada keluarganya lebih dulu, sedangkan 11:69 tidak menyebut asal hidangan. Ayat 51:29 kemudian menyebut istrinya datang, sehingga keluarga muncul sebagai pihak dalam adegan yang sama, meskipun ayat itu tidak menghubungkannya dengan hidangan.

Bagi alur surah, 51:26 menyiapkan benda yang menjadi pokok 51:27: kata ganti -hu pada (فَقَرَّبَهُ, fa-qarrabahu) merujuk pada anak sapi dari 51:26. Sesudah itu 51:28 membawa cerita ke kabar gembira, dan 51:31 sampai 51:32 membawa ke urusan para utusan, yaitu pengutusan kepada kaum yang berdosa. Jamuan yang dituturkan di 51:26 dan 51:27 menjadi pembuka bagi kedua bagian itu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 51:26 mencatat dua gerakan, pergi kepada keluarga dan datang membawa anak sapi, tanpa satu pun kutipan ucapan, padahal 51:25 dan 51:27 penuh dengan kata-kata. Di 2:271 sedekah yang disembunyikan lalu diberikan kepada orang fakir disebut lebih baik, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah waskita terhadap apa yang dikerjakan. Ayat 2:271 membicarakan sedekah dan tidak menyebut jamuan, sehingga keduanya tidak disamakan. Satu pembacaan dapat dicoba: perbuatan yang sampai ke tangan orang lain tanpa pidato lebih dulu tetap berada dalam pengetahuan Allah menurut ayat itu. Seseorang dapat bertanya, kebaikan mana dalam sebulan terakhir yang tidak sempat diceritakan kepada siapa pun, dan apakah kebaikan itu terasa berkurang ketika tidak ada yang mendengar?
  • Ayat 51:26 menyebut anak sapi itu gemuk, dan tidak menyebut bahwa hewan itu yang terbaik di antara milik keluarganya. Di 3:92 kebajikan dikaitkan dengan menginfakkan sebagian dari apa yang dicintai, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah mengetahui apa pun yang diinfakkan. Di 2:267 ayat menolak memilih yang buruk untuk diinfakkan, dengan alasan bahwa pemberinya sendiri tidak mau mengambil barang itu kecuali dengan memicingkan mata. Dua ayat itu berbicara tentang infak dan 51:26 tentang jamuan, tetapi ketiganya menyentuh mutu apa yang diserahkan kepada orang lain. Orang yang menyiapkan makanan untuk tamu dapat bertanya, bila makanan itu disodorkan kepada dirinya sendiri, apakah makanan itu akan diterimanya tanpa memicingkan mata?
  • Sebelum membawa anak sapi, pelaku di 51:26 lebih dulu menuju keluarganya, sehingga jamuan itu dapat dibaca sebagai hasil yang melewati rumah tangga, meskipun ayat tidak merinci siapa mengerjakan apa. Di 11:73 para tamu menyapa, "Rahmat dan berkah Allah atas kalian, wahai ahlulbait!", dan sapaan itu dapat dibaca ditujukan kepada rumah tangga dalam cerita yang sama, tidak kepada satu orang saja. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, sebab 51:26 tidak mencatat ucapan siapa pun di dalam rumah. Orang yang menjamu tamu dapat memperhatikan siapa saja di rumahnya yang ikut menanggung pekerjaan itu, dan apakah ucapan terima kasih sudah sampai kepada mereka?
  • Ayat 51:25 memuat salam dan jawaban salam saja, lalu 51:26 langsung memuat gerakan menyiapkan makanan, tanpa permintaan dari para tamu yang dicatat. Di 76:9 orang-orang yang memberi makan berkata, "Kami memberi makanan kepada kalian hanya demi wajah Allah. Kami tidak mengharap balasan dan syukur dari kalian." Ucapan itu berasal dari kelompok lain di ayat lain, dan tidak dipakai untuk menafsirkan niat pelaku di 51:26. Ayat 76:9 menunjukkan satu bentuk memberi makan yang tidak menunggu balasan. Pembaca dapat menimbang kapan terakhir menyiapkan sesuatu bagi orang lain sebelum diminta, dan apakah masih menunggu ucapan terima kasih sesudahnya?
  • Di 51:25 para tamu disebut kaum yang belum dikenal, dan 51:26 mencatat gerakan menyiapkan makanan tanpa mencatat pertanyaan tentang siapa mereka. Di 4:36 perintah mengabdi kepada Allah berdampingan dengan berbuat baik kepada orang tua, kerabat, tetangga jauh, dan ibnu sabil, lalu ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Ayat 4:36 tidak berbicara tentang tamu Ibrahim, sehingga keduanya tidak disamakan. Dapat dibaca bahwa orang yang dikenal dan yang belum dikenal sama-sama berada dalam jangkauan kebaikan. Pembaca dapat bertanya, kepada orang yang belum dikenalnya, seberapa jauh kebaikan sudah terjadi sebelum diketahui siapa orang itu?
  • Kata 'ijl di 51:26 menyebut hewan yang dihidangkan kepada tamu, sedangkan di 7:148 dan 20:88 menyebut benda berbentuk tubuh yang bersuara. Di 4:153 kata itu menyebut sesuatu yang dijadikan sembahan sesudah bukti-bukti nyata datang, di ayat yang memuat permintaan, "Perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata." Dua penggunaan itu tidak saling menafsirkan. Dapat dibaca bahwa sebuah benda disebut dengan kata yang sama, tetapi kedudukannya ditentukan oleh apa yang dilakukan orang kepadanya: dihidangkan atau disembah. Seseorang dapat bertanya, pada benda apa di rumahnya kedudukan itu perlahan berpindah dari alat menjadi tujuan?