فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

Lalu, ia mendekatkannya kepada mereka; ia berkata, “Mengapa kalian tidak makan?”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْfa-qarrabahu ilayhimlalu, ia mendekatkannya kepada mereka
  2. قَالَqaalaia berkata
  3. أَلَا تَأْكُلُونَa-laa ta'kuluunamengapa kalian tidak makan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَقَرَّبَهُfa-qarrabahumaka ia mendekatkannya
  2. إِلَيْهِمْilayhimkepada mereka
  3. قَالَqaalaberkata
  4. أَلَاa-laamengapa tidak
  5. تَأْكُلُونَta'kuluunakalian makan

Inti bacaan

Susunan a-laa ta'kuluuna muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:91 dan 51:27, dan keduanya diucapkan Ibrahim.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَقَرَّبَهُ, fa-qarrabahu) yang berarti "lalu mendekatkannya". Bentuk ini tersusun dari tiga bagian: awalan (فَ, fa) yang berarti "lalu", kata kerja (قَرَّبَ, qarraba) yang berarti "mendekatkan", dan akhiran (هُ, -hu) yang berarti "-nya". Akhiran -hu menunjuk benda yang disebut di ayat sebelumnya, yaitu (بِعِجْلٍ سَمِينٍ, bi-'ijlin samiinin) yang berarti "dengan anak sapi yang gemuk". Awalan fa yang sama membuka dua kata kerja di 51:26, yaitu (فَرَاغَ, fa-raagha) yang berarti "lalu beranjak" dan (فَجَاءَ, fa-jaa'a) yang berarti "lalu datang". Karena itu 51:27 terbaca sebagai gerak ketiga dalam satu rangkaian, dan terjemahan memakai "lalu" pada awalnya. Bentuk fa-qarrabahu hanya muncul di 51:27.

Kata kerja qarraba berakar ق-ر-ب, akar yang sama dengan (قَرِيبٍ, qariibin) yang berarti "dekat" di 11:81. Akar itu dipakai juga di 5:27, (قَرَّبَا قُرْبَانًا, qarrabaa qurbaanan) yang berarti "keduanya mempersembahkan kurban", dan di 19:52, (وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا, wa-qarrabnaahu najiyyan) yang berarti "dan Kami dekatkan dia untuk bermunajat". Di 5:27 terjemahan memakai "mempersembahkan" karena ayat itu menyebut pihak yang menerima dan pihak yang tidak diterima kurbannya. Di 51:27 ayat menyebut tiga unsur saja: benda lewat -hu, tujuan lewat ilayhim, dan pelaku yang tidak disebut namanya. Terjemahan "mendekatkan" menyisakan tiga unsur itu, dan tidak memakai "menghidangkan" atau "menyuguhkan" karena kata Arabnya menyebut jarak.

Kata (إِلَيْهِمْ, ilayhim) yang berarti "kepada mereka" tersusun dari (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "kepada" dan (هِمْ, -him) yang berarti "mereka". Kata ganti -him menunjuk para tamu yang di 51:25 disebut (قَوْمٌ مُنْكَرُونَ, qawmun munkaruuna) yang berarti "kaum yang belum dikenal". Partikel ilaa yang sama dipakai di 51:26, (إِلَىٰ أَهْلِهِ, ilaa ahlihi) yang berarti "kepada keluarganya", sehingga dua ayat berurutan memuat dua arah gerak, ke keluarga lalu ke tamu. Di 11:70 partikel itu muncul pada gerak yang terhenti, (لَا تَصِلُ إِلَيْهِ, laa tashilu ilayhi) yang berarti "tidak sampai kepadanya", dan susunan itu ada di 11:70 saja. Di 51:27 makanan yang bergerak kepada tamu, di 11:70 tangan tamu yang tidak sampai kepada makanan. Terjemahan memakai "kepada" di keduanya sehingga arah geraknya terbaca.

Kata (قَالَ, qaala) yang berarti "berkata" berakar ق-و-ل dan menunjuk satu pelaku laki-laki. Ayat ini tidak menyebut namanya. Pelaku yang sama menjawab salam di 51:25, (قَالَ سَلَامٌ, qaala salaamun) yang berarti "berkata, salam", dan namanya disebut di 51:24. Terjemahan tidak mengulang nama itu.

Dua kata terakhir membentuk pertanyaan. Kata (أَلَا, a-laa) yang berarti "mengapa tidak" tersusun dari (أَ, a), huruf tanya, dan (لَا, laa) yang berarti "tidak". Tulisan yang sama dibaca lain di 2:12, (أَلَا إِنَّهُمْ, alaa innahum) yang berarti "ingatlah, sesungguhnya mereka", yaitu satu kata pembuka peringatan yang tidak bertanya. Di 51:27 susunan itu dipakai untuk bertanya, dan terjemahan menandainya dengan tanda tanya.

Kata (تَأْكُلُونَ, ta'kuluuna) yang berarti "kalian makan" berakar أ-ك-ل dan ditujukan kepada beberapa orang yang diajak bicara. Bentuk ini muncul dua belas kali di sepuluh surah, yaitu 3:49, 12:47, 16:5, 23:19, 23:21, 23:33, 35:12, 37:91, 40:79, 43:73, 51:27, dan 89:19. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 23 memuatnya tiga kali. Dari dua belas itu, 37:91 dan 51:27 berupa pertanyaan, sedangkan sepuluh lainnya berupa pernyataan, antara lain (وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ, wa-minhaa ta'kuluuna) yang berarti "dan sebagiannya kalian makan" di 16:5, 23:19, 23:21, dan 40:79. Di pernyataan itu yang dimakan ditunjuk oleh kata minhaa, "darinya". Di 51:27 benda yang dimakan ditunjuk oleh -hu pada qarrabahu.

Susunan (أَلَا تَأْكُلُونَ, a-laa ta'kuluuna) hanya muncul dua kali, yaitu di 37:91 dan 51:27. Di 37:91 bunyinya (فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ, fa-qaala a-laa ta'kuluuna) yang berarti "seraya berkata, 'Mengapa kalian tidak makan?'", ditujukan kepada tuhan-tuhan kaum Ibrahim. Ayat sesudahnya memuat pertanyaan kedua, (مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُونَ, maa lakum laa tanthiquuna) yang berarti "mengapa kalian tidak berbicara?", dan susunan itu ada di 37:92 saja. Karena 37:92 memakai "mengapa" untuk maa lakum, terjemahan memakai "mengapa" juga pada a-laa, sehingga dua pertanyaan Ibrahim di surah 37 terbaca berpasangan dan 51:27 memakai bunyi yang sama dengan 37:91. Terjemahan tidak menambahkan "silakan" atau "dengan ramah", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.

Tafsiran

Ayat 51:27 berada di rangkaian 51:24 sampai 51:30 tentang tamu Ibrahim, dan isinya hanya dua tindakan Ibrahim: mendekatkan lalu bertanya. Sampai ayat ini para tamu sudah berbicara sekali, yaitu salam di 51:25, dan baru berbicara lagi di 51:28, (قَالُوا لَا تَخَفْ, qaaluu laa takhaf) yang berarti "mereka berkata, 'Janganlah takut'". Di antara dua ucapan tamu itu Ibrahim bergerak tiga kali di 51:26 dan 51:27, lalu mengucapkan satu pertanyaan yang berhenti tanpa jawaban yang dikutip.

Ayat sesudahnya memuat rasa takut. Di 51:28, (فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً, fa-awjasa minhum khiifatan) yang berarti "maka menyimpan rasa takut terhadap mereka", frasa intinya, tanpa awalan fa, hanya muncul di 11:70 dan 51:28. Di 11:70 susunannya terbaca: tangan tamu tidak sampai kepada makanan, Ibrahim mencurigai mereka, lalu menyimpan rasa takut. Rangkaian di surah 11 dan di surah 51 memuat unsur yang sama, yaitu salam, anak sapi, rasa takut, dan kabar gembira, sehingga 51:28 dapat dibaca sebagai akibat dari makanan yang belum disentuh, dan pertanyaan di 51:27 dapat dibaca sebagai ucapan Ibrahim pada saat itu. Kata takut belum ada di 51:27. Ucapan Ibrahim di ayat ini berupa pertanyaan tentang makan, dan keadaan batinnya baru tertulis di ayat berikutnya.

Pertanyaan yang sama diucapkan Ibrahim di tempat lain. Di 37:91 dan 51:26 gerak Ibrahim dibuka dengan (فَرَاغَ إِلَىٰ, fa-raagha ilaa) yang berarti "lalu beranjak kepada", dan di kedua tempat pertanyaan mengapa tidak makan menyusul. Tujuannya berbeda: di 51:26 keluarganya, lalu anak sapi dibawa kepada tamu, sedangkan di 37:91 tuhan-tuhan kaumnya, dan tidak ada makanan yang disebut. Akibatnya pun berbeda. Di 37:92 pertanyaan kedua menyusul dan 37:93 memuat pukulan, sedangkan di 51:28 yang menyusul rasa takut, lalu kabar gembira dari para tamu. Kalimat yang sama menyapa pihak yang berlainan dan arah ceritanya berlainan.

Ayat 51:24 sudah menyebut para tamu sebagai tamu yang dimuliakan, (الْمُكْرَمِينَ, al-mukramiina) yang berarti "yang dimuliakan", sebelum kisahnya dimulai, dan 51:25 menyebut mereka kaum yang belum dikenal. Makanan yang didekatkan di 51:27 diberikan kepada orang yang belum dikenal oleh tuan rumahnya, dan hal itu dapat dibaca sebagai bentuk pemuliaan yang dilakukan lewat tindakan, sebab di antara salam dan pertanyaan tidak ada langkah lain yang tertulis.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 51:26 dan 51:27 memuat tiga kata kerja yang berurutan: Ibrahim pergi, datang membawa anak sapi, lalu mendekatkannya, dan baru sesudah itu Ibrahim berbicara. Pertanyaannya diucapkan ketika makanan sudah berada di dekat para tamu. Seseorang yang menjamu dapat mengamati urutan itu pada dirinya sendiri, yaitu apakah kata-kata keramahan hadir lebih dulu dan tindakannya menyusul, atau tindakan lebih dulu. Tuan rumah yang sudah menaruh piring di depan tamunya lalu bertanya dapat terdengar berbeda dari tuan rumah yang bertanya tanpa menaruh apa pun. Di rumahnya sendiri, tawaran atau tindakan yang lebih dulu hadir?
  • Di 11:70 makanan yang tidak disentuh disusul dua keadaan dalam diri Ibrahim, yaitu mencurigai tamunya dan menyimpan rasa takut. Di 51:27 yang tercatat lebih dulu ialah pertanyaan, "Mengapa kalian tidak makan?", dan rasa takut baru muncul di 51:28. Urutan itu dapat dibaca sebagai pertanyaan yang diajukan sebelum dugaan menjadi kesimpulan, sehingga para tamu masih mendapat ruang untuk menjawab. Seseorang yang tawarannya tidak disambut, entah makanan, bantuan, atau ajakan, dapat mendapati dua jalan dalam dirinya: bertanya langsung atau menyimpan dugaan. Apakah pertanyaan sempat diajukan sebelum dugaan terbentuk?
  • Ayat 51:24 menyebut para tamu sebagai tamu yang dimuliakan, dan 51:25 menyebut mereka kaum yang belum dikenal. Makanan di 51:27 didekatkan kepada orang yang menurut ayat sebelumnya belum dikenal oleh tuan rumahnya. Urutan di 51:25 sampai 51:27 ialah salam, pergi, datang membawa anak sapi, mendekatkan, lalu bertanya soal makan, dan pertanyaan tentang siapa mereka tidak ada di antaranya. Orang yang menerima pendatang baru di kampungnya atau rekan kerja dari kota lain dapat membandingkan urutan itu dengan urutannya sendiri: menanyakan identitas dulu atau menyuguhkan dulu. Apa yang berubah dalam penerimaan tamu bila pertanyaan tentang siapa datang sesudah makanan, bukan sebelumnya?
  • Di 76:8 ada orang-orang yang memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan, dan di 76:9 mereka berkata bahwa mereka memberi makanan hanya demi wajah Allah, tanpa mengharap balasan dan syukur. Ayat 51:27 memuat gerak mendekatkan dan satu pertanyaan, dan niat Ibrahim tidak dinyatakan di sana. Pertanyaan "Mengapa kalian tidak makan?" dapat dibaca sebagai perhatian tuan rumah pada keadaan tamunya, dan dapat pula diletakkan di samping 76:9 sebagai bahan memeriksa diri. Seseorang yang menjamu dapat menanyai dirinya apa yang diharapkannya dari piring yang disodorkan: terima kasih, pujian, atau agar tamunya kenyang. Apakah jawabannya berubah bila tamu tidak menyentuh piring itu?
  • Di 51:57 pembicaranya memakai kata Aku dan menyatakan tidak menghendaki rezeki dari mereka maupun agar mereka memberi-Ku makan, lalu 51:58 menyebut Allah sebagai Sang Pemberi Rezeki. Di 6:14 Allah memberi makan dan tidak diberi makan. Ayat 51:27 menggambarkan manusia yang mendekatkan makanan kepada manusia lain, sehingga ketiga ayat itu menaruh makan dan memberi makan pada arah yang berbeda. Surah yang sama menaruh rezeki di langit, di 51:22, dan karena itu anak sapi di 51:26 dapat dibaca sebagai bagian dari rezeki yang lewat tangan tuan rumah sebelum sampai kepada tamu. Seorang tuan rumah dapat menimbang bagaimana rasanya menjamu bila makanan di piring dibaca sebagai sesuatu yang lebih dulu sampai kepadanya, baru berpindah kepada tamu.
  • Akar kata kerja qarraba dipakai di 5:27 untuk dua putra Adam yang mendekatkan kurban, dan di ayat itu Allah disebut menerima dari orang-orang bertakwa saja. Akar yang sama dipakai di 19:52 untuk orang yang dipanggil dari sisi gunung Tur dan didekatkan agar bermunajat, dan di 51:27 untuk makanan yang didekatkan kepada tamu. Satu akar menjangkau tiga hal: hidangan, persembahan, dan seseorang yang dibawa dekat. Seseorang dapat mendaftar apa saja yang didekatkannya kepada pihak lain, misalnya makanan, waktu, atau perhatian, lalu menanyakan untuk siapa tiap-tiapnya didekatkan. Apakah ada yang didekatkannya dengan harapan Allah menerimanya?