فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

Dia menyimpan rasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut!” Mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang berilmu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةًfa-awjasa minhum khiifatandia menyimpan rasa takut terhadap mereka
  2. قَالُوا لَا تَخَفْqaaluu laa takhafmereka berkata, janganlah takut
  3. وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍwa-basysyaruuhu bi-ghulaamin 'aliiminmereka memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang berilmu

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. فَأَوْجَسَfa-awjasamaka ia merasa
  2. مِنْهُمْminhumdari mereka
  3. خِيفَةًkhiifatanketakutan
  4. قَالُواqaaluumereka berkata
  5. لَاlaajanganlah
  6. تَخَفْtakhafengkau takut
  7. وَبَشَّرُوهُwa-basysyaruuhudan mereka memberinya kabar gembira
  8. بِغُلَامٍbi-ghulaamindengan seorang anak lelaki
  9. عَلِيمٍ'aliiminyang berilmu

Inti bacaan

Pasangan (بِغُلَامٍ عَلِيمٍ, bi-ghulaamin 'aliimin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 15:53 dan 51:28, sedangkan bentuk (وَبَشَّرُوهُ, wa-basysyaruuhu) hanya muncul di 51:28.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَأَوْجَسَ, fa-awjasa) yang berarti "maka dia menyimpan". Bentuk ini terdiri atas fa yang berarti "maka" dan awjasa, kata kerja lampau dari akar و-ج-س untuk satu pelaku lelaki. Awalan fa menyambung ayat ini dengan 51:26 dan 51:27, yang juga memakai fa pada tiap tindakan tuan rumah. Pelakunya tidak disebut dengan nama di ayat ini. Ayat 51:24 menyebut tamu Ibrahim, 51:25 menyebut mereka masuk kepadanya, dan 51:27 memuat ucapan tuan rumah kepada mereka, sehingga pelaku awjasa dapat dibaca sebagai Ibrahim.

Akar و-ج-س hanya muncul di tiga ayat, semuanya dalam bentuk awjasa: 11:70, 20:67, dan 51:28. Bentuk (فَأَوْجَسَ, fa-awjasa) dengan fa muncul dua kali, di 20:67 dan 51:28, sedangkan 11:70 memakai wa. Rangkaian (أَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً, awjasa minhum khiifatan) muncul dua kali, di 11:70 dengan bunyi (وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً, wa-awjasa minhum khiifatan), "dan dia menyimpan rasa takut terhadap mereka", lalu di 51:28. Di 20:67 keterangannya lain karena Musa menjadi pelaku dan tempat rasa takut disebut, (فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً, fa-awjasa fii nafsihi khiifatan), "maka dia menyimpan rasa takut dalam dirinya". Keterangan fii nafsihi menyebut tempat rasa takut itu disimpan, sedangkan (مِنْهُمْ, minhum) di 11:70 dan 51:28 menyebut pihak yang dihadapi. Partikel min berarti "dari" atau "terhadap", dan akhiran -hum berarti "mereka". Terjemahan memilih "terhadap mereka" supaya para tamu terbaca sebagai sasaran perasaan itu, tanpa memutuskan apa sebab takutnya.

Kata (خِيفَةً, khiifatan) yang berarti "rasa takut" berasal dari akar خ-و-ف dan berakhiran -an tanpa kata sandang al-, sehingga ayat tidak merinci ukuran atau sebab rasa takut itu. Bentuk persis ini muncul empat kali di empat surah, yaitu 7:205, 11:70, 20:67, dan 51:28. Tiga ayat terakhir memasangkannya dengan awjasa. Di 7:205 bentuk itu berdiri tanpa awjasa, (تَضَرُّعًا وَخِيفَةً, tadharru'an wa-khiifatan), "dengan merendah dan rasa takut", dan di sana menyifati cara menyebut Tuhan dalam diri sendiri. Dengan begitu rasa takut yang disebut khiifatan tidak terkunci pada pertemuan dengan tamu atau lawan. Terjemahan memakai "rasa takut" di keempat ayat.

Akar خ-و-ف juga dipakai pada kata kerja yang diucapkan para tamu, (تَخَفْ, takhaf). Rasa takut yang disimpan dan larangan yang diucapkan berasal dari akar yang sama, dan terjemahan memakai "takut" pada keduanya. Ungkapan (لَا تَخَفْ, laa takhaf) yang berarti "janganlah takut" tersusun atas laa yang melarang dan takhaf, kata kerja yang dipakai untuk melarang satu orang, yaitu "engkau", merasa takut. Ayat tidak memakai kata ganti tersendiri karena sapaan itu sudah terkandung di dalam bentuk kata kerjanya.

Ungkapan laa takhaf muncul sembilan kali di tujuh surah, yaitu 11:70, 20:21, 20:68, 27:10, 28:25, 28:31, 29:33, 38:22, dan 51:28. Surah 20 dan 28 masing-masing memuatnya dua kali, sehingga sembilan kemunculan menempati tujuh surah. Lima ayat di antaranya, yaitu 20:21, 20:68, 27:10, 28:25, dan 28:31, berada dalam rangkaian kisah Musa di surah 20, 27, dan 28. Dengan awalan (قَالُوا لَا تَخَفْ, qaaluu laa takhaf), "mereka berkata, janganlah takut", ungkapan itu muncul empat kali di empat surah: 11:70, 29:33, 38:22, dan 51:28. Di tiga ayat yang lain, pendengar larangan lebih dulu disebut bereaksi terhadap pendatang. Di 29:33 reaksinya (سِيءَ بِهِمْ, sii'a bihim), "dia merasa gundah karena mereka", dan di 38:22 (فَفَزِعَ مِنْهُمْ, fa-faza'a minhum), "maka dia terkejut karena mereka". Kata kerja reaksinya berbeda di tiap ayat. Hanya di 11:70 dan 51:28 reaksi itu disebut dengan awjasa.

Tamu Ibrahim juga dibicarakan di 15:51 sampai 15:53, dengan pilihan akar yang lain. Di 15:52 pemilik rasa takut sendiri mengucapkannya, (إِنَّا مِنْكُمْ وَجِلُونَ, innaa minkum wajiluuna), "sesungguhnya kami merasa takut kepada kalian", dan para tamu menjawab (لَا تَوْجَلْ, laa tawjal), "janganlah merasa takut", dengan akar و-ج-ل. Kedua bentuk itu masing-masing muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu wajiluuna di 15:52 dan laa tawjal di 15:53. Ayat 51:28 memakai akar خ-و-ف dan menuliskan "takut" tanpa kata "merasa".

Kata (وَبَشَّرُوهُ, wa-basysyaruuhu) tersusun dari wa yang berarti "dan", basysyaruu yang berarti "mereka memberi kabar gembira", dan -hu yang berarti "kepadanya". Kata kerjanya berakar ب-ش-ر dan huruf syin-nya bertasydid, sehingga ditulis ganda dalam alih aksara. Bentuk persis wa-basysyaruuhu hanya muncul di 51:28. Bentuk bertasydid dari akar yang sama muncul di ayat sejajar, yaitu (إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ, innaa nubasysyiruka bi-ghulaamin), "sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak", di 15:53 dan 19:7, dan (فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ, fa-basysyarnaahu bi-ghulaamin haliimin), "maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang santun", di 37:101. Di 15:53 dan 19:7 kabar gembira berada di dalam kutipan ucapan, sedangkan di 51:28 ayat melaporkannya sebagai tindakan para tamu, tanpa memuat kalimat yang mereka ucapkan.

Kata (بِغُلَامٍ, bi-ghulaamin) terdiri atas bi yang berarti "dengan" dan ghulaam yang berarti "anak lelaki", dari akar غ-ل-م. Susunan bi-ghulaamin sesudah kata kerja kabar gembira muncul empat kali di empat surah, yaitu 15:53, 19:7, 37:101, dan 51:28. Isi kabarnya diberi keterangan yang berbeda di tiap ayat. Di 19:7 anak itu diberi nama, (بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ, bi-ghulaamin ismuhu yahyaa), "dengan seorang anak yang namanya Yahya", dan di 37:101 diberi sifat haliimin, "yang santun". Di 11:71 kabar gembira kepada istri menyebut nama Ishaq, sedangkan ayat 51:28 menyebut anak tanpa nama, sehingga terjemahan tidak menambahkan nama.

Anak di 51:28 disifati dengan (عَلِيمٍ, 'aliimin) yang berarti "yang berilmu", dari akar ع-ل-م. Bentuk 'aliimin muncul enam kali di enam surah, yaitu 7:112, 10:79, 15:53, 26:37, 27:6, dan 51:28. Di 7:112 dan 10:79 bentuk itu menyifati penyihir, (سَاحِرٍ عَلِيمٍ, saahirin 'aliimin), "penyihir yang berilmu", dan di 26:37 (سَحَّارٍ عَلِيمٍ, sahhaarin 'aliimin). Di 27:6 bentuk itu menyifati pihak yang memberi Al-Qur'an, (حَكِيمٍ عَلِيمٍ, hakiimin 'aliimin), "yang penuh hikmah lagi berilmu". Di 15:53 dan 51:28 bentuk itu menyifati anak, sehingga pasangan (بِغُلَامٍ عَلِيمٍ, bi-ghulaamin 'aliimin) muncul dua kali, yaitu di kedua ayat itu, dan terjemahan memakai "berilmu" di keenam ayat yang disebut tadi. Di 51:30 bentuk bersandang, (الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ, al-hakiimu l-'aliimu), "Sang Penuh Hikmah lagi Sang Berilmu", dipakai untuk Tuhan yang berfirman. Terjemahan menulis "yang berilmu" tanpa sandang untuk anak dan "Sang Berilmu" untuk yang bersandang, sehingga dua sebutan itu tetap berbeda meski akarnya sama. Ayat 51:28 tidak merinci ilmu apa yang dimaksud, dan terjemahan tidak menambahkan keterangan seperti "banyak" atau "dalam agama".

Tafsiran

Ayat 51:24 sampai 51:27 menyusun cerita tamu Ibrahim lewat tindakan yang terlihat. Tamu disebut di 51:24, mereka masuk dan bertukar salam di 51:25 dengan tuan rumah menyebut mereka kaum yang belum dikenal, tuan rumah pergi lalu datang membawa anak sapi gemuk di 51:26, dan di 51:27 tuan rumah mendekatkannya lalu bertanya mengapa mereka tidak makan. Ayat 51:28 membawa cerita dari apa yang dikerjakan tuan rumah ke apa yang tersimpan dalam dirinya, lalu ke apa yang dikatakan kepadanya.

Di antara rasa takut dan larangan takut, ayat tidak mencatat ucapan apa pun dari tuan rumah. Di 15:52 rasa takut diucapkan langsung, "sesungguhnya kami merasa takut kepada kalian". Di 51:28 ayat mencatat rasa takut yang disimpan, lalu ucapan para tamu. Teks tidak menyebut bagaimana tamu mengetahuinya. Urutan itu dapat dibaca sebagai rasa takut yang tersimpan namun terbaca oleh tamu, dan ayat tidak menyatakan sebabnya.

Susunan ucapan dan kabarnya berbeda dari ayat-ayat sejajar. Di 11:70 larangan takut disusul pernyataan bahwa para tamu diutus kepada kaum Lut, dan di 15:53 larangan merasa takut serta kabar gembira berada dalam satu kutipan ucapan. Di 51:28 larangan menjadi ucapan tamu yang dikutip, dan kabar gembira dilaporkan ayat sebagai tindakan sesudahnya. Pernyataan bahwa mereka diutus kepada kaum yang berdosa baru muncul di 51:32, sesudah tuan rumah bertanya apa urusan mereka di 51:31.

Sebutan untuk para tamu berubah di sepanjang rangkaian ini. Di 51:25 tuan rumah menyebut mereka (قَوْمٌ مُنْكَرُونَ, qawmun munkaruuna), "kaum yang belum dikenal", dan di 51:31 tuan rumah menyapa mereka (الْمُرْسَلُونَ, al-mursaluuna), "para utusan". Ayat 51:28 sampai 51:30 berada di antara dua sebutan itu, dan ayat-ayat tersebut tidak menyatakan sebab perubahan sebutan itu.

Ayat 51:29 menyambung dengan reaksi istri, dan 51:30 menjawabnya dengan ucapan bahwa demikianlah Tuhanmu berfirman. Sifat berilmu muncul dua kali dalam rentang ini: pada anak di 51:28 dan pada Tuhan di 51:30. Akar yang sama dipakai untuk dua pihak yang berbeda, dan kedua ayat tidak menyamakan keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 51:28 menyebut rasa takut yang disimpan, tanpa memuat ucapan apa pun dari pemiliknya, dan para tamu tetap menjawabnya. Seseorang yang menyambut orang asing di rumah, kantor, atau kelas dapat menyimpan kecurigaan yang tidak terucap, sambil tetap menyuguhkan yang terbaik. Di 5:7 Allah disebut berilmu akan segala isi hati, dan di 2:235 Allah mengetahui apa yang ada dalam diri. Dua ayat itu menempatkan isi dada sebagai sesuatu yang diketahui Allah, sekalipun tidak sampai ke bibir. Pembaca yang menyimpan kewaspadaan terhadap seseorang dapat membedakan simpanan itu dari tuduhan yang diucapkan. Apakah rasa waspada terhadap orang lain lebih ringan dibawa bila diakui di hadapan Allah daripada disangkal di depan diri sendiri?
  • Urutan di 51:26 dan 51:27 menaruh jamuan lebih dulu: tuan rumah menemui keluarganya, membawa anak sapi gemuk, dan mendekatkannya kepada para tamu. Rasa takut baru disebut di 51:28, sesudah semua itu. Di 11:69 anak sapi yang dipanggang dibawa tidak lama sesudah salam, dan baru di 11:70 rasa takut disebut, tepat sesudah tangan para tamu tidak menjamah hidangan. Orang yang menerima tetangga baru, calon rekan kerja, atau tamu yang belum dikenal dapat membaca urutan itu. Kebaikan dikerjakan lebih dulu, dan ketidaktenangan dibawa bersamanya. Ayat tidak memuat keterangan bahwa jamuan dihentikan karena takut. Apakah keramahan hanya sah bila perasaan sudah tenang, atau dapat berjalan berdampingan dengan rasa waspada?
  • Dalam 51:28 ucapan pertama para tamu berupa larangan takut, dan kabar gembira menyusul sesudahnya. Larangan itu dikutip tanpa alasan, dan isi kabarnya baru dilaporkan setelah larangan selesai. Di 29:33 larangan takut disertai larangan bersedih, lalu alasan berupa janji penyelamatan menyusul sesudahnya. Seseorang yang hendak menyampaikan kabar baik kepada orang yang masih tegang, misalnya hasil pemeriksaan, tawaran pekerjaan, atau rencana pernikahan, dapat membaca urutan ini sebagai pengaturan: perasaan lawan bicara dihadapi lebih dulu, kabar menyusul kemudian. Dapat pula dibaca bahwa kabar yang baik pun mungkin terdengar buruk di telinga yang sedang menahan rasa takut. Apakah kabar dapat terdengar sebagai kabar baik sebelum rasa takut didengar lebih dulu?
  • Kabar di 51:28 menyebut sifat anak yang dijanjikan, yaitu berilmu, dan tidak menyebut nama, rupa, atau kedudukannya. Di 19:7 kabar yang serupa memuat nama, dan di 37:101 memuat sifat santun. Di 3:39 Allah menyampaikan kabar gembira dengan sederet sifat: membenarkan suatu kalimat dari Allah, panutan, orang yang menahan diri, dan nabi di antara orang-orang saleh. Dua di antaranya, 3:39 dan 37:101, memuat mutu pribadi sebagai isi kabar. Calon orang tua dan orang yang mendoakan seorang anak dapat membandingkan isi harapan mereka dengan isi kabar-kabar ini. Sifat apa yang disebut paling dulu dalam doa untuk anak, dan pencapaian apa yang menyusul sesudahnya?
  • Sifat berilmu di 51:28 dipakai untuk anak, dan di 51:30 sifat yang berakar sama dipakai untuk Tuhan yang berfirman. Ayat-ayat itu tidak menyamakan keduanya. Di 31:34 Allah disebut Sang Berilmu lagi Sang Teliti, sedangkan satu jiwa pun tidak mengetahui apa yang akan diusahakannya esok atau di bumi mana jiwa itu akan mati. Ilmu yang dimiliki seorang pelajar, dokter, atau peneliti dapat dibaca dalam ayat-ayat itu sebagai ilmu yang berbatas, dan ilmu Allah sebagai sifat yang mengetahui hal-hal yang tidak diketahui satu jiwa pun. Anak yang diberi kabar di 51:28 digambarkan berilmu, dan pembaca dapat menanyakan apakah ilmunya sendiri dirasakan sebagai milik pribadi atau sebagai sesuatu yang diterima.
  • Ayat 51:29 menyebut istri tuan rumah menepuk wajahnya dan berkata perempuan tua yang mandul, sebagai jawaban atas kabar anak. Pertanyaan yang mirip diajukan di 3:40 dan 19:8, yaitu bagaimana akan ada anak sedangkan usia sudah lanjut dan istri mandul. Di 3:40 jawabannya berbunyi, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” Di 11:73 para tamu bertanya kepada istri, apakah dia merasa heran dengan ketetapan Allah. Orang yang menerima kabar yang berlawanan dengan keadaan dirinya, yaitu usia lanjut, sakit, atau kesempatan yang sudah dianggap tertutup, dapat membaca rangkaian ini sebagai ruang bagi keheranan yang jujur. Apakah keheranan itu pernah dipakai untuk menutup pintu sebelum kabarnya selesai didengar?