فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ
Maka, istrinya datang sambil berteriak, lalu menepuk wajahnya sendiri dan berkata, “Perempuan tua yang mandul.”
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍfa-aqbalati mra'atuhu fii sharratinmaka, istrinya datang sambil berteriak
- فَصَكَّتْ وَجْهَهَاfa-shakkat wajhahaalalu, menepuk wajahnya sendiri
- وَقَالَتْwa-qaalatdan berkata
- عَجُوزٌ عَقِيمٌ'ajuuzun 'aqiimunperempuan tua yang mandul
Terjemahan per kata (9 kata)
- فَأَقْبَلَتِfa-aqbalatimaka datanglah
- امْرَأَتُهُmra'atuhuistrinya
- فِيfiidengan
- صَرَّةٍsharratinjeritan
- فَصَكَّتْfa-shakkatmaka ia menepuk
- وَجْهَهَاwajhahaawajahnya
- وَقَالَتْwa-qaalatdan ia berkata
- عَجُوزٌ'ajuuzunperempuan tua
- عَقِيمٌ'aqiimunmandul
Inti bacaan
Bentuk persis 'ajuuzun muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:72 dan 51:29.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَأَقْبَلَتِ, fa-aqbalati) yang berarti "maka datanglah", dari akar ق-ب-ل. Huruf fa menyambung ayat ini dengan 51:28, dan terjemahan memakai "maka". Bentuk persis fa-aqbalati hanya muncul di 51:29. Kata kerja berpola sama dipakai di 37:50, (فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ, fa-aqbala ba'dhuhum 'alaa ba'dhin) yang berarti "maka sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain", dan juga di 52:25 serta 68:30. Pada ketiga ayat itu kata kerjanya disusul huruf 'alaa dan sasaran yang disebut. Di 51:29 tidak ada sasaran semacam itu, sehingga terjemahan memilih "datang" dan tidak menambahkan "menghadap kepada" siapa pun. Di 28:31, (أَقْبِلْ, aqbil) yang berarti "majulah" berbentuk perintah dan juga tanpa sasaran.
Kata berikutnya, (امْرَأَتُهُ, mra'atuhu), berarti "istrinya". Kata ini tersusun dari kata benda berakar م-ر-أ dan akhiran -hu yang berarti "-nya" untuk satu laki-laki. Laki-laki itu disebut sejak 51:24, yaitu Ibrahim, sehingga "istrinya" di sini berarti istri Ibrahim. Bentuk persis mra'atuhu muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 11:71, 51:29, dan 111:4. Di 11:71 bunyinya (وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ, wa-mra'atuhu qaa'imatun) yang berarti "dan istrinya berdiri", dan di 111:4 (وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ, wa-mra'atuhu hammaalata l-hathabi) yang berarti "dan istrinya, pembawa kayu bakar". Dua ayat itu menyebut perempuan yang berbeda, karena laki-laki yang dirujuk akhiran -hu berbeda di tiap ayat. Kata Arab lain untuk istri ada di 21:90, (زَوْجَهُ, zawjahu) yang berarti "istrinya"; bahasa Indonesia memakai satu kata untuk keduanya.
Frasa (فِي صَرَّةٍ, fii sharratin) berarti "dalam jeritan", dan terjemahan menuliskannya "sambil berteriak". Kata (صَرَّةٍ, sharratin) berakar ص-ر-ر, memakai huruf ر bertasydid sehingga ditulis rr, tanpa kata sandang, dan bentuknya hanya muncul sekali di Al-Qur'an. Akar ص-ر-ر dipakai juga di 3:117, (رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ, riihin fiihaa shirrun) yang berarti "angin yang mengandung hawa sangat dingin", dan pada kata kerja di 56:46, (يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ, yushirruuna 'alaa l-hintsi l-'azhiimi) yang berarti "mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang agung", serta di 3:135, 45:8, dan 71:7. Arti yang berbeda-beda itu tidak dapat dipinjam dengan aman untuk sharratin. Pilihan "berteriak" bertumpu pada rangkaian ayat ini: perempuan itu datang dalam sharratin, lalu menepuk wajahnya, lalu berkata. Tiga gerak itu dapat dibaca sebagai suara dan tindakan yang keluar dari tubuh yang terkejut. Partikel (فِي, fii) menyebut keadaan perempuan itu saat datang, dan terjemahan memakai "sambil" karena bahasa Indonesia memakai kata itu untuk dua hal yang berjalan bersamaan.
Kata kerja (فَصَكَّتْ, fa-shakkat) yang berarti "lalu menepuk" berakar ص-ك-ك, dengan huruf ك bertasydid sehingga ditulis kk. Akar ini tidak muncul di ayat lain, sehingga pilihan "menepuk" bertumpu pada objeknya. Objeknya (وَجْهَهَا, wajhahaa) yang berarti "wajahnya" tersusun dari wajh, dari akar و-ج-ه, dan akhiran -haa untuk satu perempuan. Akhiran itu kembali kepada perempuan yang menjadi pelaku, sehingga wajah yang ditepuk milik perempuan itu sendiri, dan terjemahan menambahkan "sendiri" untuk menandai hal itu. Tangan tidak disebut dalam ayat, jadi terjemahan tidak menulis "dengan tangannya". Bentuk wajhahaa hanya muncul di 51:29.
Kata kerja ketiga, (وَقَالَتْ, wa-qaalat) yang berarti "dan berkata", berakar ق-و-ل dan menunjuk satu perempuan. Bentuk persis wa-qaalat muncul lima kali di lima surah, yaitu 3:72, 7:39, 12:23, 28:11, dan 51:29. Di 28:11 kata kerja itu disusul penerima ucapan, (وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ, wa-qaalat li-ukhtihi) yang berarti "dan berkata kepada saudara perempuannya", dan di 7:39 (وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ, wa-qaalat uulaahum li-ukhraahum) yang berarti "dan yang pertama dari mereka berkata kepada yang terakhir dari mereka". Di 51:29 ucapan langsung mengikuti kata kerja itu, dan ayat tidak menyebut kepada siapa perempuan ini berbicara.
Ucapannya terdiri atas dua kata, (عَجُوزٌ, 'ajuuzun) yang berarti "perempuan tua" dari akar ع-ج-ز, dan (عَقِيمٌ, 'aqiimun) yang berarti "mandul" dari akar ع-ق-م. Keduanya tanpa kata sandang dan berakhiran -un, tanda kata tak tentu. Kalimatnya tidak memuat kata kerja dan tidak memuat kata "aku", sehingga terjemahan tidak menambahkan "aku" dan hanya menyisipkan "yang" agar dua kata itu terbaca sebagai satu sebutan dalam bahasa Indonesia. Bentuk persis 'ajuuzun muncul dua kali di dua surah, yaitu 11:72 dan 51:29. Kata yang sama dengan akhiran lain muncul empat kali di empat surah, yaitu 11:72, 26:171, 37:135, dan 51:29. Di 11:72 bunyinya (أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ, a-alidu wa-anaa 'ajuuzun) yang berarti "apakah aku akan melahirkan, padahal aku sudah tua", dengan kata "aku" tertulis di dalam kalimat. Di 26:171, (إِلَّا عَجُوزًا فِي الْغَابِرِينَ, illaa 'ajuuzan fii l-ghaabiriina) yang berarti "kecuali seorang perempuan tua yang termasuk golongan yang tertinggal", kata itu menyebut perempuan yang dikecualikan dari (فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ, fa-najjaynaahu wa-ahlahu ajma'iina) yang berarti "maka Kami selamatkan dia dan seluruh keluarganya" di 26:170. Ayat 37:135 mengulang kalimat 26:171.
Bentuk persis 'aqiimun hanya muncul di 51:29. Kata yang sama dengan akhiran lain muncul empat kali di tiga surah, yaitu 22:55, 42:50, 51:29, dan 51:41. Di 22:55 bunyinya (عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ, 'adzaabu yawmin 'aqiimin) yang berarti "azab hari yang mandul", di 42:50 (وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا, wa-yaj'alu man yasyaa'u 'aqiiman) yang berarti "dan menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki", dan di 51:41 kata itu menyifati (الرِّيحَ الْعَقِيمَ, ar-riiha l-'aqiima), angin yang dikirim kepada Ad, tempat terjemahan memilih "membinasakan". Perempuan yang tidak melahirkan juga disebut dengan kata lain, (عَاقِرٌ, 'aaqirun), berakar ع-ق-ر. Di 3:40 bunyinya (وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ, wa-mra'atii 'aaqirun) yang berarti "dan istriku mandul", dan di 19:5 serta 19:8 (وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا, wa-kaanati mra'atii 'aaqiran) yang berarti "sedangkan istriku mandul". Pada tiga ayat itu pembicara menyebut istrinya, sedangkan di 51:29 perempuan itu menyebut dirinya sendiri. Terjemahan memakai "mandul" untuk kedua kata Arab itu sebagai keputusan padanan dalam terjemahan ini, dan perbedaan akar dapat dibaca pada translit.
Tafsiran
Ayat 51:24 sampai 51:28 bergerak di antara laki-laki: tamu yang masuk, salam yang dibalas, anak sapi gemuk yang dihidangkan, rasa takut, lalu kabar gembira. Perempuan pertama kali muncul di 51:29, lewat akhiran -hu pada "istrinya", dan langsung menjadi pelaku tiga kata kerja berturut-turut: datang, menepuk, berkata. Ayat 51:26 hanya menyebut "keluarganya", sehingga 51:29 menjadi tempat pembicaraan beralih dari tuan rumah dan tamu ke seorang perempuan yang sebelumnya belum disebut.
Kabar di 51:28, (وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ, wa-basysyaruuhu bighulaamin 'aliimin) yang berarti "mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang berilmu", ditujukan kepada Ibrahim. Ayat 51:29 hanya memuat reaksi dan ucapan perempuan itu, tanpa kalimat tentang apa yang didengarnya, sehingga dapat dibaca bahwa kabar itu sampai kepadanya lewat kata-kata di ayat sebelumnya. Ucapan yang tercatat hanya dua sifat tentang dirinya, tanpa pertanyaan dan tanpa penolakan.
Pertemuan serupa ada di 11:69 sampai 11:73. Frasa (أَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً, awjasa minhum khiifatan) yang berarti "menyimpan rasa takut terhadap mereka" hanya muncul di 11:70 dan 51:28, dan bentuk 'ajuuzun serta mra'atuhu muncul di kedua kisah. Kemiripan itu membuat kedua kisah dapat dibaca berdampingan. Di 11:71 perempuan itu tertawa, di 11:72 perempuan itu berkata (يَا وَيْلَتَىٰ, yaa waylataa) yang berarti "aduh celaka aku!" dan menyusun kalimat panjang, sedangkan di 51:29 perempuan itu menjerit, menepuk wajahnya, lalu hanya mengucapkan dua kata. Kedua surah memuat gambaran yang berbeda, dan ayat ini tidak memuat tawa maupun kalimat panjang itu.
Ayat 51:30 menjawab langsung: (كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ, kadzaaliki qaala rabbuki) yang berarti "demikianlah Tuhanmu berfirman". Akhiran -ki pada rabbuki untuk satu perempuan, sehingga jawaban itu ditujukan kepada perempuan yang baru berbicara di 51:29. Ayat 51:28, 51:29, dan 51:30 berakhir pada bunyi -iim: 'aliimin, 'aqiimun, dan al-'aliimu. Dalam bacaan Arab, bunyi 'aqiimun berada di antara dua kata yang berarti "berilmu", dan terjemahan Indonesia tidak dapat memindahkan kesejajaran bunyi itu. Ayat 51:31 lalu berpindah ke pertanyaan Ibrahim kepada para utusan tentang urusan mereka.
Renungan dan Hikmah
- Di 51:29 ada tiga gerak berurutan: perempuan itu datang dalam jeritan, menepuk wajahnya, lalu berkata. Ucapannya hanya dua kata, dan tubuhnya sudah bergerak sebelum kata-kata itu keluar. Orang yang menerima kabar yang tidak masuk hitungan, misalnya hasil pemeriksaan atau tawaran yang datang tanpa diduga, dapat mengenali urutan serupa pada dirinya: napas atau tangan bergerak lebih dulu daripada kalimat yang tersusun. Ayat ini mencatat urutan itu apa adanya, tanpa menghaluskannya dan tanpa mengomentarinya. Apakah reaksi yang belum sempat dirapikan pernah dianggap tidak pantas diperlihatkan, padahal ayat ini menuliskannya sampai ke tepukan di wajah?
- Perempuan itu menyebut dirinya dengan dua sifat, perempuan tua dan mandul, tanpa kata kerja dan tanpa permintaan. Di 3:40 dan 19:8 pembicara yang berbicara kepada Tuhannya menyebut kemandulan istrinya, sedangkan di 51:29 perempuan itu sendiri menyebut keadaannya. Seseorang dapat mengingat saat merinci kekurangannya sendiri ketika menerima kabar baik: terlalu tua, terlalu lemah, terlalu terlambat. Rincian semacam itu dapat terdengar seperti alasan, dan dapat pula terdengar seperti keterkejutan. Dua kata di ayat ini tidak diteruskan dengan penolakan. Jika daftar serupa diucapkan, adakah penolakan di dalamnya, atau hanya pengakuan bahwa kabarnya terlalu besar untuk dipercaya sekaligus?
- Di 11:72 perempuan dalam kisah serupa berkata bahwa dirinya akan melahirkan padahal sudah tua dan suaminya sudah renta, lalu menyebut hal itu sesuatu yang ajaib. Tanggapan di 11:73 berbentuk pertanyaan, "Apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah?", lalu disusul ucapan "Rahmat Allah dan berkah-Nya atas kalian, wahai ahlulbait!". Ayat 11:73 menyebut keheranan itu dalam pertanyaan, dan pertanyaan itu memuat nama Allah, lalu disusul rahmat dan berkah-Nya. Orang yang terkejut oleh kabar baik dapat memperhatikan bahwa tanggapan itu tidak menyuruhnya berhenti heran. Apakah keheranan pernah dirasakan sebagai tanda iman yang kurang, padahal ayat ini menanggapinya dengan pertanyaan dan ucapan rahmat?
- Di 3:40 pembicara yang sudah sangat tua dan beristri mandul dijawab, "Demikianlah, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki." Di 42:49 kerajaan langit dan bumi disebut milik Allah, dan Dia menganugerahkan anak perempuan atau anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Ayat 42:50 menyusul dengan menyebut Dia menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki, lalu menutup dengan sifat berilmu dan berkuasa. Kelahiran dan kemandulan ditaruh dalam satu rangkaian kehendak yang sama, dan 42:50 tidak mengaitkan kemandulan dengan kesalahan siapa pun. Pembaca yang membawa keterbatasan tubuh dapat membaca 51:29 bersama ayat-ayat ini. Sudahkah keterbatasan yang selama ini dianggap pagar terakhir dibaca bersama kalimat tentang kehendak Allah di sana?
- Perempuan itu menyebut dirinya lewat dua sifat yang membentuk satu golongan, yaitu perempuan tua yang mandul. Jawaban di 51:30 memakai akhiran -ki, sapaan untuk satu perempuan, pada kalimat "Demikianlah Tuhanmu berfirman". Susunan yang sama ada di 3:47, tempat perempuan yang bertanya bagaimana dirinya dapat mempunyai anak dijawab, "Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki", dan di 19:21. Dalam tiga ayat itu jawaban menyapa perempuan yang berbicara, dan tidak menjawab keadaan secara umum. Seseorang yang menyebut dirinya hanya lewat label usia, status, atau riwayat sakit dapat memperhatikan bahwa jawaban di ayat-ayat ini ditujukan kepada orangnya. Suara siapa yang terdengar menyapanya ketika dirinya disebut sebagai golongan?
- Di 11:71 istri itu tertawa, dan di 51:29 istri itu menjerit lalu menepuk wajahnya. Kedua ayat memakai frasa yang sama untuk rasa takut yang disimpan tuan rumah, yaitu awjasa minhum khiifatan di 11:70 dan 51:28, dan memakai bentuk mra'atuhu untuk istrinya. Dua surah itu mencatat dua gambaran reaksi yang berbeda, masing-masing di ayatnya sendiri. Dua orang yang menerima kabar yang sama dapat bereaksi berbeda, dan satu orang dapat bereaksi berbeda pada dua kesempatan. Ukuran tentang reaksi yang pantas terhadap kabar besar tidak tertulis di ayat-ayat ini. Apakah ukuran seperti itu pernah dipakai untuk menilai orang yang terkejut dengan cara yang lain dari yang diharapkan, atau untuk menilai dirinya sendiri?