قَالُوا كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
Mereka berkata, “Demikianlah Tuhanmu berfirman. Sesungguhnya Dialah Sang Penuh Hikmah lagi Sang Berilmu.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِka-dzaaliki qaala rabbukidemikianlah Tuhanmu berfirman
- إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُinnahu huwa l-hakiimu l-'aliimusesungguhnya Dialah Sang Penuh Hikmah lagi Sang Berilmu
Terjemahan per kata (8 kata)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- كَذَٰلِكِka-dzaalikidemikianlah
- قَالَqaalaberkata
- رَبُّكِrabbukiTuhanmu
- إِنَّهُinnahusesungguhnya
- هُوَhuwaDialah
- الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah
- الْعَلِيمُl-'aliimuSang Berilmu
Inti bacaan
Susunan (كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ, ka-dzaaliki qaala rabbuki) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 19:21 dan 51:30.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قَالُوا, qaaluu) yang berarti "mereka berkata", dari akar ق-و-ل. Ayat tidak menyebut siapa "mereka". Pelakunya dapat dibaca dari 51:28, tempat bentuk qaaluu yang sama mendahului "Janganlah takut!" dan menunjuk para tamu Ibrahim. Tidak ada huruf penyambung di depan kata kerja ini, dan ucapan baru itu langsung menyusul ucapan istri Ibrahim di 51:29.
Kata berikutnya, (كَذَٰلِكِ, ka-dzaaliki) yang berarti "demikianlah", tersusun dari ka yang berarti "seperti" dan dzaaliki yang berarti "itu". Bentuk persis dengan bunyi akhir -ki ini hanya muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 3:47, 19:21, dan 51:30. Pada ketiganya orang yang baru berbicara sebelum jawaban itu seorang perempuan: Maryam di 3:47 dan 19:21, yang bertanya bagaimana dirinya dapat mempunyai anak, dan istri Ibrahim di 51:30. Bentuk berakhiran -ka, (كَذَٰلِكَ, ka-dzaalika) yang berarti "demikianlah", dipakai di 3:40 dan 19:9 dalam kisah Zakariya, laki-laki yang di kedua tempat itu juga baru bertanya tentang anak. Perbedaan bunyi akhir itu dapat dibaca sebagai penyesuaian terhadap lawan bicara. Terjemahan menulis "demikianlah" untuk kedua bentuk, sehingga perbedaannya hanya terbaca pada translit.
Kata kerja (قَالَ, qaala) yang berarti "berfirman" memakai akar yang sama dengan qaaluu di awal ayat. Terjemahan memilih "berfirman" karena pelakunya Tuhan, dan "berkata" untuk para tamu. Pelakunya, (رَبُّكِ, rabbuki) yang berarti "Tuhanmu", berakar ر-ب-ب dan ditulis rabbuki dengan bb karena huruf ب bertasydid. Akhiran -ki berarti "-mu" untuk satu perempuan, sehingga yang disapa istri Ibrahim. Bentuk persis rabbuki muncul tiga kali di dua surah, yaitu 19:21, 19:24, dan 51:30, dan di dua ayat pertama yang disapa Maryam. Susunan (كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ, ka-dzaaliki qaala rabbuki) yang berarti "demikianlah Tuhanmu berfirman" muncul dua kali di dua surah, yaitu 19:21 dan 51:30. Padanannya untuk satu laki-laki, (كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ, ka-dzaalika qaala rabbuka) yang berarti "demikianlah Tuhanmu berfirman", hanya muncul di 19:9. Di 19:21 dan 19:9 frasa itu disusul (هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ, huwa 'alayya hayyinun) yang berarti "itu mudah bagi-Ku", yaitu Tuhan berbicara dengan kata "Aku". Di 51:30 kalimat sesudahnya menyebut Tuhan dengan kata "Dia", sehingga dapat dibaca sebagai ucapan para tamu sendiri tentang Tuhan dan tidak sebagai kelanjutan firman yang mereka kutip. Terjemahan menaruh keduanya di dalam satu tanda kutip ucapan para tamu.
Kata (إِنَّهُ, innahu) yang berarti "sesungguhnya Dia" tersusun dari inna yang berarti "sesungguhnya" dan akhiran -hu yang berarti "Dia". Sesudahnya (هُوَ, huwa) yang berarti "Dia" muncul lagi sebagai kata tersendiri, dan terjemahan memadatkan keduanya menjadi "Sesungguhnya Dialah", dengan -lah menandai pihak yang dimaksud. Susunan (إِنَّهُ هُوَ, innahu huwa) yang berarti "sesungguhnya Dialah" muncul sembilan belas kali di empat belas surah, yaitu 2:37, 2:54, 8:61, 12:34, 12:83, 12:98, 12:100, 17:1, 26:220, 28:16, 29:26, 39:53, 40:56, 41:36, 44:6, 44:42, 51:30, 52:28, dan 85:13. Delapan di antaranya memuat (الْعَلِيمُ, al-'aliimu) yang berarti "Sang Berilmu", yaitu 8:61, 12:34, 12:83, 12:100, 26:220, 41:36, 44:6, dan 51:30. Lima dari delapan itu, yaitu 8:61, 12:34, 26:220, 41:36, dan 44:6, memasangkannya dengan (السَّمِيعُ, as-samii'u) yang berarti "Yang Mendengar". Dua lainnya, 12:83 dan 12:100, memasangkannya dengan (الْحَكِيمُ, al-hakiimu) yang berarti "Sang Penuh Hikmah", dengan al-'aliimu di depan, dan hanya 51:30 menaruh al-hakiimu di depan.
Kata (الْحَكِيمُ, al-hakiimu) yang berarti "Sang Penuh Hikmah" berakar ح-ك-م, dan al-'aliimu berakar ع-ل-م. Kata sandang al- di depan keduanya membuat sifat itu menunjuk satu pihak tertentu, dan terjemahan menandainya dengan "Sang". Tanpa al-, pasangan yang sama berbunyi (حَكِيمٌ عَلِيمٌ, hakiimun 'aliimun) yang berarti "penuh hikmah lagi berilmu", dan muncul empat kali di dua surah, yaitu 6:83, 6:128, 6:139, dan 15:25. Pasangan yang memakai kata sandang al- dan menaruh al-hakiimu di depan muncul dua kali di dua surah, yaitu 51:30 dan (وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ, wa-huwa l-hakiimu l-'aliimu) yang berarti "dan Dialah Sang Penuh Hikmah lagi Sang Berilmu" di 43:84. Urutan sebaliknya, (الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ, al-'aliimu l-hakiimu) yang berarti "Sang Berilmu lagi Sang Penuh Hikmah", muncul empat kali di tiga surah, yaitu 2:32, 12:83, 12:100, dan 66:2. Dua sifat itu berdampingan tanpa huruf penyambung, dan terjemahan menyisipkan "lagi" agar keduanya terbaca sebagai dua sifat bagi satu pihak.
Akar ع-ل-م dari al-'aliimu muncul juga di 51:28 pada anak yang dikabarkan, (بِغُلَامٍ عَلِيمٍ, bighulaamin 'aliimin) yang berarti "dengan seorang anak yang berilmu". Frasa itu muncul dua kali di dua surah, yaitu 15:53 dan 51:28. Terjemahan memakai "berilmu" di 51:28 dan di 51:30, dengan "Sang" bila ada kata sandang al-. Bentuk tak tentu 'aliimun dipakai pula di 12:76, (وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ, wa-fawqa kulli dzii 'ilmin 'aliimun) yang berarti "dan di atas setiap pemilik ilmu ada yang lebih berilmu", tempat sifat itu disebut berada di atas setiap pemilik ilmu. Di 51:30 tidak ada kalimat perbandingan semacam itu, sehingga terjemahan memakai "Sang Berilmu" dan tidak "yang lebih berilmu".
Tafsiran
Ayat 51:28 menyampaikan kabar gembira tentang anak yang berilmu, dan 51:29 mencatat istri Ibrahim datang berteriak, menepuk wajahnya, lalu menyebut dirinya perempuan tua yang mandul. Ayat 51:30 tidak mengulang kabar itu dan tidak membantah dua sifat yang disebut istri tersebut. Jawabannya terdiri atas dua kalimat, yaitu sumber kabar, "Tuhanmu berfirman", dan keterangan tentang siapa sumber itu, "Sesungguhnya Dialah Sang Penuh Hikmah lagi Sang Berilmu". Kata "demikianlah" di depannya dapat dibaca menunjuk kembali ke kabar di 51:28.
Tiga ayat membuka jawaban kepada seorang perempuan dengan (كَذَٰلِكِ, ka-dzaaliki) yang berarti "demikianlah", yaitu 3:47, 19:21, dan 51:30, dan isi sesudahnya berbeda di tiap ayat. Di 3:47 jawaban menyebut pekerjaan Allah, "Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki". Di 19:21 jawaban mengutip firman Tuhan dengan kata "Aku", yaitu "itu mudah bagi-Ku". Di 51:30 jawaban mengutip sumbernya, lalu menyebut dua sifat Tuhan dengan kata "Dia". Tiga ayat itu memuat tiga isi jawaban yang berbeda, yaitu perbuatan, kemudahan, dan sifat.
Di 11:73 para tamu juga menjawab istri Ibrahim, dengan pertanyaan tentang ketetapan Allah, lalu menutup dengan (إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ, innahu hamiidun majiidun) yang berarti "sesungguhnya Dia terpuji lagi luhur". Ayat 51:30 menutup dengan susunan yang mirip, yaitu (إِنَّهُ, innahu) yang berarti "sesungguhnya Dia" disusul dua sifat, tetapi sifatnya berbeda. Kedua kisah mengakhiri ucapan para tamu kepada istri Ibrahim dengan sifat Tuhan, dan pilihan sifatnya berbeda di tiap kisah.
Di 51:31 Ibrahim menyapa para tamu dengan (أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ, ayyuhaa l-mursaluuna) yang berarti "wahai para utusan". Orang-orang yang di 51:30 mengutip "Tuhanmu berfirman" disapa sebagai utusan di ayat berikutnya. Ayat 51:31 tidak memuat tanggapan istri Ibrahim dan langsung beralih ke Ibrahim beserta pertanyaannya tentang urusan para utusan itu.
Renungan dan Hikmah
- Para tamu di 51:30 menjawab istri Ibrahim dengan menyebut sumber jawabannya lebih dulu, yaitu "Tuhanmu berfirman", baru kemudian memberi keterangan tentang siapa sumber itu. Di 3:47 jawaban atas pertanyaan serupa menyebut pelakunya dengan nama, "Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki", dan di 19:21 firman itu dikutip dengan kata "Aku". Orang yang diminta menyampaikan kabar yang berat atau kabar yang mengejutkan, misalnya tentang kesehatan, kelahiran, atau kehilangan, dapat memperhatikan bahwa ayat-ayat ini menampilkan penyampai yang menyebut dari mana kabar itu berasal. Dari siapa sebenarnya kabar itu dibawa ketika seseorang berkata "demikian ketetapannya" kepada orang yang sedang gemetar?
- Di 51:29 istri Ibrahim menyebut dirinya dengan dua kata tak tentu, perempuan tua dan mandul, yaitu dua keterbatasan tentang dirinya sendiri. Di 51:30 jawabannya datang dalam dua kata juga, tetapi menunjuk satu pihak tertentu dan berbicara tentang Tuhan, yaitu (الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ, al-hakiimu l-'aliimu) yang berarti "Sang Penuh Hikmah lagi Sang Berilmu". Dua daftar itu berurutan di ayat yang bersebelahan, dan dapat dibaca berhadapan walau tidak ada kalimat yang menghubungkannya. Seseorang yang menerangkan dirinya lewat dua atau tiga kekurangan dapat mencatat bahwa ayat ini menaruh dua sifat lain di sebelah daftar itu, tanpa menghapus daftar pertama. Dua sifat apa yang lebih dulu disebut seseorang ketika menerangkan dirinya, dan dua sifat apa yang disebut ketika menerangkan Tuhannya?
- Di 51:30 sifat penuh hikmah disebut lebih dulu, lalu berilmu, dalam urutan (الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ, al-hakiimu l-'aliimu). Di 12:83 urutannya terbalik, pada ucapan Ya'qub yang berharap anak-anaknya didatangkan kepadanya, "Semoga Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sesungguhnya Dialah Sang Berilmu, Sang Penuh Hikmah." Dua ayat menaruh dua sifat yang sama dalam dua urutan, dan keduanya tidak menerangkan alasan urutan itu. Orang yang menunggu sesuatu dalam waktu lama, entah kabar tentang anak, kesembuhan, atau pekerjaan, dapat memperhatikan bahwa sebutan untuk Allah di dua ayat ini memuat hikmah dan ilmu sekaligus. Ketika sebuah penantian terasa panjang, sifat mana yang lebih dulu dicari pada Allah, ilmu-Nya atau hikmah-Nya?
- Sifat berilmu dipakai di 51:28 untuk anak yang dikabarkan, yaitu (عَلِيمٍ, 'aliimin), dan di 51:30 untuk Dia yang disebut Tuhanmu, yaitu (الْعَلِيمُ, al-'aliimu). Di 12:76 sifat itu disebut berada di atas setiap pemilik ilmu, dalam ayat yang sama dengan kalimat "kecuali Allah menghendaki". Orang yang berharap anaknya berilmu, atau yang bangga pada ilmunya sendiri, dapat membaca tiga ayat itu berdampingan. Ilmu pada manusia dikabarkan di 51:28, ilmu pada Dia disebut di 51:30, dan ilmu yang berada di atas setiap pemilik ilmu disebut di 12:76. Di hadapan siapa seseorang menimbang ilmunya sendiri ketika ilmu itu sedang dipuji orang lain?
- Istri Ibrahim menyebut dirinya perempuan tua yang mandul, dan jawaban di 51:30 tidak membantah satu pun dari dua sifat itu. Di 3:40, ketika Zakariya menyebut usianya yang sudah sangat tua dan istrinya yang mandul, jawabannya "Demikianlah, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki" juga tidak menyangkal kedua keadaan itu. Dalam dua ayat ini kenyataan dibiarkan berdiri, dan perhatian dipindahkan kepada pihak yang berbuat. Orang yang pernah dihibur dengan kalimat seperti "itu belum tentu benar" dapat membandingkannya dengan penghiburan yang membiarkan kenyataan tetap tertulis. Penghiburan semacam apa yang terasa lebih ringan bagi seseorang yang sudah lebih dulu menyebut keterbatasannya sendiri?
- Dua sifat di 51:30 muncul dengan susunan yang sama di 43:84, sesudah kalimat "Dialah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi". Di 43:84 kedua sifat itu menyertai pembicaraan tentang langit dan bumi, dan di 51:30 menyertai kabar tentang anak bagi seorang perempuan tua yang mandul. Urusan sebesar langit dan bumi dan urusan sebesar kemandulan seorang perempuan disebut dengan rumusan sifat yang sama. Orang yang menimbang apakah suatu urusan pribadi terlalu kecil atau terlalu besar untuk diserahkan dapat memperhatikan bahwa ayat-ayat ini memakai dua sifat yang sama untuk keduanya. Urusan mana yang selama ini dikira berada di luar jangkauan dua sifat itu?