مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ

yang tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, kecuali menjadikannya bagai yang hancur luluh.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. مَا تَذَرُmaa tadzarutidak ia membiarkan
  2. مِنْ شَيْءٍmin syay'insesuatu pun
  3. أَتَتْ عَلَيْهِatat 'alayhiyang dilandanya
  4. إِلَّا جَعَلَتْهُillaa ja'alat-hukecuali menjadikannya
  5. كَالرَّمِيمِka-r-ramiimibagai yang hancur luluh

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. مَاmaatidaklah
  2. تَذَرُtadzarumembiarkan
  3. مِنْmindari
  4. شَيْءٍsyay'insesuatu
  5. أَتَتْatatdatang
  6. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  7. إِلَّاillaakecuali
  8. جَعَلَتْهُja'alat-humenjadikannya
  9. كَالرَّمِيمِka-r-ramiimibagai yang hancur luluh

Inti bacaan

Frasa (إِلَّا جَعَلَتْهُ, illaa ja'alat-hu) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 51:42.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (مَا تَذَرُ, maa tadzaru) yang berarti "tidak membiarkan", tanpa kata sambung di depannya. Rangkaian ini terdiri atas (مَا, maa) yang berarti "tidak" dan (تَذَرُ, tadzaru) yang berarti "membiarkan", dari akar و-ذ-ر. Terjemahan menulis "yang" di awal karena Arabnya tidak memuat penghubung apa pun, sehingga kalimat ini terbaca sebagai keterangan bagi angin di 51:41. Rangkaian (مَا تَذَرُ, maa tadzaru) muncul satu kali, yaitu di 51:42. Pasangan terdekatnya, (لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ, laa tubqii wa-laa tadzaru) yang berarti "tidak menyisakan dan tidak membiarkan", ada di 74:28, dalam kalimat yang membicarakan Saqar yang disebut di 74:26 dan 74:27. Kata kerja kedua pada pasangan itu sama dengan yang di 51:42, dan terjemahan di kedua tempat memakai "membiarkan".

Kata kerja dari akar yang sama diterjemahkan lain menurut apa yang dibiarkan. Terjemahan memakai "membiarkan" pada (أَتَذَرُ, a-tadzaru) yang berarti "apakah engkau membiarkan" di 7:127, yang menyangkut Musa dan kaumnya, dan pada (فَتَذَرُوهَا, fa-tadzaruuhaa) yang berarti "lalu kalian biarkan dia" di 4:129, yang menyangkut istri yang terkatung-katung. Terjemahan memakai "meninggalkan" atau "mengabaikan" pada (وَتَذَرُونَ, wa-tadzaruuna) yang berarti "dan kalian meninggalkan", yang muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 26:166, 37:125, dan 75:21. Di 51:42 yang dibicarakan sesuatu yang berada di jalur angin, bukan sesuatu yang dibawa pergi, sehingga terjemahan memilih "membiarkan".

Cakupan kalimat ini ditentukan oleh (مِنْ شَيْءٍ, min syay'in) yang berarti "dari sesuatu", dan terjemahan menulisnya "sesuatu pun" karena kalimatnya diawali penolakan. Penulisan yang sama dipakai di 6:38 pada (مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ, maa farrathnaa fii l-kitaabi min syay'in) yang berarti "tidak Kami luputkan sesuatu pun di dalam Kitab". Ayat lain tentang angin Ad menyebut cakupan dalam bentuk positif, yaitu (تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ, tudammiru kulla syay'in) yang berarti "menghancurkan segala sesuatu" di 46:25. Di kedua ayat kata (شَيْءٍ, syay'in) yang berarti "sesuatu" tidak disusul nama benda, dan terjemahan 51:42 tidak mengisinya dengan rumah, manusia, atau tanaman.

Jangkauan angin itu dibatasi oleh (أَتَتْ عَلَيْهِ, atat 'alayhi) yang berarti "datang atasnya", yang diterjemahkan "yang dilandanya", dari akar أ-ت-ي. Rangkaian ini muncul satu kali, yaitu di 51:42. Kata kerja (أَتَتْ, atat) yang berarti "datang", dengan atau tanpa akhiran, muncul lima kali di lima surah, yaitu 6:40, 9:70, 19:27, 20:126, dan 51:42, dan hanya di 51:42 kata itu disusul (عَلَيْهِ, 'alayhi) yang berarti "atasnya". Akar yang sama bersama kata depan 'alaa muncul di tempat lain pada (أَتَىٰ عَلَى, ataa 'alaa) yang berarti "telah datang atas" di 76:1, dengan waktu sebagai yang datang dan manusia sebagai yang didatangi, serta pada (أَتَوْا عَلَىٰ, ataw 'alaa) yang berarti "mereka sampai di" di 7:138 dan 27:18, dan bentuk itu, dengan penulisan kata depan yang berbeda di salah satunya, muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 7:138, 25:40, dan 27:18. Terjemahan menulis "mendatangi" di 7:138, "melewati" di 25:40, dan "sampai di" di 27:18. Pilihan "dilandanya" di 51:42 mengikuti pelakunya, yaitu angin, dan objeknya, yaitu sesuatu yang kemudian berubah keadaan. Arti dasar "datang" tetap berlaku.

Ketiga kata kerja ayat ini, yaitu (تَذَرُ, tadzaru) yang berarti "membiarkan", (أَتَتْ, atat) yang berarti "datang", dan (جَعَلَتْهُ, ja'alat-hu) yang berarti "menjadikannya", memakai bentuk untuk pelaku perempuan tunggal. Angin di 51:41, (الرِّيحَ, ar-riiha) yang berarti "angin", ditandai berjenis perempuan di data morfologi Al-Qur'an. Atas dasar itu terjemahan menyambungkan ketiga kata kerja dengan angin di ayat sebelumnya. Rangkaian (إِلَّا جَعَلَتْهُ, illaa ja'alat-hu) yang berarti "kecuali menjadikannya", dari akar ج-ع-ل, muncul satu kali, yaitu di 51:42. Susunan "tidak ... kecuali" dengan kata kerja yang sama ada pula pada (مَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا, maa ja'alahu llaahu illaa) yang berarti "Allah tidak menjadikannya kecuali", yang muncul dua kali di dua surah, yaitu 3:126 dan 8:10. Di dua ayat itu sesudah "kecuali" tertulis kabar gembira, sedangkan di 51:42 sesudah "kecuali" tertulis keadaan yang hancur luluh.

Ayat ditutup dengan (كَالرَّمِيمِ, ka-r-ramiimi) yang berarti "bagai yang hancur luluh". Terjemahan menulis "bagai" untuk awalan ka-, sehingga hasil kerja angin itu diletakkan berdampingan dengan keadaan yang disebut kata sesudahnya. Kata (الرَّمِيمِ, r-ramiimi) yang berarti "yang hancur luluh" berakar ر-م-م. Akar ini muncul di dua ayat saja, yaitu 36:78 pada (رَمِيمٌ, ramiimun) yang berarti "hancur luluh" dan 51:42. Di 36:78 kata sebelumnya (الْعِظَامَ, l-'izhaama) yang berarti "tulang-belulang" menyebut bendanya, sehingga yang hancur luluh di sana tulang. Di 51:42 benda yang dibandingkan tidak disebut, dan terjemahan tidak menambahkan "tulang" atau benda lain ke dalamnya. Terjemahan memakai "hancur luluh" di kedua ayat.

Tafsiran

Ayat ini menyambung 51:41 dalam satu kalimat dan menjawab apa yang dikerjakan angin yang dikirim itu. Susunannya terdiri atas tiga langkah: penolakan untuk membiarkan, batas jangkauan pada apa yang dilanda, lalu satu pengecualian yang menyebut hasil. Pengecualian di ujung kalimat tidak membuka jalan selamat bagi sesuatu. Kata sesudah "kecuali" menyebut keadaan yang berlaku bagi semua yang dilanda, dan kalimat berhenti di situ.

Jangkauan angin ini diukur dari apa yang dilandanya, dan ayat tidak mengatakan angin itu menyapu seluruh bumi. Di dalam jalur itu tidak ada yang dikecualikan. Ayat 46:25 menyebut jangkauan angin Ad dengan cara lain, yaitu "menghancurkan segala sesuatu", disusul keterangan "dengan perintah Tuhannya" dan keterangan bahwa yang terlihat kemudian hanya tempat-tempat tinggal mereka. Kedua ayat menaruh hasil yang berbeda sebagai penutup, dan 51:42 tidak memuat kata perintah maupun tempat tinggal. Teks tidak menyebut manusia, rumah, atau tanaman di ayat ini, jadi gambaran tentang kaum itu dapat dibaca dari 46:25 dan 69:7, tempat mereka bergelimpangan seakan-akan pangkal pohon kurma yang lapuk.

Ayat ini menutup bagian tentang Ad, dan bagian itu memuat satu ciri yang membedakannya dari bagian lain dalam deret 51:38 sampai 51:46. Di bagian Firaun ada ucapan yang dicatat di 51:39, dan di bagian Tsamud ada ucapan yang dikatakan kepada kaum itu di 51:43. Di 51:41 dan 51:42 tidak ada ucapan siapa pun, dan nabi yang diutus kepada Ad tidak disebut. Bagian Ad hanya memuat pengiriman, daya kerja, dan hasilnya.

Ketiga bagian itu juga berakhir dengan cara yang berlainan. Bagian Firaun berakhir pada penilaian atas pelakunya, yaitu (مُلِيمٌ, muliimun) yang berarti "tercela" di 51:40. Bagian Ad berakhir pada gambaran keadaan hasil kerja angin, tanpa penilaian atas manusianya. Bagian Tsamud berakhir di 51:45 pada keadaan mereka sendiri, yaitu tidak mampu bangun dan tidak dapat menolong diri. Kata terakhir ayat ini, (كَالرَّمِيمِ, ka-r-ramiimi) yang berarti "bagai yang hancur luluh", muncul pula di 36:78 dalam pertanyaan tentang tulang-belulang, dan kedua ayat itu tidak saling menyebut.

Renungan dan Hikmah

  • Di 51:41 Allah mengirim angin atas Ad, dan di 51:42 jangkauannya dibatasi pada apa yang dilandanya, sementara di dalam jalur itu tidak ada yang dibiarkan. Orang yang menduga sebuah akibat besar hanya akan mengenai bagian tertentu hidupnya, misalnya pekerjaan tetapi tidak keluarga, atau nama baik tetapi tidak ketenangan hati, dapat memperhatikan cara ayat ini menggambarkan jalur: batasnya ada pada apa yang dilanda, dan di dalam batas itu tidak ada sudut yang dikecualikan. Pada jalur sebuah keputusan yang sedang ditempuh, bagian mana yang selama ini dianggap pasti tidak terkena?
  • Ayat ini menyebut yang dilanda dengan kata (شَيْءٍ, syay'in) yang berarti "sesuatu", tanpa menyebut kota, bangunan, atau kekayaan, sehingga yang besar dan yang kecil berada di bawah satu sebutan. Orang yang menaruh sebagian miliknya, jabatannya, atau pencapaiannya di rak "yang aman" dapat memperhatikan bahwa pengelompokan seperti itu tidak ikut tertulis di ayat tentang angin kiriman Allah ini. Peringkat nilai yang disusun manusia tidak muncul di kalimat itu. Barang apa yang selama ini diberi tempat khusus karena dianggap terlalu berharga untuk disebut sesuatu saja?
  • Kata kerja (تَذَرُ, tadzaru) yang berarti "membiarkan" dipakai di 7:127 oleh para pemuka kaum Firaun dalam pertanyaan "Apakah engkau membiarkan Musa dan kaumnya", dan di 51:42 dipakai untuk angin yang tidak membiarkan sesuatu pun. Pertanyaan di 7:127 ditujukan kepada seseorang dan menyisakan ruang untuk menjawab ya atau tidak. Di 51:42 kata yang sama dipakai untuk angin yang sudah dikirim, dan pilihan tidak lagi dibicarakan. Orang yang menimbang apakah sebuah kebiasaan buruk, utang kecil, atau perkara yang tertunda boleh dibiarkan lebih lama dapat memperhatikan perbedaan dua pemakaian itu. Perkara apa yang hari ini masih berada di tangan pemiliknya untuk ditangani, dan kapan terakhir kali perkara itu ditimbang?
  • Kata (رَمِيمٌ, ramiimun) yang berarti "hancur luluh" muncul di 36:78 dalam pertanyaan tentang tulang-belulang, dan muncul sebagai (كَالرَّمِيمِ, ka-r-ramiimi) di 51:42 sebagai hasil kerja angin. Ayat 36:79 menjawab pertanyaan di 36:78 dengan menunjuk Dia yang menumbuhkan pertama kali, sedangkan 51:42 tidak memuat pertanyaan maupun jawaban tentang apa yang terjadi sesudahnya. Dua ayat itu tidak saling menyebut, jadi hubungan keduanya hanya dapat dibaca dan tidak dinyatakan. Orang yang menyaksikan sesuatu yang berharga menjadi hancur luluh, entah usaha, hubungan, atau tubuh sendiri, dapat memperhatikan bahwa kata untuk keadaan itu hadir di dua tempat dengan dua arah pembahasan, yaitu sebagai ujung kerja angin dan sebagai bahan pertanyaan yang dijawab. Keadaan hancur luluh yang sedang dihadapi hari ini lebih dekat dibaca sebagai ujung atau sebagai bahan pertanyaan?
  • Di 51:41 Allah berbicara dengan kata "Kami" ketika mengirim angin atas Ad, lalu 51:42 menyebut dampaknya. Di 35:9 (وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ, wa-llaahu lladzii arsala r-riyaaha) yang berarti "dan Allahlah yang mengirim angin" menyebut pengirimnya lebih dulu, lalu menyebut angin yang menggerakkan awan sampai bumi yang mati dihidupkan. Dua tempat itu menaruh sumber di depan dan dampak sesudahnya, walau dampaknya berlawanan. Orang yang memandang cuaca, pasar, atau keadaan sebagai kekuatan yang berjalan sendiri dapat memperhatikan urutan itu. Ketika sebuah kekuatan besar datang ke wilayah hidupnya, sumber apa yang lebih dulu disebut sebelum akibatnya dihitung?
  • Bagian Firaun di 51:40 ditutup dengan penilaian atas pelakunya, yaitu (مُلِيمٌ, muliimun) yang berarti "tercela", dan bagian Ad di 51:42 ditutup dengan gambaran keadaan, yaitu (كَالرَّمِيمِ, ka-r-ramiimi) yang berarti "bagai yang hancur luluh", tanpa satu kata pun yang menilai manusianya. Allah, yang berbicara dengan "Kami" di 51:40 dan 51:41, menutup dua kisah dengan dua cara berbeda: lewat sebutan bagi orangnya, dan lewat keadaan benda-bendanya. Orang yang menyusun laporan, surat, atau cerita tentang sebuah kegagalan dapat memperhatikan perbedaan itu pada cara menutup tulisannya, apakah dengan sebutan bagi pelaku atau dengan gambaran apa yang tersisa. Penutup macam apa yang lebih dulu dipilih ketika yang diceritakan kegagalan orang lain, dan penutup macam apa ketika kegagalan sendiri?