فَمَا اسْتَطَاعُوا مِنْ قِيَامٍ وَمَا كَانُوا مُنْتَصِرِينَ

maka mereka tidak mampu bangun, dan mereka bukanlah orang-orang yang bisa menolong diri sendiri.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. فَمَا اسْتَطَاعُواfa-maa stathaa'uumaka mereka tidak mampu
  2. مِنْ قِيَامٍmin qiyaaminbangun
  3. وَمَا كَانُواwa-maa kaanuudan mereka tidaklah
  4. مُنْتَصِرِينَmuntashiriinaorang-orang yang bisa menolong diri sendiri

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. فَمَاfa-maamaka tidak
  2. اسْتَطَاعُواstathaa'uumereka mampu
  3. مِنْmindari
  4. قِيَامٍqiyaaminberdiri
  5. وَمَاwa-maadan tidaklah
  6. كَانُواkaanuumereka adalah
  7. مُنْتَصِرِينَmuntashiriinaorang-orang yang membela diri

Inti bacaan

Frasa (فَمَا اسْتَطَاعُوا, fa-maa stathaa'uu) hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:67 dan 51:45.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَمَا اسْتَطَاعُوا, fa-maa stathaa'uu) yang berarti "maka mereka tidak mampu", dari akar ط-و-ع. Kata ini memuat penyambung (فَ, fa) yang berarti "maka", penafian (مَا, maa) yang berarti "tidak", dan kata kerja (اسْتَطَاعُوا, stathaa'uu) yang berarti "mereka mampu". Penyambung di depan menautkan ayat ini dengan 51:44, yang berakhir pada (وَهُمْ يَنْظُرُونَ, wa-hum yanzhuruuna) yang berarti "sedang mereka menyaksikan", dan pelaku kata kerjanya tetap "mereka" yang sama, tanpa pihak baru. Susunan (فَمَا اسْتَطَاعُوا, fa-maa stathaa'uu) yang berarti "maka mereka tidak mampu" muncul dua kali di dua surah, yaitu 36:67 dan 51:45. Di 36:67 susunan itu disusul (مُضِيًّا, mudhiyyan) yang berarti "maju" dan menyusul pengandaian "sekiranya Kami menghendaki", sedangkan di 51:45 susunan itu menyusul peristiwa yang sudah terjadi di 51:44. Bentuk (اسْتَطَاعُوا, stathaa'uu) yang berarti "mereka mampu" muncul empat kali di empat surah, yaitu 2:217, 18:97, 36:67, dan 51:45. Di 2:217 bentuk itu berada dalam (إِنِ اسْتَطَاعُوا, ini stathaa'uu) yang berarti "jika mereka mampu", dan di 18:97 dalam (وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا, wa-maa stathaa'uu lahu naqban) yang berarti "dan tidak sanggup pula melubanginya". Terjemahan memilih "mampu" di 2:217 dan 51:45, dan "sanggup" di 18:97 dan 36:67, sebagai dua padanan untuk kata yang sama.

Kata (مِنْ, min) yang berarti "dari" berdiri di depan (قِيَامٍ, qiyaamin) yang berarti "berdiri", berakar ق-و-م, dan terjemahan merangkum susunan (مِنْ قِيَامٍ, min qiyaamin) yang berarti "dari berdiri" menjadi "bangun". Contoh susunan yang sama, yaitu (مِنْ, min) yang berarti "dari" sesudah peniadaan dan sebelum kata benda tak tentu, terdapat di 28:81 dan 86:10 di antara ayat lain: (فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ, fa-maa kaana lahu min fi'atin) yang berarti "maka tidak ada baginya satu golongan pun" di 28:81, dan (فَمَا لَهُ مِنْ قُوَّةٍ, fa-maa lahu min quwwatin) yang berarti "maka baginya tidak ada lagi kekuatan" di 86:10. Terjemahan 28:81 menaruh "pun" untuk kata penegas itu, sehingga susunan di 51:45 dapat dibaca sama, yaitu peniadaan yang mencakup gerak bangun dalam wujud sekecil apa pun. Bentuk persis (قِيَامٍ, qiyaamin) yang berarti "berdiri" muncul satu kali, di 51:45. Bentuk (قِيَامًا, qiyaaman) yang berarti "berdiri" muncul lima kali di empat surah, yaitu 3:191, 4:5, 4:103, 5:97, dan 25:64; terjemahan memakai "berdiri" di 3:191, 4:103, dan 25:64, dan padanan lain di 4:5 dan 5:97. Bentuk (قِيَامٌ, qiyaamun) yang berarti "berdiri" muncul satu kali, di 39:68, dalam (قِيَامٌ يَنْظُرُونَ, qiyaamun yanzhuruuna) yang berarti "berdiri menunggu". Arti dasar "berdiri" tetap berlaku di 51:45, dan "bangun" dipilih karena ayat meniadakan kemampuan melakukan gerak itu sesudah petir di 51:44. Pilihan itu sedikit menambahkan gambaran rebah, padahal ayat tidak memberi keterangan tentang posisi tubuh mereka. Kata untuk rebah, (جَاثِمِينَ, jaatsimiina) yang berarti "bergelimpangan", tidak dipakai di 51:45; kata itu muncul lima kali di tiga surah, yaitu 7:78, 7:91, 11:67, 11:94, dan 29:37, dan 11:68 menyebut Tsamud tepat sesudah 11:67.

Penutup ayat, (وَمَا كَانُوا مُنْتَصِرِينَ, wa-maa kaanuu muntashiriina) yang berarti "dan mereka bukanlah orang-orang yang bisa menolong diri sendiri", dimulai dengan (وَمَا كَانُوا, wa-maa kaanuu) yang berarti "dan mereka tidaklah", dari akar ك-و-ن. Penafian pertama di awal ayat meniadakan kemampuan, dan penafian kedua ini meniadakan keadaan atau kedudukan. Susunan lengkapnya muncul satu kali, di 51:45. Kata (مُنْتَصِرِينَ, muntashiriina) yang berarti "orang-orang yang bisa menolong diri sendiri" berakar ن-ص-ر dan, dengan kata sandang, menjadi (الْمُنْتَصِرِينَ, al-muntashiriina) yang berarti "orang-orang yang dapat membela diri", yang muncul satu kali, di 28:81, dalam (وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ, wa-maa kaana mina l-muntashiriina) yang berarti "dan tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri". Bentuk tunggal (مُنْتَصِرًا, muntashiran) yang berarti "yang dapat membela dirinya" muncul satu kali, di 18:43, dalam (وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا, wa-maa kaana muntashiran) yang berarti "dan tidak dapat membela dirinya". Di 18:43 dan 28:81 penolongnya disebut lebih dulu dalam (يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ, yanshuruunahu min duuni llaahi) yang berarti "yang menolongnya selain Allah", yang muncul dua kali di dua surah, yaitu 18:43 dan 28:81. Terjemahan memakai "membela diri" di dua ayat itu dan "menolong diri sendiri" di 51:45; padanan kedua dipilih karena 51:45 tidak memuat lawan atau penolong dari luar, sehingga gambaran "membela" tidak ada pijakannya di ayat ini. Padanan itu sejalan dengan 21:43, (لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَ أَنْفُسِهِمْ, laa yastathii'uuna nashra anfusihim) yang berarti "tidak mampu menolong diri mereka sendiri", dan dengan 7:192 dan 7:197, (وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ, wa-laa anfusahum yanshuruuna) yang berarti "dan tidak pula menolong diri mereka sendiri", yang muncul dua kali di satu surah. Di 21:43 akar ط-و-ع dan ن-ص-ر berdampingan dalam satu frasa, sedangkan di 51:45 keduanya terpisah dalam dua penafian.

Tafsiran

Ayat ini menutup bagian tentang Tsamud yang dimulai di 51:43. Urutannya terbaca dalam tiga ayat: 51:43 memuat ucapan "Bersenang-senanglah sampai suatu waktu", 51:44 memuat sikap angkuh terhadap perintah Tuhan mereka, petir yang menyambar, dan keadaan mereka yang menyaksikan, lalu 51:45 memuat akibat pada kemampuan mereka. Ayat 51:45 tidak menambah peristiwa baru, tetapi memerinci keadaan sesudah sambaran lewat dua peniadaan yang berurutan.

Peniadaan pertama menyangkut gerak tubuh, yaitu tidak mampu bangun, dan peniadaan kedua menyangkut kedudukan yang lebih luas, yaitu tidak menjadi pihak yang dapat menolong diri sendiri. Kalimat pertama menunjuk satu gerak, dan kalimat kedua menilai keadaan mereka secara menyeluruh. Urutan dari yang kecil ke yang luas dapat dibaca sebagai tangga: bila bangun saja tidak mampu, menolong diri berada di luar jangkauan. Ayat tidak menyatakan hubungan sebab itu, jadi bacaan ini tetap tafsir.

Ayat 51:44 berakhir pada penyaksian mereka, dan 51:45 menyusul dengan kemampuan yang tidak ada. Di 39:68, (قِيَامٌ يَنْظُرُونَ, qiyaamun yanzhuruuna) yang berarti "berdiri menunggu" menggambarkan keadaan yang berlangsung, sedangkan di 51:44 dan 51:45 menyaksikan berjalan bersama ketidakmampuan berdiri. Dua rangkaian itu tidak saling merujuk, jadi bacaan keduanya sebagai kontras berasal dari pembaca.

Penutup 51:45 juga berhadapan dengan 54:44, tempat (نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌ, nahnu jamii'un muntashirun) yang berarti "kami golongan yang pasti menang" disebut sebagai ucapan, dan 54:45 menjawab dengan (سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ, sayuhzamu l-jam'u) yang berarti "golongan pasti akan dikalahkan". Di 54:44 kata itu dipakai sebagai klaim, dan di 51:45 kata dari akar yang sama dinafikan. Kedua ayat berada di surah yang berbeda dan tidak saling merujuk.

Di 18:43 dan 28:81 penafian serupa didahului penyebutan penolong yang tidak ada, sedangkan di 51:45 penolong dari luar tidak disinggung dan perhatian ayat tertuju pada kemampuan mereka sendiri. Dalam urutan surah, bagian pendek ini berada sesudah Ad di 51:41 dan 51:42 dan sebelum kaum Nuh di 51:46, dan tiap bagian berakhir pada keadaan akhir bagi yang menolak. Rincian lain tentang Tsamud, seperti nama rasul dan unta, tidak dimuat di sini; 7:73 memuatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Peniadaan yang pertama di 51:45 menyangkut gerak yang tampak biasa, yaitu bangun, sesudah petir menyambar di 51:44. Di 36:67 ketidakmampuan serupa, yaitu tidak sanggup maju, diletakkan sesudah pengandaian "sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami ubah bentuk mereka", sehingga ketidakmampuan itu terbaca bersama pengandaian yang tertulis di ayat tersebut. Pembaca yang bisa berdiri tanpa memikirkannya dapat memperhatikan bahwa kemampuan itu ikut ditopang oleh keadaan yang tidak pernah dipilihnya. Kemampuan sederhana apa yang selama ini dijalani tanpa pernah dihitung sebagai sesuatu yang diberikan?
  • Di 18:43 dan 28:81 ayat menyebut lebih dulu bahwa tidak ada golongan yang menolong selain Allah, lalu menambahkan bahwa orang yang dibicarakan tidak dapat membela diri. Di 51:45 ketidakmampuan mereka sendiri tertulis tanpa penyebutan golongan pendukung, sehingga pembaca dapat melihat dua hal yang terpisah: ada atau tidaknya penolong dari luar, dan kesanggupan diri sendiri. Orang yang merasa aman karena dikelilingi pendukung, entah jaringan, jabatan, atau kelompok, dapat memperhatikan bahwa golongan yang disebut di dua ayat tadi berada "selain Allah", dan hasil akhirnya tertulis sebagai ketiadaan penolong. Dukungan yang selama ini dihitung sebagai perlindungan, pernahkah ditimbang terhadap keadaan ketika dukungan itu tidak datang?
  • Di 54:44 sebuah ucapan menyatakan kepastian menang bagi golongan yang berbicara, dan 54:45 menjawab bahwa golongan itu pasti akan dikalahkan. Di 51:45 kaum Tsamud ditutup dengan kata yang berakar sama dalam bentuk penafian, yaitu mereka bukanlah pihak yang bisa menolong diri. Kedua ayat berada di surah berbeda dan tidak saling merujuk, tetapi bila dibaca berdampingan terlihat ucapan yang penuh kepastian di satu sisi dan keadaan yang tidak memberi ruang bagi kepastian itu di sisi lain. Orang yang menyebut dirinya pasti berhasil, pasti benar, atau pasti aman dapat menimbang bahwa kepastian yang diucapkan tentang diri sendiri belum sama dengan keadaan yang akan menguji ucapan itu. Kepastian apa yang selama ini diucapkan tentang diri tanpa pernah diuji oleh keadaan yang tidak bisa diatur?
  • Di 41:15 kaum Ad bertanya "Siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami?", dan ayat itu menjawab dengan menunjuk Allah yang menciptakan mereka sebagai pihak yang lebih hebat kekuatan-Nya. Ayat 41:16 menutup dengan "dan mereka tidak ditolong", sedangkan 51:45 menutup Tsamud dengan peniadaan kemampuan menolong diri. Kedua ayat itu berakhir pada pertolongan yang tidak ada, dan keduanya menyusul keterangan tentang kaum yang menyombongkan diri atau bersikap angkuh. Orang yang mengukur dirinya dengan kekuatan, keahlian, atau pengalaman yang dimiliki dapat memperhatikan bahwa 41:15 menaruh kekuatan makhluk di bawah kekuatan Allah yang menciptakannya. Ukuran kekuatan diri yang dipakai selama ini, sudahkah dibandingkan dengan sumber kekuatan itu?
  • Di 21:43 tuhan-tuhan selain Kami digambarkan tidak mampu menolong diri mereka sendiri, dan di 7:197 yang diseru selain Dia tidak mampu menolong para penyerunya, dan tidak pula menolong diri mereka sendiri. Di 51:45 kaum yang angkuh terhadap perintah Tuhan mereka disebut bukan pihak yang bisa menolong diri sendiri. Ayat-ayat itu memuat sebuah ukuran yang dapat dibawa ke mana pun orang bersandar: apakah yang disandari itu sanggup menolong dirinya sendiri. Orang yang menaruh harapan besar pada seseorang, sebuah jabatan, atau sebuah sistem dapat memakai ukuran itu dengan tenang dan tanpa tergesa menyimpulkan. Pada siapa atau apa harapan itu selama ini disandarkan, dan apakah yang disandari mampu menopang dirinya sendiri?
  • Di 51:43 kepada Tsamud dikatakan "Bersenang-senanglah sampai suatu waktu", lalu 51:44 memuat sikap angkuh dan petir, dan 51:45 memuat ketidakmampuan mereka. Di 41:14 para rasul datang kepada Ad dan Tsamud dengan seruan "Janganlah kalian mengabdi kecuali kepada Allah", dan 41:13 menyebut peringatan tentang petir seperti petir kedua kaum itu. Urutan itu memperlihatkan masa tenggang yang diberi batas oleh kata "sampai suatu waktu", sehingga masa senang dapat dibaca tidak sebagai kebebasan dari akibat. Pembaca yang sedang menikmati masa lapang dapat menimbang bahwa batas waktu pernah disebut dalam ayat tanpa dijelaskan kapan datangnya. Masa lapang yang sedang dijalani sekarang, sudahkah dilihat sebagai tenggang yang punya batas?