وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

Dan langit, Kami bangun dengan kekuatan, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَالسَّمَاءَwa-s-samaa'adan langit
  2. بَنَيْنَاهَاbanaynaahaaKami bangun ia
  3. بِأَيْدٍbi-aydindengan kekuatan
  4. وَإِنَّا لَمُوسِعُونَwa-innaa la-muusi'uunadan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَالسَّمَاءَwa-s-samaa'adan langit
  2. بَنَيْنَاهَاbanaynaahaaKami membangunnya
  3. بِأَيْدٍbi-aydindengan kekuatan
  4. وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya Kami
  5. لَمُوسِعُونَla-muusi'uunabenar-benar meluaskan

Inti bacaan

Kata (بَنَيْنَاهَا, banaynaahaa) tercatat dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 50:6 dan 51:47.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَالسَّمَاءَ, wa-s-samaa'a) yang berarti "dan langit", dari akar س-م-و. Kata itu berdiri di depan kata kerjanya, sehingga langit disebut lebih dulu dan pekerjaan atas langit menyusul. Bentuk (وَالسَّمَاءَ, wa-s-samaa'a) yang berarti "dan langit" muncul empat kali di empat surah, yaitu 2:22, 40:64, 51:47, dan 55:7. Di 2:22 dan 40:64 kata itu disusul (بِنَاءً, binaa'an) yang berarti "sebagai bangunan", dan susunan (وَالسَّمَاءَ بِنَاءً, wa-s-samaa'a binaa'an) yang berarti "dan langit sebagai bangunan" muncul dua kali di dua surah, yaitu 2:22 dan 40:64. Terjemahan 2:22 menulisnya "atap" dan terjemahan 40:64 menulisnya "bangunan". Di 55:7 kata itu disusul kata kerja pada (وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا, wa-s-samaa'a rafa'ahaa) yang berarti "dan langit Dia tinggikan", sedangkan di 51:47 kata kerjanya (بَنَيْنَاهَا, banaynaahaa) yang berarti "Kami membangunnya".

Kata kerja (بَنَيْنَاهَا, banaynaahaa) yang berarti "Kami membangunnya" berakar ب-ن-ي. Bagian (نَا, naa) yang berarti "Kami" menunjuk pelaku, dan bagian (هَا, haa) yang berarti "-nya" menunjuk langit. Terjemahan menaruh langit di depan dan menulis "Kami bangun", sehingga urutan kata Arabnya terbaca juga dalam bahasa Indonesia. Bentuk (بَنَيْنَاهَا, banaynaahaa) yang berarti "Kami membangunnya" muncul dua kali di dua surah, yaitu 50:6 dan 51:47. Di 50:6 bunyinya (كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا, kayfa banaynaahaa wa-zayyannaahaa) yang berarti "bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya", jadi pembangunan di sana disambung dengan penghiasan, sedangkan di 51:47 pembangunan disambung dengan alat dan dengan peluasan. Bentuk (بَنَيْنَا, banaynaa) yang berarti "Kami bangun", dengan atau tanpa akhiran, muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 50:6, 51:47, dan 78:12, tempat bunyinya (وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا, wa-banaynaa fawqakum sab'an syidaadan) yang berarti "dan Kami membangun di atas kalian tujuh yang kukuh". Kata kerja dengan pelaku orang ketiga ada di 79:27 dan 91:5, yaitu (بَنَاهَا, banaahaa) yang berarti "Dia telah membangunnya" di 79:27 dan "yang membangunnya" di 91:5, dan bentuk itu muncul dua kali di dua surah.

Kata berikutnya tersusun dari (بِ, bi) yang berarti "dengan" serta (أَيْدٍ, aydin) yang berarti "kekuatan", dari akar أ-ي-د. Rangkaian (بِ, bi) dengan (أَيْدٍ, aydin) itu hanya ada di 51:47. Tulisan (أَيْدٍ, aydin) muncul dua kali di dua surah, yaitu 7:195 dan 51:47, tetapi di 7:195 maknanya tangan: (أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا, am lahum aydin yabthisyuuna bihaa) yang berarti "ataukah mereka mempunyai tangan untuk memegang dengan keras". Data morfologi Al-Qur'an mencatat (أَيْدٍ, aydin) di 7:195 dari akar ي-د-ي yang berarti "tangan", dan di 51:47 dari akar أ-ي-د. Sebagai kontras, kalimat sekeliling kedua ayat berbeda: di 7:195 ada anak kalimat yang menyebut apa yang dikerjakan tangan itu, sedangkan di 51:47 tidak ada anak kalimat semacam itu dan kata ini berdampingan dengan kata kerja membangun. Bentuk (الْأَيْدِ, al-ayd) yang berarti "kekuatan" di 38:17 pada (ذَا الْأَيْدِ, dzaa l-ayd) yang berarti "yang mempunyai kekuatan" dicatat dari akar yang sama dengan 51:47. Akar itu juga dipakai pada kata kerja (وَأَيَّدَكُمْ, wa-ayyadakum) yang berarti "dan menguatkan kalian" di 8:26, yang disusul (بِنَصْرِهِ, bi-nashrihi) yang berarti "dengan pertolongan-Nya", sehingga ada pola "menguatkan dengan sesuatu" yang bentuknya sejajar dengan (أَيْدٍ, aydin). Di 38:45 terjemahan juga menulis "kekuatan" untuk (الْأَيْدِي, al-aydii) pada (أُولِي الْأَيْدِي, uulii l-aydii) yang berarti "yang mempunyai kekuatan", padahal data morfologi menaruh bentuk itu pada akar "tangan". Pada 7:195 dan 38:45 pilihan terjemahan jadinya ditentukan oleh kalimat di sekelilingnya. Kata Arab (أَيْدٍ, aydin) di 51:47 tidak membawa akhiran kata ganti, sehingga terjemahan tidak menambahkan "Kami" atau "-Nya" pada kekuatan itu.

Ayat ditutup dengan (وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ, wa-innaa la-muusi'uuna) yang berarti "dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan", dari akar و-س-ع. Frasa itu muncul satu kali, yaitu di 51:47. Bagian (وَإِنَّا, wa-innaa) yang berarti "dan sesungguhnya Kami" memuat penegasan, dan bagian (لَمُوسِعُونَ, la-muusi'uuna) yang berarti "benar-benar meluaskan" memuat huruf (لَ, la) yang berarti "benar-benar" di depan (مُوسِعُونَ, muusi'uuna) yang berarti "yang meluaskan". Bentuk (مُوسِعُونَ, muusi'uuna) muncul satu kali, yaitu di 51:47, dan (الْمُوسِعِ, al-muusi'i) yang berarti "yang berkecukupan" di 2:236 muncul satu kali dan dicatat dari kata dasar yang sama. Di 2:236 pasangannya (الْمُقْتِرِ, al-muqtiri) yang berarti "yang sempit", jadi di sana kata dasar itu menyebut keadaan pemilik kelapangan yang dibandingkan dengan keadaan sempit. Kata (لَمُوسِعُونَ, la-muusi'uuna) di 51:47 tidak memuat akhiran objek. Terjemahan menambahkan "-nya" dan mengarahkannya ke langit, karena langit menjadi benda yang disebut sebelum kata itu, dan ayat dapat juga dibaca "Kami benar-benar berkelapangan" seperti pemakaian di 2:236. Ayat tidak memutuskan di antara dua bacaan itu, dan terjemahan tetap memakai "meluaskan" agar kata ini sejalan dengan akarnya yang berarti "luas". Akar itu dipakai dengan langit dan bumi sebagai objek pada (وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, wasi'a kursiyyuhu s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "Kursi-Nya meliputi langit-langit dan bumi" di 2:255, dan sebagai sifat pada (وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ, wa-llaahu waasi'un 'aliimun) yang berarti "dan Allah luas lagi berilmu" di 2:247.

Tafsiran

Ayat 51:47 membuka bagian baru dalam surah. Ayat 51:24 sampai 51:46 memuat tamu Ibrahim, kaum yang berdosa, Musa dan Firaun, Ad, Tsamud, lalu kaum Nuh, dan deretan itu dipungkasi 51:46 dengan "kaum yang fasik". Ayat 51:47 lalu beralih ke langit tanpa menyebut tokoh. Peralihan itu dapat dibaca sebagai pergeseran dari akibat bagi manusia ke sesuatu yang berdiri di atas mereka, dan ayat tidak menyatakan hubungan sebab antara keduanya.

Surah ini sudah menyebut langit sebelum kisah-kisah itu. Ayat 51:7 memakainya untuk sumpah, "Demi langit yang mempunyai jalan-jalan", ayat 51:22 menyebut rezeki di langit, dan ayat 51:23 bersumpah demi Tuhan langit dan bumi. Pada ketiga ayat itu langit muncul dalam sumpah atau sebagai tempat sesuatu berada. Pada 51:47 langit menjadi hasil kerja yang dibicarakan dengan kata "Kami". Langit yang tadi disebut dalam sumpah dan sebagai tempat rezeki kini diceritakan pembuatannya, dan susunan itu dapat dibaca sebagai bingkai bagi kisah-kisah di tengahnya.

Tiga ayat berturut-turut memakai susunan yang serupa. Ayat 51:47 menaruh langit di depan, ayat 51:48 menaruh bumi di depan dalam (وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا, wa-l-ardha farasynaahaa) yang berarti "dan bumi Kami hamparkan", dan ayat 51:49 menaruh "segala sesuatu" di depan dalam (وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ, wa-min kulli syay'in khalaqnaa zawjayni) yang berarti "dan dari segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan". Ketiganya berpelaku "Kami", dan ayat 51:49 menutup rangkaian dengan tujuan, yaitu (لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ, la'allakum tadzakkaruuna) yang berarti "agar kalian mengambil pelajaran". Ayat 51:47 dengan demikian dapat dibaca sebagai anggota pertama dari rangkaian tiga pekerjaan yang berakhir pada sebuah tujuan.

Di dalam ayat sendiri ada dua kalimat. Kalimat pertama menyebut pekerjaan yang telah dilakukan, lengkap dengan objek dan alatnya. Kalimat kedua mengabarkan sesuatu tentang pelaku, yaitu peluasan, sesudah kalimat pertama menyebut pembangunan. Ayat tidak menyatakan kapan peluasan itu terjadi, apa yang diluaskan, atau berapa lama prosesnya berjalan. Perbandingannya dengan 50:6 memperlihatkan perbedaan nada: di 50:6 langit disodorkan sebagai bahan perhatian lewat pertanyaan "tidakkah mereka memperhatikan", sedangkan di 51:47 langit dilaporkan langsung oleh pelakunya. Ayat ini juga tidak memuat bahan, ukuran, atau tahapan pembangunan, jadi bacaan tentang cara kerjanya tidak punya pijakan dalam teks ayat ini.

Renungan dan Hikmah

  • Di 51:47 langit disebut di awal ayat, lalu Kami muncul sebagai pelaku yang membangunnya. Di 40:64 Allahlah yang menjadikan langit sebagai bangunan, dan di 2:22 langit disebut sebagai atap bagi manusia. Orang yang menengadah ke langit sebagai latar suasana hatinya, misalnya cerah, mendung, atau berbintang, dapat memperhatikan bahwa ayat-ayat ini menaruh langit pada kedudukan sesuatu yang dikerjakan. Sesuatu yang dipandang sebagai latar ternyata punya pembuat dan punya alat untuk membuatnya. Kapan terakhir langit dipandang sebagai hasil pekerjaan, dan perhatian apa yang berubah ketika dipandang begitu?
  • Ayat 51:47 menyebut langit yang dibangun, 51:48 menyebut bumi yang dihamparkan, dan 51:49 menyebut segala sesuatu yang berpasangan, lalu rangkaian itu ditutup dengan tujuan "agar kalian mengambil pelajaran". Tujuan itu baru muncul di ujung rangkaian, sesudah ayat pertama dan kedua berlalu tanpa menyebutnya. Orang yang membaca, mendengar penjelasan, atau menerima pemberian yang beruntun dapat mencatat bahwa pelajaran baru disebut sesudah tiga hal berlalu. Dari tiga hal yang baru dilewati, pelajaran apa yang sudah benar-benar diambil?
  • Penutup ayat menaruh peluasan sesudah pembangunan dalam satu kalimat, tanpa menyatakan kapan peluasan itu terjadi. Di 2:255 akar kata yang sama dipakai untuk Kursi-Nya yang meliputi langit-langit dan bumi, dalam ayat yang dibuka dengan "Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia". Orang yang baru menyelesaikan sebuah pekerjaan dan menganggap cakupannya sudah pas, entah rumah, usaha, atau sebuah hubungan, dapat memperhatikan bahwa 51:47 menyebut pembangunan dan peluasan berdampingan. Setelah sesuatu berdiri, ruang apa yang masih dapat dibuka di sekelilingnya?
  • Di 2:268 Setan menjanjikan kemiskinan, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia, dan ayat itu ditutup dengan "Allah luas lagi berilmu". Kata luas di ayat itu berakar sama dengan kata yang menutup 51:47, dan di 2:236 bentuk dari kata dasar yang sama menyebut orang berkecukupan yang berhadapan dengan orang yang sempit. Orang yang sedang merasa sempit, dalam rezeki, waktu, atau pilihan, dapat membaca bahwa 2:268 menaruh sebutan luas tepat sesudah janji yang berlawanan dengan janji kemiskinan, dan 51:47 memakai akar yang sama dalam ayat tentang langit. Kesempitan yang terasa saat ini sedang dilihat dari persediaan sendiri, atau dari sisi yang disebut luas di ayat-ayat itu?
  • Ayat 51:46 menyebut kaum Nuh sebagai kaum yang fasik dan menutup deretan kisah, lalu 51:47 sampai 51:49 menyebut langit, bumi, dan pasangan pada segala sesuatu. Barulah 51:50 berbunyi "Maka, berlarilah kepada Allah", dan kata "maka" di awalnya dapat dibaca menyambungkan seruan itu dengan ayat-ayat sebelumnya. Seruan itu datang sesudah tanda-tanda yang dapat dilihat, dengan jarak tiga ayat dari kisah kebinasaan. Orang yang ingin mengajak seseorang kepada sesuatu, dengan nasihat, tulisan, atau teladan, dapat mencatat urutan itu: kabar buruk lebih dulu, lalu hal-hal yang dapat diperhatikan, baru ajakan. Dalam ajakan yang pernah disampaikan, bagian mana yang diletakkan di depan?
  • Kekuatan di 51:47 berdampingan dengan peluasan dalam satu ayat. Di 38:45 terjemahan menulis "kekuatan" untuk (أُولِي الْأَيْدِي, uulii l-aydii) yang berarti "yang mempunyai kekuatan", dan kata itu dipasangkan dengan penglihatan pada (وَالْأَبْصَارِ, wa-l-abshaari) yang berarti "dan penglihatan". Kekuatan dalam dua ayat itu tidak berdiri sendiri: di satu ayat kekuatan disandingkan dengan penglihatan, di ayat lain dengan keluasan. Orang yang kuat dalam menyelesaikan pekerjaan, dalam memimpin, atau dalam bertahan, dapat menimbang apa yang menyertai kekuatannya. Kekuatan itu selama ini berpasangan dengan apa, penglihatan, keluasan, atau belum dengan keduanya?