أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
Apakah mereka saling mewariskannya? Bahkan, mereka adalah kaum yang melampaui batas.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَتَوَاصَوْا بِهِa-tawaashaw bihiapakah mereka saling mewariskannya
- بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَbal hum qawmun thaaghuunabahkan, mereka adalah kaum yang melampaui batas
Terjemahan per kata (6 kata)
- أَتَوَاصَوْاa-tawaashawapakah mereka saling berpesan
- بِهِbihipadanya
- بَلْbalbahkan
- هُمْhummereka
- قَوْمٌqawmunkaum
- طَاغُونَthaaghuunaorang-orang yang melampaui batas
Inti bacaan
Frasa (قَوْمٌ طَاغُونَ, qawmun thaaghuuna) hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 51:53 dan 52:32.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَتَوَاصَوْا, a-tawaashaw) yang berarti "apakah mereka saling berpesan", dari akar و-ص-ي. Huruf (أَ, a) yang berarti "apakah" di depan kata kerja menjadikan bagian pertama ayat ini sebuah pertanyaan. Bunyi (تَوَاصَوْا, tawaashaw) yang berarti "saling berpesan" ada di tiga ayat, yaitu 51:53, 90:17, dan 103:3. Di 90:17 dan 103:3 bunyi itu didahului huruf (وَ, wa) yang berarti "dan", sehingga tertulis (وَتَوَاصَوْا, wa-tawaashaw) yang berarti "dan saling berpesan", dan tiap ayat memuatnya dua kali.
Di dua ayat lainnya isi pesan disebut dengan kata benda. Rangkaian (تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ, tawaashaw bi-sh-shabri) yang berarti "saling berpesan dengan kesabaran" ada di 90:17 dan 103:3. Di 90:17 pesan kedua berbunyi (بِالْمَرْحَمَةِ, bi-l-marhamati) yang berarti "dengan kasih sayang", dan di 103:3 pesan pertama berbunyi (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi) yang berarti "dengan kebenaran". Di 51:53 isi pesan diwakili kata ganti (بِهِ, bihi) yang berarti "dengannya", dan sesuatu yang dirujuknya perlu dicari di ayat sebelumnya. Ayat 51:52 memuat ucapan (سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ, saahirun aw majnuunun) yang berarti "penyihir atau orang gila", dan bunyi itu ada di 51:39 dan 51:52. Karena itu kata ganti itu dapat dibaca merujuk pada ucapan di 51:52.
Terjemahan memakai "mewariskannya" di sini dan "saling berpesan" di 90:17 serta 103:3. Pilihan itu mengikuti isinya. Ayat 51:52 mengaitkan ucapan itu dengan orang-orang sebelum mereka, sehingga pertanyaan di 51:53 dapat dibaca menyangkut perpindahan ucapan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Di 90:17 dan 103:3 yang dipesankan berupa kesabaran, kasih sayang, dan kebenaran. Akar و-ص-ي yang sama dipakai juga untuk wasiat dari satu pihak kepada pihak lain. Bunyi (وَصَّىٰ, washshaa) yang berarti "dia mewasiatkan", dengan atau tanpa awalan, ada di 2:132 dan 42:13. Di 2:132 bunyinya (وَوَصَّىٰ بِهَا, wa-washshaa bihaa) yang berarti "dan dia mewasiatkannya", dengan pelaku Ibrahim dan penerima anak-anaknya, sedangkan (وَصَّىٰ بِهِ, washshaa bihi) yang berarti "dia mewasiatkannya" ada satu kali, yaitu di 42:13, dengan penerima Nuh. Bentuk (وَصَّاكُمُ, washshaakumu) yang berarti "Dia mewasiatkan kepada kalian" ada satu kali, yaitu di 6:144, dengan pelaku Allah, dan terjemahan di sana memakai "menetapkan".
Kata (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan" membuka jawaban atas pertanyaan itu. Rangkaian (بَلْ هُمْ قَوْمٌ, bal hum qawmun) yang berarti "bahkan mereka kaum" ada di tiga ayat, yaitu 27:60, 43:58, dan 51:53, dengan sifat sesudahnya yang berlainan di tiap ayat. Di 27:60 rangkaian itu mengikuti pertanyaan (أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ, a-ilaahun ma'a llaahi) yang berarti "apakah ada tuhan bersama Allah". Di 43:58 rangkaian itu mengikuti keterangan (إِلَّا جَدَلًا, illaa jadalan) yang berarti "kecuali perbantahan", dan sifatnya (خَصِمُونَ, khashimuuna) yang berarti "suka bertengkar" ada satu kali, yaitu di 43:58. Di 51:53 sifatnya (طَاغُونَ, thaaghuuna) yang berarti "orang-orang yang melampaui batas", dari akar ط-غ-ي, dan mengikuti pertanyaan tentang saling berpesan. Kata (قَوْمٌ, qawmun) yang berarti "kaum" berakar ق-و-م.
Rangkaian (قَوْمٌ طَاغُونَ, qawmun thaaghuuna) yang berarti "kaum yang melampaui batas" ada di dua ayat, yaitu 51:53 dan 52:32. Di 52:32 rangkaian itu berbunyi (أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ, am hum qawmun thaaghuuna) yang berarti "ataukah mereka kaum yang melampaui batas", dan didahului (أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَامُهُمْ بِهَٰذَا, am ta'muruhum ahlaamuhum bi-haadzaa) yang berarti "ataukah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka dengan ini". Di 52:32 sifat itu berada di dalam pertanyaan, sedangkan di 51:53 sifat itu menjadi jawaban sesudah (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan".
Terjemahan memakai "melampaui batas" juga untuk kata dari dua akar lain pada ayat yang berstruktur serupa. Rangkaian (بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ, bal antum qawmun) yang berarti "bahkan kalian kaum" ada di 7:81, 26:166, 27:47, 27:55, dan 36:19. Di 7:81 sifatnya (مُسْرِفُونَ, musrifuuna) yang berarti "orang-orang yang melampaui batas", dari akar س-ر-ف, dan di 26:166 sifatnya (عَادُونَ, 'aaduuna) yang berarti "orang-orang yang melampaui batas", dari akar ع-د-و. Karena tiga akar memakai satu padanan, pembedanya terletak pada akar. Akar ط-غ-ي dipakai untuk Firaun dalam (إِنَّهُ طَغَىٰ, innahu thaghaa) yang berarti "sesungguhnya dia melampaui batas", dan bunyi itu ada di 20:24, 20:43, dan 79:17. Ayat 51:53 tidak menyebut Firaun.
Tafsiran
Ayat ini berada di tengah tiga ayat berurutan yang bergerak dari ucapan, ke pertanyaan, ke tanggapan. Ayat 51:52 menyebut bahwa tiap rasul yang datang kepada orang-orang sebelum mereka menerima ucapan yang sama, yaitu "Penyihir atau orang gila". Ayat 51:53 bertanya apakah ucapan itu saling diwariskan, lalu menjawab dengan sifat kaum yang melampaui batas. Ayat 51:54 memerintahkan berpaling dan menyatakan bahwa yang diajak bicara sama sekali bukan orang yang tercela.
Pertanyaan di 51:53 tidak dijawab dengan kata "tidak". Jawabannya langsung menyebut sifat, dan sifat itu dapat dibaca sebagai penjelasan atas keseragaman di 51:52, yaitu bahwa ucapan yang sama muncul karena sikap yang sama pada para penuturnya, tanpa perlu ada pesan yang diteruskan. Ayat tidak menyatakan hubungan sebab itu, jadi bacaan ini tetap tafsir. Letak sifat itu juga membedakan 51:53 dari 52:32. Di 52:32 sifat yang sama berada di dalam pertanyaan, sedangkan di 51:53 sifat itu berdiri sebagai pernyataan sesudah pertanyaan selesai.
Ucapan yang sama menjadi pengait ke belakang. Di 51:39 Firaun mengucapkan (سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ, saahirun aw majnuunun) yang berarti "penyihir atau orang gila" sesudah berpaling bersama pendukungnya, dan di 51:52 ucapan itu dikaitkan dengan semua rasul sebelumnya. Ayat 51:53 datang sesudah kedua catatan itu, dan pertanyaannya berlaku bagi ucapan di 51:52, yang sama dengan ucapan Firaun di 51:39. Rangkaian pendek tentang Musa di 51:38 sampai 51:40, tentang Ad di 51:41 dan 51:42, dan tentang kaum Nuh di 51:46 mendahului bagian ini, sehingga pembaca tiba di 51:52 dengan beberapa contoh yang sudah ditunjukkan.
Kata kerja berpaling membingkai bagian ini. Di 51:39 Firaun berpaling, (فَتَوَلَّىٰ, fa-tawallaa) yang berarti "lalu dia berpaling", dan di 51:54 yang diajak bicara diperintah berpaling, (فَتَوَلَّ, fa-tawalla) yang berarti "maka berpalinglah", dari akar و-ل-ي. Kedua ayat itu mengapit ucapan yang sama. Ayat pertama mencatat orang yang berpaling lalu mengucapkannya, dan ayat kedua mengarahkan penerima ucapan itu untuk berpaling dari mereka. Kata "mereka" di 51:53 terbaca merujuk pada pihak yang di depannya ada orang-orang sebelum mereka menurut 51:52, dan ayat tidak menyebut nama pihak itu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 51:52 mencatat satu ucapan yang sama untuk tiap rasul, lalu 51:53 bertanya apakah ucapan itu saling diwariskan dan menjawab dengan sifat kaum yang melampaui batas. Dua penjelasan itu dapat dibawa ke pengalaman seseorang yang mendengar kalimat serupa tentang dirinya dari beberapa penutur, entah di kantor, di lingkungan rumah, atau di antara kerabat. Bila kalimat itu salinan, pertanyaan yang menyusul menyangkut siapa yang pertama mengucapkannya. Bila kalimat itu lahir dari sikap yang sama pada tiap penuturnya, pertanyaan yang menyusul menyangkut sikap apa yang melahirkannya. Pendengar dapat menimbang keduanya sebelum menerima atau menolak isi kalimat itu. Apakah sebuah kalimat tentang diri sendiri pernah ditelusuri asalnya lebih dulu sebelum dijawab?
- Di 2:132 Ibrahim mewasiatkan sesuatu kepada anak-anaknya, dan isi wasiat itu tertulis di ayat yang sama, yaitu “Maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri.” Ayat itu juga menyebut bahwa Allah telah memilih pertanggungjawaban itu bagi mereka. Di 51:53, bila pertanyaannya dibaca menyangkut perpindahan ucapan antarangkatan, yang berpindah berupa kalimat tentang orang lain. Perbandingan kedua ayat memperlihatkan dua macam barang yang dapat berpindah dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, yaitu wasiat yang isi dan penerimanya disebut, serta kalimat yang beredar di antara sesama penuturnya. Orang tua, guru, atau pemimpin dapat menimbang barang macam apa yang sedang diteruskannya kepada angkatan berikutnya. Apakah yang diteruskan itu sudah berupa isi yang dapat disebut satu per satu?
- Kata kerja (تَوَاصَوْا, tawaashaw) yang berarti "saling berpesan" di 51:53 dipakai juga di 90:17 dan 103:3, dengan isi yang disebut: “saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk memberi rahmat” di 90:17, dan “saling berpesan dengan yang hak dan saling berpesan dengan kesabaran” di 103:3. Dalam ayat-ayat itu kegiatan saling berpesan di antara sesama dapat membawa kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang, sedangkan di 51:53 kegiatan yang sama ditanyakan untuk sebuah ucapan tuduhan. Lingkaran pertemanan, grup percakapan, dan rapat tim dapat memiliki pesan yang beredar di antara anggotanya. Isi yang beredar itu dapat dibaca ulang dengan dua kelompok ayat tadi sebagai pembanding. Pesan apa yang paling banyak berpindah di antara orang-orang di sekitar sendiri, apakah kesabaran, kebenaran, atau kalimat tentang orang lain?
- Di 52:32 pertanyaannya berbunyi “Ataukah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka dengan ini, ataukah mereka kaum yang melampaui batas?”, dan di 51:53 pertanyaannya menyangkut saling mewariskan, disusul jawaban dengan sifat yang sama. Pada kedua ayat, sebuah perilaku diberi beberapa sumber yang mungkin, lalu tiap sumber ditimbang. Seseorang yang berusaha memahami sikap rekan, lawan bicara, atau dirinya sendiri dapat memperhatikan bentuk itu, yaitu beberapa sebab yang mungkin disusun dan diperiksa satu per satu sebelum satu sebab ditetapkan. Penjelasan apa yang belum ditimbang tentang sikap seseorang yang selama ini dianggap sudah jelas sebabnya?
- Di 6:144 pertanyaan yang diajukan berbunyi “Ataukah kalian menjadi saksi ketika Allah menetapkan ini bagi kalian?”, dan kata kerja di sana, (وَصَّاكُمُ, washshaakumu) yang berarti "Dia mewasiatkan kepada kalian", berakar sama dengan (أَتَوَاصَوْا, a-tawaashaw) yang berarti "apakah mereka saling berpesan" di 51:53. Kedua ayat menguji sumber sebuah pegangan lewat pertanyaan, yaitu apakah pemegangnya menyaksikan sendiri atau apakah pegangan itu saling diteruskan. Seseorang yang memegang suatu keyakinan tentang apa yang dikehendaki Allah dapat menimbang dari mana keyakinan itu sampai kepadanya, dari pengamatan sendiri atau dari kalimat yang diterima dari orang lain. Dua pertanyaan tadi menyediakan alat pemeriksa yang sama untuk keduanya. Apakah sumber sebuah keyakinan pernah ditanyakan dengan pertanyaan semacam ini?
- Di 27:60 sifat kaum yang menyimpang disebut sesudah pertanyaan “Apakah ada tuhan bersama Allah?”. Di 43:58 sifat kaum yang suka bertengkar disebut sesudah keterangan tentang perumpamaan yang dibuat “kecuali untuk membantah”. Di 51:53 sifat kaum yang melampaui batas disebut sesudah pertanyaan tentang saling mewariskan ucapan. Tiga ayat itu menaruh sifat sesudah sesuatu yang diucapkan atau ditanyakan, dan tidak sebelumnya. Seseorang yang hendak menyebut sifat tentang orang lain dapat memperhatikan urutan itu, yaitu perilaku yang dapat ditunjuk disebut lebih dulu dan sifat menyusul. Sifat apa yang selama ini diberikan kepada orang lain, dan perilaku apa yang dapat ditunjuk sebelum sifat itu disebut?